Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Perjanjian di Atas Darah dan Air Mata
Pagi pertama di mansion Valerius tidak disambut oleh kicauan burung atau cahaya matahari yang hangat. Di sayap timur bangunan Gotik ini, cahaya pagi tersaring melalui tirai beludru tebal, menciptakan suasana remang yang abadi. Aruna terbangun dengan perasaan linglung. Untuk beberapa detik, ia mengira dirinya masih berada di kursi tunggu rumah sakit yang keras, namun kelembutan seprai sutra dengan hitungan benang ribuan di bawah kulitnya segera menyentaknya kembali ke kenyataan.
Ia berada di sarang iblis. Dan ia baru saja menjual kebebasannya.
Aruna bangkit dari tempat tidur berukuran king size itu, merasakan tubuhnya berat. Dadanya berdenyut nyeri—sebuah pengingat biologis yang menuntut bahwa Leonardo, bayi kecil yang ia susui semalam, akan segera bangun dan merasa lapar. Saat ia melangkah menuju kamar mandi yang luasnya hampir menyamai apartemen kecilnya dulu, ia melihat sebuah kotak hitam besar di atas meja rias marmer. Di atasnya terdapat sebuah kartu dengan tulisan tangan yang tajam, miring, dan sangat berwibawa:
"Kenakan ini. Aku tidak menoleransi penampilan yang berantakan di meja makanku. Pukul 07.00 di ruang makan utama. Jangan terlambat. - D.V"
Dengan tangan gemetar, Aruna membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah gaun berbahan rajut lembut berwarna krem yang elegan. Bahannya jatuh dengan sempurna, dirancang khusus untuk memberikan kenyamanan sekaligus akses mudah di bagian dada. Ada juga satu set pakaian dalam mewah yang harganya mungkin setara dengan gaji ibunya selama setahun.
Aruna merasa mual. Ia merasa seperti boneka yang sedang didandani oleh kolektor gila. Namun, saat bayangan wajah ibunya yang pucat di ICU melintas, ia menelan kembali harga dirinya. Ia mandi, membiarkan air hangat membasuh ketegangannya, lalu berpakaian dengan gerakan mekanis.
Tepat pukul tujuh kurang satu menit, pintu kamarnya terbuka. Bukan Marco, melainkan Dante Valerius sendiri yang berdiri di ambang pintu.
Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan guratan otot lengan bawah yang dipenuhi tato hitam yang rumit—lambang kekuasaan dan kekerasan yang ia pimpin. Dante tidak bicara. Ia hanya menyapu penampilan Aruna dengan tatapan predator yang sedang menilai mangsanya.
"Ikut aku," perintahnya singkat. Suaranya rendah, bergema di koridor yang sunyi.
Aruna mengikuti langkah lebar Dante menuju ruang makan utama. Di sana, sebuah meja kayu mahoni yang sangat panjang telah dipenuhi dengan berbagai hidangan. Namun, yang membuat Aruna terdiam bukanlah makanannya, melainkan dua orang pria bersenjata yang berdiri tegak di sudut ruangan.
"Duduk," Dante menunjuk kursi di sebelah kanannya.
Aruna duduk dengan kaku. "Di mana Leonardo? Aku merasa... dia akan segera bangun."
"Makan dulu," Dante memotong tanpa menatapnya. Ia mulai memotong steak setengah matang di piringnya dengan gerakan yang sangat presisi. "Kualitas nutrisimu menentukan kualitas hidup putraku. Jika kau tidak makan, kau tidak berguna bagiku."
Aruna menatap piringnya yang berisi telur organik, alpukat, dan kacang-kacangan. "Dante, aku punya jadwal kuliah daring pagi ini. Ini semester terakhirku. Aku harus mengirim draf skripsiku hari ini."
Dante meletakkan pisau peraknya dengan bunyi denting yang tajam di atas piring porselen. Ia menyandarkan tubuhnya, menatap Aruna dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa oksigen di ruangan itu menipis.
"Kau bisa kuliah," kata Dante pelan. "Tapi jangan harap kau bisa menggunakan koneksi internet pribadimu. Ponselmu sudah dihancurkan oleh Marco semalam. Kau akan menggunakan laptop yang sudah kami sediakan. Semua akses digitalmu dipantau. Kau dilarang menghubungi siapa pun di luar urusan akademik. Jika ada satu pesan yang keluar kepada polisi, atau teman-temanmu tentang keberadaanmu di sini..."
Dante menjeda, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Aruna. "Ibumu akan dipindahkan ke rumah sakit umum dalam waktu lima menit. Dan kau tahu apa yang terjadi pada pasien koma di sana tanpa peralatan yang memadai."
Aruna mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. "Kau sungguh kejam."
"Aku realistis, Aruna. Di dunia ini, tidak ada yang gratis. Aku menyelamatkan ibumu, kau menyelamatkan putraku. Adil."
Tiba-tiba, suara tangisan bayi yang melengking pecah dari lantai atas. Suara itu begitu menuntut, membuat insting Aruna langsung bereaksi. Tak lama kemudian, Suster Elena masuk dengan tergesa-gesa membawa boks bayi berjalan.
Begitu Leonardo didekatkan pada Aruna, bayi itu seolah mengenali aroma tubuhnya. Tangisannya mereda menjadi rengekan kecil yang memilukan. Aruna dengan sigap mengambil bayi itu ke dalam dekapannya. Ada rasa hangat yang aneh menjalar di hatinya—rasa sayang yang seharusnya tidak tumbuh di tempat sekelam ini.
"Dia lapar," bisik Aruna.
Ia menoleh pada Dante, berharap pria itu akan memberikan privasi. Namun, Dante tetap duduk di kursinya, menyesap kopi hitamnya sambil terus memperhatikan Aruna.
"Bisakah kau... berpaling?" pinta Aruna dengan wajah yang mulai memanas.
Dante justru meletakkan cangkirnya dan menatap Aruna lurus ke matanya. "Aku sudah mengatakannya semalam. Tidak ada rahasia di rumah ini. Aku ingin melihat bagaimana kau menjaganya. Berhenti bersikap seperti remaja suci, Aruna. Kau sudah menandatangani kontrak."
Dengan rasa malu yang membakar, Aruna perlahan membuka kancing gaun rajutnya. Ia mencoba menutupi bagian sensitifnya dengan kain bedong, namun matanya tak sengaja bertemu dengan mata Dante. Pria itu tidak menatapnya dengan nafsu yang kasar, melainkan dengan tatapan yang lebih menakutkan: tatapan kepemilikan. Seolah-olah Dante sedang melihat bagian dari mesin miliknya yang sedang bekerja.
Selama Leonardo menyusu, keheningan di ruang makan itu begitu tebal hingga Aruna bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
"Siapa nama istrimu?" tanya Aruna tiba-tiba, sebuah keberanian yang muncul dari rasa sesak akibat diawasi.
Rahang Dante mengeras seketika. Atmosfer di ruangan itu berubah drastis, menjadi dingin dan berbahaya. Para penjaga di sudut ruangan tampak menegakkan posisi mereka.
"Jangan pernah," suara Dante turun ke nada yang sangat rendah, hampir seperti geraman hewan buas, "bertanya tentang hal yang tidak tercantum dalam kontrakmu. Kau di sini untuk satu hal, Aruna. Jangan melangkahi batasmu."
"Aku hanya ingin tahu siapa ibu dari bayi yang aku peluk ini," balas Aruna, air mata mulai menggenang. "Dia pantas diingat."
Dante berdiri dengan kasar hingga kursi kayunya terseret ke belakang dengan bunyi nyaring. Ia berjalan mendekati Aruna, lalu membungkuk, menempatkan kedua tangannya di sandaran kursi Aruna, mengurungnya.
"Ibu dari bayi itu sudah mati," bisik Dante tepat di depan wajah Aruna. "Dan di rumah ini, yang mati tetaplah mati. Kau ingin tahu apa yang terjadi pada orang yang terlalu banyak bertanya di sini?"
Dante meraih sejumput rambut Aruna, memainkannya dengan kasar. "Mereka kehilangan lidah mereka. Jadi, makanlah sarapanmu, susui anakku, dan kerjakan skripsimu. Jangan buat aku harus mengingatkanmu siapa yang memegang kendali atas napas ibumu."
Dante berbalik dan melangkah keluar dengan langkah kaki yang menggetarkan lantai marmer. Begitu pintu besar itu tertutup, Aruna baru bisa mengembuskan napasnya yang tertahan. Ia menunduk, melihat Leonardo yang sudah tertidur tenang di dadanya.
Ia baru saja menyadari bahwa di mansion ini, ia tidak hanya sedang berurusan dengan seorang mafia yang kejam, tapi dengan seorang pria yang jiwanya telah hancur dan ia tidak akan ragu untuk menghancurkan jiwa orang lain agar tetap merasa berkuasa.
Aruna mengusap pipi Leonardo yang lembut. "Kita berdua terjebak, Little Leo," bisiknya lirih. "Kita berdua terjebak dengan iblis."
Setelah ketegangan di ruang makan, Aruna digiring oleh Marco menuju sebuah ruangan yang disebut sebagai "perpustakaan pribadi". Ruangan itu luar biasa megah, dengan rak-rak buku setinggi langit-langit, namun di tengahnya telah disiapkan sebuah meja kerja modern dengan perangkat laptop terbaru yang sudah dimodifikasi.
"Tuan Dante mengizinkan sesi kuliah Anda dimulai sekarang," ujar Marco sambil berdiri tegak di sudut ruangan, layaknya patung penjaga yang tak bernyawa. "Ingat, Nona. Kamera harus selalu menyala, dan tim IT kami akan memantau setiap piksel yang keluar dari perangkat ini."
Aruna menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Ia membuka aplikasi konferensi video. Di layar, wajah teman-teman kampusnya muncul satu per satu. Ada tawa, ada obrolan ringan tentang kafe baru, hal-hal normal yang kini terasa seperti mimpi bagi Aruna.
"Aruna! Ke mana saja kau seminggu ini?" tanya Tania, sahabat baiknya, melalui layar. "Kami mengirim puluhan pesan, tapi ponselmu tidak aktif. Kami hampir melapor ke polisi!"
Aruna melirik Marco sekilas. Pria itu hanya menatapnya dingin. Di bawah meja, tangan Aruna meremas ujung gaun sutranya.
"Maaf, Tania. Ponselku rusak total karena kehujanan," Aruna mencoba tersenyum sealami mungkin, meski senyum itu terasa pahit. "Aku... aku sedang mengambil pekerjaan freelance sebagai pengasuh pribadi di luar kota. Sinyalnya agak sulit, jadi aku harus fokus."
"Pengasuh? Tapi kau sedang menyusun skripsi, Aruna! Kau butuh perpustakaan pusat," sahut teman lainnya.
"Tempat ini punya perpustakaan yang sangat lengkap," jawab Aruna jujur, sambil matanya menatap deretan buku di sekelilingnya yang justru terasa seperti dinding penjara.
Sesi kuliah dimulai. Aruna mencoba fokus pada penjelasan dosen tentang hukum perdata, namun pikirannya terus terbagi. Leonardo berada di ruangan sebelah, dan setiap kali ia mendengar rengekan halus dari alat baby monitor di samping laptopnya, dadanya terasa nyeri.
Tiba-tiba, pintu perpustakaan terbuka. Dante masuk.
Ia tidak peduli bahwa Aruna sedang dalam sesi kelas langsung. Dante melangkah mendekat dengan angkuh, aroma cerutu dan kekuasaan mengiringi kehadirannya. Ia berdiri tepat di belakang Aruna, cukup dekat sehingga sebagian bahunya tertangkap oleh kamera laptop.
"Aruna, siapa itu di belakangmu?" tanya Tania dengan nada heran. "Dia... dia tidak terlihat seperti majikan biasa."
Aruna membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia bisa merasakan napas Dante di puncak kepalanya.
"Hanya... staf keamanan di sini," jawab Aruna cepat, suaranya bergetar.
Dante justru sengaja meletakkan tangannya di bahu Aruna, meremasnya pelan namun posesif. Di layar Zoom, teman-teman Aruna terdiam. Mereka melihat seorang pria yang terlalu tampan, terlalu berbahaya, dan terlalu mendominasi untuk sekadar 'staf keamanan'.
Dante membungkuk, berbisik tepat di depan mikrofon laptop namun dengan nada yang hanya ditujukan untuk Aruna. "Leonardo sudah bangun. Dia membutuhkanmu. Sekarang."
"Maaf, Pak... saya harus izin keluar sebentar. Ada keadaan darurat," Aruna langsung mematikan kamera dan mikrofonnya tanpa menunggu jawaban dosen.
Begitu layar menjadi hitam, Aruna berbalik menatap Dante dengan amarah yang meledak. "Apa yang kau lakukan?! Kau hampir menghancurkan reputasiku! Mereka akan curiga!"
Dante tidak berkedip. Ia mencengkeram dagu Aruna, mengangkatnya hingga mata mereka bertemu. "Reputasimu tidak memberi makan anakku, Aruna. Di layar itu, kau adalah mahasiswi. Di ruangan ini, kau adalah milikku. Jangan pernah membuat Leonardo menunggu hanya karena urusan sepele seperti kuliah."
"Sepele? Ini masa depanku!"
"Masa depanmu ada di tanganku," balas Dante dingin. "Sekarang masuk ke kamar. Berikan apa yang menjadi hak putraku."
Dante melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Aruna pergi dengan isak tangis yang tertahan. Aruna berlari menuju kamar bayi, merasa bahwa setiap detik yang berlalu di mansion ini perlahan-lahan menghapus kemanusiaannya, mengubahnya menjadi sekadar alat pemuas kebutuhan keluarga Valerius.
Namun, di balik kemarahan itu, Aruna menyadari satu hal yang lebih menakutkan. Saat Dante menyentuh bahunya di depan teman-temannya tadi, ada kilatan posesif yang luar biasa di mata pria itu. Dante tidak hanya ingin Aruna menyusui anaknya; ia ingin seluruh dunia tahu bahwa Aruna adalah miliknya, meski tanpa status yang jelas.
Setelah kepergian Dante yang mengintimidasi, perpustakaan itu kembali jatuh ke dalam keheningan yang menyesakkan. Marco telah keluar untuk berjaga di depan pintu, meninggalkan Aruna sendirian dengan deru napasnya yang tidak teratur. Layar laptopnya masih menyala, menampilkan kotak-kotak hitam dari teman-temannya yang bingung, sebelum akhirnya Aruna menutup paksa perangkat itu.
Ia tidak langsung menuju kamar bayi. Ia butuh waktu sejenak untuk menenangkan detak jantungnya yang seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Aruna berjalan perlahan menyusuri rak-rak buku yang menjulang tinggi, jemarinya mengusap punggung buku-buku tua berbahan kulit.
Hingga langkahnya terhenti di sebuah sudut yang paling gelap, di balik sebuah tangga geser dari kayu ek. Di sana, terselip sebuah buku tebal tanpa judul di punggungnya. Secara impulsif, Aruna menariknya. Namun, bukan buku yang ia dapatkan, melainkan sebuah lembaran foto tua yang terjatuh dari sela-sela halaman.
Aruna berlutut, mengambil foto itu. Jantungnya berdegup kencang saat melihat gambar di dalamnya.
Itu adalah foto seorang wanita. Wanita itu sangat cantik, dengan rambut pirang pucat dan mata biru yang tampak sedih. Ia mengenakan gaun pengantin sutra, berdiri di samping Dante yang tampak beberapa tahun lebih muda. Namun, bukan kecantikan wanita itu yang membuat Aruna terpaku, melainkan kemiripan pose mereka. Di foto itu, Dante memegang bahu wanita itu dengan cara yang sama persis seperti ia memegang bahu Aruna tadi: seperti sedang mencengkeram mangsa.
Namun, yang paling mengerikan adalah apa yang tertulis di balik foto tersebut dengan tinta merah yang sudah memudar:
"Isabella – Mawar yang kupatahkan agar ia tidak pernah bisa lari."
Darah Aruna terasa membeku. "Mawar yang kupatahkan..." bisiknya lirih.
Kalimat itu tidak terdengar seperti ungkapan cinta, melainkan sebuah pengakuan atas kejahatan. Selama ini, semua orang mengatakan istri Dante meninggal karena persalinan, tapi foto ini membisikkan cerita yang berbeda. Apakah Isabella benar-benar meninggal karena takdir, atau karena ia mencoba melarikan diri dari sangkar emas ini?
"Apa yang kau lakukan di situ?"
Suara dingin yang tiba-tiba itu membuat Aruna terlonjak hingga foto itu terlepas dari tangannya. Dante sudah berdiri di sana, di bayang-bayang rak buku. Wajahnya tidak lagi sekadar dingin; ada kegelapan murni yang memancar dari matanya.
Dante melangkah maju, memungut foto itu sebelum Aruna sempat mengambilnya kembali. Ia menatap foto Isabella sejenak, lalu perlahan meremasnya di dalam genggaman tangannya hingga kertas itu hancur.
"Aku sudah memperingatimu, Aruna," suara Dante sangat tenang, namun ketenangan itu jauh lebih menakutkan daripada teriakan mana pun. "Jangan menggali apa yang sudah terkubur."
"Dia... dia terlihat ketakutan di foto itu, Dante," suara Aruna bergetar. "Apa yang sebenarnya terjadi padanya?"
Dante berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti dentang lonceng kematian. Ia menyudutkan Aruna ke rak buku, menumpukan tangannya di samping kepala Aruna. Ia membungkuk, menatap dalam ke mata Aruna yang dipenuhi air mata.
"Dia mencoba mengambil apa yang menjadi milikku," bisik Dante, suaranya serak dan penuh kepedihan yang tersembunyi. "Dan di dunia Valerius, pengkhianatan dibayar dengan nyawa. Kau ingin tahu rahasianya? Rahasianya adalah ini: Jangan pernah mencoba lari dariku, Aruna. Karena aku lebih suka melihatmu hancur di tanganku daripada melihatmu bernapas di tangan orang lain."
Dante lalu menarik Aruna dengan kasar menuju kamar bayi. Di dalam sana, Leonardo sedang menangis kencang, seolah bisa merasakan ketegangan yang dibawa ayahnya.
"Sekarang, lakukan tugasmu," perintah Dante sambil melepaskan cengkeramannya. "Susui dia. Dan ingat baik-baik wajah di foto tadi setiap kali kau berpikir untuk tidak patuh. Kau di sini bukan hanya untuk memberi makan putraku, Aruna. Kau di sini untuk menggantikan posisi yang kosong... sampai aku memutuskan kau tidak lagi berguna."
Aruna terduduk di kursi goyang dengan sisa tenaga yang ia miliki. Sambil menyusui Leonardo yang lapar, ia menatap punggung Dante yang berjalan menjauh. Ia baru saja menyadari bahwa ia tidak hanya tinggal bersama seorang mafia. Ia tinggal bersama seorang pria yang mencintai dengan cara menghancurkan.
Dan kini, ia adalah mawar baru yang sedang menunggu giliran untuk dipatahkan.