Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.
Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.
Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.
Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.
Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasihat yang Diabaikan
Malam Jumat. Jam sebelas lewat.
Warung kopi Kang Komar—warung kecil di ujung gang, cuma ada lima meja plastik, satu kompor minyak buat bikin kopi, sama satu lemari kaca isi rokok sama permen.
Dyon duduk di sana. Di samping nya—Seruni. Mereka berdua udah mabuk setengah mati. Di meja ada botol arak kosong—tiga botol. Plus piring sisa gorengan yang tinggal remah-remah.
Dyon ketawa keras—ketawa ngaco, nggak jelas lucu nya di mana. Seruni ikutan ketawa sambil bersandar ke bahu Dyon—badan nya oleng, mata nya sayu.
"Mas Dyon... kamu lucu banget deh... hahaha..." Seruni tepuk-tepuk dada Dyon pelan—pelan tapi mesra.
"Lu juga lucu, Seruni... hahaha..." Dyon pegang pinggang Seruni—pegang yang udah lewat batas wajar.
Kang Komar berdiri di belakang konter—berdiri sambil nyender ke dinding, tangan silang di dada, rokok di mulut. Mata nya natap Dyon datar—tatapan yang... dingin.
Kang Komar umur nya empat puluh tahun. Badannya tinggi besar—seratus delapan puluh sentimeter, otot lengan nya kelihatan dari balik kaos oblong hitam. Rambutnya pendek nyaris botak, ada bekas luka sayat di pipi kiri—bekas tawuran jaman dulu.
Dulu—sepuluh tahun lalu—Kang Komar preman. Preman bayaran yang kerja buat bandar judi. Pernah masuk penjara tiga tahun gara-gara penganiayaan berat. Keluar dari penjara, dia tobat. Buka warung kopi kecil-kecilan, nikah, punya anak dua.
Tapi mata nya... mata nya masih punya sesuatu. Sesuatu yang bikin orang-orang di kampung tau—jangan macam-macam sama dia.
Kang Komar menghisap rokok dalam. Hembus asap pelan. Mata nya masih natap Dyon.
Kemarin sore—tetangga sebelah, Mak Ijah—cerita ke dia. Cerita tentang Dyon yang sering mukul anak nya. Antoni. Anak lima tahun yang suka main bola di depan rumah.
"Kasian, Kang. Anak nya masih kecil. Tiap malem suka kedengaran nangis. Ibunya juga sering dipukul. Tapi nggak ada yang berani tegur. Takut sama Dyon," kata Mak Ijah waktu itu.
Kang Komar nggak langsung bilang apa-apa. Cuma angguk. Tapi di dalem hati—ada sesuatu yang terbakar.
Dia nggak suka laki-laki yang mukul perempuan. Apalagi anak kecil. Itu... itu di luar batas kemanusiaan.
"Yon," panggil Kang Komar—suara nya rendah tapi jelas kedengeran.
Dyon noleh—mata nya setengah merem. "Apa, Kang?"
"Gue denger dari tetangga... lo hajar anak lo yang lima tahun. Beneran?"
Hening sebentar.
Seruni berhenti ketawa. Ngeliat Kang Komar—terus ngeliat Dyon.
Dyon menyeringai. "Lah, suka-suka gue lah, Kang. Anak gue. Terserah gue mau gimana."
Kang Komar menghisap rokok lagi. Asap nya ngepul tebal. Dia ngeluarin asap pelan—sambil natap Dyon dengan tatapan... menghina.
"Gue dulu bajingan, Yon. Jauh lebih brengsek dari lu." Suara Kang Komar pelan tapi berat—kayak guntur jauh. "Gue pernah todong orang. Pernah hajar orang sampe babak belur. Pernah masuk bui. Gue tau gue bajingan. Tapi sejauh-jauhnya gue sesat... gue nggak pernah ngerasa bangga menang lawan anak kecil atau perempuan."
Dyon ketawa—ketawa ngaco. "Halah... ngomong apa sih lu, Kang? Gue nggak ngerti—"
"LU DENGERIN GUE!" Kang Komar membanting gelas plastik ke konter—BRAK—keras. Seruni kaget loncat.
Dyon berhenti ketawa.
Kang Komar jalan keluar dari konter—jalan pelan ke meja Dyon. Berdiri di depan meja. Tinggi nya bikin Dyon harus mengadah.
"Lu ngerasa jadi jagoan karena bisa nampar anak umur lima tahun yang bahkan nggak bisa bales?" Kang Komar nunduk dikit—muka nya deket ke muka Dyon. "Itu bukan jagoan, Yon. Itu namanya pecundang yang nggak punya nyali lawan laki-laki selevel."
Dyon menyeringai—malas. "Halah... ngomong apa sih lu? Sok puitis banget. Anak-anak gue, mau gue jual juga nggak masalah—"
"JUAL?!" Kang Komar mata nya melebar. "Lu bilang apa barusan?"
"Ya jual lah! Emang kenapa? Gue yang melahirkan—"
"LU NGGAK MELAHIRKAN APA-APA, TOLOL! ISTRI LU YANG MELAHIRKAN! LU CUMA NYUMBANG BENIH DOANG!" Kang Komar narik kerah baju Dyon—narik keras sampe Dyon berdiri paksa.
Seruni teriak. "Kang jangan! Jangan mukul Mas Dyon!"
Kang Komar nggak peduli.
"Dengerin gue." Suara nya bergetar—getar nahan marah. "Laki-laki itu bukan janji nya. Tapi komitmen nya. Bukan kata-kata manis nya. Tapi kepastian nya. Bukan harta nya. Tapi tanggung jawab nya. Bukan gaya nya. Tapi kepribadian nya. Bukan gelar nya. Tapi ilmu nya. Bukan usia nya. Tapi kedewasaan nya."
Dyon natap Kang Komar—mata nya setengah fokus.
"Laki-laki sejati itu dinilai dari seberapa aman keluarga nya pas dia ada di rumah. Bukan seberapa takut mereka pas denger suara motor lu dateng. Rendah banget harga diri lu kalau cuma bisa dapet rasa hormat lewat rasa takut anak kecil."
Dyon nyoba nyengir. "Dah selesai khutbah Jumat nya? Berisik lo, anjing! Terserah lu mau ngomong apa. Hidup-hidup gue. Lagian—" dia mengibaskan tangan—"mereka di rumah masih makan kan? Masih punya atap kan? Udah. Jangan sok suci. Gue nggak butuh denger ginian—"
BRAK!
Tinju Kang Komar mendarat di rahang Dyon—keras. Sangat keras.
Dyon jatuh—jatuh dari kursi, punggung nya nabrak lantai—BRUG.
"MAS DYON!" Seruni teriak, berdiri—tapi nggak berani deket.
Kang Komar berjongkok di samping Dyon yang tergeletak—tangan nya mencengkram kerah baju Dyon lagi.
"Denger ya." Suara nya rendah—berbahaya. "Ini gak seberapa dibanding apa yang lo lakuin sama anak istri lo. Mereka manusia. MANUSIA. Bukan budak. Bukan hewan. Lo sadar nggak?! LO SADAR NGGAK, ANJING?!"
Dyon cuma mengerang—rahang nya sakit parah. Mata nya sayu.
Kang Komar berdiri. Ngeliat Dyon yang masih tergeletak. "Kalau gue denger lagi lo mukul anak lo... gue dateng ke rumah lo. Dan lo nggak bakal suka apa yang gue lakuin."
Kang Komar balik ke konter. Ambil rokok baru. Nyalain. Menghisap dalam.
Seruni bantuin Dyon berdiri—susah, Dyon berat. "Mas... mas nggak apa-apa?"
Dyon ngangguk lemah—meskipun rahang nya bengkak parah. "Gue... gue nggak apa-apa..."
"Yuk pulang. Aku bawa pulang ya."
Mereka keluar dari warung—Seruni menopang Dyon yang jalan nya oleng. Dyon ngeliat Kang Komar sekilas—mata nya ada sesuatu. Takut? Atau... marah?
Tapi mulut nya nggak ngomong apa-apa.
---
Sampai di rumah—jam dua belas lewat—Seruni bantuin Dyon masuk. Wulandari udah tidur. Lestari juga udah tidur—atau pura-pura tidur.
Seruni dudukkan Dyon di sofa. "Mas... Mas diem ya. Aku ambil obat."
Seruni ke dapur—buka kulkas, ambil es batu yang ada di freezer kecil, bungkus pake kain lap.
Balik ke sofa. Tempelkan ke rahang Dyon yang bengkak.
"Sakit..." Dyon meringis.
"Tahan, Mas. Biar bengkak nya turun." Seruni duduk di samping Dyon—deket banget. Tangan nya pegang es batu yang nempel di rahang Dyon. Tangan nya yang lain... Mengelus dada Dyon pelan.
"Makasih, Seruni... makasih udah jagain gue..."
"Sama-sama, Mas..." Seruni senyum—senyum manis tapi... ada sesuatu di balik senyum itu. Sesuatu yang licik.
"Mas... Mas tau nggak... aku sayang sama Mas Dyon..."
Dyon ngeliat Seruni. "Serius?"
"Iya. Serius. Dari pertama ketemu di kantor... aku udah suka. Tapi... tapi Mas kan udah punya istri... jadi aku nggak berani bilang..."
"Istri? Lestari?" Dyon ketawa—meskipun rahang nya sakit. "Dia bukan istri. Dia cuma... beban. Gue nikah sama dia cuma gara-gara hutang bokap nya. Gue nggak pernah sayang sama dia."
"Beneran, Mas?"
"Beneran."
Seruni nunduk—pura-pura malu. "Terus... terus aku gimana, Mas?"
Dyon pegang dagu Seruni—angkat pelan. Mata mereka bertemu.
"Lu... lu yang gue sayang sekarang."
Seruni senyum lebar. "Mas..."
Mereka cium. Cium lama. Cium yang... nggak sepantasnya dilakukan di ruang tamu rumah yang ada istri sah nya tidur di kamar belakang.
Tapi mereka nggak peduli.
---
Di kamar gudang—Lestari nggak tidur.
Dia denger suara dari luar. Suara Seruni. Suara Dyon. Suara... suara yang bikin perutnya mual.
Lestari berdiri pelan—jalan ke pintu kamar. Buka sedikit. Ngintip lewat celah.
Dari celah itu—dia liat mereka. Dyon sama Seruni. Lagi cium. Tangan Dyon mulai naik ke... ke tempat yang nggak seharusnya.
Lestari nutup mulut pake tangan—nahan napas. Jantung nya kayak mau copot.
Terus—lebih parah—
Mereka berdiri. Jalan ke kamar Dyon. Pintu kamar ditutup. Tapi nggak dikunci.
Lima menit kemudian—
Suara.
Suara yang... suara yang bikin Lestari pengen muntah.
"Ahh... enak, sayang..."
"Iya... iya..."
Suara desahan. Suara ranjang yang berderit. Suara... suara yang nggak asing lagi buat Lestari—karena dia juga sering jadi korban nya.
Tapi sekarang—sekarang suara itu bukan dari dia. Tapi dari perempuan lain.
Lestari mundur dari pintu. Kaki nya lemes. Dia jatuh berlutut di lantai kamar.
Tangan nya gemetar parah. Napas nya sesengukan.
"Dia... dia selingkuh... dia selingkuh di depan mata aku... di rumah sendiri..."
Air mata nya jatuh. Deras. Nggak bisa ditahan.
Dia merangkak ke tikar—tikar tempat Antoni tidur. Antoni tidur nyenyak—nggak tau apa-apa.
Lestari peluk Antoni—peluk erat sambil nangis diam-diam.
"Aku... aku nggak bisa di sini lagi... aku harus kabur... aku harus segera kabur..."
Tekad nya makin kuat. Makin bulat.
Besok pagi—dia bakal mulai cari tau jadwal bus ke Jakarta. Bakal ngitung lagi uang nya. Bakal... bakal nyiapin semuanya.
Karena kalau dia nggak kabur sekarang—
Dia bakal mati di sini.
Atau lebih parah—jiwanya bakal mati duluan.
Dan Antoni... Antoni nggak boleh tumbuh di tempat kayak gini.
"Ya Allah... kuatkan aku... kumohon... kasih aku keberanian buat pergi... kumohon..."
Suara dari kamar Dyon masih kedengeran—makin keras.
Lestari tutup telinga Antoni pake tangan—meskipun Antoni nggak bangun.
Dia nangis sampe nggak ada air mata lagi.
Nangis sampe akhirnya—entah gimana—dia ketiduran.
Ketiduran sambil peluk Antoni.
Ketiduran dengan tekad yang udah bulat.
Kabur.
Harus kabur.
Sebelum semuanya terlambat.
lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁