Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 ~ Membuat Kebaikan Untuk Semua Orang
Tangannya gemetar saat memegang surat gugatan cerai dari suami yang baru saja satu bulan menikahinya. Hari ini tepat satu bulan mereka menikah, dan Raina sudah mendapatkan surat gugatan cerai ini, bahkan belum sempat dia ingin berusaha dan berjuang memperbaiki pernikahan yang baru seumur jagung ini. Bahkan lebih singkat lagi.
"Marvin meminta anda untuk menuliskan apa yang akan anda inginkan atas kompensasi pernikahan ini, Rain" ucap Bayu, meski di dunia malam dia terkenal sebagai cassanova, tapi saat menjalani profesinya ini, dia benar-benar berbeda jauh, terlihat sangat serius, fokus dan berwibawa sebagai seorang pengacara.
"Sebenarnya aku juga heran kenapa si Marvin bodoh ini malah memilih menceraikanmu. Tapi, daripada melihatmu terus menderita berada dalam penjara pernikahan dengannya, lebih baik kamu lepas saja, Rain" lanjut Bayu.
Raina mengangguk pelan, air mata meluncur begitu saja mengenai kertas di tangannya. Segera dia mengusapnya dengan kasar. Ketika mengambil pena di atas meja, tangannya lebih gemetar lagi. Membubuhkan tanda tangan di surat gugatan cerai ini, seperti menandatangani sebuah akhir dari kehidupan yang awalnya ingin dia usahakan untuk lebih baik. Tapi ternyata tetap berakhir tanpa jejak.
"Menurutku sebaiknya kau minta setengah harta dia saja. Biarkan dia bangkrut sekalian" ucap Bayu dengan gaya provokasinya.
Raina tersenyum tipis sambil mengusap kembali air mata yang mengalir di pipi. Dia menggeleng pelan. "Aku tidak ingin meminta apa-apa, Kak. Karena aku sadar pernikahan ini sejak awal tidak seharusnya terjadi. Semuanya hanya karena kecelakaan itu, semuanya terjadi karena kelalaianku"
Bayu menghela napas panjang, menatap Raina dengan iba. "Kau memang terlalu baik untuk Marvin yang gila itu. Memang sebaiknya kau terlepas saja darinya, daripada semakin tersiksa"
Bayu mengambil kembali kertas dari hadapan Raina yang sudah di tanda tangani. Melihat Raina benar-benar mengosongkan bentuk kompensasi yang di tawarkan. Bayu mengambil pena dan menuliskan sesuatu disana.
"Meski kau tidak menginginkan apapun, tapi kau tidak mungkin pergi tanpa apapun dari rumah ini, Rain. Jadi, aku memintakan sejumlah uang dan mobil sebagai jaminan kompensasi ya"
"Jangan terlalu banyak Kak, nanti Kak Marvin malah semakin membenciku. Menganggap aku adalah wanita yng menginginkan hartanya saja"
"Sudah kau diam saja, semuanya biar aku yang urus. Sekarang siapkan saja mental untuk persidangan. Aku rasa akan ada huru-hara, karena orang tua Marvin sama sekali belum tahu soal ini"
Raina hanya diam saja, bahkan orang tuanya pun belum mengetahuinya. Jika mereka tahu, maka Ayahnya akan marah besar pada Raina. Jadi, kesempatan untuk kembali ke rumah orang tuanya, tidak mungkin bagi Raina. Dia sudah pasti di anggap tidak berguna karena bercerai dengan Marvin dan orang tuanya tidak akan mau menerimanya kembali.
Bayu berdiri, mengancingkan jasnya dan menatap Raina dengan lekat. Jujur saja, dia merasa kasihan dengan gadis ini. Tatapan matanya sangat sayu, menyembunyikan luka dan kesedihan yang mendalam. Namun, masih bisa tersenyum untuk menutupinya.
"Rain, kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku. Jangan sungkan meminta bantuan ya. Anggap saja aku Kakakmu" ucap Bayu sambil mengeluarkan kartu nama pada Raina. "Simpan nomor ponselku, kau bisa menghubungiku kapan saja jika membutuhkan bantuan"
Raina mengangguk sambil mengambil kartu nama milik Bayu. "Terima kasih Kak"
Setelah Bayu pergi, dia menatap kartu nama di tangannya. Tersenyum tipis melihat nama Bayu dan Perusahaan hukum yang dia punya.
"Bayu Rangga Alexander, nama yang sangat pantas untuk seorang pengacara, tapi sayangnya kenapa dia juga pemain wanita ya"
Raina akhirnya ikut meninggalkan Restoran, dia pergi bertemu dengan Bayu disini karena memang Bayu yang memintanya. Dia bilang agar lebih leluasa untuk berbicara. Raina juga baru tahu jika Restoran ini juga milik Bayu. Membuatnya berpikir, sekaya apa pria itu.
Mengendarai motornya, Raina mempunyai tujuan lain sebelum dia kembali ke rumah. Melihat kondisi Mama yang masih berada di rumah sakit. Kali ini dia bertemu dengan Papa saat datang menjenguk Mama.
"Untuk apa kau datang? Apa sudah mendapatkan apa yang Papa inginkan?" tekan Papa padanya.
Raina tahu jika Papa masih belum bisa mendapatkan dana investasi untuk Perusahaannya yang sedang di ancam kebangkrutan sekarang. Apalagi dengan Mama yang terus sakit-sakitan sejak kepergian Amira. Raina hanya menunduk sebelum menjawab, tahu jika jawabannya akan membuat Papa lebih marah.
"Aku tidak bisa mendapatkannya, Pa. Kak Marvin sama sekali tidak mau membantu"
"Kenapa kamu tidak memaksa, memohon atau bahkan bersujud di kakinya. Amira saja selalu bisa membantu, tapi kau ... sama sekali tidak berguna!"
Raina hanya menunduk tanpa menjawab apapun lagi. Karena jika menjawab pun, hanya akan membuat Papa semakin marah. Raina beralih menatap Mama saat Papa mendapatkan telepon dan keluar dari ruangan. Mama tidak sedang tidur, tapi dia memalingkan wajahnya seolah tidak sudi melihat wajah anak dari selingkuhan suaminya ini.
"Ma, bagaimana keadaan Mama? Cepat sembuh ya agar bisa pulang ke rumah" Raina menarik kursi samping ranjang pasien dan duduk disana. Mengupas apel untuk Mama. "Nanti kalau Raina ada uang, Raina akan membantu Perusahaan Papa dan pengobatan Mama"
"Kau tidak perlu berusaha peduli denganku, karena kau bukan anakku!"
Raina menghela napas sambil tersenyum, memotong apel dan menyuapi Mama. Meski menolak, tapi Raina sedikit memaksanya. "Mama harus banyak makan buah agar lebih cepat sehat. Aku memang bukan anak kandung Mama, tapi selama ini Mama yang merawatku, jadi aku harus berbakti pada Mama"
Mama masih tidak menatap Raina, meski dia sedikit melembut sekarang. "Seharusnya kau tidak pernah hadir dalam keluargaku, dan membuat semuanya hancur"
Raina mengangguk mengiyakan, air mata sudah menggenang di pelupuk. "Mama benar, seharusnya aku tidak pernah hadir dalam kehidupan kalian semua. Mungkin sebentar lagi aku akan pergi dari kehidupan kalian. Tapi Mama harus sembuh dulu, harus sehat seperti sebelumnya ya. Aku janji akan pergi setelah Mama benar-benar sembuh"
Mama tidak menjawab, dia hanya diam saja dengan memalingkan wajahnya ke arah lain. Seolah menatap Raina hanya menimbulkan sebuah luka baginya.
*
Raina keluar dari rumah sakit, saat berada di parkiran dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. Setelah memikirkan secara matang, maka dia memilih untuk mengambil keputusan ini.
"Hallo Rain, apa ada yang bisa aku bantu?"
"Kak Bayu, aku ingin menambahkan jumlah uang pada kompensasi apa bisa?"
Di seberang sana, Bayu cukup terkejut, tapi akhirnya dia tersenyum karena merasa Raina sudah mulai pintar setelah tadi dia provokasi. "Tentu saja, berapa yang ingin kamu tambah?"
"Aku ingin uang untuk biaya kesehatan Mamaku di rumah sakit, dan uang untuk suntikan dana pada Perusahaan Papaku. Apa bisa? Tidak papa jika aku tidak dapat bagian uangnya, tapi asalkan semuanya masuk pada mereka"
Terdengar hembusan napas kasar dari seberang sana. "Ternyata kau memang terlalu baik. Sudahlah, kau serahkan semuanya padaku. Akan aku urus semuanya, biaya pengobatan Mama kamu dan suntikan dana untuk Perusahaan Papa kamu akan aku urus. Dan kau juga tetap harus kebagian uangnya"
"Terima kasih banyak Kak, tapi tolong jangan sampai ada yang tahu. Orang tuaku juga tidak boleh tahu ya, hanya Kak Bayu saja yang tahu soal ini. Apa bisa?"
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan ada yang tahu Kak, masukan saja semuanya atas nama Kak Marvin. Jangan aku, ya Kak. Aku mohon"
"Hah... Baiklah Raina, meski sedikit aneh, tapi karena aku sudah menganggapku seperti adikku, jadi aku akan turuti"
"Terima kasih banyak Kak"
Bersambung
Raina sedang mengumpulkan kebaikan untuk orang-orang sekitarnya, yang nantinya kalau dia pergi, semua orang akan menyesali kepergiannya.. Haha.. Aku menunggu sekali saat itu.
👍
pergi dari rumah Marvin,,