NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Dunia Bawah

Kembalinya Kaisar Dunia Bawah

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Romansa
Popularitas:325
Nilai: 5
Nama Author: blueberrys

Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.

Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Waktunya hampir tiba

Setahun telah berlalu sejak malam yang mencekam itu malam ketika maut nyaris merenggut nyawa Ling'er dan memaksa Zhou Yu mempertaruhkan segalanya demi setangkai bunga langit. Kini, di usia empat belas tahun, tubuh Zhou Yu telah berubah. Kerangka remajanya yang dulu ringkih kini lebih padat, ditempa oleh kerja keras dan tekad yang membaja. Ling'er, yang kini menginjak usia tiga belas tahun, bukan lagi gadis kecil yang hanya bisa mengekor di belakang Zhou Yu. Wajahnya yang dulu sepucat kertas kini seringkali dihiasi rona sehat, berkat Sari Embun Langit yang terus ia simpan sebagai azimat kekuatan.

Matahari baru saja terbenam di balik tembok-tembok raksasa lembah Tambang Azure. Udara dingin mulai merayap, membawa bau logam yang tak kunjung hilang. Namun, bagi penduduk di pemukiman budak, suasana terasa berbeda saat melihat Zhou Yu berjalan pulang.

"Yu er! Sini sebentar, bocah kuat!" teriak Paman Zhang, seorang pandai besi tua yang kakinya pincang akibat kecelakaan tambang tahun lalu. Ia melemparkan sepotong ubi rebus yang masih mengepul. "Makan ini. Kau butuh tenaga untuk syukuran kecil-kecilan nanti malam."

Zhou Yu menangkap ubi itu dengan tangkas, tersenyum lebar. "Terima kasih, Paman. Aku akan mampir nanti."

Sejak keberaniannya menembus penjagaan ketat setahun lalu tercium secara samar-samar sebagai "legenda urban" di kalangan budak, Zhou Yu bukan lagi sekadar pekerja tambang nomor 402. Ia adalah simbol harapan. Penduduk di sana telah menganggapnya sebagai keluarga ia adalah anak bagi mereka yang kehilangan putra, dan kakak bagi anak-anak yatim piatu di kegelapan itu.

Di depan pintu gubuknya, seorang pemuda berdiri menyandar pada tiang kayu. Tubuhnya tinggi tegap dengan otot-otot lengan yang menonjol seperti akar pohon tua. Namanya adalah Da Ge, teman terbaik Zhou Yu. Da Ge yang berusia tujuh belas tahun adalah satu-satunya orang yang tahu ke mana Zhou Yu pergi malam itu, karena dialah yang membantu mengalihkan perhatian penjaga di pintu ventilasi.

"Kau terlambat sepuluh menit, Zhou Yu," gerutu Da Ge dengan suara beratnya yang seperti guntur kecil, namun matanya memancarkan kehangatan. "Ling'er hampir saja membakar makan malam kalian karena terlalu sering menengok ke luar."

Zhou Yu tertawa kecil, menepuk lengan Da Ge yang keras seperti batu. "Tambang sektor bawah sedang sulit digali hari ini. Mandor Wang sedang dalam suasana hati yang buruk."

"Mandor Wang selalu dalam suasana hati buruk," sahut Da Ge sembari menyerahkan sebuah kantong kecil berisi daging kering. "Ambil ini. Aku mendapatkannya dari barter di pasar gelap tadi pagi. Ling'er butuh protein lebih banyak agar penyakitnya tidak pernah kembali."

"Kau terlalu baik, Da Ge. Padahal kau sendiri sering melewatkan makan siang," ujar Zhou Yu tulus.

Da Ge hanya mengangkat bahu, berpura-pura tidak peduli. "Tubuhku sudah sebesar ini. Makan sedikit tidak akan membuatku jadi kerupuk. Tapi kalian? Kalian masih harus tumbuh untuk benar-benar keluar dari tempat terkutuk ini."

Di dalam gubuk, cahaya lampu minyak yang temaram menyinari wajah Ling'er yang sedang sibuk memotong sayuran layu. Begitu melihat Zhou Yu, ia langsung meletakkan pisaunya dan berlari memeluk nya.

"Kak zhou pulang!" serunya. Suaranya tidak lagi serak; kini terdengar seperti denting lonceng kecil yang memecah kesunyian lembah.

"Hati-hati, Ling'er. Tubuhku kotor sekali," Zhou Yu memperingatkan, namun ia tetap membalas pelukan Ling'er.

Malam itu, mereka duduk bertiga bersama Da Ge. Di meja kayu yang kasar, mereka berbagi makanan yang sederhana namun terasa seperti pesta bagi para budak. Meskipun mereka masih terperangkap di dalam lingkaran tembok Tambang Azure, di dalam gubuk itu, atmosfer penindasan seolah memudar.

"Setahun lalu, aku pikir aku akan kehilanganmu," bisik Zhou Yu tiba-tiba, menatap Ling'er yang sedang tertawa mendengar cerita konyol Da Ge tentang bagaimana ia hampir menjatuhkan palu godam ke kaki pengawas.

Ling'er terdiam, lalu menyentuh liontin kayu kecil di lehernya yang berisi sisa kelopak bunga biru kering. "Aku tahu Kakak tidak akan membiarkanku pergi. Aku bisa merasakannya saat itu, meski mataku tertutup. Aku mencium bau langit yang Kakak bawa."

Meski suasana tampak tenang, Zhou Yu tidak pernah lengah. Di bawah papan lantai gubuknya, terdapat sebuah peti tersembunyi. Di dalamnya bukan emas atau permata, melainkan peta-peta kasar yang ia gambar sendiri, persediaan air yang tahan lama, dan beberapa butir Sari Embun Langit yang ia dapatkan kembali secara diam-diam melalui bantuan Nyonya Liu.

Setiap hari di tambang, Zhou Yu dan Da Ge tidak hanya sekadar menggali. Mereka mencatat pergantian shift pengawal secara mendetail. Mereka menandai mana pengawal yang suka tertidur di jam tiga pagi, dan mana yang paling kejam.

"Kita tidak bisa selamanya di sini, Da Ge," ujar Zhou Yu dengan nada serius saat Ling'er sudah tertidur pulas. "Ling'er sudah sembuh, tapi udara di sini tetap beracun. Suatu saat, Demam Kristal Hitam itu bisa kembali menyerang siapa saja. Kita harus membawa semua orang pergi."

Da Ge mengangguk perlahan. "Tembok itu tinggi, Yu. Dan para tentara bayaran itu punya busur silang yang bisa menembus kulit dalam sekejap. Tapi, jika kau yang memimpin, aku akan menjadi tamengmu. Semua orang di sini mempercayaimu."

Zhou Yu menatap api lampu minyak yang menari-nari. Ia teringat Nyonya Liu yang pernah berkata bahwa ia memiliki "api dedikasi yang murni". Api itu kini telah tumbuh menjadi api revolusi yang tenang.

Keesokan paginya, sebelum fajar menyingsing, Zhou Yu bersiap menuju lubang tambang. Di ambang pintu, Ling'er berdiri memberikan bungkusan makan siang.

"Jangan bekerja terlalu keras hari ini, Kak. Ingatlah untuk selalu bernapas melalui kain penutupmu," pesan Ling'er dengan nada dewasa yang melampaui usianya.

Zhou Yu mengacak rambut adiknya. "Aku akan ingat. Jaga diri di gubuk, bantu Nyonya Liu meramu obat. Belajarlah sebanyak mungkin darinya."

Saat Zhou Yu berjalan menuju area kerja bersama ratusan budak lainnya, ia melihat Da Ge yang sudah menunggunya di persimpangan terowongan. Di sekeliling mereka, para budak lain mengangguk hormat atau memberikan senyum rahasia kepada Zhou Yu. Mereka tidak lagi melihat diri mereka sebagai sampah tambang mereka melihat diri mereka sebagai sekumpulan orang yang sedang menunggu aba-aba dari seorang pemuda berumur empat belas tahun yang pernah menaklukkan tebing maut demi kasih sayang.

Ling'er sembuh bukan hanya karena bunga langka itu, tetapi karena cinta yang menolak untuk menyerah. Dan kini, cinta itu telah bertransformasi menjadi kekuatan besar. Tambang Azure mungkin masih memegang tubuh mereka, tetapi jiwa mereka telah terbang melampaui tebing tinggi, menghirup udara yang murni, menunggu saat yang tepat untuk benar-benar pulang ke bawah matahari yang bebas.

Di bawah kegelapan tanah, Zhou Yu mengayunkan cangkulnya. Setiap dentuman logam pada batu bukan lagi suara keputusasaan, melainkan detak jantung dari sebuah kebebasan yang sedang dipahat.

"Segera, Ling'er," bisiknya di dalam hati. "Segera, kita akan melihat matahari tanpa harus kembali ke sini lagi."

...Bersambung.... ...

1
Ada badaknya
baru 1 bab udah cerita sedih/Sweat/
pinguin: author kejam👍
total 1 replies
Butet Kon77
💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!