Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.
Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.
Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.
Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.
Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota yang Mulai Retak
POV Maria Joanna
Pagi datang tanpa upacara.
Tidak ada terompet.
Tidak ada doa kerajaan.
Tidak ada cahaya surgawi.
Hanya bunyi mesin kapal dan debur laut yang masih belum sepenuhnya tenang.
Aku membuka mata dan untuk satu detik—
aku lupa siapa diriku.
Bukan ratu.
Bukan komandan.
Bukan simbol dunia.
Hanya seorang perempuan yang terbangun dengan napas hangat seseorang di dekatnya.
Sebastian.
Lengannya masih melingkar di pinggangku. Detak jantungnya stabil. Nyata. Tidak terburu-buru.
Aku memejamkan mata lagi, menikmati detik yang tidak seharusnya ada di dunia yang hampir runtuh.
Namun realitas tidak pernah membiarkan terlalu lama.
Di dalam dadaku—
Ada getaran.
Pelan.
Dalam.
Seperti denting lonceng yang hanya bisa kudengar.
Arthur.
Bukan suara.
Bukan kata.
Peringatan.
Aku membuka mata lagi.
Hari ini bukan hari untuk bersembunyi.
Aku bergerak perlahan agar tidak membangunkan Sebastian, tapi dia sudah terjaga.
“Ada apa?” tanyanya, suara masih serak.
Aku menoleh.
“Dunia sudah bangun,” jawabku.
Dia menghela napas pelan.
“Yang mana dulu?”
Aku tersenyum tipis.
“Keduanya.”
POV Dunia
Sementara Maria Joanna membuka mata—
Dunia mulai berdebat.
Di ruang konferensi bawah tanah di Swiss, Dewan Kerajaan Dunia terpecah dua.
Di Washington, militer mempertanyakan batas komando.
Di Beijing, para penatua membaca ulang naskah-naskah kuno yang selama ini dianggap mitos.
Di Vatikan, arsip terdalam dibuka kembali setelah ratusan tahun terkunci.
Dan di tempat-tempat yang tidak memiliki nama—
Sesuatu terbangun.
POV Maria
Ruang rapat utama kapal komando terasa lebih kecil dari biasanya.
Atau mungkin aku yang membesar.
Layar holografik mengelilingi ruangan, menampilkan wajah-wajah pemimpin dunia, jenderal, raja, perdana menteri, dan entitas yang lebih memilih tidak menyebut dirinya manusia.
Begitu aku masuk, percakapan berhenti.
Semua berdiri.
Aku mengangkat tangan.
“Duduk,” kataku.
Nada suaraku tenang.
Dan itulah yang paling menakutkan bagi mereka.
Aku berdiri di tengah ruangan, tidak memakai mahkota. Tidak memakai jubah kebesaran. Hanya seragam hitam sederhana dengan lambang koalisi dunia.
Sebastian berdiri di belakangku, satu langkah ke kiri.
Posisi pelindung.
Posisi pasangan.
Aku merasakannya, meski tidak menoleh.
“Baik,” kataku.
“Kita akan mulai.”
Hologram berubah. Peta dunia muncul. Retakan realitas ditandai merah.
“Veles sudah pergi,” lanjutku.
“Tapi dia bukan akhir.”
Beberapa wajah menegang.
“Dia mengatakan akan ada tiga lagi.”
Aku berhenti sejenak.
“Mereka disebut Raja Sejati.”
Suara gemerisik memenuhi ruangan.
“Berdasarkan informasi yang kami miliki,” lanjutku, “mereka bukan penakluk biasa. Mereka adalah… penguji dunia.”
Salah satu perwakilan Eropa angkat bicara.
“Apakah mereka bisa dibunuh?”
Pertanyaan itu menggantung.
Aku menatapnya lurus.
“Bisa dilukai.”
“Itu bukan jawaban.”
Aku mengangguk.
“Tidak.”
Hening.
Lalu seseorang lain berbicara—
dengan suara yang lebih dingin.
“Kalau begitu,” kata perwakilan dari salah satu negara adidaya, “apa jaminan bahwa Anda—”
Dia berhenti.
Menelan ludah.
“—tidak menjadi ancaman yang sama?”
Ruangan membeku.
Aku bisa merasakan Sebastian menegang di belakangku.
Aku mengangkat tangan sedikit.
Tidak perlu.
Aku melangkah maju.
“Tidak ada,” kataku.
Beberapa orang terkejut.
“Apa?”
“Aku tidak punya jaminan,” ulangku.
“Aku tidak bisa menjanjikan bahwa aku tidak akan berubah. Aku tidak bisa menjanjikan bahwa kekuatan ini tidak akan menggerogotiku.”
Aku menatap mereka satu per satu.
“Tapi aku bisa menjanjikan satu hal.”
Aku menyentuh dada.
“Selama aku masih bisa merasakan takut kehilangan dunia ini—aku tidak akan menghancurkannya.”
Hening.
Berat.
Nyata.
Itu bukan pidato.
Itu pengakuan.
POV Sebastian
Aku melihat mereka.
Para pemimpin dunia.
Orang-orang yang terbiasa memegang kendali.
Dan sekarang—
Mereka menatap seorang perempuan muda yang baru saja menahan entitas kosmik.
Bukan dengan hormat.
Dengan ketakutan.
Dan ketakutan itu berbahaya.
POV Maria
“Masalah kita sekarang bukan aku,” kataku.
“Masalah kita adalah—kita tidak tahu kapan Raja Sejati berikutnya bangkit.”
Hologram berubah lagi.
Tiga titik merah berkedip.
Satu di Samudra Pasifik.
Satu di bawah lapisan es Antartika.
Satu… tidak memiliki koordinat pasti.
“Yang terakhir ini,” kataku pelan, “bergerak.”
Seseorang bersumpah pelan.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya yang lain.
Aku menarik napas.
“Kita berhenti berpura-pura ini masih perang konvensional.”
Aku menatap mereka.
“Kita siapkan dunia untuk kehilangan ilusi keamanan.”
Beberapa wajah memucat.
POV Dunia — Bayangan Bangkit
Di kedalaman Antartika—
Es retak dari dalam.
Bukan mencair.
Didorong.
Sesuatu bergerak di bawah lapisan ribuan tahun.
Sesuatu yang bermimpi panjang.
Dan mimpi itu… berakhir.
POV Maria
Rapat berakhir tanpa kesepakatan mutlak.
Tapi satu hal jelas—
Tidak ada lagi yang bisa mundur.
Aku keluar dari ruang rapat dengan langkah berat.
Sebastian menyusul.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Tidak.”
Dia tersenyum kecil.
“Bagus. Berarti kau masih manusia.”
Aku tertawa pelan.
Lalu berhenti.
Tekanan itu kembali.
Lebih halus dari Veles.
Lebih dingin.
Aku berhenti berjalan.
“Sebastian…”
“Aku merasakannya,” katanya cepat.
Kami menatap jendela besar.
Langit jauh di selatan—
Berubah warna.
Putih.
Bukan cahaya.
Ketiadaan.
POV Maria — Warisan Arthur
Denting itu kembali.
Lebih kuat.
Gambar muncul di pikiranku.
Es.
Mahkota hitam.
Mata yang tidak memiliki emosi.
Aku terhuyung.
Sebastian menangkapku.
“Maria!”
Aku mencengkeram lengannya.
“Raja Sejati Kedua…”
“Naga?”
Aku menggeleng.
“Lebih tua.”
Aku menatapnya.
“Dan dia tidak datang untuk menguji.”
Aku menelan ludah.
“Dia datang untuk… menghapus.”
POV Dunia — Pesan Global
Siaran darurat kembali aktif.
Bukan dari Maria.
Bukan dari dewan.
Dari Antartika.
Sinyal kuno.
Satu kalimat muncul di semua layar dunia:
“Kesalahan telah berlangsung cukup lama.”
POV Maria
Aku berdiri lagi di balkon kapal.
Laut tampak kecil.
Langit tampak rapuh.
Sebastian berdiri di sampingku.
“Apa kau menyesal?” tanyanya pelan.
“Menjadi ini semua.”
Aku berpikir sejenak.
Lalu menggeleng.
“Aku menyesal dunia sampai pada titik di mana seseorang harus menjadi ini.”
Dia menyentuh tanganku.
“Aku tetap di sini.”
Aku menoleh.
Tersenyum kecil.
“Aku tahu.”
Dan di kejauhan—
Langit bergetar.
Mahkota dunia mulai retak.
Empat Raja Sejati.
Satu dunia yang rapuh.
Dan seorang ratu yang masih belajar menjadi manusia.
Perang berikutnya—
Tidak akan dimulai dengan teriakan.
Tapi dengan keheningan.