Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Nafiza berjalan menuju pintu utama dan menekan bel. Setelah beberapa saat, pintu terbuka dan seorang wanita paruh baya berhijab terlihat masih sangat cantik di usianya yang tak lagi muda, wanita itu menyambutnya dengan senyum ramah.
"Assamua'laikum Bu. Selamat siang," sapa Nafiza sopan. "Saya Nafiza dari Bakery Cake Umi Maryam. Saya ingin mengantarkan pesanan kue yang Ibu pesan."
"Wa'alaikumsalam. Oh, iya, silakan masuk dulu," jawab wanita itu dengan senyum ramah. "Saya Maya, pemilik rumah ini," tuturnya ramah membuat Nafiza tak tega menolaknya.
Nafiza masuk ke dalam rumah. Interiornya sangat mewah dan elegan, dengan perabotan mahal dan lukisan-lukisan indah. Ia mengikuti Maya menuju ruang tamu.
"Silakan duduk," ujar Maya, menunjuk sofa yang nyaman di hadapannya. "Maaf merepotkan Nafiza, dan Umi Maryam. Saya minta dibuatkan kue dadakan seperti ini!" ujar Maya tak enak.
"Gak papa, Bu. Itu udah tugas kami untuk melayani pelanggan," balas Nafiza ramah. Ia duduk di sofa dan meletakkan kotak kue di atas meja.
"Kuenya cantik sekali," puji Maya, saat membuka kotak kue dan mengamati kue pesannya itu dengan kagum. "Saya selalu memesan kue di toko Umi Maryam. Rasanya enak dan bikin nagih," pujinya jujur.
"Terima kasih," jawab Nafiza, berusaha menyunggingkan senyum di balik cadarnya.
Tiba-tiba, pintu utama terbuka dan seorang pria tampan masuk ke dalam rumah. Nafiza menoleh dan seketika matanya mengerjap tak percaya melihat siapa pria yang baru saja masuk, pria Itu adalah Zayn. CEO tempat mantan suaminya bekerja. Pria yang membelanya saat itu.
Jantung Nafiza berdebar kencang, berpacu tak terkendali. Ia tidak percaya akan bertemu Zayn secepat ini, di rumah ini. Dunia seolah berhenti berputar. Rasa malu, gugup, dan perasaan aneh lainnya bercampur aduk menjadi satu, terutama saat mengingat kejadian di kantor kemarin sore. Ia berusaha menenangkan diri, namun bayangan tatapan intens Zayn terus menghantuinya.
Sedangkan Zayn masih membeku di tempatnya. Matanya menyipit, berusaha mengenali sosok wanita bercadar yang duduk di ruang tamunya. Meski hanya terlihat bagian matanya, Zayn yakin, itu adalah wanita yang sama yang kemarin ia temui.
"Mata itu, tatapan itu, tidak mungkin salah. Tidak mungkin," batin Zayn yakin. "Tapi apa yang dia lakukan di sini?" lanjutnya dalam hati, rasa penasaran menggelitik benaknya. Ada sesuatu dalam diri wanita ini yang membuatnya tertarik, dan pertemuan ini terasa seperti takdir yang sedang bermain-main.
Maya menatap mereka berdua dengan bingung sekaligus penasaran. "Zayn, kenalkan, ini Nafiza dari Bakery Cake Umi Maryam. Dia yang mengantarkan kue anniversary pesanan Mommy."
Zayn menelan ludah. Lalu mengangguk kecil sebagai tanda responnya. Ia tidak tahu harus berkomentar apa. Matanya terus terpaku pada Nafiza, mencari jawaban atas pertanyaan yang berkecamuk di benaknya saat ini.
Nafiza yang merasa tak nyaman dengan tatapan Zayn, segera berdiri dari sofa, berusaha mengendalikan detak jantungnya yang berdebar tak karuan. "Selamat anniversary, Bu Maya, semoga sehat terus dan keluarganya bahagia selalu," ujarnya memberikan ucapan selamat pada pelanggannya, kemudian tersenyum canggung di balik cadarnya.
Maya tersenyum lembut "Terima kasih, Nafiza. Oh ya, kamu mau minum apa biar dibuatkan si Mbok?" tanyanya ramah.
"Tidak usah repot-repot, Bu," tolak Nafiza halus. "Saya langsung pulang saja, Umi pasti sudah menunggu di toko," lanjut Nafiza beralasan sambil mengangguk sopan pada Maya lalu cepat-cepat berlalu dari hadapan mereka. Ia ingin segera pergi dari tempat ini, menjauh dari tatapan intens Zayn yang membuatnya salah tingkah.
Saat Nafiza keluar dari rumah, dengan langkah cepat menuju mobilnya. Ia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Mengemudi dengan kecepatan sedang, meninggalkan rumah mewah itu dan tatapan mata Zayn yang membingungkan jauh di belakang.
Sedangkan Zayn masih berdiri di ambang pintu, menatap mobil Nafiza yang menghilang di balik gerbang kokoh rumahnya. Entah kenapa Zayn merasa ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka, sesuatu yang aneh dan menarik dari pertemuan singkat ini. Nafiza, wanita bercadar yang ternyata adalah pengantar kue, entah mengapa berhasil menarik perhatiannya.
Maya, yang sejak tadi memperhatikan tingkah laku sang putra, akhirnya melangkah maju menghampiri Zayn dengan tatapan menyelidik.
"Zayn, kenapa kamu menatap gadis bercadar itu segitunya? Apa kamu mengenalnya? Atau jangan-jangan dia ..." Maya menggantungkan kalimatnya, menyeringai jahil.
Zayn tersentak, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. "Apaan sih, Mom! Ngaco aja," jawabnya dengan nada sedikit kesal. Ia tidak ingin Mommynya tahu bahwa ia tertarik pada Nafiza, karena ia sendiri pun belum yakin dengan perasaannya.
"Terus kenapa kamu sampai bengong gitu? Hayooo, ngaku!" goda Maya, semakin penasaran.
Zayn menghela napas. Ia tahu, menyembunyikan sesuatu dari ibunya adalah hal yang mustahil. "Dia ... istri karyawan Zayn," ucapnya akhirnya.
Mata Maya membulat. "Benarkah? Sayang sekali, padahal tadinya Mammy berharap gadis itu akan jadi mantu Mommy!" keluhnya kecewa.
Zayn hanya mengangguk singkat, merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan ini. "Ya, gitu," jawabnya datar.
"Tapi kayaknya kamu menyukainya!" lanjut Maya, menatap putranya dengan tatapan menggoda. "Ayo ngaku, Zayn!" Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Zayn pada Nafiza, tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Zayn langsung memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di pipinya. Ia merasa malu dan salah tingkah. "Udah ah, Mom! Zayn mau ke atas," ucapnya cepat, lalu berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Maya yang tertawa geli.
Maya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia tahu, putranya itu memang sulit ditebak. Namun, ia yakin, ada sesuatu yang istimewa dari gadis bercadar itu. Ia merasa, Nafiza bisa menjadi wanita yang tepat untuk mendampingi Zayn. "Tapi sayang, sudah keduluan orang," batin Maya, kecewa. Meski begitu, ia tidak akan menyerah begitu saja.
Setelah Zayn menghilang di balik tangga, Maya masih berdiri di ruang tamu, senyumnya perlahan memudar. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia merasa, ada cerita yang belum terungkap antara Zayn dan Nafiza. Sebagai seorang ibu, ia sangat mengenal putranya. Ia tahu, Zayn tidak mudah tertarik pada seorang wanita. Namun, reaksi Zayn saat melihat Nafiza tadi, membuatnya yakin ada sesuatu yang istimewa dari gadis bercadar itu.
"Istri karyawan? Kenapa Zayn terdengar begitu tidak yakin?" gumam Maya, mengerutkan kening. Ia teringat akan tatapan Zayn pada Nafiza, tatapan yang penuh dengan pertanyaan dan kekaguman. "Tidak mungkin hanya karena dia istri karyawan biasa."
Maya memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut tentang Nafiza. Ia tidak akan membiarkan putranya melewatkan kesempatan untuk mendapatkan calon menantu idamannya. Ia akan mencari tahu, siapa sebenarnya Nafiza, dan apa yang membuatnya begitu menarik di mata Zayn. Ia merasa, ada sesuatu yang tersembunyi di balik sosok wanita bercadar itu.
Dengan cepat ia menelepon seseorang, yang tak lain asisten sang putranya sendiri, David. Ia meminta David untuk mencari tahu siapa Nafiza, tanpa ragu ia memberikan ciri-ciri wanita bercadar yang mengantarkan kue ke rumahnya barusan. Ia juga menambahkan, agar David mencari tahu segala hal tentang Nafiza, termasuk status pernikahannya.
"Baik Tante, akan segera David selidiki!" balas David dari seberang sana.
Sementara itu, di dalam mobilnya, Nafiza masih merasa detak jantungnya belum kembali normal. Tatapan mata Zayn yang penuh dengan keyakinan saat mengenalinya terus menghantui pikirannya. Ia menggigit bibir bawah, mencoba mengusir kenangan kejadian kemarin sore di kantor.
"Kenapa harus bertemu sama pria itu lagi sih?" keluh Nafiza dalam hati, menjepit kemudi mobil dengan erat. Ia sudah cukup kesulitan menghadapi masa lalunya yang pahit dengan calon mantan suaminya, dan kini bertemu lagi dengan CEO perusahaan tempat Rehan bekerja dan itu membuatnya semakin tidak nyaman. Ia merasa, takdir sedang mempermainkannya.
Bersambung ....