sebuah kehancuran adalah sebuah derita bagiku, seperti kutukan akan kelakuan berat masa laluku. nyatanya itu hanyalah sebatas prasangka. _Ailavati Keysa Maharani.
wajah datar tampak acuh adalah penguat ku, aku terlalu takut untuk dikasihani sebagai alasan pertemanan ku. hidupku telah luluh lantah atas kehancuran.~Alga Mahensa Putra
Di sinilah kisahku dimulai.
Aku Aila Putri cantika yang memiliki trauma akan masalalu, yang di pertemukan dengannya Alga Mahensa Putra.
Pria yang memiliki parasa tampan dan berwajah datar.
Akankah Aku bisa bersamanya?
Apakah ego kita yang akan sama sama menyakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetya_nv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab baru di mulai
Aku berjalan beriringan dengan seseorang yang ku cintai. Aku datang dengan senyuman baru dan rasa bahagia yang sebelumnya aku rasakan. Hari ini Aku dengannya berjalan bersama. Berjalan dengan status yang masih sama dari sebelumnya. Kami berjalan beriringan bukan dengan tujuan yang sama. walaupun, masih ada jarak yang tak kasat mata yang kita coba untuk hapus itu. Tapi kita sama tahu, bahwa tujuanku dia begitu sebaliknya.
Pagi ini sekolahan kembali heboh dengan Kami yang mulai berjalan beriringan. Tujuan kami berbeda tapi hati kita sama.
"Ai aku antar sampai ke kelas ya? " Pertanyaannya yang manis mengalun di telingaku. Aku menolaknya dengan menggelengkan kepala. Dia memandangku seperti isyarat menuntut jawaban. Alis kanannya yang di naikkan dan mata memandang yang menuntut jawab.
"Aku hanya ingin jalan kembali dengan Tamala. Mungkin, waktunya aku memperbaiki caraku memperlakukan Naina dengan benar" jawabku sambil menunjuk dua orang berjalan bersama dengan tawa riang" jawabanku membuatnya mengangguk paham.
"Hai La? yuk ke kelas" sapa Tamala sambil menggeretku memasuki kelas. Aku menangguk tersenyum dan mulai menggandeng Naina dengan canggung.
Sementara di sebrang sana, tanpa ku ketahui. Alga tersenyum melihat pemandangan yang ingin di lihatnya.
"Aila maaf, aku mengacaukan harimu. " ucap Naina sambil menunduk. Aku tahu mungkin perasaannya tak karuan melihatku acuh padanya. Aku seperti seorang yang jahat dengan memperlakukan dia beda.
"Aku perlu ngomong berdua" Aku menjawabnya tanpa melihatnya. Dia seolah faham apa yang ku maksud mengangguk mengerti. Dia memandangku penuh tanya kemana arah kita akan berbicara.
"Kamu akan tahu kemana arahnya tapi yang pasti nggak sekarang tapi nanti jam istirahat di taman belakang. " Aku memberi tahunya di mana dan kapan harus menemuiku. Kami berjalan tanpa suara ke kelas kami, suara ribut menyambutku yang mulai pening dengan kebisingan pagi hari ini.
...----------------...
Selang beberapa waktu yangku lalui hingga kini jam istirahat telah tiba. Aku duduk dengan tenang menunggu Naina datang. Aku tak tahu harus memulai dari mana. Pikiranku kacau saat melihatnya berjalan dengan anggun mendekatiku. Senyumannya sangat manis untuk di pandang. Kulitnya yang putih dan rambut yang di gerainya terlihat sangat cantik di mataku.
"Aku tiada artinya jika berdekatan dengamu Na, bahkan paras cantikmu pun membuatku memandangmu tanpa berpaling. Bagaimana aku bisa percaya diri jika mungkin sainganku kamu" monolog ku dalam batin saat aku memandangnya tanpa berkedip.
"Hai? lama menunggu? " Dia bertanya sambil melambaikan tangannya dengan tangan mungil dan jemari yang lentik.
"Tidak, silahkan duduk. " aku mempersilahkan dia duduk di sebelahku.
"Apa yang ingin kamu bicarakan Aila. Sampai kamu mau repot menungguku di sini tanpa kepastian. Aku menunduk takut dengan jawabanku sendiri.
"Maaf" ucapku dengan sendu. Rasanya aku ingin menangis untuk memulai pembicaraan yang sudah jelas kemana arahnya.
"untuk? " dia kembali bertanya secara singkat tanpa memberiku jawaban pasti.
" untuk sikapku yang membuatmu bingung untuk karakter ku yang terlalu lain dari mereka yang kamu kenal" jawabku, Aku tak bisa berkata gamblang menjelaskan detail perasaanku
kepada seseorang yang baru.
"Aku paham untuk seseorang yang telah di tinggalkan dan untuk seseorang yang hidup dengan bayang rasa takut itu. " jawabanya membuatku tersentuh. Ada titik di mana aku tak paham jalan pikirku yang terlalu rumit. Tapi dia paham tanpa menghakimiku.
"terimakasih untuk mau duduk mendengarkanku tanpa kembali bertanya lebih jauh. " Aku memandangnya dengan senyum tulus. Dia jauh bisa meraba bagaimana perasaanku dari pada diriku sendiri.
"Kamu bukan jalan dengan kemauanmu La, tapi kamu jalan dengan pikiranmu. sesekali dengerin kata hatimu, itu jauh lebih melegakan. " ucapannya membuatku terdiam. Aku mencoba merubah sisi kata hatiku yang mulai jarang aku pakai.
"Sekarang kamu mengertikankan. Hati kamu memilih untuk bertanya bukan pikiranmu yang menekanmu untuk diam. " Dia berkata tepat persis dengan apa yang ada dalam diriku.
Kini pikiranku sedang bergelut dengan kata hatiku.
"bertanyalah jangan ragu, kamu tidak akan kehilangan semuanya hanya dengan kalimat tanya." Lagi lagi dia bisa menebak apa yang terjadi pada diriku.
Lama aku diam, akhirnya aku memilih bersuara.
"Lantas bagaimana kelanjutan hidupmu dengannya. Apakah kamu akan membiarkan semua menutup mata dengan semua itu? " Aku bertanya dengan hati hati. Aku ingin dengar jawabannya setelah obrolan ku tadi malam bersama Alga.
"Aku ingin dunia mengetahuinya La, sangat ingin. Tapi ada fakta yang harus kami jaga. Kami tak ingin ada korban di setiap jalan kami yang kami pilih" Jawab yang sama seperti aku mendengarkan jawaban Alga tadi malam.
"Lantas mengapa kamu masih belum menerimanya? " Tanya Naina membuatku memalingkan wajah. Dia bisa menebak semuanya tanpa bisa aku tutupi.
" Aku tahu jawabannya La, mau tahu jawaban isi hati apa pikiranmu? " dia berkata membuatku menoleh sepenuhnya kearahnya. Aku menaikkan sebelah alisku dan mencoba menyembunyikan sesuatu itu darinya. Tapi semua itu tak ada artinya.
"hatimu ingin berjalan bersamanya bukan. " Aku mengerjap mengapa dia sangat tahu detail.
"dan pikiranmu menyuruhmu untuk memilih jalan masih di garis yang sama untuk sesuatu yang sedang sedang kusut yang sedang kamu usahakan untuk rapi sedemikian rupa. " Perkataannya sama persis jawaban yang sedang dia pertanyakan. Dia seperti cenayang yang bisa membaca semuanya. Aku takjub dengan kemampuannya.
"Aku bukan cenayang La, hanya saja aku bisa melihat semua itu hanya melihat tatapan matamu yang penuh dengan keraguan" penjelasannya membuatku mengerti. Aku mengangguk faham dengan apa yang di maksudnya.
Pembicaraanku kali ini dengannya membuatku lebih bisa berpikir dengan jernih tentang benang kusut yang harus aku rapikan.
" pesanku La, rapikan benang kusut itu bersamanya. Kalian saling membutuhkan satu sama lain tanpa saling melukai La. Berjalanlah bersamanya menjadi satu bukan menjadi bagian yang retak. " Naina berkata sambil meninggalkanku yang mencoba merakit semuanya menjadi puzzle yang utuh.