NovelToon NovelToon
DI BALIK SOROT LAMPU

DI BALIK SOROT LAMPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Model / Karir
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Adrina, 27 tahun, adalah gadis mandiri yang hidup dalam senyap. Setelah ibunya meninggal dan ayahnya memilih membangun keluarga baru, Adrina memutuskan tinggal sendiri di sebuah kosan sempit—tempat ia belajar berdamai dengan kesendirian dan masa lalu yang tak lagi ia bagi pada siapa pun. Lulus kuliah tanpa arah pekerjaan yang jelas, ia sempat menganggur cukup lama hingga sebuah tawaran tak terduga datang: menjadi asisten seorang artis papan atas yang sedang berada di puncak popularitas.

Nama itu adalah Elvario Mahendra—aktor sekaligus penyanyi terkenal, digilai publik karena wajahnya yang nyaris sempurna dan bakatnya yang luar biasa. Namun di balik sorot lampu, Elvario dikenal arogan, temperamental, dan sulit ditangani. Dalam satu bulan terakhir, ia telah mengganti enam asisten. Tidak ada yang bertahan. Semua menyerah oleh tuntutan, amarah, dan standar tinggi yang tampak mustahil dipenuhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PRIVASI DAN KEPERCAYAAN

Beberapa detik hening berlalu, hanya ada dengung halus mesin mobil. Tiba-tiba, Elvario membuka mata dan menatap lurus ke depan, ke arah cermin tengah.

“Adr,” katanya tiba-tiba.

Adrina refleks menoleh ke belakang. “Iya, Mas?”

“Elu pulang jam berapa biasanya?”

“Kalau tidak ada lembur... biasanya sebelum tengah malam sudah sampai, Mas.”

Elvario mengangguk pelan, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu yang sangat penting di kepalanya. “Gue ikut.”

Kalimat itu meluncur begitu saja, ringan namun bermuatan berat. Adrina membeku sepersekian detik. “Ikut... ke mana, Mas?”

“Ke kosan lo.”

Rizal refleks melirik lewat kaca spion. Alisnya naik tinggi, namun ia memilih untuk tetap diam dan mencengkeram kemudi lebih erat. Situasi ini sama sekali tidak ada di dalam skenario manajer mana pun.

Adrina cepat-geleng, suaranya tetap dijaga agar tenang dan profesional. “Tidak usah, Mas. Kosan saya sangat kecil, tidak nyaman. Lagipula ini sudah terlalu malam.”

Elvario menoleh, menatap Adrina langsung. Tatapannya tidak tajam atau mengintimidasi—hanya ada rasa penasaran yang murni di sana. “Gue cuma mau lihat.”

“Lihat apa?” tanya Adrina hati-hati.

“Tempat lo pulang.”

Adrina menelan ludah. Tangannya mencengkeram tali tas di pangkuannya. “Tidak ada yang istimewa, Mas. Benar-benar biasa saja. Dan... jujur saja, saya tidak nyaman kalau Mas Elvario datang ke sana.”

Rizal kembali melirik spion, kali ini dengan ekspresi waspada. Ia sudah bersiap jika Elvario akan meledak karena penolakan itu. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Elvario menyandarkan punggungnya lagi, menghela napas pendek yang terdengar lelah.

“Semua orang selalu bilang gue nggak boleh ke tempat ‘biasa’,” katanya datar, suaranya mengandung nada sarkasme pada diri sendiri. “Takut bocor, takut difoto, takut image rusak kalau gue terlihat di lingkungan kumuh.”

Adrina terdiam sejenak, lalu menjawab pelan. “Alasan saya bukan itu, Mas. Saya cuma... tinggal sendiri. Kosan itu sempit. Saya hanya tidak ingin menjadi pusat tontonan warga sekitar.”

Mobil kembali sunyi. Hanya ada gesekan ban dengan aspal. Beberapa meter kemudian, Elvario bicara lagi, suaranya lebih lembut. “Gue nggak bawa siapa-siapa. Cuma gue. Sama Rizal.”

Rizal langsung menyambar, berusaha mencairkan suasana yang kaku. “Eh, kok gue ikut diseret-seret!”

Adrina menarik napas panjang. Ia menatap ke luar jendela—lampu-lampu toko yang sudah mati dan gerobak pedagang yang sudah tutup menandakan mereka hampir sampai di wilayah kosannya. “Saya mohon, Mas,” ucapnya akhirnya. “Bukan sekarang.”

Elvario memandangnya cukup lama. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, wajah pria itu menunjukkan sebuah kekecewaan yang sangat manusiawi—bukan kemarahan seorang bintang yang keinginannya ditentang.

“Oke,” katanya pelan. “Gue nggak maksa.”

Adrina menghela napas lega, namun perasaannya tidak sepenuhnya ringan. Ada rasa bersalah yang samar menyelinap. Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah gang kecil yang gelap. Lampu jalan hanya satu yang menyala redup, menerangi sebuah motor yang terparkir di dekat warung tutup.

“Di sini saja, Mas. Terima kasih, Bang Rizal,” kata Adrina.

Ia membuka pintu mobil, namun sebelum kakinya menyentuh aspal, Elvario kembali memanggil namanya. “Adr.”

Ia menoleh kembali ke dalam kabin yang remang.

“Lo nolak gue bukan karena gue artis, kan?”

Adrina ragu sejenak, lalu menggeleng pasti. “Bukan.”

“Karena lo?” tanya Elvario lagi, mencari penegasan.

Adrina menatapnya. Kali ini lebih lama dari biasanya. “Iya. Karena privasi saya.”

Elvario mengangguk, seolah menerima jawaban itu sebagai sesuatu yang sangat ia hargai. “Gue mengerti. Gue hargai itu.”

Adrina turun dari mobil. Pintu menutup dengan suara pelan. Ia berdiri sejenak di pinggir gang, menunggu mobil itu melaju. Namun, mobil hitam itu masih bergeming. Kaca jendela belakang turun perlahan.

“Adr,” kata Elvario sekali lagi, suaranya hampir tenggelam oleh suara mesin yang berdengung. “Suatu hari nanti... lo yang ajak gue ke sana.”

Adrina tersenyum kecil, sebuah senyuman yang nyaris tak terlihat di bawah remang lampu jalan. “Kalau hari itu datang,” jawabnya jujur, “itu berarti saya sudah percaya penuh pada Mas El.”

Elvario menatapnya dalam diam, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum tulus yang tidak pernah ditangkap oleh kamera media mana pun. Mobil itu akhirnya melaju pergi, menghilang di kegelapan malam.

Adrina melangkah masuk ke gang sempit menuju kamarnya. Malam itu terasa lebih dingin, tapi hatinya justru terasa hangat. Untuk pertama kalinya, ia berani menolak keinginan Elvario Mahendra—dan pria itu menerimanya tanpa amarah, melainkan dengan sebuah penghormatan.

1
Selfi Polin
mampir thor, awal yg bagus😍
Joice Sandri
bagus...tertata dg baik kisah n bhsnya
Ros Ani
mampir ah siapa tau suka dg karyamu thor
Dinna Wullan: terimakasih ka saran sarannya
total 1 replies
Tismar Khadijah
bahasanya hmm👍
Tismar Khadijah
lanjuut💪
Tismar Khadijah
baguus
Dinna Wullan: terimakasih dukungannya ka
total 1 replies
Mar lina
aku mampir, thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!