NovelToon NovelToon
Menikah Dengan SEPUPU

Menikah Dengan SEPUPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Payang

Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.

Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.

Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.

Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Minta Izin Menikah.

Di kediaman Harry Laksamana, kakak kandung dari Melitha Lisana.

"Adikmu itu memang selalu nyusahin kita, Mas. Sekarang siapa yang mau nikahin dia? Makanya jadi perempuan itu nggak usah kegatelan! Giliran hamil kita yang pusing!"

Soraya terus mengomel, melirik Melitha yang hanya membisu memakan makanannya yang hampir tak mampu tertelan, hatinya menangis menerima cercaan kakak iparnya.

"Cukup, Ma... jangan bahas masalah itu lagi di meja makan seperti ini, tak pantas... Ada Melitha, juga anak-anak kita yang masih kecil," pelan Harry, pusing mendengar kicauan isterinya. Makan malam mereka memang terlambat karena Soraya yang terus uring-uringan sepanjang hari begitu mengetahui kabar tak sedap tentang adik iparnya itu siang tadi.

Soraya langsung merengut.

"Nah, itu! Mas selalu saja begitu, melarangku membahas apapun tentang Melitha. Tapi apapun keperluan Melitha, Mas tetap memintaku membagi gaji Mas yang sedikit itu untuknya. Anak kita perlu makan daging Mas, supaya pintar! Bukannya tahu, tempe, ikan asin, dan telur saja setiap hari!" ungkitnya.

Harry mendesah kasar, hampir tak mampu menahan diri mendengar ucapan isterinya.

"Mel, tolong bawa Adri dan Naomi pergi dari sini," Harry menatap lembut pada Melitha.

"Na-omi macih mau matan, Papah..." gadis batita itu mengerucutkan bibirnya sambil mengacungkan garpu pada ayahnya sebagai protes.

"Naomi masih boleh makan kok Sayang, hanya pindah tempat aja ikut sama bibi Meli, soalnya Papa sedang membahas hal penting sama Bidadari."

"Bidadali? Mana?" Naomi bertanya bingung lalu menoleh kesana-kemari dengan wajah penasaran, sementara rambut kuncir kudanya meliuk-liuk mengikuti pergerakan kepalanya.

"Tuh," Harry menunjuk pada Soraya yang berwajah angker.

Naomi dan Adri cepat mengikuti arah yang ditunjuk ayah mereka. Berbeda dengan Adri yang hanya diam, Naomi langsung membekap mulutnya dengan sepasang tangan kecilnya sambil tertawa kecil. "Hiii... "

"Kenapa tertawa melihat Mama?" Soraya tersinggung.

"Mamah antik.... Hiiii.... Papah pahti cembunyiin telendang Mamah yagi bial Mamah gak puang-puang ke khayangan," sahut Naomi bersilat kata disela-sela tawa kecilnya, mengingat dongeng yang sering diceritakan berulang kali oleh Melitha saat dirinya dan sang kakak akan berangkat tidur.

"Nah, sekarang buruan ikut bibi Melitha sama mas Adri ya," Harry mencium sayang pucuk rambut putri kecilnya lalu menurunkannya dari kursi. Sebelum pergi, Naomi tidak lupa mencium pipi ayah juga ibunya yang masih memasang wajah angkernya.

"Sayang, aku mohon... Jangan pernah mencerca Melitha lagi, apa lagi didepan anak-anak," Harry kembali berucap setelah Melitha pergi membawa Adri dan Naomi.

"Melitha sudah cukup menderita dan tertekan dengan semua yang tengah menimpanya. Kecelakaan ini, membuatnya harus merelakan beasiswa pertukaran pelajarnya, bahkan besar kemungkinan Melitha bisa di DO dari sekolahnya. Hanya aku kakaknya yang dia punya--"

"Kalau hanya mas Harry yang dia punya, harusnya Melitha tahu diri sebelum masuk ke sekolah itu!" potong Soraya.

"Sekarang? Dia terancam DO, sia-sia saja biaya yang kita keluarkan selama ini, toh akhirnya keluar juga dari sana. Kita ini banyak kebutuhan Mas!" dongkolnya, menatap nyalang pada suaminya.

"Bila untuk pendidikan... itu tidak ada yang sia-sia, Ma. Sekalipun putus di tengah jalan, tetap ada ilmu yang tersimpan didalam kepala, apa lagi ini terjadi bukan karena keteledoran Melitha--"

"Ya, bela saja terus adikmu itu, Mas! Manjain terus! Lihat hasilnya sekarang? Kita yang sudah hidup pas-pasan karena membiayainya, malah turut menanggung malu karena kebuntingannya!"

"Mas yang harusnya berkerja dan bisa dapat uang lemburan tapi seharian ini malah mengurus Melitha! Dia itu memang selalu merepotkan! Lalu apa sumbangsihnya untuk kita, Mas? Apa?!"

"Banyak!" Harry yang sedari tadi berusaha sabar, sudah tidak mampu menahan diri.

"Melitha yang membantu Mama mengasuh Adri dan Naomi sejak mereka bayi! Melitha yang beberes rumah dan memasak di dapur bila Mama lelah, sakit, atau keluar bersama teman-teman arisan Mama! Dan itu semua gratis!"

"Heuh!" Soraya tersenyum sinis mendengarnya.

"Wajar, Mas! Melitha hidup di rumah ini juga numpang. Makan gratis, dan nggak bayar sepeserpun uang sewa rumah!"

"Stop! Cukup, Raya!" Harry mengangkat kedua tangannya, tidak tahan pada perdebatan tidak berfaedah itu.

"Benarkan? Itu sebabnya Mas menghentikanku. Adikmu itu memang sumber kesusahan kita, dia itu beban, Mas! Apa lagi sekarang hamil dan tidak ada laki-laki yang mau menikahinya!" ocehnya lagi, menumpahkan segala isi hatinya.

Harry menatap sedih pada isterinya, sebenci itukah isterinya pada adik satu-satunya itu?

"Melitha bukanlah beban," pelan Harry berkaca-kaca.

"Semenjak Ayah dan Ibu tiada, akulah yang wajib merawat Melitha. Rumah ini adalah warisan orang tua kami untuk Melitha, kitalah yang gratis tinggal disini. Sedangkan tanah kebun yang diwariskan orang tua kami untukku, sudah di jual untuk membiayai persalinan kakak perempuanmu dan biaya rumah sakit adik laki-lakimu yang kecelakaan motor karena balapan liar. Aku yakin, kamu tidak lupa itu, Raya."

Di area dapur, Melitha yang mendengar semuanya dengan jelas berusaha keras menahan air matanya sembari mencuci peralatan dapur, dua keponakannya telah ia antar kekamarnya setelah selesai makan tadi.

Tok! Tok! Tok!

Tidak menunggu lama, Harry segera beranjak menuju pintu depan, begitu mendengar suara ketukan pintu.

Soraya masih terpaku di meja makan, kalimat-kalimat terakhir suaminya beberapa menit lalu mampu membungkam mulutnya hingga tidak mampu berdebat lagi.

Klek-klek.

Harry sedikit kaget, begitu melihat siapa yang datang. "Pandji?"

Pandji tersenyum tipis. "Selamat malam, Mas. Maaf, bila kedatanganku malam-malam begini mengganggu Mas yang mungkin sudah mau beristirahat."

"Ah, tidak... masuklah," Harry bergeser dari ambang pintu untuk memberi ruang pada Pandji.

"Sudah makan?" tanya Harry tanpa niat basa-basi. Dirinya terbiasa begitu bila keluarganya datang, selalu menawarkan makan walau bukan jam makan.

"Sudah, Mas," bohong Pandji.

"Serius?" Harry menelisik wajah Pandji yang memiliki tubuh lebih tinggi dari dirinya itu.

"Heum, serius, Mas," sahut Pandji meyakinkan.

"Kalau begitu, ngopi ya? Harus mau," ucap Harry lagi dengan nada sedikit memaksa. "Kita langsung ke meja makan saja sambil mengobrol disana."

"Iya, boleh, Mas," Panji mengekor masuk di belakang Harry.

"Mel, buatkan dua kopi untuk Pandji dan Mas!" teriak Harry.

"Iya, Mas!" Dari dapur, Melitha balas berteriak agar didengar.

"Mbak Raya," Pandji menyapa, menyalami isteri kakak sepupunya itu.

"Baiknya, Mbak tinggal dulu ya... Mungkin kamu dan mas Harry ada pembicaraan pribadi," duga Soraya, berubah ramah bila ada tamu. Ia siap betanjak setelah bersalaman dengan Pandji.

"Aku justru ingin mbak Soraya tetap disini, mendengar akan maksud kedatanganku."

Ucapan Pandji tentu saja menahan niat Soraya pergi dari sana, ia dan Harry saling pandang sesaat.

"Boleh aku langsung pada intinya, Mas... Mbak?" ucapan Pandji kembali merebut atensi sepasang suami isteri itu. Dirinya memang dikenal sebagai pribadi yang tidak suka basa basi.

"Ya silahkan, Pandji," ucap Harry, menatap pada adik sepupunya itu.

"Aku, minta izin menikahi Melitha, Mas. Secepatnya."

"Apa?!" Kaget Harry dan Soraya bersamaan.

Bersambung✍️

1
Teteh Lia
habis sudah kesabaran babang Harry
Teteh Lia
Oh ya ampuun... kejam sekali dirimu, masa suami suruh tidur di lantai.
sari. trg
atur dulu anakmu Bu
sari. trg
waduh! siapa tuh bapaknya?
Zenun
harusnya tanya dulu mengapa Hary bisa bicara gitu, ada bukti apa
Dewi Payang: Harusnya begitu memang.....
total 1 replies
🟢≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥
waduhhh... ternyata oh ternyata Raya berani sekali ya melakukan itu... ishhh ishhh ishhh...
Dewi Payang: Baiklah....😁😍
total 7 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
is is is ternyata jalang teriak jalang oy
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩: is is is... kok mirip elok ya🤭
total 2 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
masih aja loh si ibu. gmn klo si harry yg selingkuh?! pasti kln nge reog
Dewi Payang: klo anak sendiri dimaklumi, kko menantu gak boleh salah🤭
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
woaahhhh ortunya juga mau2 aja menampung
Dewi Payang: Wkwk😂😂 padahal maksud mengadu pengen ortu jadi penengah kalu bisa dibelain ya kak🙈🙈🙈🙈
total 6 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dasar jalang. msh aja playing victim. ga tau malu. mau pake uangnya tapi ga mau melayani suami. kapan kau kapok
Dewi Payang: ini bukan hanya terjadi di dunia pernovelan saja, di dunia nyata pun ada, dan keluarganya gak menegur, miris
total 1 replies
Risa dan Yayang
Soraya Harry tahu kamu mengandung bukan darah dagingnya
Suamiku Paling Sempurna
Jangan jangan Harry mau menceraikan Soraya makanya datang ke rumah mertuanya
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Bikin pesanan dengan anak yang di kandung Soraya
Risa Istri Cantik
Apa sebenarnya Soraya hamil anak Harry tapi Harry menduga Soraya hamil dengan pria lain, karena Soraya ngga mau sama pria pemalas sedangkan Harry pria rajin kerja
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Soraya kamu hamil anak siapa kalau sama Panji ngga mungkin dong Pandji pria baik baik
neng ade
kualat tuh sama suami dan adik ipar mu itu ..
Dewi Payang: Mukai menuai karma kak....
total 1 replies
Teteh Lia
Rumit bener ya ini.
Melitha udah mumet. Rumah tangga mamas na malah jauh lebih rumit.
Dewi Payang: Sama² mengalami ujian hiduo kak😭
total 1 replies
Teteh Lia
Mamas pandji na terlalu mempesonah. jadi ya gitu... banyak yang meleleh liat na. 🤭
Dewi Payang: Jadi apa kak, jangan bikin daku penasaran🤭
total 3 replies
Teteh Lia
Soraya lagi mengandung. semoga kali ini dia bisa sedikit ngerem mulut kasar na ya. bumil kan harus hati2 dalam berucap
Dewi Payang: Harusnya gitu kak, kalo gak kasian menurun ke anaknya😂
total 1 replies
Yayang Suami Risa
Celo atau kakak iparnya Soraya yang menghamili Soraya
Dewi Payang: Kalo dua pria, tamatlah riwayat Soraya, dua²nya pemalas😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!