NovelToon NovelToon
Duka Yang Ternoda

Duka Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Janda / Obsesi / Keluarga / Trauma masa lalu / Penyelamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Begitu helikopter mendarat di atap rumah sakit, tim medis langsung bergerak seperti kilat.

Baskara terpaksa melepaskan genggaman tangannya saat brankar Swari didorong masuk ke dalam lift menuju ruang bedah darurat.

Seluruh koridor disterilkan untuk "operasi pembersihan sepsis total" guna mengeluarkan racun yang sudah menyebar di tubuhnya.

Baskara melangkah gontai menuju lobi utama dengan baju yang masih basah oleh air hujan dan bercak darah kering.

Di sana, ia melihat pemandangan yang meremukkan hatinya.

Alex dan Alexandria duduk di kursi tunggu kayu, masing-masing memeluk boneka dan robot pemberian Baskara.

Begitu melihat sosok Baskara, kedua bocah itu berlari kencang dan memeluk kaki pria itu.

"Papa! Mana Mama? Kenapa baju Papa kotor?" tanya Alexandria dengan mata bulatnya yang sudah berkaca-kaca.

Alex mendongak, wajahnya yang sangat mirip Baskara itu tampak penuh ketakutan.

"Papa... Mama nggak apa-apa kan? Papa janji bawa Mama pulang."

Baskara berlutut di depan mereka, mengabaikan rasa sakit di tubuhnya sendiri.

Ia merengkuh kedua anaknya dalam pelukan yang sangat erat.

"Mama sedang berjuang, Jagoan. Mama sedang jadi pahlawan di dalam sana. Kalian harus kuat untuk Mama, ya?" bisiknya dengan suara serak, mencoba menahan tangis agar tidak menakuti mereka.

Tiga jam berlalu seperti ribuan tahun. Pintu ruang bedah akhirnya terbuka.

Dokter Ramlan keluar dengan wajah yang sangat lelah, ia melepas masker bedahnya yang ternoda. Baskara segera berdiri, tangannya masih menggenggam tangan kecil Alex dan Alexandria.

"Dokter, bagaimana?"

Dokter Ramlan menghela napas panjang. "Operasi pembersihan kuman dan tumornya berhasil, Tuan Baskara. Kami sudah menangani titik pecahnya abses dan membersihkan aliran darahnya dari racun."

Baskara baru saja akan bernapas lega, namun kalimat dokter selanjutnya membuat dunianya kembali runtuh.

"Tapi, karena jantungnya sempat berhenti dan tubuhnya mengalami trauma yang sangat hebat akibat sepsis, Nona Swari jatuh ke dalam kondisi koma. Kami tidak bisa memastikan kapan dia akan bangun. Bisa hari ini, minggu depan, atau..."

Dokter tidak melanjutkan kalimatnya, namun Baskara tahu apa maksudnya.

Baskara mematung. Pandangannya mengabur. Ia menoleh ke arah Alex dan Alexandria yang menatapnya penuh harap.

"Dia hidup, kan, Dok?" tanya Baskara memastikan.

"Dia hidup. Namun jiwanya seolah memilih untuk beristirahat sangat dalam," jawab Dokter pelan.

Baskara mengangguk kaku. Ia menggendong kedua anaknya sekaligus, berjalan menuju ruang ICU kaca tempat Swari dibaringkan dengan berbagai peralatan medis yang menyokong hidupnya.

"Swa, kamu sudah menang," bisik Baskara di balik kaca, air matanya akhirnya jatuh tak tertahan.

"Kamu sudah bebas dari tumor itu. Sekarang bangunlah, hukum aku sesukamu, tapi jangan diam seperti ini. Anak-anak menunggumu."

Tangisan Alex dan Alexandria pecah di koridor rumah sakit yang dingin.

Suara isak tangis mereka yang pilu bergema, memantul di dinding-dinding kaca ruang ICU.

Alex mencoba terlihat kuat dengan merangkul adiknya, namun bahu kecilnya bergetar hebat.

"Mama... Bangun, Ma... Alex janji nggak nakal lagi," ratap Alex sambil menempelkan telapak tangan mungilnya di kaca, mencoba menjangkau sosok ibunya yang terbaring kaku di balik sana.

Alexandria bahkan tidak bisa mengeluarkan kata-kata.

Ia hanya memeluk boneka kelincinya erat-erat, air mata membasahi pipinya yang bulat, menatap kosong ke arah deretan mesin yang berbunyi tit... tit... tit... secara teratur di tubuh Swari.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terburu-buru mendekat.

Nyonya Widya dan Ratri datang dengan wajah yang sembap.

Begitu melihat cucu dan keponakan mereka dalam kondisi sehancur itu, pertahanan mereka runtuh.

"Sayang, cucu Mama..." Nyonya Widya langsung berlutut di lantai, merengkuh Alex dan Alexandria ke dalam pelukannya yang hangat dan kokoh.

Ia mendekap kepala mereka di bahunya, mencoba memberikan perlindungan di tengah badai ini.

Ratri ikut berlutut di samping mereka, memeluk kedua bocah itu dari belakang sambil terisak.

"Sabar ya, Sayang. Mama Swari cuma lagi tidur. Mama lagi istirahat karena capek jadi pahlawan buat kalian."

Baskara yang berdiri tidak jauh dari sana, bersandar di dinding dengan pandangan kosong, merasa hatinya seperti diremas melihat pemandangan itu.

Ia adalah penyebab semua air mata ini. Ia melihat ibunya, Nyonya Widya, menatapnya dari balik pelukan anak-anak dengan pandangan yang penuh luka namun juga memberi kekuatan.

"Bas," panggil Ratri pelan di sela isaknya.

"Swari itu kuat. Dia sudah bertahan enam tahun sendirian di negeri orang demi anak-anak ini. Dia nggak akan menyerah sekarang. Dia pasti bangun buat mereka."

Nyonya Widya berdiri, masih menggandeng tangan Alex dan Alexandria. Ia mendekati Baskara dan menatap putranya dengan tegas.

"Jangan hancur sekarang, Baskara. Kamu harus jadi tiang buat mereka. Kalau kamu roboh, siapa yang akan menyambut Swari saat dia buka mata nanti?"

Baskara mengangguk pelan, ia menghapus air matanya dengan kasar.

Ia melangkah maju, mengambil alih Alexandria ke dalam gendongannya dan menggenggam tangan Alex.

"Kita tunggu Mama sama-sama, ya?" bisik Baskara.

Navy melangkah mendekat dengan napas tersengal, wajahnya yang biasa tenang kini menunjukkan kilat kemarahan yang tertahan.

Ia menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan foto-foto Dimas dan Pak Handoko yang tertunduk lesu dengan balutan baju tahanan oranye di balik jeruji besi.

"Sudah resmi, Bas. Dimas didakwa atas penculikan dan penganiayaan berat, sementara Pak Handoko terseret sebagai otak intelektual dan penyalahgunaan wewenang. Mereka tidak akan bisa keluar dengan uang kali ini," lapor Navy tegas.

Baskara hanya melirik sekilas ke layar itu. Rahangnya mengeras.

"Baju oranye itu terlalu mewah untuk mereka, Navy. Mereka membuat ibu dari anak-anakku hampir kehilangan nyawa. Pastikan mereka membusuk di sel yang paling gelap. Aku ingin bisnis keluarga Handoko rata dengan tanah sebelum matahari terbenam."

Navy mengangguk paham. Ia tahu, di balik ketenangan Baskara sekarang, ada badai yang siap menghancurkan siapa pun yang tersisa dari komplotan itu.

Tiba-tiba, seorang perawat senior keluar dari ruang ICU dan mendekati mereka dengan raut wajah yang sulit dibaca.

"Tuan Baskara? Dokter Ramlan meminta Anda masuk sekarang. Kondisi Nona Swari sedang dipantau ketat, dan kami rasa stimulasi dari orang terdekat sangat dibutuhkan saat ini."

Jantung Baskara berdegup kencang. Ia segera mengikuti perawat tersebut menuju ruang sterilisasi.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai mengganti pakaiannya dengan jubah medis khusus berwarna hijau, mengenakan masker, dan penutup kepala.

Bau disinfektan yang tajam menusuk indranya, namun pikirannya hanya tertuju pada sosok di balik pintu kaca itu.

Sesaat sebelum masuk, ia menoleh ke arah Nyonya Widya yang mengangguk pelan padanya, seolah memberikan sisa kekuatan yang ia miliki.

Pintu ICU terbuka otomatis dengan suara desisan pelan.

Baskara melangkah masuk ke ruangan yang dipenuhi suara mesin-mesin canggih.

Di sana, di tengah ruangan yang dingin itu, Swari terbaring diam.

Wajahnya yang mungil hampir tertutup selang ventilator, dan perban tebal melilit dada kirinya.

Baskara duduk di kursi samping tempat tidur. Ia meraih tangan Swari yang terpasang sensor oksigen, menggenggamnya dengan kedua tangannya sendiri yang masih luka.

"Swa, aku di sini," bisik Baskara parau di balik maskernya.

"Dimas dan Handoko sudah hancur. Tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu. Jadi, tolong kembalilah padaku. Alex dan Alexandria tidak mau makan jika bukan kamu yang menyuapi mereka."

Baskara mengecup punggung tangan Swari lama, membiarkan air matanya jatuh membasahi sprei rumah sakit.

"Utangmu satu miliar masih belum lunas, Sayang. Kamu tidak boleh pergi sebelum membayar semuanya dengan sisa hidupmu bersamaku."

1
Esti 523
lha ko bisa masuk rumah
kymlove...
sebagus ini kenapa sepi



kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor
my name is pho: terima kasih sudah mampir kak🥰
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kaka aku mampir 🤗
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!