Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Dunia Kultivasi.
Udara di kamar kayu ini tidak hanya berisi aroma hangat susu dan kain bersih. Ada lapisan lain yang hanya bisa kurasakan, sebuah sensasi tekanan halus di ambang kesadaran.
Aku terbangun, bukan karena tubuh bayiku yang rewel, tetapi karena sesuatu itu.
Seperti ada jarum-jarum halus dari energi tak kasat mata yang menusuk lembut kulit rohaniku.
Tekanan itu bergelombang, mengalun seirama dengan napas Ibu yang sedang duduk di kursi dekat boks.
Aku belum punya kata untuk ini di kepalaku yang dewasa, tetapi tubuh bayi ini mengenalinya dengan naluri purba, ini adalah energi hidup yang bergolak, namun terarah.
Hanya satu yang terbesit dalam benakku. Sebenarnya, dunia apa ini?
Ibu duduk dalam pose meditatif yang sempurna, punggung lurus namun tidak kaku, tangan terbuka di atas pangkuannya.
Sorotan cahaya pagi yang masuk dari jendela tampak terbelokkan di sekelilingnya, seakan udara di dekatnya lebih padat, lebih berisi.
"Mari kita lihat hari ini ..." gumamnya, suaranya terdengar seperti gema yang datang dari ruang hampa.
Mataku yang buram memaksakan fokus.
Di antara kedua telapak tangannya, di ruang udara itu, partikel-partikel cahaya keemasan mulai berkerumun dari ketiadaan
Mereka bukan cahaya biasa.
Mereka lebih seperti butiran embun kehidupan yang berpendar, masing-masing memiliki denyut internalnya sendiri.
Ibu menarik napas perlahan, dan butiran-butiran itu menyatu, membentuk suatu pola spiral tiga dimensi yang berputar lambat.
Apa itu Qi? Seperti donghua yang sering aku tonton di depan televisi tabung punyaku yang sudah usang.
Tapi yang lebih mencengangkan adalah apa yang terjadi di dalam tubuhnya.
Aku bisa melihatnya.
Mungkin karena tubuh bayiku yang belum terkontaminasi, atau mungkin karena pemberian Qi-nya sendiri, indra spiritualku terbuka untuk sesaat. Dan yang kulihat membuatku tercengang.
Di balik kulit dan daging Ibu, terhampar jaringan saluran-saluran cahaya. Mereka seperti sungai-sungai bercahaya, arteri yang terbuat dari bulan dan bintang, berkelok-kelok mengikuti pola tertentu di seluruh tubuhnya.
Ini adalah Meridian-nya? Nalarku berteriak dalam hati. Jalan tol bagi energi surgawi.
Namun, tidak semua sungai itu sama terangnya.
Sebagian besar berwarna emas muda, mengalir lancar bagai air jernih di pegunungan. Beberapa titik tertentu, di perut bawah, di tengah dada, di antara alis, bersinar lebih terang, seperti kota-kota ramai di peta energi.
Itu pasti titik-titik akupuntur atau pusat energi.
Dan yang paling terang, paling padat, adalah suatu bola cahaya keemasan padat yang berputar tenang di area perut bawahnya. Ia memancarkan gelombang energi yang teratur, seperti matahari kecil dalam tubuhnya.
Core-nya.
Danhua-nya.
Inti Kultivasinya.
"Aliran Utama Ren Mai terasa lancar hari ini," bisik Ibu, mata tetap terpejam.
Jari telunjuk kanannya bergerak setengah inci. Di dalam tubuhnya, cahaya di sepanjang garis tengah dada, itulah Ren Mai, menyala berkilat, memompa energi dari inti keemasan di perutnya naik ke dada, lalu ke tenggorokan.
Di telapak tangannya, spiral cahaya eksternal membesar, resonansi sempurna dengan aliran internalnya.
Lalu, dengan gerakan lembut, dia memutar pergelangan tangan kirinya.
Di dalam tubuhnya, aliran energi di lengan kiri. Meridian Tangan Tai Yin menyala terang.
Energi dari inti mengalir deras ke lengan, keluar melalui ujung jari tengahnya, dan menyatu dengan spiral di udara.
Bola cahaya itu kini berdenyut dengan irama yang sama dengan detak jantung Ibu.
Qi adalah napas alam semesta. Meridian adalah sungai tempatnya mengalir. Kultivasi adalah seni mengarahkan sungai dan menyempurnakan napas itu.
Kata-kata itu muncul di benakku, bukan sebagai ingatan, tetapi sebagai pemahaman intuitif yang disalurkan melalui pengamatan langsung menonton donghua.