Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Rencana pulang kampung
Dimas melangkah keluar dengan waspada, otot tangannya menegang siap menghadapi siapa pun yang berani mengganggu privasinya. Matanya menyapu koridor yang remang, hingga tertuju pada sebuah bayangan di dekat meja dapur.
Meong!
Seekor kucing jantan berbulu abu-abu tampak tenang menjilati kakinya di samping vas bunga yang pecah berantakan di lantai.
"Sial," umpat Dimas rendah. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Gara-gara kau, semuanya kacau."
Dimas menoleh kembali ke arah pintu kamar Zora yang masih terbuka sedikit. Jantungnya masih berdegup karena adrenalin romantis tadi, namun saat ia melangkah masuk dengan niat melanjutkan "perjanjian" mereka, langkahnya terhenti.
Zora sudah terlelap. Gadis itu tertidur dalam posisi duduk yang menyandar pada kepala ranjang, tampak begitu lelah namun damai. Dimas menghela napas, senyum tipis yang tak sadar ia sunggingkan muncul di bibirnya. Ia mendekat, menyelimuti Zora dengan sangat hati-hati agar tidak mengusik mimpi gadis itu.
"Selamat malam, Tunangan Kecil," bisiknya sebelum keluar dengan perasaan dongkol sekaligus lega.
Keesokan paginya, suasana rumah terasa sangat berbeda.
Dimas menuruni anak tangga dengan langkah yang terasa lebih ringan. Kemeja putih yang ia kenakan tampak lebih rapi, dan wajahnya,yang biasanya kaku seperti batu granit,kini tampak lebih bersinar, seolah ada beban ribuan ton yang baru saja diangkat dari pundaknya.
Bu Lastri yang sedang menata piring di meja makan sampai menghentikan gerakannya. Ia memicingkan mata, menatap putranya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan penuh selidik.
"Wah, matahari terbit dari mana hari ini? Kenapa wajah dosen dingin ini tiba-tiba penuh semangat?" goda Bu Lastri dengan nada jenaka.
Dimas tidak menjawab, ia hanya berdeham dan menarik kursi dengan tenang. "Hanya tidur nyenyak, Bu."
Tak lama kemudian, Zora muncul dengan langkah tertatih menggunakan tongkatnya. Begitu matanya tak sengaja beradu dengan tatapan Dimas, wajah gadis itu seketika memerah hingga ke leher. Ia segera menunduk, mencoba menyembunyikan senyum malu-malunya di balik helaian rambut.
Bu Lastri tersenyum lebar. Sebagai wanita yang sudah makan asam garam kehidupan, ia tidak butuh kata-kata untuk tahu bahwa ada komitmen suci yang sudah terbentuk di antara keduanya tadi malam. Aura di sekitar mereka sudah berubah; dari canggung menjadi penuh getaran yang manis.
"Zora, duduklah. Makan yang banyak supaya cepat sehat," ucap Bu Lastri lembut.
Zora duduk di samping Dimas dengan kaku. Saat Dimas tanpa suara menggeser gelas susu ke arahnya, rona di pipi Zora semakin pekat.
"Melihat raut wajah kalian berdua pagi ini, sepertinya Ibu bisa tidur lebih nyenyak nanti malam," celetuk Bu Lastri sambil menatap Dimas dengan tatapan penuh kemenangan.
"Dimas, sepertinya acara tunangan itu terlalu lama. Bagaimana kalau kita coret saja? Langsung menikah minggu depan, ya?"
Uhuk!
Dimas yang baru saja menyesap kopinya langsung tersedak. Ia menatap ibunya dengan mata membelalak, sementara Zora nyaris menjatuhkan sendoknya ke lantai.
"Ibu... jangan mulai," protes Dimas, meski telinganya sendiri ikut memerah.
"Lho, kenapa? Toh kalian berdua sudah sama-sama 'setuju' lewat tatapan mata tadi, kan?" goda Bu Lastri lagi, membuat suasana meja makan pagi itu dipenuhi oleh keceriaan yang belum pernah ada sebelumnya.
Dimas meletakkan cangkir kopinya dengan perlahan, berusaha meredam debaran jantungnya yang mendadak liar karena godaan ibunya. Ia melirik Zora dari sudut matanya, melihat gadis itu masih menunduk dalam dengan wajah yang panas.
"Menikah minggu depan itu tidak logis, Bu. Persiapannya butuh waktu," ucap Dimas dengan nada datar andalannya, mencoba bersikap rasional.
Namun, Bu Lastri hanya tertawa kecil. "Logika bisa dikalahkan oleh niat baik, Dimas. Ibu hanya ingin memastikan permata ini tidak diambil orang lain."
Dimas terdiam. Dalam hatinya, ia sebenarnya sangat menyetujui ide itu. Jika bisa, ia ingin mengunci status Zora saat ini juga agar tidak ada lagi Dokter Adrian atau pria lain yang berani menatap wanita itu dengan pandangan memuja. 'Langsung menikah? Itu ide yang sangat bagus, Ibu,' batin Dimas meski wajahnya tetap sedatar papan tulis.
Zora perlahan mendongak, ia menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian. "Bu... Pak Dimas... Jika memang pernikahan ini harus disegerakan, saya memiliki satu syarat."
Suasana meja makan mendadak serius. Dimas menatap Zora dengan intens, menunggu apa yang akan keluar dari bibir gadis itu.
"Saya ingin mengunjungi kampung halaman saya terlebih dahulu," ucap Zora dengan suara yang sedikit bergetar. "Saya ingin datang ke makam Ayah dan Ibu. Setidaknya... saya ingin meminta restu dan berpamitan kepada mereka sebelum saya memulai hidup baru sebagai seorang istri."
Keheningan menyelimuti ruangan. Dimas merasakan hatinya seolah diremas. Ia baru menyadari bahwa di balik kemandirian Zora, ada ruang kosong yang sangat besar di hatinya yang hanya bisa diisi oleh kenangan tentang orang tuanya.
Bu Lastri langsung menggenggam tangan Zora, matanya berkaca-kaca karena haru. "Tentu, Sayang. Itu niat yang sangat mulia. Ayah dan Ibumu pasti akan sangat bahagia melihat putri kecil mereka sudah menemukan pelindung sehebat Dimas."
"Tapi Zora," sambung Bu Lastri dengan nada memperingatkan namun lembut, "Ibu izinkan kamu pergi dengan satu catatan: setelah kakimu benar-benar sembuh dan bisa berjalan tanpa bantuan tongkat. Ibu tidak mau kamu memaksakan diri dalam kondisi seperti ini."
Zora mengangguk paham. "Baik, Bu. Saya akan rajin berlatih agar bisa segera sembuh."
Dimas yang sedari tadi hanya menyimak, akhirnya bersuara. "Aku yang akan mengantarmu ke sana."
Zora menoleh pada Dimas, terkejut. "Bapak sibuk dengan jadwal kampus, kan? Saya bisa pergi sendiri nanti kalau sudah sembuh."
Dimas berdiri, merapikan jasnya dengan gerakan yang angkuh namun penuh perlindungan. "Aku tidak sedang meminta izin, Zora. Aku sedang memberitahumu bahwa calon suamimu ini tidak akan membiarkanmu pergi ke makam orang tuamu sendirian. Aku juga harus meminta izin secara langsung kepada mereka untuk mengambil alih tugas menjaga putri mereka."
Setelah mengatakan itu, Dimas melangkah pergi menuju mobilnya, meninggalkan Zora yang terpaku dengan air mata yang hampir jatuh. Bukan karena sedih, tapi karena ia merasa begitu dicintai.
Bu Lastri menyenggol bahu Zora sambil berbisik, "Lihat itu? Dia sudah mulai mengaku sebagai calon suami. Gengsinya tinggi, tapi hatinya sudah luluh padamu."
"Tapi bu ini terlalu mendadak."
"Asal di dasari niat yang tulus nak,"
"Tapi aku gak setuju tante..." ucap seseorang tiba-tiba.
Siapa lagi yang datang itu?Tunggu bab selanjutnya ya
gagal maning 🤣🤣
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭