NovelToon NovelToon
Sahabat

Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:483
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Deburan Ombak dan Pencuri Perhatian

Sinar matahari pagi yang hangat menyelinap masuk melalui celah gorden kamar kost, membangunkan ketiga wanita yang masih terlelap dalam satu kasur besar. Rohita, selalu bangun paling awal, segera menendang pelan kaki Devi dan Dewi untuk membangunkan mereka. mereka berencana untuk melepas penat dengan pergi ke pantai. Setelah melalui perdebatan panjang tentang pakaian apa yang cocok, mereka akhirnya berangkat. Rohita, dengan gaya kepemimpinannya yang tegas dan nada bicara yang selalu tinggi, memastikan tidak ada barang yang tertinggal, mulai dari kain pantai hingga bekal air minum.

Sesampainya di pantai, hamparan pasir putih dan suara ombak yang menderu menyambut mereka. Devi langsung berlari kegirangan, sementara Dewi berjalan pelan di samping Rohita yang wajahnya tampak sedikit ditekuk karena cuaca mulai terasa panas. Dewi, mencoba berjalan menyusuri bibir pantai sambil sesekali membiarkan air laut menyapu kakinya. Namun, malapetaka kecil terjadi. Karena terlalu asyik menunduk melihat buih ombak, Dewi tidak sengaja menginjak batu karang yang licin. Tubuhnya goyah, dan dalam sekejap, ia jatuh terduduk di atas pasir yang basah.

Sebelum Dewi sempat merasa malu lebih lama, sebuah tangan kekar terulur di hadapannya. "Kamu tidak apa-apa?" tanya seorang pria dengan suara berat dan ramah. Dewi mendongak, wajahnya seketika merona merah padam melihat seorang pria asing yang tampak tampan dan atletis berdiri di depannya untuk menolong. Namun, belum sempat Dewi menyambut uluran tangan itu atau sekadar mengucapkan terima kasih, sebuah bayangan melesat cepat. Devi, yang entah dari mana asalnya, tiba-tiba muncul dan langsung menyenggol bahu Dewi dengan cukup keras hingga Dewi kembali terhuyung jatuh ke samping.

"Aduh, maaf ya, temanku ini memang agak ceroboh orangnya," ucap Devi dengan nada manja sambil langsung mengambil posisi di depan pria itu. Devi mulai melancarkan aksi cerianya yang berlebihan, mengajak pria itu mengobrol, menanyakan namanya, bahkan mulai tertawa-tawa seolah mereka sudah kenal lama. Dewi yang merasa tersisih dan semakin malu hanya bisa menghela napas. Dengan wajah cemberut, ia berdiri sendiri dan memilih untuk meninggalkan Devi yang masih asyik merayu pria malang tersebut.

Dewi berjalan mendekati Rohita yang sedang duduk santai di bawah pohon kelapa sambil menikmati es krim cokelat. Rohita melihat Dewi mendekat dengan wajah ditekuk. "Kenapa mukamu? Ditinggal Devi main cowok lagi?" semprot Rohita tanpa basa-basi sambil terus menjilat es krimnya. Dewi hanya diam dan duduk di samping Rohita. Merasa kasihan pada sahabatnya yang pendiam itu, Rohita meletakkan sisa es krimnya dan mulai menggali pasir dengan tangannya yang kasar. "Sini, daripada kamu melamun tidak jelas, bantu aku bikin istana pasir. Kita bikin yang paling besar supaya tidak kalah dengan kelakuan genit si Devi itu," perintah Rohita.

Dewi akhirnya tersenyum dan mulai membantu Rohita. Mereka menghabiskan waktu cukup lama untuk membangun benteng pasir yang megah. Setelah istana mereka selesai, Dewi mulai berjalan-jalan di sekitar area tersebut untuk mengumpulkan kerang-kerang cantik yang terdampar. Ia memasukkan kerang-kerang itu ke dalam saku bajunya dengan telaten, merasa kedamaian kembali hadir tanpa gangguan. Sore pun tiba, dan setelah menarik Devi secara paksa dari kerumunan orang di pantai, Rohita memimpin mereka untuk pulang kembali ke kost mereka yang nyaman.

Sesampainya di kost, suasana masih terasa sisa-sisa kegembiraan dari pantai. Devi masuk ke kamar dengan wajah berseri-seri, tangannya menggenggam secarik kertas kecil yang berisi nomor telepon—hasil "rampasan" atau rayuannya pada pria di pantai tadi. Ia memamerkannya di depan mata Dewi yang sedang merapikan koleksi kerangnya. "Lihat ini, Dew! Ganteng, baik, dan sepertinya kaya. Kamu sih, terlalu kaku jadi orang," goda Devi sambil tertawa kecil. Dewi hanya diam, bibirnya mengerucut tanda kesal karena kejadian disenggol di pantai tadi masih membekas.

Melihat ekspresi Dewi yang masam, Devi merangkul bahunya dan berkata dengan nada sok bijak, "Lagipula, kalau nanti ketemu cowok genit atau yang macam-macam di luar sana, bilang saja ke aku, Dew. Biar aku yang hadapi. Kamu itu terlalu polos buat dunia luar." Dewi hanya menanggapi dengan cemberut yang semakin dalam, sementara Rohita yang baru lewat di depan kamar mereka berteriak, "Sudah! Berhenti bicara sampah dan segera bereskan baju kotor kalian!" Setelah itu, Rohita berjalan menuju toilet untuk membersihkan diri dari sisa-sisa pasir pantai yang menempel di kulitnya.

Untuk mengisi waktu sore, Dewi dan Devi memutuskan untuk berkebun sebentar di area belakang kost. Meskipun Devi lebih banyak bercanda dan hanya menyiram air sesuka hati hingga membasahi kaki Dewi, mereka tetap menikmati momen tersebut. Tak lama kemudian, Rohita keluar dari kamar mandi dengan handuk di lehernya dan langsung menuju dapur. "Cepat cuci tangan! Kita masak bersama, aku lapar," perintahnya lagi.

Di dapur, aroma masakan mulai tercium sedap. Mereka bekerja dengan pembagian tugas yang sudah biasa: Rohita yang memegang kendali atas kompor, Dewi yang mengiris sayuran dengan hati-hati, dan Devi yang bertugas menyiapkan meja serta bumbu-bumbu ringan. Setelah semua hidangan siap, mereka makan dengan lahap di ruang tengah. Rasa lelah setelah seharian di pantai seolah terbayar dengan masakan hangat yang mereka buat bersama.

Malam semakin larut, namun mereka belum berniat untuk tidur. Ketiganya pindah ke teras depan kost, duduk di atas kursi bambu sambil memandang langit malam yang tenang. Suasana menjadi hening saat mereka mulai merenung dan bercerita tentang banyak hal—tentang masa lalu mereka, tentang bagaimana mereka akhirnya bisa bersahabat seerat ini, hingga impian-impian kecil yang ingin dicapai. Devi mengeluarkan sebatang rokok, menyulutnya, dan mengembuskan asapnya perlahan ke udara malam. Di bawah temaram lampu teras, ia tampak jauh lebih tenang dibandingkan biasanya. Rohita sesekali memarahi Devi karena asap rokoknya mengenai wajahnya, namun ia tetap bertahan di sana untuk mendengarkan cerita mereka.

Diskusi itu berlangsung hingga larut malam, hingga mata mereka mulai terasa berat karena kantuk. Akhirnya, mereka kembali masuk ke dalam kost . Seperti rutinitas setiap harinya, mereka bertiga naik ke atas kasur besar yang sama. Rohita mengunci pintu kamar dan memastikan semuanya aman sebelum mematikan lampu. Dalam kegelapan yang tenang, di bawah satu selimut yang sama, ketiga sahabat itu akhirnya tertidur lelap,

1
Mingyu gf😘
bahasa formal sama bahasa sehari hari jangan di campur
Mingyu gf😘
Jangan terlalu suka kepo dengan orang yang gak di kenal
Anang Anang
lanjut
Dini
mantap
Dini
sangat mengispirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!