Daniel merupakan seorang agen rahasia yang sedang menjalani misinya untuk mencari para pengkhianat negara termasuk keturunan mereka. Dalam menjalankan misinya, tanpa sengaja ia menolong seorang gadis bercadar yang sedang dihadang oleh para penjahat saat gadis itu hendak pulang ke rumahnya. Tanpa Daniel ketahui jika gadis bercadar itu adalah targetnya yang selama ini ia cari. Apakah Daniel tega membunuh gadis itu demi misinya ataukah ia harus mengkhianati agen nya sendiri demi cintanya? ikuti cerita mereka penuh dengan misteri dan setiap adegannya sangat menegangkan...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Terima Dong...!
Alea tertegun sesaat. Namun hatinya berkata lain kalau dia yakin Daniel orang baik dan berani. Kematian ibunya hanya bagian dari takdir karena kondisinya paskah melahirkan tidak bisa melawan para penjahat saat itu.
"Serahkan semuanya pada Allah...! jika dia tidak baik untuk kakak, Allah akan menjauhkan dia dari kakak", ucap Alea menenangkan adik kembarnya.
"Ok, kalau begitu menikahlah...! jangan pancaran karena di Islam tidak mengenal pacaran...!" pinta Arka.
"Tapi ta'aruf dulu tidak apakan? sambil sholat istiqharah", ucap Alea cari aman.
Si kembar saling menatap lalu menghela nafas. Mereka tidak mau lagi terlalu mengatur Alea karena Alea sedang jatuh cinta saat ini. Bahkan semalam suntuk Alea tidak bisa tidur hanya untuk menunggu pagi.
Sementara itu Daniel merasa heran dengan alat penyadap yang tidak bisa bekerja. Ia merasa kesal karena tidak bisa mendengar apapun dari obrolan Alea dan adik kembarnya di depan sana.
"Apakah penyadapnya rusak? setahu saya itu alat yang tercanggih saat ini", Daniel terlihat sangat kesal.
Beberapa jam kemudian mereka sudah tiba di Jakarta. Daniel memperhatikan apartemen mewah yang ada di depannya. Ia bisa menebak kalau Alea bukan gadis biasa. Yang tinggal di apartemen itu hanya orang yang memiliki penghasilan lebih dari seratus juta ke atas. Itu yang dipikirkannya.
Alea dan si kembar mengajak Daniel masuk ke unit apartemen mereka. Daniel tidak asing dengan kemewahan karena dirinya juga adalah seorang crazy Rich.
Alea menyiapkan beberapa cemilan. Sementara si kembar sudah masuk ke kamar mereka namun tetap memantau kakak mereka di ruang tamu.
"Silahkan dicicipi...! ini cemilan khas indonesia", ucap Alea.
"Terimakasih. Apakah tidak ada foto mendiang kedua orangtuamu? dan apa pekerjaanmu?" tanya Daniel.
"Aku kerja di sebuah perusahaan. Ini adalah liburan akhir tahun jadi aku mengajak adik-adikku berlibur di puncak. Udara bersih sangat bagus di sana", sahut Alea.
"Berarti besok kamu harus bekerja?" tanya Daniel masih penasaran.
"Yah", bohong Alea karena perusahaan tempatnya bekerja adalah warisan ayahnya. Dia tidak perlu bekerja karena sudah ditangani oleh orang kepercayaannya. Namun sesekali ia hanya membaca laporan keuangan yang dibantu adik kembarnya.
"Bagaimana dengan dirimu sendiri? apakah kamu juga sedang liburan di sini? apa pekerjaanmu sesungguhnya?" tanya Alea.
"Aku hanya seorang polisi. Aku juga liburan di sini dan sekaligus kerja", ucap Daniel.
"Apakah kamu adalah agen rahasia FBI?" tembak Alea tanpa ingin basa-basi lagi.
"Yah, seperti itulah. Kalau bisa aku ingin menginap disini karena aku tidak betah tinggal di hotel", pinta Daniel.
"Maaf kak. Aku bukan menolak permintaanmu. Tapi tidak baik kamu tinggal di sini denganku karena kita tidak punya hubungan apa-apa selain hanya kenalan saja. Maksudku...-"
"Maksudmu kamu gadis lajang yang harus menikah dulu denganku? kalau begitu ayo kita menikah...!" ajak Daniel membuat mata Alea membulat.
"Apaaa...? apakah kamu gila, hah?" sentak Alea sambil berdiri.
"Jika ada jalan yang lebih mudah, mengapa harus dipersulit? jujur dari awal melihatmu aku sudah jatuh cinta padamu. Aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Aku bukan pria perayu. Jika aku menyatakan perasaanku, itu berarti aku siap tanggungjawab dengan pilihanku", ucap Daniel Lagi-lagi membuat Alea terkesima.
"Tapi kita belum dua hari mengenal satu sama lain. Aku menikah bukan sedang melakukan transaksi jual beli. Semuanya butuh pertimbangan yang matang, kak", jelas Alea.
"Jika aku terlalu lama memikirkannya, maka kamu akan berubah pikiran dan bisa jadi orang lain yang akan mendapatkanmu lebih dulu dan aku tidak suka itu", ucap Daniel seraya berdiri menghampiri Alea yang langsung mundur beberapa langkah.
Arka langsung bangun untuk menolong kakaknya. Namun Aska menarik tangannya.
"Kamu mau ngapain?" tanya Aska.
"Tentu saja memukul kepala pria bule itu", ucap Arka.
"Jangan suka ikut campur urusan orang dewasa...! ingatlah..! kalau kakak bisa bela diri..!" cegah Aska.
Arka terdiam. Ia sangat kuatir saat ini. Aska fokus lagi pada laptopnya sambil memantau Alea melalui cctv di ruang tamu sana.
"Jika seorang wanita tidak melakukan perlawanan, itu berarti dia suka pada pria itu. Kita cukup mengamati saja...!" lanjut Aska.
"Orang dewasa memang payah. Pikiran mereka selalu aneh-aneh", ucap Arka kesal.
Di luar sana Daniel ingin sekali melihat wajah Alea. Alea yang paham langsung menahan tangan Daniel.
"Jangan kak...!" pinta Alea memelas.
"Bukankah aku baru saja melamarmu? di dalam buku yang aku baca tentang wanita bercadar boleh memperlihatkan wajahnya pada calon suaminya, benarkan?" ucap Daniel.
"Tapi aku boleh terima lamaranmu", ucap Alea sudah terpojok di dinding.
"Kalau begitu terima dong lamaran aku...!" desak Daniel.
"Aku...aku tidak bisa menjawab lamaranmu sekarang. Aku butuh konsultasi pada Allah dulu. Aku tidak mau gegabah. Lagi pula aku tidak tahu agamamu apa. Aku tidak bisa menikah dengan pria yang beda keyakinan denganku. Maafkan aku kak...!" ucap Alea lembut.
Daniel menghela nafasnya lalu menjauhi Alea. Ia harus bersabar menghadapi wanita yang satu ini. Belum pernah ada wanita yang menolaknya bahkan banyak wanita yang rela ingin tidur dengannya namun Daniel tidak ingin membuang benihnya pada sembarang wanita, apalagi ia tidak suka memakai alat pengaman.
"Baiklah. Aku tunggu sampai kamu siap. Tolong jangan lama-lama menjawabnya...!" paksa Daniel lalu mengambil kunci mobilnya untuk pergi.
Baru saja ingin membuka pintu ia kembali bertanya pada Alea. "Aku tidak punya agama. Aku seorang ateis. Aku akan belajar banyak agamamu sebelum memutuskan untuk memilih keyakinanmu sebagai agamaku nanti", ucap Daniel.
"Tapi masih ada yang harus kamu ketahui kalau pria yang ingin memeluk islam harus sunat terlebih dahulu", ucap Alea.
"Aku sudah sunat. Aku pernah ke Arab Saudi untuk tugas beberapa tahun yang lalu dan seorang ulama di sana memintaku untuk khitan. Banyak hal yang ia jelaskan saat itu terutama pada kesehatan tubuh pria jika melakukan khitan", jelas Daniel membuat Alea melongo.
Daniel tersenyum lalu membuka pintu utama itu tanpa pamit pada Alea. Alea jatuh terduduk di atas sofa.
"Hampir saja aku tergoda oleh rayuan setan yang terkutuk. Penyakit orang yang jatuh cinta lebih mematikan daripada penyakit kanker stadium akhir", gumam Alea lalu tersenyum sendiri sambil mendekap bantal. Dia tidak sadar kalau ada dua makhluk kecil di dalam sana sedang mengawasinya.
"Lihatlah kakak kita kak...! sebentar lagi otaknya bakalan koslet alias gila", ucap dua bocah itu lalu terkekeh.
Di luar sana Daniel sedang menerima telepon dari sang bos tentang kinerjanya.
"Apakah kamu sudah menemukan gadis itu?" tanya sang bos.
"Belum."
"Temukan segera dokumen dan gadis itu lalu bunuh dia...!" titah sang bos lalu menutup sambungan telepon begitu saja.
"Semoga Alea bukan gadis itu. Lagipula nama mereka berbeda. Nama gadis itu Niken bukan?" gumam Daniel.