Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Bentrokan Rasa di Meja Perjamuan
Suasana di dalam rumah pohon raksasa yang seharusnya terasa hangat. Cahaya dari kristal mana yang menempel di langit-langit memancarkan pendar keemasan yang lembut, menyinari interior kayu yang aromanya menenangkan. Namun, bagi Aruna, oksigen di dalam ruangan itu terasa menipis. Ia bisa merasakan punggungnya merinding, bukan karena hantu, melainkan karena hawa sedingin kutub yang dipancarkan oleh pria yang duduk tepat di sampingnya.
Asher duduk dengan punggung tegak, tangannya yang terbalut perban diletakkan di atas meja kayu. Matanya yang sedingin es tidak berkedip, menatap lurus ke arah pintu seolah-olah dia sedang menunggu monster untuk dipenggal. Padahal, yang dia tunggu hanyalah kepastian bahwa tidak ada pria lain yang berani melangkahkan kaki melalui pintu itu.
"Ugh, duduklah yang santai, kau ingin membekukan aku?" gumam Aruna. Ia melepas sepatu botnya yang kotor dengan kasar, merasakan kelegaan luar biasa saat telapak kakinya menyentuh lantai kayu yang hangat.
Asher tidak menjawab. Ia hanya melirik pergelangan tangan Aruna yang sedikit kemerahan akibat cengkeramannya di gerbang desa tadi. Penyesalan melintas sekejap di matanya yang tajam, namun egonya menahannya untuk meminta maaf secara terang-terangan.
"Aku lapar sekali... perutku rasanya mau melilit," keluh Aruna lagi. Ia tidak peduli pada etiket bangsawan. Jiwa Aruna yang berasal dari dunia modern sudah mencapai batas kesabarannya. Ia butuh asupan sekarang juga.
Aruna memejamkan mata, memfokuskan pikirannya pada layar transparan biru yang berkedip-kedip di depan matanya.
Ding!
[Menanggapi permintaan host yang kelaparan.
Mengakses Skill Utama: Memory Materialization.
Mengaktifkan Sub-skill: Magi Catering.
Memproses memori makanan: "Comfort Food Terenak".
Item dipanggil: Nasi Goreng Spesial, Ayam Bakar Bumbu Rempah, Kerupuk Udang, dan Es Jeruk Peras Dingin.]
Syuuuuut— Blapp!
Dalam sekejap, di atas meja kayu yang kosong itu. Piring-piring porselen putih muncul dengan kepulan uap yang membawa aroma surgawi. Wangi bawang putih yang digoreng dengan mentega, aroma karamel dari kecap manis yang terbakar di wajan panas, serta harum rempah-rempah yang tajam dari ayam bakar langsung memenuhi setiap sudut ruangan.
"DEMI DEWA PENEMPA!" teriak Verdy yang baru saja masuk. Dia nyaris terjungkal saat mencium aroma yang belum pernah ia temui selama ratusan tahun hidupnya. "Bau apa ini?! Ini... Bukan bau roti gandum keras atau sup hambar khas desa ini! Auristela, apa kau baru saja melakukan ritual pemanggilan dewa makanan?!"
Luna, menyusul di belakang dengan langkah yang lebih tenang, meski matanya membelalak lebar. "Aromanya... sangat kaya... Aku juga bisa merasakan mana yang sangat luar biasa di dalam makanan ini. Auristela, sihir macam apa yang kau gunakan?"
"Sihir lapar," jawab Aruna pendek sambil menyodorkan piring kepada mereka berdua. "Sudah, jangan banyak tanya. Makanlah selagi panas. Verdy, hapus air liurmu... jangan sampai menetes ke nasi!"
Suasana makan malam yang awalnya tenang berubah menjadi medan perang baru saat rombongan pria lainnya masuk. Scwartz memimpin di depan dengan tawa khasnya, diikuti oleh Aerlisto yang tampak berusaha menyeka noda tanah di wajah tampannya, dan Fenrir yang berjalan dengan angkuh seolah-olah dia memiliki tempat itu.
Begitu mereka masuk, suhu di ruangan itu turun drastis. Asher yang tadinya mulai sedikit rileks saat melihat Aruna makan, kini kembali menjadi patung es yang mematikan.
"humm... aroma ini benar-benar tidak adil bagi perut yang baru saja bertarung dengan kera raksasa," Aerlisto tersenyum menawan, matanya langsung tertuju pada Aruna yang mulutnya masih penuh dengan nasi. Ia dengan sengaja mengambil kursi kosong tepat di depan Aruna. "Boleh aku bergabung, Putri yang pemberani?"
"Cih!" Asher mendengus kasar. Gelas air di depannya tiba-tiba mengeluarkan suara retakan kecil karena hawanya mulai bergejolak. "Meja ini sudah penuh, Elf."
"Masih ada banyak ruang, Ksatria Agung. Kenapa kau begitu pelit? Bukankah ini makanan dari Putri Auristela untuk kami?" balas Aerlisto tanpa rasa takut. Ia mulai mencicipi nasi goreng itu dan matanya langsung berbinar. "Luar biasa... rasa ini... manis, gurih, dan ada sedikit rasa pedas yang menggelitik. Putri Auristela, kau benar-benar penuh kejutan."
Fenrir tidak banyak bicara. Ia langsung menyambar sepotong ayam bakar dengan tangannya, mengunyahnya dengan rakus seperti serigala kelaparan. "Mmmph... Enak... Luar biasa!!" gumamnya sambil melirik Asher dengan tatapan meremehkan. "Setidaknya makanan ini membuatku lupa kalau aku baru saja melihat pemandangan menyedihkan di gerbang desa tadi."
Asher meletakkan sendoknya. Denting logamnya terdengar nyaring di tengah keheningan yang tegang. "Apa maksudmu?!"
"Maksudku?" Fenrir menyeringai, memperlihatkan taringnya yang tajam. "Maksudku adalah... Sungguh sangat memalukan melihat pria sepertimu, hanya bisa menunggu seperti monumen batu sementara Auristela bertarung di hutan. Jika aku jadi kau, aku akan melepaskan gelar konyol itu dan mulai bertindak menggunakan insting, bukan hanya mematung disana."
Brak!
Asher berdiri. Auranya meledak dari tubuhnya, membuat Verdy nyaris tersedak kerupuknya. Hawa sedingin es mulai menjalar cepat, membekukan ruangan. "Kau bicara seolah-olah kau tahu segalanya tentang pengabdian. Kau hanyalah binatang liar yang tidak tahu cara menghormati hierarki."
"Hierarki tidak akan melindunginya dari belati Assasin!!" Fenrir juga berdiri, d4rah serigalanya mendidih.
Aruna yang sudah tidak tahan lagi, segera berdiri. Tangannya gemetar karena menahan amarah. Ia ingin sekali menyumbat mulut mereka, dan meneriaki mereka semua agar diam atau dia akan melemparkan piring-piring ini ke wajah mereka berdua.
Ding!
[Peringatan! Host berada dalam kondisi emosi tidak stabil. Sensor kata kasar diaktifkan untuk mencairkan suasana.]
"SI4LAN KALIAN SEMUA!! BERHENTI BERKELAHI DI DEPANKU SEKARANG JUGA!!" teriak Aruna dalam hatinya.
Namun, yang keluar dari mulutnya berkat sensor sistem adalah:
"ADUHH SAYANG KALIAN SEMUA! TOLONGLAH BERHENTI SALING MENYAYANGI SEPERTI INI DI DEPAN NASI GORENGKU!"
Blush... Asher menatap Aruna dengan wajah bingung dan telinga yang memerah. Fenrir mengerutkan kening, sementara Scwartz tertawa terbahak-bahak. Aruna menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bumm... Wajahnya merah padam. SISTEM ERROR GILA! APA YANG KAU LAKUKAN PADA KATA-KATAKU?!
Tiba-tiba, sebuah tangan merangkul bahu Aruna dengan sangat akrab. Ellish muncul dengan kibasan ekor rubahnya yang merah muda. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh sensor konyol sistem itu dan justru menatap Asher dengan pandangan menyelidik.
"Aduh, Auristela sayang! Kenapa wajahmu merah sekali? Apa manusia ini baru saja menggoda atau malah memarahimu?" tanya Ellish sambil mengusap pipi Aruna dengan lembut. Ia menoleh ke arah Asher, berkacak pinggang. "Dengar ya, Lord Asher. Hanya karena kau Ksatria Agung, bukan berarti kau bisa membuat teman baikku stres sampai bicaranya jadi aneh begini. Kau lihat? Dia sampai memanggil kita 'sayang' karena terlalu tertekan oleh auramu yang membosankan!"
Ellish duduk di sebelah Aruna, menarik piring ayam bakar. "Auristela, kalau pria ini terus memasang wajah seram, lebih baik kau tidur di kamar kami saja malam ini. Kami punya banyak cerita daripada mendengarkan gerutuan manusia ini."
Asher terdiam, menatap Ellish dengan pandangan tajam, tapi Ellish hanya menjulurkan lidahnya. "Jangan menatapku begitu. Aku ini pelindungnya juga. Kalau kau tidak bisa membuatnya tersenyum, aku akan membawanya kabur ke wilayah suku rubah!"
"Cukup!" Aruna menyambar ujung jubah Asher. "Asher, ikut aku ke balkon sekarang! Dan kalian sisanya, habiskan makanan ini dalam diam atau aku akan memanggil Black-Void Obliterator!"
Aruna menyeret Asher ke balkon. Di sana, udara malam terasa sangat menusuk. Asher berdiri membelakangi Aruna, menatap kegelapan hutan.
"Aku marah bukan karena kamu," suara Asher serak. "Aku marah karena membenci diriku sendiri yang tidak bisa berada di sana saat kau dalam bahaya."
Aruna mendekat dan menunjuk perban di lengan Asher. "Mana milikmu sedang tidak stabil. Hutan itu menekan mana. Aku tidak mau kau m4ti konyol hanya karena egomu. Aku... aku mengkhawatirkanmu."
Asher tertegun. Ia meraih tangan Aruna dan mencium punggung tangannya dengan lembut. "Jangan pernah membuat perintah seperti itu lagi. Jangan pernah memaksaku diam saat kau melangkah menuju bahaya."
Ding!
[Kedekatan dengan Asher: 45%. Target mulai mengakui rasa posesifnya.]
"Ada apa, Putri? Kamu sakit?"