Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERANG DI MEJA MAKAN
“Maira! Maira!” Teriakan Farid menggema di dalam rumah begitu ia membuka pintu.
Suaranya terdengar tergesa, nyaris panik. Kemeja kerjanya sudah kusut, dasi yang tadi rapi kini dilonggarkan setengah karena sesak di dada yang kian tak tertahankan. Ia berjalan cepat ke arah kamar, berharap menemukan Maira di sana. Namun nyatanya kamar kosong.
Namun sesaat kemudian, aroma gurih yang menguar dari dapur menarik perhatiannya.
Ia melangkah ke sana dan mendapati Maira tengah duduk santai di meja makan, menyantap semangkuk mi instan dengan telur dan sayuran. Di sebelah mangkuknya, ponsel menyala, menayangkan drama yang sedang ditontonnya.
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Maira menoleh saat menyadari keberadaan Farid. Ia hanya tersenyum tipis.
“Eh, Mas… sudah pulang? Laper? Mau aku buatkan mie juga?” Tanyanya santai, lalu kembali menyuap mi ke mulutnya.
Farid diam sejenak, tak membalas. Sorot matanya tajam, napasnya teratur tapi dalam—menandakan ada emosi yang ditahan.
Ia mendekat, lalu berkata, “Mas mau tanya. Ibu dari tadi neleponin Mas, nanyain kenapa kamu belum transfer juga? Ibu mau beli beras sama sayur untuk stok dirumahnya.” Suara Farid terdengar datar, tapi penuh tekanan.
Maira menghentikan gerakan tangannya. Matanya perlahan mengangkat, menatap suaminya dengan sorot tak kalah dingin.
“Mas beneran nanya itu?” Tanyanya tenang.
Dahi Farid mengernyit. Ia tak menjawab.
Sumpit yang tadi berada di tangan Maira kini sudah ia letakkan. Perlahan ia menyandarkan punggungnya ke kursi, dan menatap Farid lurus-lurus. “Mas lupa, ya? Aku udah bilang—mulai bulan ini dan seterusnya, aku tidak akan lagi mengurus uang bulanan Ibu Mas.”
Mata Farid terpejam sejenak, ia mencoba menahan diri. Ia tahu Maira sudah mengucapkan hal itu sebelumnya, tapi tak menyangka jika istrinya akan benar-benar melakukannya.
“Tapi, Mai… Ibu butuh transferan dari kamu untuk keperluannya." Lirih Farid, berusaha membela diri. “Mas memang salah, Mas ngaku. Mas nggak minta izin dulu sama kamu waktu transfer itu. Tapi kenapa kamu bawa-bawa Ibu juga dalam masalah kita?” Nada suaranya terdengar berat.
“Mas jadi nggak enak sama Ibu… Tadi Ibu sempat ngira kamu udah transfer. Dia udah ke supermarket, belanja banyak. Tapi waktu mau bayar, ternyata nggak ada sepeser pun uang di rekening Ibu.” Imbuh Farid dengan suara semakin pelan, hampir seperti orang yang sedang mengiba. Ia berharap Maira luluh dengan nada suaranya yang penuh harap.
Suasana seketika hening. Maira menunduk sebentar, lalu tanpa berkata apa-apa, ia mengambil kembali sumpitnya dan melanjutkan makan.
“Kalau Mas ngerasa nggak enak sama Ibu, ya sudah… transfer aja pakai uang Mas sendiri. Lagian Mas kan juga gajian hari ini." Ucap Maira santai, tanpa menoleh sedikit pun ke arah suaminya.
Perkataan itu membuat Farid nyaris kehilangan kata-kata. Biasanya saat ia meminta dengan nada mengiba, Maira akan luluh. Tapi kali ini… istrinya benar-benar berbeda.
Ia menatap wajah Maira yang kini terlihat asing baginya. “Kamu berubah, Mai…” Lirihnya pelan, hampir tak terdengar.
Namun Maira mendengarnya dengan jelas. Tangannya terhenti sesaat di atas mangkuk, matanya menatap lurus ke arah Farid. “Kamu yang bikin aku berubah.”
•
•
“Kenapa dari tadi anakmu nangis, Din?” Tanya Bu Susi yang kali ini datang ke rumah Dini sendiri tanpa Pak Bowo—seperti biasanya.
Dini yang sejak tadi sibuk memainkan ponselnya hanya mendengus kesal. “Lapar, Bu…” Jawabnya singkat, tanpa menoleh.
“Lapar? Emangnya kamu nggak beli makanan?" Suaranya mulai terdengar tidak sabar.
Dini menggeleng lemah. “Mas Bayu belum dapat kerjaan, Bu. Aku juga udah nggak punya uang sepeser pun lagi.”
“Terus, stok makanan yang Ibu bawain dari rumah Maira mana? Udah habis?” Tanya Bu Susi lagi.
“Ya habis lah, Bu. Di rumah ini bukan cuma perut aku aja yang harus diisi." Ujar Dini dengan wajah merengut. Ia menatap Bu Susi sejenak, lalu berkata dengan nada manja,
“Nah, karena Ibu udah di sini, aku itu sebenarnya juga lagi nunggu Ibu sejak tadi. Ibu pasti udah dapet jatah uang lebih kan? Jadi… aku minta dong, Bu...” Rengeknya.
Pernyataan itu membuat Bu Susi mendengus pelan. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini. Matanya menatap Dini tajam, namun ia tak langsung membalas. Hatinya yang tak tega pada cucunya membuatnya akhirnya merogoh dompet.
Ia mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan dan meletakkannya di atas meja.
“Ini. Beli mie sama telur aja di warung!" Ucapnya datar.
Dini menatap uang itu dengan wajah tak percaya. “Bu… kenapa cuma segini? Katanya Ibu dapat uang lebih bulan ini. Kok jadi pelit banget, sih? Masak Ibu tega biarin cucu Ibu makan mie doang?”
Bu Susi langsung membentak, emosinya meledak. “Dapat uang lebih gundulmu!”
Nada suaranya membuat Dini terdiam seketika. “Si Maira itu bukannya nambahin uang bulanan, malah ngurangin! Ibu cuma dikasih lima ratus ribu sama dua potong gamis, Din! Lima ratus ribu! Untuk sebulan! Kamu pikir cukup?”
“Apa, Bu? Serius?” Dini terperangah.
“Iya! Makanya sekarang Ibu harus hemat-hemat. Pikir sendiri gimana caranya hidup dari segitu! Jadi jangan nambahin beban Ibu lagi. Udah, kamu beli mie sana! Kasihan anakmu kelaparan." Ucap Bu Susi sambil bangkit dari kursi.
Ia berjalan ke arah cucunya, lalu menggendong langsung cucunya. “Ayo, Sayang… sini sama Nenek ya. Nanti kita makan sama-sama ya." Bujuk Bu Susi dengan lembut, berbanding terbalik dengan nada kerasnya pada Dini tadi.
Dini hanya berdiri membeku, tak berkata apa-apa. Tak ada ekspresi jelas di wajahnya. Tapi sesaat kemudian, matanya memanas dan bibirnya kembali merengut.
Ia menatap lembaran uang dua puluh ribuan di meja seolah itu penghinaan. Meski dengan berat hati, ia tetap mengambilnya dan pergi ke warung. Dari uang itu, ia hanya bisa membeli tiga bungkus mie instan dan dua butir telur.
Sesampainya di rumah, Dini langsung memasak. Tak lama, aroma mie yang dicampur telur mulai menyebar memenuhi dapur sempit itu.
Saat makanan sudah dihidangkan di atas meja, Bayu dan Danu yang baru bangun pun keluar dari kamar masing-masing, berjalan menuju meja makan dengan langkah lesu.
Tanpa banyak bicara, keduanya duduk dan mulai mengambil piring masing-masing. Bu Susi, yang sejak tadi duduk di ruang tengah sambil memangku cucunya, ikut masuk ke dapur dan duduk di kursi pojok. Matanya menatap mereka satu per satu, lalu menghela napas panjang.
“Bayu…” Ucapnya lirih tapi tegas, “kamu itu cari kerjaan lah. Masa kamu nggak kasihan lihat anak istrimu begini? Di rumah nggak ada makanan, istri kamu kelimpungan sendiri.”
Bayu tidak langsung menjawab. Ia terus mengaduk mie di piringnya, seolah tak mendengar.
Tatapan Bu Susi kemudian beralih ke Danu.
“Kamu juga, Danu. Kerjaanmu cuma ngurung diri di kamar, keluar cuma buat makan sama mandi. Kamu pikir ini kos-kosan?"
Danu langsung berhenti mengunyah, wajahnya menegang. “Apa sih, Buk! Orang lagi makan juga diceramahi.” Bentaknya, kasar.
Dada Bu Susi bergetar. Bentakan itu menyayat hatinya. Selama ini, Danu memang keras kepala, tapi belum pernah sekalipun membentak seperti itu.
“Kamu apa-apaan, Danu?” Suaranya meninggi, campuran antara kecewa dan marah.
“Ibu yang apa-apaan! Gimana aku mau nyari kerja? Motor aja nggak ada!” Balas Danu lantang. "Aku kan juga lagi nunggu ibu buat beliin aku motor lagi sesuai janji ibu kemarin."
“Alah, tanpa motor juga bisa cari kerja!” Potong Bayu tiba-tiba, nada suaranya tajam. Matanya menatap Danu penuh kesal.
Danu melotot, emosinya meledak. “Udah diam aja, Mas! Kalau bukan karena motor aku dijual, Mas juga nggak bakal bisa bebas, tahu nggak?!” Sindirnya keras.
“Apa kamu bilang?!” Tangan Bayu menghentakkan sendok ke meja.
“Benar, kan?! Harusnya Mas yang cari kerja lagi buat gantiin motor aku!"
Meja makan yang semula hangat dengan aroma mie, kini berubah menjadi medan perang. Keduanya bangkit berdiri, saling mendekat dengan dada membusung, tangan mengepal, siap saling serang.
“BERHENTI!!!” Teriak Bu Susi dengan suara keras yang memecah udara. Semua terdiam seketika.
Saat itu juga suara tangis anak Dini karena kaget mendengar teriakan keras Bu Susi mulai terdengar. Segera Dini mendekat ke arah anaknya dan mencoba untuk menenangkan.
Sementara Bayu dan Danu saling membuang muka. Tak ada yang bicara lagi. Yang tersisa hanyalah suara sendok yang pelan menyentuh piring, dan tangisan kecil yang belum sepenuhnya reda.
semangat kak 💪 iklan untukmu
semangat ya thor satu bunga untukmu nih biar ssmangat
kak yuk saling dukung