Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.
Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalang
Pagi itu dikejutkan dengan ponsel Luciano yang berdering keras, sehingga membuat lelaki bertubuh kekar itu tersentak kaget.
Perlahan ia mengerjabkan matanya, lalu menoleh sejenak pada Alana yang masih tertidur dengan pulas berbantalkan lengan kirinya.
"Cantik!" gumam Luciano.
Ia pun menarik lengannya dengan perlahan agar tidak membangunkan Alana. Karena ia tahu, semalam adalah malam yang panjang bagi Alana, karena serangan mendadak dari Oliver, sehingga membuat Alana dihantui oleh rasa takut dan cemas, sehingga membuat gadis bermata sipit itu kesusahan untuk tertidur.
"Ada apa?" tanya Luciano.
"Ada pertemuan penting jam sembilan nanti, di hotel grand Grace dengan tuan Griverich," jawab seseorang dari seberang telepon itu.
"Ya," jawab Luciano singkat. Ia langsung menutup sambungan telepon itu dan kembali mendekat pada Alana.
"Good morning, baby!" ucap Luciano dengan lembut, ia menyentuh pipi Alana dengan jari telunjuknya.
Rasa geli di pipinya berhasil membangunkan gadis tersebut.
"Sudah pagi, ayo kita kembali ke rumah," ajak Luciano dengan wajah tenang. Sangat berjauh beda dari sebelumnya. Aura yang belum pernah Alana lihat dari sisi Luciano.
Tenang, sangat menenangkan tatapan Luciano untuknya. Sehingga membuat Alana sedikit terpaku dengan tatapan indah Luciano.
"Ada apa? Apa aku terlihat menyeramkan, Alana?" tanya Luciano, memastikan.
"No, aku bangun. Ayo," ajak Alana, ia berusaha menghindari tatapan Luciano padanya.
Luciano tersenyum hangat, dan itu sangat manis di mata Alana. Entah kenapa, ia begitu indah di mata gadis itu.
"Pintu ada di sisi kiri, Alana!" ujar Luciano.
Alana langsung berjalan kearah sisi kiri dan kemudian kembali berbalik badan menghadap Luciano.
"Aku nggak tahu jalan," kata Alana dengan suara lirih, namun terdengar setengah malu-malu.
Luciano kembali tersenyum, lalu berjalan mendekat pada Alana. Tanpa banyak bicara, Luciano langsung mengangkat tubuh Alana kedalam gendingnya. Menggendongnya dengan gaya bridal style, sehingga membuat Alana merasa canggung dan gugup saat itu.
"Tidak usah tegang begitu, Alana. Aku adalah suamimu saat ini!" ucap Luciano sambil menatap lekat kedua iris indah milik Alana, bibir Luciano tidak memudarkan senyuman itu sama sekali.
Tentu saja bukan tanpa alasan, Luciano tengah berusaha keras agar membuat Alana merasa nyaman dengannya, sehingga dengan perlahan Alana akan jatuh cinta dengan dirinya.
Setelah beberapa menit berjalan kaki, mereka akhirnya sampai di kamar, Luciano menurunkan Alana dengan perlahan, lalu ia berjalan ke kamar mandi.
"Aku akan bersiap terlebih dahulu, Alana. Setelah itu baru kamu. Semua pakaian yang kamu butuhkan ada di lemari. Sepatu, tas, makeup dan segala macam sudah aku sediakan. Jika kamu bosan, kamu bisa shopping sepuas kamu!"
Alana tidak menjawab sama sekali, ia masih kesal dan marah pada Luciano. Namun pesona dan sikap manis Luciano berhasil mengalihkan segala kebencian itu dari Alana.
Dengan kata lain, Alana bak terhipnotis oleh ketampanan seorang Luciano.
Satu jam sudah berlalu, Alana telah selesai bersiap, ia menatap sejenak dirinya di pantulan cermin, cantik! Sangat cantik. Alana selalu mengagumi kecantikannya, karena menurutnya, itu adalah karunia dari Tuhan yang harus selalu ia syukuri.
"Tapi sayang, aku harus menikah dengan mafia kejam. Sangat jauh dari ekspektasi ku. Bahkan aku saja tidak tahu jika Olli juga seorang mafia," batin Alana.
Setelah memastikan sudah rapi, Alana memutuskan untuk keluar dari kamar itu untuk mencari keberadaan Luciano. Bukan karena merindukan lelaki itu, tapi karena cacing di perutnya yang sudah mengadakan demo sejak setengah jam yang lalu.
"Apa kalian melihat Luciano?" tanya Alana kepada beberapa pelayan wanita yang saat itu sedang memberikan furniture di lantai bawah.
"Tuan sedang berada di ruang kerjanya, nyonya!" jawab salah satu pelayan dengan sedikit membungkuk hormat kepada Alana.
"Dasar jalang, kau pasti menggoda tuan Luciano dengan tubuhmu itu, kan? Sehingga tuan Luciano dengan mudah memberikan segalanya untukmu," tuduh salah satu pelayan yang memiliki wajah lumayan cantik, dan terlihat masih muda. Tidak berbeda jauh dari Alana.
Plak!
Satu tamparan Alana berikan untuk pelayan itu. Napas Alana memburu mendengar hinaan itu.
"Apa kau pikir aku serendah itu? Aku bahkan tidak pernah ingin menjadi bagian dari hidup bajingan itu. Jika kau sangat ingin berada di posisi ku, silahkan ambil. Tapi jangan pernah menghina ku," tegas Alana, ia bahkan sampai menunjuk-nunjuk wajah pelayan itu.
Plak!
Pelayan itu membalas tamparan Alana. Ia bahkan sampai menjambak rambut Alana dengan kencang, sehingga membuat Alana kesusahan saat itu.
"Lepas," pekik Alana, sambil terus berusaha melepaskan diri dari cengkeraman pelayan itu .
"Apa? Jangan mentang-mentang tuan Luciano yang membawamu ke rumah ini. Kamu bisa seenaknya seperti itu? Jangan pernah bermimpi, jalang!"
"Aku bukan jalang, sialan!"
Alana berhasil melepaskan dirinya dari pelayan itu, ia pun langsung membalas jambakan pelayan itu, bahkan sesekali Alana menendang pelayan itu di bagian perutnya dengan menggunakan lututnya.
"Beraninya kau jalang," umpat pelayan itu lagi.
"Beraninya kau menyakiti Alana." Luciano yang sejak kapan sudah berada diantara Alana dan pelayan itu.
Menyadari kehadiran Luciano, pelayan itu langsung memperlihatkan sikap baiknya kepada Luciano. Ia berusaha terlihat menjadi korban yang paling tersakiti.
"Maaf, tuan. Wanita ini begitu kejam, ia bahkan berani bermain kasar denganku," adu pelayan itu sambil terisak di depan Luciano.
"Pick me girl!" jawab Alana dengan kesal. Alana menyilangkan tangannya di dada, dan tatapannya mengarah ke tempat lain.
"Pengawal," panggil Luciano. Beberapa pengawal itu pun langsung berlari menghampiri Luciano.
"Habisi pelayan ini," titah Luciano, dan tentu saja membuat mata Alana membola saat itu. Begitu juga dengan pelayan itu.
"Come on, Luciano! Kau ingin membunuh lagi?" Alana menatap kesal wajah Luciano. Baru tadi pagi ia begitu mengagumi sisi lain dari Luciano, dan sekarang?
"Saya peringatkan kepada kalian, jangan pernah menyentuh Alana. Siapa pun itu tanpa terkecuali. Jika ada yang berani menyakiti Alana, maka sudah siap untuk berakhir seperti dia!"
Semua pelayan tidak ada yang berani menjawab, mereka semua menunduk patuh kepada tuan mereka.
Begitu juga dengan pelayan yang tadi, ia hanya bisa menangisi nasipnya yang sebentar lagi akan berakhir.
"Alana, are you oke?" tanya Luciano, ia memegang kedua lengan Alana.
"Jangan membunuh, Luciano." Alana berkata tegas, namun sayangnya Luciano hanya tersenyum menanggapi ucapan Alana.
"Dia memang pantas untuk mati, Alana. Karena dia sudah berani menyakiti kamu, sayang!" jawab Luciano, ia menarik pinggang Alana sehingga membuat tubuh mungil Alana berada pelukannya.
"Dia manusia, Luciano!"
"Tapi manusia itu sudah berani menyakiti Alana ku. Dan aku tidak suka itu," jawabnya, ia pun melepas pelukannya dan menarik tangan Alana untuk di genggam.
"Dengar Alana, jika ada satu orang saja yang berani menyakiti mu, maka akan ku pastikan, hidupnya berakhir hari itu juga!"
***