Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.
Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.
Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
Sesampainya dipos ronda sudah banyak warga yang datang, dari kaum ibu ibu, bapak bapak dan juga anak anak ada juga yang ikut terbangun.
"mana malingnya pak haji?" tanya pak RT pada pak haji Komar.
"ini Te sudah diikat ketiang pos biar tidak kabur!" jawab pak haji sambil menunjuk dua orang yang terikat dan masih menggunakan penutup kepala.
Para warga yang berkumpul pun penasaran siapa gerangan yang maling yang akan mencuri pompa air milik pak haji itu, mereka pun meminta pak RT untuk membuka penutup kepala yang digunakan dua orang itu.
"buka, buka, buka, buka!!!" teriak semua warga meminta penutup kepala itu dibuka.
Dua orang pencuri itu pun hanya bisa pasrah, tanpa perlawanan berdua terikat tak bisa lari lagi, pak RT mendekati dua pencuri yang terikat ditiang yang sama lalu membuka penutup kepala mereka secara bersamaan.
"eh ladalah, ini si Latif anaknya pak haji sendiri sama yono anaknya wa Somad!" ucap pak RT saat membuka penutup kepala kedua pencuri itu.
"oooh dasar bocah gendeng, pompa airnya sendiri mau dicuri, bikin malu saja, apa kurang bapakmu ini ngasih uang, makanya cari kerja jadi tidak melulu minta sama orang tua!" omel haji Komar saat tahu kalau pencuri itu adalah Latif anak bungsunya sendiri.
"ampun pak!" hanya kata itu yang bisa diucapkan Latif sambil wajahnya tetap menunduk karena malu, begitu juga dengan Yono, ia hanya bisa menunduk tanpa berkata apapun.
"wis Te, diselesaikan dirumahku saja, bawa dua bocah edan ini, biar ibunya juga tahu, dan tolong panggil juga orang tua si Yono ini!" ucap haji Komar meminta untuk dirembug dirumahnya.
"To, panggil pak Seomad!" perintah pak RT pada Wanto.
"siap Te!" jawab Wanto lalu segera pergi kerumah pak Somad.
pak RT pun memerintahkan pada warga untuk membawa Latif dan Yono kerumah haji Komar, dua warga inisiatif membuka ikatan kedua pemuda itu lalu langsung digiring menuju rumah haji Komar diikuti warga yang lainnya.
"kalian ikut juga sebagai saksi!" kata pak RT pada Peno dan keriga temannya.
"siap pak!" jawab keempatnya kompak, lalu ikut dengan para warga berjalan kerumah haji Komar.
Sesamapainya disana pak RT dan beberapa pengurus masuk keruang tamu, dua pemuda diminta duduk dikursi plastik yang diambil oleh Eko dibelakang atas perintah haji Komar tentunya, empat pemuda yang menangkap Latif dan Yono juga ikut masuk dan duduk diruang tamu, begitu juga pak Somad yang baru datang langsung masuk dan duduk dikursi yang masih kosong.
"ada apa ini Te, kok saya dipanggil tengah malam begini?" tanya pak Somad yang memang tidak tahu apa apa.
"ini pak Somad, si Yono anak bapak ini ketahuan sedang mencuri pompa air milik haji Komar, dan mencurinya ternyata bareng dengan anak haji Komar sendiri yaitu si Latif, jadi pak Somad saya undang kesini untuk dimintai pertimbangan bagaimana baiknya, lagian kan pak Somad dan haji Komar juga bersodara!?" ucap pak RT menjelaskan alasan kenapa pak Somad diundang kerumah haji Komar.
"oalaaahhh bocah gendeng memang, pompa air milik uwaknya sendiri malah dicuri, sini kamu Yon, biar bapak kasih pelajaran!" ucap pak Somad langsung tersulut emosinya saat mendengar penjelasan dari pak RT.
"sabar Mad, aku ya emosi, bisa bisanya si Latif nyuri pompa air dirumahnya sendiri, tapi kita sudah kepalang tanggung disaksikan semua warga, mari kita pikirkan jalan yang baik buat keduanya, kalau dilaporkan polisi nanti kita dibilang orang tua tega, kalau dibiarkan takutnya nanti menjalar malah mencuri ditempatnya orang lain!" ucap haji Komar menasehati adiknya itu.
Ya, haji Komar adalah kakak kandung dari pak Somad, mereka hanya dua bersodara, mewarisi tanah milik orang tua mereka yang luas, mungkin bisa dibilang separo lahan persawahan didesa adalah milik mereka berdua, hanya sekarang sudah dibagi rata.
"aku terserah kang Komar saja, aku sudah cape ngurusi si Yono ini kang, kemarin malah lima pasang bibitan ikan guramehku dia jual, sekarang malah polah mencuri pompa air milik uwaknya sendiri!" ucap pak Somad sambil tepuk jidat.
"ya wis, aku tawarkan pada kalian berdua mau aku kirim ke pondok pesantren apa mau nginep di sel tahanan!?" ucap haji Komar membuat pilihan pada anak dan keponakannya itu.
Latif dan Yono terdiam tidak menjawab, bagi mereka berdua pilihan itu sama saja, dipondok pasti hidupnya akan penuh aturan, lebih lebih dipenjara, hidupnya akan penuh ancaman dimana mana.
"kalau tidak mau jawab ya wis, mungkin kalian mau merasakan hidup didalam penjara!" ucap haji Komar lagi.
"ampun pak, ampun wa!" ucap Latif dan Yono hampir bersamaan.
"kalau ga mau dipenjara berarti mau kalau dikirim ke pesantren?" tanya haji Komar lagi.
Keduanya pun menjawab dengan hanya menganggukan kepala, sebuah jawaban yang terpaksa, sebab daripada hidup dipenjara yang keras, lebih baik hidup dilingkungan pesantren yang disiplin.
"ya wis, besok kalian aku antar berangkat ke jawa timur, mondok disana sampai kalian benar benar sudah berubah tentang akhlak dan adabnya, kamu besok ikut juga Mad!" kata haji Komar akhirnya.
"nah sekarang bapak ibu warga sekalian sudah mendengar sendiri keputusan dari haji Komar dan pak Somad, beraeti masalah ini sudah selesai sampai disini, tidak perlu lagi diperpanjang sampai kekepolisian, ini menjadi pelajaran bagi kita semua, selalu saling menjaga lingkungan kita ini, mari kita membubarkan diri, terimakasih pak haji, pak Somad, semoga kedepannya Latif sama Yono bisa berubah lebih baik lagi!" ucap pak RT meminta semua warga yang ikut berkumpul untuk pulang.
"sama sama Te, saya mewakili keluarga juga minta maaf pada semua warga, anak saya ini sudah membuat kegaduhan dimalam hari, dan terimakasih juga buat kalian berempat, berkat kalian saya jadi tahu kelakuan anak dan keponakan saya ini!" ucap haji Komar.
Semua warga pun pulang kerumah masing masing setelah saling bersalaman dengan haji Komar, pak Somad, Latif dan Yono, begitu juga denga Peno dan ketiga temannya, mereka langsung pulang kerumah masing masing untuk beristirahat.
Dipagi harinya Peno yang sedang lelap tertidur dibangunkan oleh mamaknya.
"No bangun, sholat subuh dulu!" ucap mamak sambil menggedor pintu kamar Peno.
Peno hanya menggeliat saja lalu pindah posisi tidurnya.
"Nooooo!" kini bapak yang memanggil Peno dengan suara besarnya.
Seketika Peno langsung bangun saat mendengar suara bapaknya, suara yang selau ia takuti, suara yang besar tidak membentak tapi terdengar sangar.
"iya pak, ini Peno sudah bangun!" jawab Peno lalu segera membuka pintu kamarnya.
"sholat subuh dulu, gampang nanti habis sholat bisa tidur lagi kalau masih ngantuk!" ucap bapak dengan nada santai tapi penuh wibawa.
"siap pak!" jawab Peno lalu pergi kekamar mandi untuk mengambil wudhu.