NovelToon NovelToon
Apex Of The Red Tower

Apex Of The Red Tower

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Cicilia_.

Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25# CAHAYA DI BALIK LABIRIN

Angin malam di wilayah perbatasan berhembus semakin kencang, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di tengah kesunyian yang mencekam, Harry, Zephyr, dan Rony akhirnya tiba di pinggiran Lembah Air Mata Merah. Namun, keindahan lembah itu tersembunyi di balik ancaman yang sangat mereka takuti. Dari balik bayang-bayang tebing batu yang gelap, muncul dua bayangan hitam pekat yang bergerak secara mekanis.

Makhluk itu muncul dengan suara gesekan kaki yang berat di atas batu. Tubuh mereka hitam pekat, seolah menyedot cahaya di sekitarnya. Lima kaki panjangnya yang kokoh bergerak secara bergantian, memberikan kesan seperti laba-laba raksasa yang sedang merayap dengan presisi mematikan. Saat mereka mendongak, tiga mata besar berwarna kuning menyala yang tersusun membentuk segitiga sempurna berpendar tajam ke arah ketiga pria itu.

"Phenix Omega," desis Zephyr sambil mempererat genggaman belatinya.

Kedua monster itu tidak mengeluarkan suara, namun kehadiran mereka memberikan tekanan mental yang luar biasa. Salah satu Phenix Omega meluncur maju dengan gerakan lima kakinya yang cepat dan tak terduga. Zephyr harus berguling di atas tanah berbatu untuk menghindari injakan kaki monster yang bisa menghancurkan tengkoraknya.

"Harry, tembak matanya!" teriak Rony sambil menarik busur panahnya.

Harry melepaskan tembakan dari senapan rakitannya. DUAR! Peluru itu menghantam salah satu mata kuning monster, membuatnya mengeluarkan cairan yang kental. Monster itu mengamuk, mengayunkan kaki-kaki panjangnya secara liar, menghancurkan bebatuan di sekitarnya. Zephyr memanfaatkan celah itu, ia berlari menaiki punggung monster yang sedang limbung dan menghujamkan kedua belatinya ke bagian tengah formasi mata segitiga itu.

Setelah pertarungan yang menguras keringat dan darah, kedua Phenix Omega itu akhirnya tumbang, tubuh hitam mereka diam tak bergerak lagi di atas tanah lembah.

Begitu ancaman itu hilang, keheningan yang damai turun. Di hadapan mereka, tumbuhlah Floris Aeterna. Bunga itu sangat indah, dengan kelopak biru pucat yang memancarkan cahaya lembut. Mereka mendekat dengan napas terengah-engah. Harry berlutut di depan tanaman itu, tangannya yang gemetar mencabut beberapa tangkai dengan sangat hati-hati. Setelah mendapatkan jumlah yang cukup, mereka bertiga terduduk lemas sejenak di samping mata air mineral tersebut.

"Hampir saja aku mati dua kali malam ini," ucap Rony sambil mencoba tersenyum, menyeka darah di pipinya yang tergores.

Zephyr menyandarkan punggungnya ke batu dingin. "Rayden akan berhutang besar pada kita. Aku akan memintanya memasak sup terbaik seumur hidup setelah dia sembuh."

"Hahaha! Anak itu... aku taruhan dia akan langsung mengeluh soal rasa bunganya yang pahit," sahut Harry sambil terkekeh pelan. Sejenak, mereka menghayati kebahagiaan kecil ini, berbagi candaan singkat untuk melepaskan beban sebelum harus kembali menempuh jalur maut.

"Ayo, waktu kita tidak banyak," ucap Zephyr kembali serius. Mereka berdiri, menyimpan bunga itu dengan aman, dan mulai berlari kembali menembus jalur labirin. Namun, perjalanan pulang tetap berat. Di lorong sempit, sekawanan Vulturus Scabios sudah menunggu, memaksa mereka kembali bertarung di tengah kelelahan yang luar biasa.

POV: ARLO (DI BATU RAKSASA)

Sementara itu, di bawah perlindungan batu besar, suasana berubah menjadi horor. Kondisi Rayden merosot tajam. Napasnya kini terdengar seperti suara gesekan kertas, pendek dan berat. Demamnya mencapai puncaknya hingga tubuhnya kejang-kejang kecil.

"Naya! Suhu tubuhnya semakin tinggi! Dia mulai menggigil hebat!" seru Lira dengan nada panik yang tak terbendung. Lira terus memeluk bahu Rayden, mencoba memberikan kehangatan, sementara air matanya mengalir deras membasahi wajahnya yang kotor.

Naya memeriksa denyut nadi Rayden di leher. "Denyutnya terlalu cepat dan tidak teratur. Racunnya sudah mulai menyerang sistem sarafnya. Dokter Luz, kita tidak punya waktu lagi!"

Dokter Luz mencoba memberikan suntikan cairan penenang terakhir, namun hampir tidak membantu. Arlo berdiri di dekat mereka, mengepalkan tangan dengan frustrasi, menatap ke arah kegelapan di luar.

Finn yang biasanya selalu punya komentar lucu, kini tampak benar-benar hancur melihat sahabat terbaiknya sekarat. Ia berlutut di sisi lain Rayden, mengguncang bahu sahabatnya itu dengan pelan.

"Ray! Dengar aku, kau ksatria dapur yang bodoh! Jangan berani-berani menutup mata!" seru Finn dengan suara yang bergetar. "Ingat impianmu, Ray! Kau belum mengenalkan Lira pada ibumu, kan? Tetaplah bangun, atau aku akan menghabiskan semua bagian makananmu!"

Rayden hanya merespons dengan gumaman lemah, matanya berputar ke belakang. "Pa... panci... Lira..." bisiknya sangat lirih.

"Sst, aku di sini, Ray. Aku tidak akan ke mana-mana," isak Lira, mencium tangan Rayden yang dingin.

Lily yang berdiri di dekat Naya terus memperhatikan wajah Naya yang pucat pasi. Ia tahu Naya juga sangat panik karena Zephyr belum kembali sementara waktu hampir mendekati tengah malam.

Tiba-tiba, dari arah luar batu, terdengar suara geraman rendah. Rick dan Dasha langsung berdiri menghadap ke sumber suara. Beberapa ekor Silvan Striker mulai mengintai dari bayang-bayang tebing.

"Arlo, kita dikepung lagi!" teriak Dasha sambil menarik busur panahnya.

"Lindungi Rayden dan Naya!" perintah Arlo sambil menghunus pedangnya. "Apapun yang terjadi, jangan biarkan monster itu masuk ke sini!"

Arlo, Rick, Dasha, dan Cicilia membentuk barisan pertahanan di mulut gua. Mereka harus bertarung melawan Silvan Striker yang lincah sementara di dalam sana, nyawa Rayden sedang berada di ujung tanduk. Ketegangan memuncak saat denting pedang beradu dengan cakar monster, menciptakan simfoni maut. Harapan mereka kini hanya bergantung pada tiga pria yang sedang berlari membawa bunga biru tersebut.

1
only siskaa
cmngtt KK jngn lupa mmpir di karya aku yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!