Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
Lalu datanglah Mori.
Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Aula SMA Garuda mendadak riuh. Poster besar bertuliskan "30th Anniversary: Golden Jubilee Garuda" sudah terpampang di mana-mana. Perayaan ulang tahun sekolah kali ini bakal dibikin besar-besaran, dan setiap kelas wajib menyumbangkan satu penampilan panggung yang ikonik.
Di kelas 10-B, suasana rapat mendadak buntu. Grup dance cewek yang dipimpin Jessica baru saja menunjukkan latihan singkat di depan kelas, dan hasilnya... hambar.
"Aduh, kurang greget nggak sih?" celetuk Jojo sambil garuk-garuk kepala. "Gerakannya udah oke, tapi kayak ada yang kurang. Kurang wow factor gitu."
Jessica menghela napas, dia melirik Mori yang duduk diam di pojok. "Kita butuh sesuatu yang beda. Sesuatu yang bikin satu sekolah jerit."
Tiba-tiba, Lian yang sedari tadi cuma asik muter-muterin pulpen di atas meja, mengangkat tangannya. Dia berdiri dengan gaya santai, menyampirkan tas di satu bahu—visual Gabriel Guevara yang selalu punya aura "pembuat masalah".
"Gue punya ide," ucap Lian lantang. Satu kelas mendadak senyap. "Gimana kalau kita jangan cuma dance cewek? Bosen. Mending dance berpasangan. Couple dance dengan sentuhan tango atau hip-hop modern. Cowok-cowok kelas ini juga ikut."
"Hah? Berpasangan?" gumam seisi kelas.
Lian melirik Mori sekilas, senyum miringnya muncul. "Iya. Visualnya dapet, emosinya dapet, dan gue jamin panggung bakal pecah."
"Tapi siapa yang mau jadi pasangannya?" tanya Nadya.
"Gue yang atur," jawab Lian singkat sambil terus menatap Mori, seolah sudah punya skenario lengkap di kepalanya.
Saat jam istirahat tiba, Mori memilih untuk tetap di kelas, merapikan buku-buku referensi olimpiadenya. Jessica dan yang lainnya sudah ke kantin duluan. Namun, ketenangannya terganggu saat sesosok cowok rapi dengan almamater OSIS muncul di pintu kelas.
Vano. Si Ketua OSIS "Green Flag" itu berjalan mendekat dengan langkah mantap.
"Mori," panggil Vano lembut. Dia berdiri di samping meja Mori, memberikan sebuah undangan kecil berwarna emas. "Ini undangan buat perwakilan pengisi acara. Aku harap kamu yang jadi koordinator buat kelas ini, biar kita sering ketemu buat koordinasi."
Mori mendongak, tersenyum ramah. "Oh, makasih Kak Vano. Nanti aku sampaikan ke temen-temen."
Vano nggak langsung pergi. Dia justru menarik kursi di depan Mori dan duduk. "Soal yang kemarin... sori ya kalau gara-gara aku, Lian jadi bikin masalah. Aku tau dia emang agak... posesif sama temen sekelasnya."
"Nggak apa-apa, Kak. Lian emang gitu, suka nggak jelas," jawab Mori jujur.
Vano tertawa kecil, dia mengulurkan tangan untuk merapikan helai rambut Mori yang jatuh ke dahi—gerakan yang sangat lembut dan sopan. "Nanti sore, setelah rapat panitia, mau aku antar pulang? Sekalian kita bahas konsep panggung kelas kamu."
Di ambang pintu kelas, Lian berdiri mematung. Tangannya mengepal kuat di dalam saku celana. Dia melihat semuanya. Dia melihat betapa ramahnya Mori pada Vano, dan dia melihat tangan Vano yang berani menyentuh rambut Mori.
Lian merasa dadanya panas. Rasanya ingin sekali dia maju dan menarik Vano keluar dari kelas itu. Tapi dia teringat kata-kata Mori: "Lo itu siapa gue?".
Lian menarik napas dalam, memaksakan wajahnya kembali ke mode "masa bodoh". Dia berjalan masuk ke kelas dengan langkah yang sengaja dibikin berisik, menendang kaki kursi kosong di jalannya.
"Eh, ada Pak Ketua OSIS," sapa Lian dengan nada yang sangat datar, hampir sinis. Visualnya bener-bener terlihat seperti badai yang tertahan.
Vano menoleh, tersenyum tenang. "Hai, Lian. Lagi bahas konsep pensi sama Mori."
Lian duduk di mejanya, tepat di belakang Mori. Dia mulai menyalakan musik dari ponselnya dengan volume yang cukup keras, seolah ingin mengganggu percakapan mereka.
"Konsep kelas gue udah gue ambil alih, Van. Lo urusin aja dekorasi panggung utama," ucap Lian tanpa menatap Vano.
"Oh ya? Bagus kalau gitu. Aku cuma nawarin bantuan ke Mori," balas Vano tetap sopan. Dia kembali menatap Mori. "Gimana, Mor? Nanti sore?"
Mori sempat melirik ke belakang, ke arah Lian yang sedang pura-pura asik dengan ponselnya tapi telinganya jelas-jelas bergerak mencoba mendengar.
"Boleh, Kak. Nanti aku tunggu di gerbang," jawab Mori sengaja, ingin mengetes reaksi Lian.
Lian mendengus keras. Dia tiba-tiba berdiri dan berjalan keluar kelas tanpa pamit, membanting pintu kelas cukup keras sampai membuat beberapa murid kaget.
Begitu Lian di luar, dia langsung menemui Jessica dan tim dance.
"Jes, gue udah mutusin pasangannya," kata Lian dengan mata yang berkilat penuh ambisi.
"Siapa aja?" tanya Jessica penasaran.
"Jojo sama Nadya. Budi sama Alissa. Dan..." Lian menjeda kalimatnya, senyum liciknya kembali. "Gue sama Mori. Sebagai center."
"Hah?! Mori mau?!" seru Jessica kaget.
"Dia nggak punya pilihan. Gue yang bakal bikin dia mau," jawab Lian mantap.
Besoknya, saat latihan pertama dimulai, Lian mengumumkan susunan pemain. Mori tentu saja langsung protes.
"Gue nggak mau dance, apalagi berpasangan sama lo!" tolak Mori di depan semua orang.
Lian mendekat, dia membisikkan sesuatu di telinga Mori yang bikin Mori langsung terdiam. "Kalau lo nggak mau, gue bakal laporin ke Pak Broto kalau Vano sering masuk ke kelas kita pas jam pelajaran cuma buat godain lo. Lo tau kan Pak Broto paling benci campur aduk urusan OSIS sama akademis?"
Mori menatap Lian dengan tatapan tidak percaya. "Lo bener-bener licik, Lian."
"Gue sebut itu... perjuangan," balas Lian tenang.
Latihan dimulai. Lian dan Mori berdiri di tengah aula. Karena ini couple dance, ada gerakan di mana Lian harus memegang pinggang Mori dan menariknya mendekat.
Saat musik diputar, Lian menarik Mori dengan gerakan yang sangat bertenaga. Tangan Lian yang besar melingkar di pinggang ramping Mori. Jarak mereka hilang. Mori bisa merasakan detak jantung Lian yang cepat, dan dia bisa melihat jakun Lian yang bergerak saat cowok itu menelan ludah.
"Jangan tegang, Mor. Fokus ke gue," bisik Lian, wajahnya hanya berjarak beberapa senti. Visual Gabriel Guevara-nya bener-bener intimidatif tapi penuh gairah di bawah lampu aula.
Mori mencoba tetap cuek, tapi sentuhan tangan Lian di pinggangnya bikin dia susah fokus. Dia melihat Lian yang biasanya pecicilan, sekarang sangat serius memandu gerakannya.
Tiba-tiba, Vano masuk ke aula untuk mengecek progres latihan. Dia melihat Lian dan Mori yang sedang berada dalam posisi sangat dekat. Lian, menyadari kehadiran Vano, sengaja mempererat pelukannya di pinggang Mori dan menatap Vano dengan tatapan kemenangan yang tajam.
Lian seolah ingin bilang: "Lihat? Dia ada di tangan gue sekarang."
Mori yang menyadari situasi itu hanya bisa menunduk malu, pipinya merah padam. Dia tahu dia terjebak dalam perang ego dua cowok paling berpengaruh di sekolah. Tapi di balik rasa kesalnya, Mori nggak bisa bohong kalau genggaman tangan Lian malam itu terasa jauh lebih "nyata" daripada kata-kata manis Vano.
Radar Mori berteriak kencang: BAHAYA. Bukan karena Lian akan menyakitinya, tapi karena dia mulai menikmati dansa gila ini bersama sang Red Flag.