Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Luar
Hari itu kami benar-benar keluar.
Arven memilih sore, seperti biasa. Waktu ketika matahari tidak begitu panas. Ia bilang udara sore lebih enak buatku. Katanya, tubuhku masih perlu dibiasakan.
Kami berjalan berdampingan. Tangannya menggenggam tanganku dengan hangat. Terkadang ia menoleh sebentar, memastikan aku baik-baik saja.
"Kamu pusing?" tanyanya pelan.
Aku menggeleng. "Enggak. Aku cuma....senang."
Ia tersenyum kecil, Arven tampak lega mendengar jawabanku.
"Kalau capek, bilang ya. Kita bisa langsung pulang. Aku nggak mau kamu maksain diri."
Nada suaranya lembut, penuh perhatian, dan kekhawatiran yang dibungkus dengan rapi.
Kafe yang ia pilih kecil dan tenang. Ada aroma kopi dan kayu basah. Arven memilih tempat duduk yang menghadap pintu, tapi kali ini ia menjelaskannya tanpa perlu aku bertanya.
"Aku duduk di sini biar aku bisa lihat orang keluar masuk," katanya sambil menarikkan kursiku. "Bukan karena apa-apa. Aku cuma...lebih tenang kalau tahu sekeliling."
Aku mengangguk. Penjelasan itu terdengar masuk akal. Bahkan manis, dengan caranya sendiri.
Kami mengobrol lama. Tentang hal-hal remeh, tentang makanan yang dulu katanya aku suka, tentang kebiasaan-kebiasaan kecil yang katanya selalu kulakukan tanpa sadar. Ia bercerita dengan detail yang membuatku merasa dikenal, meski aku sendiri tidak mengingat semua itu.
Saat kami pulang, malam sudah turun. Lampu jalan menyala satu per satu. Aku berjalan lebih dekat ke arahnya.
Di dalam lift, ruang sempit itu membuat suara kami lebih pelan.
"Ven," kataku, ragu tapi jujur, "kalau suatu hari nanti aku pengen keluar sendiri....gimana?"
Ia terdiam cukup lama, dia diam menimbang perkataan ku. Aku bisa melihat rahangnya menegang sedikit, lalu mengendur lagi saat ia menghela napas.
Ia menoleh ke arahku sepenuhnya.
"Bukan aku nggak percaya sama kamu," katanya perlahan, seolah memilih kata satu per satu. "Aku cuma takut sama dunia di luar sana. Kamu belum inget semuanya, Ren. Dan kalau sesuatu terjadi...aku nggak yakin kamu siap menghadapinya sendirian."
Aku membuka mulut, tapi ia melanjutkan, suaranya tetap lembut.
"Aku tahu kedengarannya berlebihan. Tapi waktu kamu koma, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan cuma nunggu. Dan aku nggak mau ngerasain itu lagi."
Matanya gelap, bukan marah, tetapi seperti takut.
"Aku cuma mau kamu aman," tambahnya pelan. "Sama aku."
Jawaban itu tidak membuatku merasa dikurung. Justru membuatku merasa dipeluk.
Aku mengangguk pelan. "Aku ngerti."
Dan saat itu, aku sungguh merasa mengerti.
Namun malam itu, setelah kami kembali ke apartemen, rasa ingin itu tidak benar-benar hilang. Ia hanya diam.
......................
Beberapa hari kemudian, aku mencobanya lagi.
"Kita bisa keluar lagi besok?" tanyaku santai, sambil melipat baju.
Arven berhenti bergerak. Menoleh. "Besok?"
"Iya. Aku ngerasa....aku pengen lihat lebih banyak. Sedikit aja."
Ia mendekat, duduk di hadapanku. Tangannya menggenggam tanganku, hangat dan stabil.
"Ren," katanya lembut, "aku bukan nggak mau ngajak kamu keluar. Aku cuma pengen pastiin setiap langkah kamu itu aman. Kamu nggak tahu betapa gampangnya dunia bikin kamu kewalahan sekarang."
"Tapi aku nggak rapuh," kataku, kali ini lebih keras dari yang kurencanakan. "Aku cuma lupa ingatan."
Ia terdiam.
"Aku pengen hidup," lanjutku, suaraku mulai bergetar. "Bukan cuma...duduk di rumah saja seperti ini."
Aku melihat sesuatu berubah di wajahnya. Kekhawatiran bercampur panik. Ia berdiri, mondar-mandir satu kali, dua kali.
"Kenapa kamu nggak bisa ngerti?" katanya tiba-tiba, suaranya naik. "Aku ngelakuin ini semua buat kamu!"
Nada suaranya membuat tubuhku menegang. Tanganku gemetar sebelum aku sadar aku sudah mundur setengah langkah.
Arven berhenti.
Ia melihatku, benar-benar melihatku,dan seolah dunia runtuh di matanya.
"Ren..." suaranya langsung turun. Ia mendekat cepat, memelukku erat sebelum aku sempat menolak. "Maaf. Maaf. Aku nggak boleh teriak. Aku nggak bermaksud nakutin kamu."
Tangannya gemetar di punggungku. Ia mengusap rambutku berulang kali, seperti mencoba menenangkan kami berdua.
"Aku cuma takut kehilangan kamu," bisiknya. "Aku udah hampir kehilangan kamu sekali. Aku nggak sanggup kalau itu kejadian lagi. Aku sudah bilang berkali-kali sama kamu. Inget kan? "
Aku perlahan membalas pelukannya.
Ia menarik napas panjang.
"Baiklah," katanya akhirnya, suaranya lebih tenang tapi lelah. "Kalau kamu mau keluar kamu boleh."
Aku mendongak.
"Tapi dengan satu syarat," lanjutnya lembut, ibu jarinya mengusap pipiku. "Kamu keluar cuma sama aku, seperti kemarin. Bukan karena aku mau ngatur hidup kamu. Tapi karena aku mau pastiin kamu pulang ke rumah. Ke aku."
Aku menatapnya lama.
Lalu aku mengangguk.
Dan aku tidak tahu bahwa itu bukan kompromi. Itu adalah pintu lain yang pelan-pelan tertutup di belakangku.
......................
Kami lagi lagi menghabiskan waktu di kafe di sore hari persis seperti kemarin. Saat kami pulang dari kafe, malam sudah benar-benar turun. Lorong apartemen diterangi lampu kuning yang sedikit redup, membuat bayangan kami memanjang di lantai. Langkah kakiku terasa ringan, mungkin karena udara malam, mungkin juga karena perasaan hangat yang masih tertinggal setelah keluar bersama Arven.
Begitu pintu lift terbuka di lantai kami, seorang perempuan paruh baya berdiri tak jauh dari pintunya sendiri. Rambutnya digulung sederhana, mengenakan sweater tipis. Ia menoleh begitu melihat kami.
"Oh Seren?" katanya ragu, lalu tersenyum lebar. "Kamu sudah pulang?"
Aku terhenti refleks. Nama itu namaku keluar dari mulut orang asing.
Aku menatapnya, mencoba mencari sesuatu di ingatan. Tidak ada. Tapi senyumnya tulus, seolah kami pernah berbagi pagi yang sama, atau obrolan ringan di lorong ini.
"Saya..." Aku baru ingin bicara ketika Arven melangkah setengah langkah ke depanku.
"Iya, Bu," katanya cepat, sopan tapi tegas. "Kami baru pulang. Seren capek."
Nada suaranya tidak kasar. Bahkan terdengar ramah. Tapi ada sesuatu di caranya berdiri bahunya sedikit maju, posisinya menghalangiku yang membuat percakapan itu berhenti di tempat.
"Oh, maaf," kata perempuan itu, sedikit kikuk. "Saya cuma senang lihat Seren sudah-"
"Kami harus masuk," potong Arven lembut, sambil menunduk singkat. "Terima kasih ya, Bu."
Ia meraih tanganku, menggenggamnya lebih erat dari biasanya, lalu menuntunku menuju pintu apartemen kami. Aku sempat menoleh sekali lagi. Perempuan itu masih berdiri di sana, wajahnya menyimpan kebingungan kecil, tapi ia melambaikan tangan pelan.
Pintu tertutup di belakang kami dengan bunyi klik yang sunyi.
Aku menarik napas pelan.
"Dia...kenal aku?" tanyaku akhirnya.
Arven tidak langsung menjawab. Ia membantuku melepas sepatu, gerakannya rapi dan cepat, lalu menggantung jaketku seperti biasa.
"Kalian pernah beberapa kali ketemu di lorong," katanya sambil tersenyum kecil. "Dulu kamu memang ramah. Mudah akrab sama orang."
"Oh." Aku mengangguk, mencoba menerima penjelasan itu. "Aku nggak inget."
"Wajar," katanya cepat.
Tangannya menyentuh pundakku, memastikan aku berdiri stabil.
"Makanya aku tadi potong. Aku nggak mau kamu kepikiran hal-hal yang bikin kamu pusing."
Aku menatapnya. "Aku nggak apa-apa kok."
"Aku tahu," jawabnya lembut. "Tapi aku tetap khawatir."
Ia menuntunku ke sofa, menyuruhku duduk, lalu mengambilkan segelas air tanpa aku minta. Gelas itu diletakkan tepat di tempat yang mudah kuraih.
"Minum dulu," katanya. "Udara luar bikin kamu cepat capek."
Aku tersenyum kecil dan menuruti. Perhatiannya terasa banyak. Seperti selimut yang dilipat berlapis-lapis.
"Ven," kataku pelan setelah beberapa teguk, "kalau nanti orang lain nyapa aku lagi...nggak apa-apa kan?"
Ia duduk di sampingku, tubuhnya condong sedikit ke arahku. Wajahnya serius, tapi ia tidak marah.
"Aku nggak bilang nggak apa-apa," katanya hati-hati.
"Aku cuma pengen kamu siap. Kalau kamu bingung, atau nggak nyaman, kamu bisa langsung pegang aku. Aku di situ."
Ia mengangkat tanganku, menautkan jemariku dengan jemarinya.
"Aku bakal bantu jawab. Aku bakal jagain kamu."
Kata jagain itu jatuh dengan rasa berat yang aneh. Tapi cara ia mengucapkannya membuatku mengangguk tanpa berpikir panjang.
"Oke," kataku.
Ia tersenyum lega lagi.
......................
Di malam itu apartemen tidak benar-benar sunyi.
Dari dapur terdengar bunyi kecil sendok menyentuh panci, api kompor yang dikecilkan, suara minyak yang mendesis pelan. Arven masih terjaga. Aku tahu itu tanpa harus melihat jam.
Aku berdiri di depan jendela kamar beberapa detik, lalu keluar menuju ruang tengah. Lampu dapur menyala hangat, membentuk bayangan tubuh Arven yang bergerak tenang. Ia mengenakan kaus rumah, lengan bajunya digulung. Rambutnya sedikit berantakan.
"Aku pikir kamu tidur," katanya tanpa menoleh, seolah tahu aku ada di sana.
"Belum," jawabku. "Kamu bikin apa?"
"Cemilan. Kamu tadi makannya dikit."
Nada suaranya santai, tetapi tetap perhatian."
Aku duduk di sofa, ponsel di tangan. Aku menatap layar ponsel tanpa tujuan yang jelas. Awalnya cuma iseng, benar‑benar iseng. Mencari nama apartemen ini, lalu nama jalan di depannya. Aku bahkan tidak tahu kenapa ingin mencarinya, hanya terasa seperti sesuatu yang seharusnya kulakukan.
Layarku memuat lama.
Aku menunggu sambil menggigit bibir, berharap itu cuma sinyal yang sedang malas. Tapi ikon di pojok atas malah mengecil, lalu menghilang sama sekali. Beberapa detik kemudian muncul lagi.
Aku mengernyit, menggeser posisi duduk, lalu mencoba lagi.
Masih sama.
Lalu, sekilas sekali, muncul tulisan kecil di layar sebelum hilang begitu saja.
'Internet dibatasi'
"hah?"