NovelToon NovelToon
Sistem Membuat Sekte Terkuat

Sistem Membuat Sekte Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Harem
Popularitas:934
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.

Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.

Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:

Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.



Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.

Saat sumpah itu terucap—

DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.

Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Anak Ketua Sekte (1)

Siang itu terang tanpa ampun.

Halaman utama sekte dipenuhi suara langkah dan bisik-bisik yang tidak pernah benar-benar sunyi. Batu-batu putih memantulkan cahaya, membuat bayangan para murid jatuh pendek dan tajam, seolah tidak memberi ruang untuk bersembunyi. Xu Tian berdiri di tepi halaman, dekat pilar batu yang dingin, dengan bahu sedikit membungkuk. Udara terasa berat di dadanya, seperti ada sesuatu yang belum selesai runtuh sejak pagi tadi.

Kata-kata itu masih menempel. Setiap jeda napas mengulangnya, pelan namun pasti, menggerogoti sisa-sisa ketenangan yang nyaris tidak ada. Ia belum sempat pergi. Kakinya seperti menolak bergerak, seakan dunia memang menginginkannya tetap di sini, di tempat semua mata bisa melihatnya.

Langkah-langkah teratur terdengar dari arah aula latihan terbuka.

Bukan langkah tergesa. Bukan langkah ragu.

Langkah itu datang dengan ritme yang tenang, percaya diri, dan entah bagaimana langsung mengubah arus kerumunan. Murid-murid yang semula berbicara saling menoleh, lalu secara naluriah memberi jalan. Beberapa berhenti tertawa. Beberapa merapikan pakaian. Beberapa menunduk sedikit, tidak sampai hormat, namun cukup untuk menunjukkan pengakuan.

Zhao Heng muncul di tengah halaman seperti pusat gravitasi.

Jubah murid inti berwarna lebih gelap jatuh rapi di tubuhnya. Sabuknya bersih, tanpa noda. Rambutnya diikat sederhana, tidak berlebihan, namun setiap helainya seolah berada di tempat yang tepat. Wajahnya tenang, bibirnya membawa lengkung tipis yang tidak bisa disebut senyum, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia nyaman berada di mana pun ia berdiri.

Ia tidak mencari siapa pun.

Ia hanya berjalan.

Namun dunia di sekitarnya bergerak menyesuaikan.

Xu Tian melihatnya dari sudut mata. Ia tahu siapa itu bahkan sebelum wajah itu sepenuhnya terlihat. Jantungnya bergetar kecil, refleks yang tidak bisa ia kendalikan. Ia menunduk lebih dalam, pandangannya jatuh ke batu-batu lantai yang terasa terlalu terang.

Zhao Heng berhenti beberapa langkah darinya.

Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.

Jarak yang aman. Jarak yang disengaja.

“Ruo’er.”

Suara itu tidak keras. Tidak juga lembut. Datar, namun jelas. Seperti suara seseorang yang terbiasa didengar tanpa perlu meninggikan nada.

Lin Ruo’er berdiri di sisi halaman, bersama dua murid perempuan lain. Saat namanya dipanggil, ia menoleh. Tatapannya bertemu dengan Zhao Heng tanpa ragu. Tidak ada kebingungan di sana. Tidak ada keterkejutan.

Ia melangkah mendekat.

Langkahnya ringan, hampir ceria, meski wajahnya tetap tenang. Saat ia berhenti di sisi Zhao Heng, jarak di antara mereka begitu alami, seolah memang sudah lama seperti itu. Tidak ada sentuhan, tidak ada kata manis, namun keberadaannya di sana cukup menjadi pernyataan.

Zhao Heng menoleh sedikit ke arahnya.

“Kau menunggu lama?” tanyanya.

Lin Ruo’er menggeleng pelan. “Baru saja.”

Percakapan sederhana. Biasa. Seolah halaman ini kosong. Seolah tidak ada puluhan pasang mata yang menatap. Seolah tidak ada seseorang yang berdiri beberapa langkah dari mereka dengan dada penuh luka yang belum mengering.

Zhao Heng mengangguk. “Bagus.”

Satu kata.

Namun kata itu seperti segel.

Beberapa murid di sekitar mereka bertukar pandang. Ada yang tersenyum kecil, ada yang mengangguk-angguk seakan baru saja mendapat konfirmasi atas sesuatu yang sebenarnya sudah mereka ketahui. Hubungan itu tidak diumumkan secara resmi, tidak dirayakan, namun sekarang berdiri jelas di hadapan semua orang.

Xu Tian merasakan tenggorokannya mengeras.

Ia tidak mengangkat kepala. Ia tidak ingin melihat. Tapi bayangan mereka jatuh ke lantai, berdampingan, rapi. Tidak ada celah di antara dua bayangan itu.

Zhao Heng akhirnya mengalihkan pandangan.

Tatapannya jatuh ke arah Xu Tian tanpa perubahan ekspresi. Tidak ada kejutan. Tidak ada rasa ingin tahu. Seolah keberadaan Xu Tian sudah diperhitungkan sejak awal, hanya satu elemen kecil dalam pemandangan yang lebih besar.

“Xu Tian,” katanya.

Nama itu keluar begitu saja, tanpa tekanan di nada, tanpa niat jelas di permukaan. Namun begitu terdengar, beberapa murid lain otomatis menoleh. Bisik-bisik kecil muncul dan mati.

Xu Tian tidak langsung menjawab. Ia menelan ludah, lalu mengangkat kepala sedikit, cukup untuk menunjukkan bahwa ia mendengar.

“Senior Zhao.”

Suara itu keluar lebih pelan dari yang ia harapkan.

Zhao Heng mengangguk, seolah menyetujui panggilan itu. “Aku dengar kau masih di sini.”

Pernyataan, bukan pertanyaan.

Xu Tian mengangguk kecil. Tidak ada yang bisa ia katakan. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa.

Zhao Heng melangkah setengah langkah lebih dekat. Tidak memasuki ruang pribadi, namun cukup untuk membuat tekanan terasa nyata. “Halaman utama bukan tempat yang baik untuk berlama-lama bagi murid luar,” katanya ringan. “Terutama di jam seperti ini.”

Beberapa murid tersenyum kecil. Ada yang tertawa pelan, cepat-cepat menutup mulutnya.

Xu Tian merasakan panas merambat ke wajahnya. Ia tahu maksud kalimat itu. Ia tahu posisi dirinya di sini, di antara jubah-jubah yang lebih bersih dan status-status yang lebih tinggi.

“Aku hanya—” Ia berhenti. Kata-kata itu mati sebelum sempat terbentuk. Tidak ada alasan yang terdengar cukup di kepalanya.

Zhao Heng tidak menunggu kelanjutan. “Tidak perlu menjelaskan,” katanya. “Aku hanya mengingatkan.”

Nada suaranya sopan. Bahkan bisa disebut ramah.

Namun setiap kata terasa seperti diletakkan di tempat yang tepat untuk menekan.

Ia menoleh sedikit, pandangannya menyapu kerumunan. “Sekte ini punya aturan,” lanjutnya. “Dan aturan itu ada untuk menjaga keteraturan. Semua orang tahu itu.”

Beberapa murid mengangguk. Beberapa senior yang lewat melirik sekilas, lalu melanjutkan langkah tanpa berhenti. Tidak ada yang merasa perlu ikut campur. Tidak ada yang melihat sesuatu yang salah.

Xu Tian berdiri di sana, merasa semakin kecil.

Zhao Heng kembali menatapnya. “Kau sudah lama di sekte ini,” katanya. “Kau seharusnya mengerti.”

Kata seharusnya itu menggantung.

Xu Tian mengepalkan jari-jarinya di balik lengan baju. Kuku-kukunya menekan kulit, mencoba memberi rasa sakit yang bisa ia kendalikan. Ia ingin mengatakan bahwa ia memang mengerti. Ia ingin mengatakan bahwa ia tahu tempatnya.

Namun mulutnya tetap tertutup.

Zhao Heng tersenyum tipis, hampir tidak terlihat. “Bagus kalau begitu.”

Ia meluruskan bahu. Posturnya tegak, ringan, tanpa beban. Kontras itu begitu jelas hingga menyakitkan. Zhao Heng berdiri seperti seseorang yang tahu bahwa lantai ini, langit ini, bahkan aturan-aturan sekte ini berada di pihaknya.

Lin Ruo’er berdiri di sampingnya, diam. Wajahnya tenang. Tatapannya tidak pernah benar-benar jatuh pada Xu Tian. Jika pun ada, itu hanya sepintas, lalu pergi, seolah tidak ingin terlibat lebih jauh.

Xu Tian merasakan sesuatu di dadanya runtuh perlahan.

Zhao Heng melanjutkan, “Aku akan membawa Ruo’er ke aula latihan sebentar.” Ia tidak meminta izin. Ia tidak perlu. “Ada urusan kecil.”

Lin Ruo’er mengangguk. “Baik.”

Mereka berbalik bersamaan.

Sebelum melangkah, Zhao Heng berhenti sejenak. Ia menoleh kembali, pandangannya jatuh sekali lagi pada Xu Tian. “Oh ya,” katanya, seolah baru teringat. “Jangan sampai mengganggu murid lain. Itu saja.”

Sederhana. Wajar. Seperti nasihat seorang senior yang peduli.

Namun Xu Tian tahu. Semua orang tahu.

Ia bukan sedang dinasihati.

Ia sedang diposisikan.

Zhao Heng dan Lin Ruo’er berjalan menjauh. Kerumunan terbelah, lalu menutup kembali di belakang mereka. Beberapa murid mengikuti dengan pandangan kagum. Beberapa berbisik, suara mereka tidak lagi berusaha ditahan.

“Anak Ketua Sekte memang berbeda.”

“Wajar saja Ruo’er memilihnya.”

“Yang satu murid inti, yang satu… ya, begitulah.”

Kalimat-kalimat itu tidak diarahkan langsung. Tidak ada yang menyebut nama Xu Tian. Namun setiap kata terasa mengarah padanya, menusuk tanpa perlu menunjuk.

Xu Tian berdiri sendirian di tepi halaman.

Ia merasa semua suara menjadi lebih jelas dan sekaligus lebih jauh. Tawa kecil, langkah kaki, suara latihan dari aula terbuka—semuanya bercampur menjadi satu dengung yang membuat kepalanya terasa ringan.

Ia menunduk lagi.

Di batu lantai, ia melihat bayangannya sendiri. Sedikit membungkuk. Bahu yang tampak lebih sempit dari biasanya. Jubah sederhana yang warnanya sudah tidak lagi tajam.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya.

Namun di benaknya, pemandangan tadi berulang.

Dua sosok berdiri sejajar.

Satu dunia yang memberi jalan.

Dan dirinya, berdiri di pinggir, tanpa tempat.

1
Arceusssxara
ah mataku sakit maaf karena satu paragraf nya panjang amat kalimatnya. 😩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!