Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27# HANGAT DI BALIK DINDING BATU
Cahaya fajar di wilayah perbatasan tidak pernah benar-benar terang, ia hanya berupa gradasi merah tua yang menyelinap di antara celah-celah tebing. Di bawah naungan batu raksasa yang telah menjadi saksi bisu pertumpahan darah semalam, suasana kini jauh lebih tenang. Aroma amis darah monster mulai tersamar oleh bau ramuan herbal dan api unggun kecil yang dijaga oleh Harry.
Arlo memutuskan untuk menunda perjalanan selama satu hari penuh. Meskipun Menara Merah sudah terlihat menjulang seperti raksasa yang mengawasi mereka, ia tahu bahwa memaksakan Rayden yang baru saja melewati maut adalah tindakan bunuh diri bagi seluruh tim.
Rayden mulai membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Lira yang kelelahan namun tampak lega. Rayden mencoba menggerakkan bahunya, namun rasa nyeri langsung menusuk, membuatnya meringis.
"Jangan banyak gerak, bodoh," ketus Lira.
Rayden menatap Lira dengan tatapan sayu, lalu bibirnya yang pucat membentuk cengiran lemah. "Lira... apakah aku sudah di surga? Kenapa ada galak-galak cantik di depanku? Apakah malaikat sekarang memakai seragam kotor dan bau keringat?"
"Rayden! Kau baru saja bangun dan sudah ingin membuatku mencekikmu?" balas Lira, wajahnya memerah antara kesal dan haru.
Finn yang sedang mengunyah sisa daging kering di dekat sana langsung tertawa keras. "Dengar itu! Ksatria Panci kita sudah kembali! Ray, kuberitahu ya, saat kau sekarat semalam, Lira menangis seperti anak kecil yang kehilangan permennya. Tapi sekarang kau bangun, dia kembali jadi macan."
"Diam kau, Finn! Aku hanya tidak ingin repot menguburnya!" bentak Lira sambil melemparkan kain kecil ke arah Finn.
"Finn... jangan iri," sahut Rayden dengan suara sengau yang absurd. "Aku tahu kau cemburu karena tidak ada gadis yang menangisimu saat kau lecet kemarin. Lira, tenanglah... ksatria dapurmu ini tidak akan pergi ke mana-mana sebelum kau mengakui bahwa kau merindukanku."
Di sisi lain, Arlo sedang duduk di mulut batu, memandangi peta bersama Dokter Luz dan Dasha. Rick dan Tom tampak sedang memeriksa sisa senjata mereka, sesekali terlibat dalam obrolan serius tentang rute perjalanan esok hari.
"Kita punya waktu 24 jam untuk memulihkan tenaga," ucap Arlo. "Rick, Tom, pastikan semua senjata listrik dan kapak kalian dalam kondisi tajam. Esok bukan lagi soal bertahan hidup, tapi soal menyerang."
"Kami siap, Arlo," sahut Tom tegas. "Kehilangan Becca dan hampir kehilangan Rayden sudah cukup jadi alasan kami untuk menghancurkan tempat itu."
Selene mendekati Arlo, membawakannya segelas air hangat yang dicampur sedikit ekstrak tanaman hutan. Ia duduk di samping Arlo, bahu mereka bersentuhan. Ada keheningan yang nyaman di antara mereka, sebuah ikatan yang lebih kuat dari sekadar kata-kata.
"Kau terlalu banyak berpikir, Arlo," ucap Selene pelan. Ia menyentuh punggung tangan Arlo, jemarinya membelai bekas luka baru di sana. "Lihatlah mereka. Meskipun penuh luka, mereka tertawa. Kau berhasil menjaga mereka tetap hidup."
Arlo menatap Selene, matanya melembut. "Aku tidak melakukannya sendiri, Selene. Tanpa kau... aku mungkin sudah menyerah sejak di Saka. Kau adalah kompas pribadiku di dunia yang gila ini."
Selene tersenyum kecil, ia menyandarkan kepalanya di bahu Arlo. "Kita akan keluar dari sini bersama-sama. Aku berjanji."
Sementara itu, di bagian belakang gua yang lebih redup, Zephyr sedang duduk bersandar pada dinding batu. Naya berada di depannya, sedang mengoleskan sisa pasta bunga biru ke luka di lengan Zephyr dengan sangat hati-hati. Lily duduk tidak jauh dari mereka, sesekali melirik dengan senyum penuh arti, sementara Rony dan Cicilia tampak sedang membersihkan busur panah mereka sambil mendengarkan instruksi Harry.
"Sakit?" tanya Naya lembut saat melihat Zephyr sedikit mengernyit.
"Hanya sedikit perih," jawab Zephyr singkat. Ia menatap wajah Naya yang sangat dekat dengannya. "Naya... soal yang semalam... di depan semua orang..."
Naya menghentikan gerakannya, wajahnya seketika memerah mengingat bagaimana ia memeluk Zephyr dengan sangat erat saat pria itu kembali. "Aku... aku hanya sangat takut, Zephyr. Aku pikir kau tidak akan kembali."
Zephyr mengulurkan tangannya yang tidak terluka, menyelipkan sehelai rambut Naya ke belakang telinganya. "Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi dunia ini sendirian, Naya. Kau adalah alasan kenapa aku tetap menjaga mataku tetap terbuka saat melawan makhluk-makhluk tadi malam."
Naya menatap mata Zephyr, merasakan ketulusan yang mendalam. "Janji? Jangan pergi lagi seperti itu."
"Aku janji," bisik Zephyr.
Lily yang memperhatikan dari kejauhan menyenggol lengan Cicilia. "Lihat mereka. Di tengah neraka ini, setidaknya cinta masih punya tempat untuk tumbuh, ya kan?"
Cicilia menghela napas, ia tersenyum tipis. "Ya. Itu lebih baik daripada terus meratapi apa yang hilang. "Cinta adalah bahan bakar terbaik untuk bertahan hidup. Lebih kuat dari peluru manapun yang kubuat selama sembilan tahun ini” tiba-tiba Harry datang.
Sore hari menjelang, suasana kembali dipenuhi oleh kekonyolan Rayden. Ia sudah bisa duduk tegak, meskipun pundaknya masih diperban tebal. Ia sedang memaksa Finn untuk menyuapinya sup karena tangannya masih lemah.
"Ayo, Finn, pesawatnya mau masuk... nyuuuun," ucap Rayden sambil membuka mulut lebar-lebar.
"Demi langit dan bumi, Ray! Kau punya tangan kanan yang sehat! Makanlah sendiri!" gerutu Finn, meski ia tetap menyodorkan sendok kayu itu ke mulut Rayden.
"Tanganku ini adalah aset negara, Finn. Harus dijaga," balas Rayden setelah menelan supnya. "Lira, lihatlah betapa romantisnya sahabatku ini. Kau tidak mau menggantikan posisinya?"
Lira yang sedang merapikan tas medis Naya hanya melemparkan pandangan tajam. "Jika aku yang menyuapimu, aku akan memastikan sendoknya tertelan ke tenggorokanmu, Rayden!"
"Ah, pesona wanita galak. Itu yang membuat jantungku berdebar lebih kencang dari serangan Silvan Striker," goda Rayden lagi, membuat semua orang di gua itu termasuk Dokter Luz yang biasanya kaku tak tahan untuk tidak tertawa.
Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan bercerita tentang dunia luar, tentang rumah yang mereka rindukan, dan tentang impian yang ingin mereka wujudkan setelah semua ini berakhir. Kesedihan atas gugurnya Becca masih ada, namun duka itu kini berubah menjadi kekuatan. Lima belas jiwa itu saling menguatkan, mempersiapkan mental untuk satu hari lagi pemulihan, sebelum fajar lusa akan membawa mereka menuju pertempuran final di Menara Merah.
Arlo berdiri, menatap seluruh anggotanya. "Istirahatlah yang cukup. Besok adalah hari tenang terakhir kita. Nikmati setiap detik kebersamaan ini."
Mereka semua mengangguk, dan di bawah naungan batu raksasa itu, kehangatan persaudaraan menyelimuti mereka lebih erat daripada sebelumnya.
Btw semangat terusss min!!