Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Wanita yang Tak Retak
Punggung Ayza menyentuh dinding. Bukan sakit yang ia rasakan, melainkan dingin.
Tatapan Reza terlalu dekat, tapi hatinya tetap tenang. Ia menatap balik tanpa ragu apalagi takut.
"Kau cukup berani. Wanita sepertimu," Reza menarik satu sudut bibirnya ke atas. "Apa pantas memiliki standar tinggi?"
Bukannya marah, Ayza malah tertawa pendek. "Wanita sepertiku? Seperti apa maksudmu? Dari kalangan bawah? Tubuh tak sempurna? Tak berpendidikan tinggi?"
Ayza tersenyum di balik cadarnya. Reza bisa melihatnya dari sudut matanya yang berkerut samar.
"Kesempurnaan seorang manusia bukan diukur dari paras rupa. Fisik semata. Hanya orang yang berpikiran dangkal yang menilai manusia seperti itu."
Reza menunduk, jarak mereka semakin dekat. "Maksudmu? Aku orang yang berpikiran dangkal?" tanyanya dengan suara rendah, tapi menekan.
"Tanya pada dirimu sendiri." Ayza mendorong dada Reza cukup untuk membuatnya menjauh tanpa kehilangan keseimbangan. "Hatimu lebih tahu jawabannya."
Reza terdiam. Rahangnya mengeras, lalu ia mengalihkan pandangan sesaat. Cukup lama untuk mengkhianati jawabannya sendiri.
"Cih. Kau bicara begitu percaya diri. Memangnya apa yang bisa kau banggakan?"
Ayza menatapnya lurus. "Tak ada yang perlu aku banggakan. Kecantikan akan memudar seiring waktu, kulit berubah keriput saat menua. Semua yang ada padaku hayalan titipan-Nya. Harta dan nyawa bisa diambil kapan saja."
Reza mendengus. "Kau sangat pandai bicara. Seharusnya kau jadi pengacara, bukan guru ngaji."
Reza mendengus pelan. Untuk pertama kalinya, ia tak menemukan kalimat balasan.
"Aku hanya bicara apa adanya. Sesuai fakta dan realita," ujar Ayza tenang dan tetap lembut tapi selalu tajam.
Reza merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kartu dari deretan kartu di dompetnya.
"Ini uang untuk keperluan rumah ini dan uang jajanmu." Reza mengulurkan kartu itu, menyebutkan nomor PIN. "Jangan boros. Aku gak akan ngasih uang tambahan buat kamu."
Ayza menerima kartu itu dan Reza melangkah pergi. Namun ia berhenti sejenak. "Dan satu hal lagi. Kau tak perlu membuka cadarmu di depanku. Aku gak minat lihat mukamu."
Ayza tertawa tanpa suara. "Baik. Jangan pernah sesali perkataanmu."
"Tak akan pernah," sambar Reza penuh keyakinan.
Ia melangkah pergi tanpa menoleh. Tak pernah terlintas di benaknya, bahwa kalimat yang barusan ia ucapkan akan menjadi luka yang paling lama menolak sembuh.
Di sebuah ruangan seorang pria muda duduk membaca berkas di atas mejanya. Kaisyaf Al Fatah.
Seorang pria berjas rapi berdiri di depannya. Ridho.
"Ayza Humaira," gumam Kaisyaf.
"Benar, Pak," sahut Ridho. "Informasi dari rumah sakit, hanya dia satu-satunya wanita yang memakai cadar saat kecelakaan itu terjadi."
Kaisyaf menatap berkas itu lagi. "Alamat ini..." ia ragu melanjutkan.
"Di perkampungan. Dia tinggal bersama ibunya," sambung Ridho. "Dia guru ngaji di desanya. Dan..." ia nampak ragu melanjutkan.
"Dan apa?" Kaisyaf mengangkat alis tipis.
"Dia kehilangan sebelah kakinya karena kecelakaan itu. Sekarang berjalan menggunakan kaki palsu," lanjut Ridho.
Kaisyaf memejamkan mata sejenak, lalu memijat pelipisnya. Helaan napasnya terdengar pelan. Berat.
"Ayahnya?" tanya Kaisyaf kemudian.
Ridho berdehem pelan seolah ada yang mengganjal di kerongkongannya. "Menurut info yang saya dapat," Ridho menarik napas lebih dulu sebelum melanjutkan. “Ibunya… tidak menikah, Pak. Ayza dibesarkan tanpa ayah. Catatan kelahiran menyebutkan—”
“Cukup,” potong Kaisyaf pelan.
Kaisyaf terdiam sejenak. Ujung kertas itu terlipat di antara jemarinya tanpa ia sadari.
"Perekonomian mereka?" tanyanya.
"Bu Aini, ibunya Ayza, berjualan makanan tradisional di pasar. Dari pagi sampai sekitar pukul sembilan biasanya sudah pulang. Hidup sederhana."
Sejenak yang terdengar hanya deru AC di ruangan itu. Hingga Ridho kembali bicara.
"Apa Anda akan menemui gadis itu?" tanyanya.
Kaisyaf menggeleng pelan. "Selidik lebih jauh," ucapnya singkat.
Ridho mengangguk. "Baik, Pak." ia berbalik pergi, namun saat tinggal selangkah menuju pintu, suara Kaisyaf kembali terdengar.
"Berikan bantuan rutin untuk keluarga tak mampu," jedanya singkat, "terutama janda dan anak yatim di desa itu."
"Baik, Pak."
Pintu tertutup.
Kaisyaf menghela napas pelan. Ia berdiri menatap lanskap kota. Jas itu jatuh terlalu longgar di tubuhnya,
menyisakan garis tulang di rahang dan bahu yang dulu tak setajam ini.
Napasnya tertahan sepersekian detik sebelum kembali stabil.
"Wanita seperti apa dia," gumamnya, tanpa benar-benar berharap jawaban.
Dua tahun lalu meninggalkan lebih banyak luka daripada yang tercatat.
Dan hari ini, tak satu pun dari mereka tahu, apakah pertemuan itu kelak akan menjadi ikatan, atau justru akhir dari segalanya.
***
Pagi itu Ayza sudah selesai menyiapkan sarapan saat Reza keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi siap ke kantor.
"Kak," panggilnya. "Aku sudah menyiapkan sarapan," lanjutannya. Suara tetap terdengar lembut tapi tegas.
Reza berhenti dan menoleh. "Sarapan seperti apa yang bisa disiapkan gadis desa sepertimu?" tanyanya dengan senyum samar. Meremehkan.
"Hmph." Ayza tertawa pelan di balik cadarnya. "Kakak lihat saja dulu. Kalau mau makan. Kalau gak, aku rasa pak Darto gak bakal nolak kalau aku kasih," ujar Ayza santai, berbalik menuju ruang makan. Sama sekali tak tersinggung.
Reza menatapnya dengan tatapan tak percaya. Ia berdiri terlalu lama di tempatnya.
Perasaan asing itu mengendap di dada. Bukan marah, bukan kecewa,
melainkan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya:
diabaikan.
"Terbuat dari apa hatinya? Apa dia sudah memasang tembok sebelum menikah denganku? Bukankah itu berarti benar yang dia katakan, sejak awal dia gak pernah tertarik sama aku?"
Reza mengepalkan tangannya. Belum pernah ia dianggap biasa oleh seorang wanita.
Ia mengalihkan pandangan, rahangnya mengeras. Perasaan itu membuatnya tak nyaman, seolah sesuatu yang selama ini kokoh
retak tanpa suara.
Ia melangkah menuju meja makan. Duduk menatap menu yang tersaji. Ia sempat mengira akan mendapati nasi atau rebusan sederhana.
Namun yang tersaji justru pan cake tersusun rapi, aromanya lembut, tampilannya jauh dari bayangannya.
Ayza mengambil piring Reza meletakkan pan cake, memberi selai dan susu lalu melapisinya tiga bagian.
Reza menatap piring yang sudah kembali diletakkan di depannya. Penampilannya menarik, menggugah selera. Sedangkan Ayza mengambil pan cake untuknya sendiri.
Reza mulai memotong dan menyuapkan ke mulutnya. Rasanya lembut di mulut, manis dan gurihnya pas.
“Lumayan,” gumamnya singkat.
Ia kembali memotong pan cake itu,
seolah tak ingin mengakui bahwa piringnya sudah hampir bersih.
Ayza meletakkan sendoknya, lalu menatap Reza. “Aku ingin bicara soal pernikahan kita.”
Reza menatapnya. Tak ada nada menuduh. Tak ada emosi. Justru itu yang membuat dadanya terasa tak nyaman.
...🔸🔸🔸...
...“Yang paling menyakitkan bukan direndahkan, melainkan disadari bahwa kita tak pernah bisa merendahkannya.”...
...“Ia tak membalas luka dengan amarah, karena hatinya sudah lebih dulu utuh.”...
...“Ketika seorang wanita tak lagi berharap, di situlah seorang pria mulai merasa kecil.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍