Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang yang Mengikuti
Malam menyelimuti pulau kecil itu dengan kegelapan pekat, hanya diterangi oleh cahaya redup kristal biru yang kini Banda genggam erat di tangan kanannya. Kristal itu tidak lagi menyala terang seperti tadi—denyutnya pelan, seperti napas yang tertidur, tapi setiap kali jarinya menyentuh permukaannya, Banda merasakan getaran samar di tulang rusuknya. Seperti ada bagian dari dirinya yang baru saja terhubung kembali setelah berabad-abad terputus.
Mereka bertiga duduk di pantai kecil di sisi barat pulau, jauh dari reruntuhan kuil yang sekarang dikelilingi mayat werewolf yang sudah kembali jadi bentuk manusia. Bayu membuat api unggun kecil dari ranting kering, tangannya masih gemetar setiap kali melihat ke arah laut—takut perahu hitam lain muncul lagi.
Jatayu duduk agak menjauh, lututnya ditarik ke dada, goloknya tergeletak di pasir. Matanya tertuju pada kristal di tangan Banda, tapi pikirannya jelas-jelas berada di tempat lain.
“Kau baik-baik saja?” tanya Banda pelan.
Jatayu menggeleng kecil. “Aku tidak tahu. Si Abu-abu… dia kenal Garini. Dia bilang dia kekasihnya dulu. Itu berarti… Garini pernah punya kehidupan sebelum ayahmu. Dan aku tidak pernah tahu.”
Banda menatap api unggun. “Mungkin dia tidak ingin kau tahu. Mungkin dia ingin melindungimu dari kutukan itu juga.”
Jatayu tertawa getir. “Melindungiku? Aku yang seharusnya melindunginya. Aku yang ditugaskan membunuhnya. Dan sekarang… aku melindungi anaknya. Ironis sekali.”
Bayu menambahkan kayu ke api. “Jadi sekarang apa? Kita bawa kristal ini ke mana? Dan apa gunanya?”
Banda mengangkat kristal. Cahaya biru samar memantul di wajahnya. “Di visi tadi, ada tiga batu lain di altar. Merah untuk Phoenix, abu-abu untuk Tanah, putih untuk Cahaya. Hanya biru yang utuh. Mungkin kristal-kristal ini adalah kunci untuk memahami—atau mematahkan—kutukan. Naga Tanah pasti ingin menghancurkannya supaya kutukan tetap hidup.”
Jatayu mengangguk pelan. “Klan Phoenix punya kuil serupa di pegunungan Merapi. Di sana ada kristal merah—atau setidaknya dulu ada. Tapi setelah perang, banyak yang hilang atau disembunyikan. Kalau kita mau mencari yang lain, kita harus ke sana.”
Bayu mengernyit. “Merapi? Itu jauh sekali. Dan klanmu… mereka pasti tidak akan senang kalau kau bawa ‘musuh’ seperti Banda ke sana.”
Jatayu menatap api. “Mereka sudah menganggapku pengkhianat sejak aku tidak membunuh Garini. Membawa Banda hanya akan mempercepat vonis mati bagiku.”
Banda menatapnya tajam. “Kau tidak akan mati. Tidak selama aku ada.”
Jatayu tersenyum tipis—senyum yang lelah tapi hangat untuk pertama kalinya. “Kau mulai terdengar seperti naga sungguhan. Arrogant dan protektif.”
Banda tertawa kecil, tapi tawanya cepat pudar. Ia merasakan sesuatu—denyut lain, bukan dari kristal, tapi dari arah hutan di belakang pantai. Seperti ada mata yang mengawasi.
“Ada yang mengikuti kita,” katanya pelan.
Jatayu langsung berdiri, golok di tangan. “Werewolf lagi?”
Banda menggeleng. “Bukan. Ini… lebih lembut. Seperti api yang disembunyikan.”
Dari balik pepohonan, sosok ramping muncul perlahan. Rambut cokelat keemasan panjang, mata hijau zamrud yang hangat tapi penuh konflik. Kirana.
Ia berhenti beberapa meter dari api unggun, tangannya terangkat menunjukkan tidak bersenjata.
“Jatayu…” suaranya lembut, tapi ada getar di dalamnya. “Aku sudah mengikutimu sejak Karangwangi. Aku… aku tidak bisa diam saja.”
Jatayu membeku. Goloknya turun perlahan. “Kirana? Kenapa kau di sini?”
Kirana menatap Banda sekilas—tatapan yang penuh rasa sakit yang tersembunyi—lalu kembali ke Jatayu. “Dewi Lara mengirimku. Dia tahu kau belum menyelesaikan tugas. Dia bilang kalau kau gagal lagi… klan akan mengirim pemburu baru. Dan mereka tidak akan ragu membunuhmu juga.”
Jatayu tertawa dingin. “Jadi kau datang untuk memastikan aku membunuhnya? Atau untuk membunuhku kalau aku menolak?”
Kirana menggeleng cepat. Air mata mulai menggenang di matanya. “Aku datang karena aku tidak bisa membiarkanmu mati sendirian. Dan karena… aku tahu siapa dia sejak awal.”
Semua mata tertuju padanya.
Kirana menarik napas dalam. “Aku ada di sana saat Garini melahirkan. Aku masih kecil, tapi aku ingat. Aku melihat kau membiarkan perahu itu hanyut. Aku melihat kau menangis di tepi laut. Dan aku… aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak pernah bilang pada siapa pun. Karena aku tahu kalau klan tahu, mereka akan memburu bayi itu sampai mati.”
Jatayu terdiam. “Kau tahu… selama ini?”
Kirana mengangguk. “Dan aku tahu kalau kau bertemu dengannya lagi, ikatan itu akan bangkit. Aku… aku takut. Takut kau akan terluka. Takut kau akan memilih dia daripada klan. Takut… kau akan bahagia tanpa aku.”
Kata terakhir itu keluar hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih berat.
Banda menatap Kirana. “Kau… mencintaiku?”
Kirana menunduk. “Bukan seperti yang kau pikir. Aku mencintai Jatayu lebih dari apa pun. Dan melihat dia mulai jatuh pada seseorang yang seharusnya dia bunuh… itu menyakitkan. Tapi aku tidak bisa membencimu. Karena kau bagian dari Garini. Dan Garini adalah satu-satunya yang pernah membuat Jatayu tersenyum sungguhan.”
Jatayu melangkah mendekat, tangannya menyentuh bahu Kirana. “Kenapa kau tidak bilang dari dulu?”
“Karena aku takut kehilanganmu,” jawab Kirana. “Dan sekarang… aku takut kehilangan kalian berdua.”
Bayu menghela napas panjang. “Ini… ini terlalu rumit buat nelayan seperti aku.”
Banda bangkit. Ia menatap Kirana lama. “Kau tidak harus memilih sekarang. Tapi kalau kau ikut kami, kau harus siap menghadapi apa yang akan datang. Klan Phoenix, werewolf yang tersisa, Naga Tanah… semuanya.”
Kirana mengangguk pelan. “Aku siap. Karena aku tidak mau Jatayu sendirian lagi.”
Jatayu memeluk Kirana erat—pelukan sahabat yang penuh rasa bersalah dan syukur. Tapi saat ia melepaskan pelukan, matanya bertemu dengan mata Banda. Ada sesuatu di sana—pertanyaan yang belum terucap, janji yang belum diucapkan.
“Kita berangkat besok pagi ke Merapi,” kata Jatayu. “Kristal merah mungkin masih ada di sana. Dan kalau kita bisa mengumpulkan semuanya… mungkin kita bisa mematahkan kutukan sebelum kutukan mematahkan kita.”
Banda mengangguk. “Kita akan coba.”
Malam itu, mereka tidur bergantian jaga. Banda duduk paling dekat dengan laut, kristal biru di pangkuannya. Ia menatap ombak yang bergulung pelan, merasakan kekuatan baru di dalam dirinya—kekuatan yang menjanjikan perlindungan, tapi juga kehancuran.
Di kejauhan, dari arah selatan, angin membawa suara samar: raungan kecil, tapi bukan werewolf. Lebih seperti gema dari dasar laut—sesuatu yang lebih tua, lebih besar, mulai terbangun.
Naga Tanah tahu.
Dan ia tidak akan menunggu lama.