NovelToon NovelToon
Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Dark Romance
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dira Lee

PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️

Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.

Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.

Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.

Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.

Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?

Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?

Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?

Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!

Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 - Ambisi dibalik dendam lama

Sebagian besar tamu telah bubar, menyisakan lingkaran kecil yang sangat penting. Suasana yang tadi ramai kini menjadi sunyi.

“Daddy, Mommy. Kami pergi sekarang,” ucap William dengan nada datar, tanpa ekspresi sedikit pun.

Alex menyentuh lengan putranya dengan tegas. “Jaga dirimu, William. Dan pastikan kau menyelesaikan tugasmu dengan baik.”

Eleanor Memeluk William dengan singkat, lalu menatap Jihan “Selamat jalan, Sayang. Kami menunggu kabar baik darimu.”

Jihan hanya mampu tersenyum tipis dan mengangguk kaku. Di sekeliling mereka, para pengawal William mulai mengambil alih posisi, sementara pengawal pribadi Rahez perlahan mundur ke belakang.

Rahez maju selangkah, menatap adiknya dengan ekspresi yang sangat meyakinkan, dipenuhi kesedihan palsu, memberi kesan bahwa perpisahan ini adalah hal yang paling sulit ia lakukan. sebuah pertunjukan yang ia tahu sedang diamati oleh keluarga Marculles, tamu yang tersisa, dan bahkan mungkin kamera media.

“Adikku, Jihan,” ujar Rahez dengan suara yang sedikit bergetar, seolah sedang menahan tangis. “Kau tahu, ini adalah momen yang sangat sulit bagi kakakmu. Kau adalah satu-satunya adik perempuan yang tersisa di keluarga ini.”

Rahez melirik ke arah Alex dan Eleanor, memastikan kedua besannya itu menyimak setiap kata yang ia ucapkan.

“Kita telah melewati banyak hal bersama. Kau adalah wanita yang paling cerdas ,” lanjut Rahez dengan nada haru yang dibuat-buat. “Hari ini, aku menyerahkanmu kepada suamimu, William Marculles. Semoga kau menemukan kebahagiaan yang selama ini tak bisa kuberikan sepenuhnya sebagai seorang kakak. Berat rasanya melepaskanmu mu.”

Rahez kemudian mencondongkan tubuh, seolah ingin memberikan pelukan perpisahan terakhir. Namun, tepat di telinga Jihan, nada suaranya berubah drastis menjadi ancaman yang dingin dan menusuk.

“Jangan menghubungiku untuk hal lain atau membuat masalah yang membuat William kesal, kau akan membayar harganya. Jangan kecewakan aku, Jihan. Lakukan kewajibanmu sebagai istri. Ingat Jinan.” bisik Rahez, sangat pelan namun tajam.

Rahez kembali menarik diri, memasang kembali topeng kakak yang terharu, lalu mencium kening Jihan dengan lembut.

Jihan tidak membalas pelukan ataupun bisikan itu. Tubuhnya membeku kaku dengan tatapan kosong. Ia hanya memberikan anggukan kecil, ia benar-benar telah kehabisan kata-kata untuk membalas kemunafikan itu.

Adreena maju dan memeluk Jihan dengan cepat. “Jihan, selamat tinggal. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan sangat merindukanmu!” serunya dengan nada ceria, seolah mereka adalah ipar yang sangat akrab.

Alexander Marculles memandang adegan perpisahan itu dengan puas. Ia menoleh ke arah Rahez. “Tuan Rahez, terima kasih atas jamuannya. Jangan khawatir, Jihan sekarang menyandang nama Marculles. Kami akan memastikan dia mendapatkan semua yang dia butuhkan. Aliansi ini akan segera kita operasikan.”

Eleanor ikut tersenyum penuh arti. “Jihan, sampai jumpa di kediaman kami. Kami sudah menyiapkan segalanya untuk menyambut menantu baru kami.”

William, melangkah maju. menatap Rahez dengan pandangan dingin dan tajam, “Tuan Rahez. Terima kasih. Kami permisi.”

William kemudian membalikkan badan dan memimpin Jihan menuruni tangga menuju limosin.

Jihan berjalan di samping William. Ia meninggalkan Kediaman Alvarezh. Ia melihat ke belakang untuk terakhir kalinya ke tempat masa kecilnya dulu. Ia pergi dari kekejaman Rahez lalu masuk ke kekuasaan William.

Pintu limosin tertutup. Mobil mewah itu bergerak perlahan meninggalkan gerbang Kediaman Alvarezh, membawa Jihan ke kehidupan barunya di Kediaman Marculles.

Keadaan di dalam mobil sangat canggung dan sunyi. Jihan Duduk di salah satu kursi, gaun pengantinnya yang indah kini terasa sangat berat. Ia menjauhkan diri tubuhnya dari William, bersandar di jendela. menatap pemandangan kota

Aku sudah menikah. Perananku sebagai boneka Rahez telah selesai, dan kini aku memulai peran baruku sebagai boneka William Marculles. Di depan publik, Rahez tampak begitu manis. Itu semua omong kosong. Kebohongan yang sangat indah, untuk meyakinkan publik dan keluarga marculles bahwa aku berharga dan tidak bermasalah. Batin Jihan.

ihan menunduk. Air mata yang tertahan sejak tadi pagi akhirnya kembali mengalir. Diam-diam, tanpa suara, ia menumpahkan kesedihannya atas harga dirinya dan takdirnya yang kejam.

Aku tidak punya air mata lagi untuk diriku sendiri. Air mata ini adalah untuk Jinan dan Zeiran, yang tidak akan pernah tahu apa yang terjadi hari ini. Aku tidak punya pilihan. Batin Jihan

William duduk di kursi seberang Jihan. sibuk dengan sebuah tablet matanya terfokus pada layar yang memancarkan grafik saham dan data keuangan.

“…Ya, konfirmasi transfer modal ke Swiss. Dan kirim laporan triwulanan segera. Aku ingin menganalisis pada pasar Asia…” perintah William dengan suara pelan namun otoriter ke arah earpiece yang terpasang di telinganya.

Batin Jihan, Dia bahkan tidak melihatku. Pernikahan ini benar-benar hanya sebuah formalitas bisnis bagi dia

Rasa lega yang aneh merayapi kesedihan Jihan. William dingin dan berjarak. Ia menegakkan punggungnya, Ia harus mengambil keuntungan dari ketidakpedulian ini.

—-

Setelah kepergian limosin William Marculles, Kediaman Alvarezh tidak meredup. Perayaan masih berlangsung dengan megah sesuai adat.

Di dalam aula, para tetua Alvarezh melanjutkan ritual doa-doa panjang untuk memberkati aliansi dan memohon keberuntungan bagi bisnis keluarga.

Di luar, pesta malam segera dimulai. Rahez memastikan perayaan itu menjadi berita utama. perusahaan-perusahaan utama Alvarezh di beberapa kota, pesta kembang api besar diluncurkan, menerangi langit malam. bukan hanya perayaan pernikahan, tetapi pertunjukan kekuatan kepada seluruh negara bahwa kekuasaan Alvarezh kini memiliki koneksi Global yang tak tertandingi.

Rahez dan adreena berada di tengah pesta, menerima pujian, sementara Daniel terus memanfaatkan acara tersebut untuk pertemuan politiknya.

Setelah itu Rahez berdiri di balkon utama, memegang gelas whiskey kristal. Wajahnya berseri-seri, karena kemenangan. Ia menatap pemandangan spektakuler itu laut yang ia kuasai, kota yang akan ia kendalikan, dan kembang api yang mewakili kekuasaannya.

Adreena berdiri di sampingnya menyentuh lengan Rahez, berbagi kebanggaan. “Rahez, Sayang. Lihatlah,” bisiknya kagum. “Pesta ini begitu megah. Seluruh Aestrasia sedang menyaksikan kita. Jihan... kali ini dia melakukan tugasnya dengan sangat baik dan sempurna.”

Rahez menyesap whiskey nya, senyumnya dingin. “Tentu saja sempurna. Dia harta yang sangat mahal, Adreena. Dia harus sempurna. Marculles sekarang terikat pada kita. Alexander Marculles adalah orang tua itu menantikan seorang pewaris dan kita baru saja memberinya umpan yang tepat.”

Adreena mendengus sinis. matanya berkilat penuh kebencian yang terselubung. “Dan Jihan, wanita itu, harus berbagi ranjang dengan pria sedingin William Marculles. Aku harap dia tidak merusak riasannya saat menangis di malam pertama. Tapi yah, setidaknya dia tidak akan kembali ke sini untuk mengganggu kita lagi.”

“Sedang membicarakan pengantin baru kita?” Sebuah suara berat dan berwibawa memecah percakapan mereka.

Mahreya muncul dari balik pintu kaca balkon. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok putra dan menantunya.

Rahez menoleh, tersenyum tipis pada ibunya.“Tentu, ibu. Pesta mewah yang merayakan penandatanganan kontrak yang paling menguntungkan. William Marculles sudah mendapatkan istrinya. Dan aku tidak lama lagi menguasai pasar global .”

Mahreya berjalan mendekat, menatap pemandangan kembang api yang melambangkan kekuasaan yang ia perjuangkan. “William Marculles. Dia bukan hanya dingin, dia kejam. Dia akan mengendalikan Jihan sepenuhnya. dan Jihan akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.”

“Jihan akan dibuat sibuk oleh pria itu,” timpal Adreena sinis. “Tidak akan ada waktu baginya untuk bermain menjadi pahlawan atau memata-matai kita.”

Mahreya Menambahkan dengan nada licik. “Dia akan fokus pada tugasnya melahirkan pewaris. William hanya melihat Jihan sebagai sarana. Dengan begitu aliansi kita akan kuat, dan kendali politik kita di Aestrasia tak tergoyahkan. Rahez, kau sekarang adalah pria paling kuat di Asia. Semua berkat pernikahan itu.”

Rahez mengangguk, matanya berkilat ambisi yang membara. “Semua berjalan sesuai rencana, ibu. Dan jika Jihan membuat masalah... dia harus membayar dengan nyawanya dan nyawa Jinan ”

“Untuk kekaisaran Alvarezh dan untuk putraku... yang tengah menuju kekuasaan yang lebih luas!” Mahreya mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, memberikan penghormatan pada langit malam.

Setelah menyesap minumannya, Mahreya meletakkan gelas kristal itu dan menatap Rahez dengan wajah berseri-seri penuh kebanggaan. Lihatlah dirimu, Posisi ini, puncak tertinggi... kau berhasil menyingkirkan semua saudaramu yang menjadi penghalangmu.”

Mahreya Menghela napas dramatis, matanya sedikit menyipit saat mengingat masa lalu. “Ayahmu, Khaizar. Dia sama sekali tidak pernah mengharapkanmu untuk menjadi pewaris. Kau adalah anak laki-laki yang tersingkirkan di matanya. Meskipun Rayden adalah yang pertama, dan dia tewas, kau adalah putra tertua setelahnya. Tapi dia memilih Alvaren sebagai pewarisnya, padahal umurnya di bawahmu.”

Mahreya berdecih pelan. Suaranya mengandung dendam lama. “Kenapa? Karena kau lahir dari ibu yang berbeda. Dia pilih kasih.”

Mahreya Ekspresinya berubah menjadi keras dan dingin. “Tentu, aku tidak akan diam. Dari awal, posisi istri Khaizar itu adalah milikku! Sereena datang merebutnya, tetapi pada akhirnya, aku tidak terkalahkan. Sama seperti aku menyingkirkan Sereena, begitu mudahnya kau menyingkirkan Jihan dari rumah ini.”

“Setidaknya, wanita itu harus berterima kasih karena kau sudah memberinya kesempatan untuk hidup daripada ia hanya menjadi beban di sini.”

Rahez tertawa kecil, suara tawanya terdengar hampa namun mengerikan. Ia memutar-mutar sisa wiski di gelasnya sebelum menatap ibunya dengan tatapan yang sangat gelap.

“Ibu benar,” sahut Rahez dengan nada tenang namun mematikan. “Terima kasih karena telah mengajariku bahwa di dunia ini, darah tidak lebih berharga daripada kekuasaan.”

“Wanita itu tidak pernah setara denganmu, Nak,” ujar Mahreya dengan nada yang rendah namun tajam, menanamkan racun ke dalam pikiran putranya. “dulu ayahmu selalu memuja dan membanggakanya. Kau tahu sendiri betapa angkuhnya Jihan dia hanya berpura-pura baik di depan ayahmu untuk menarik perhatiannya. Sementara kau? Kau hanyalah anak laki-laki yang tersingkirkan.”

Ucapan Mahreya menghujam tepat pada luka lama yang selama ini coba disembunyikan Rahez. Ingatan pada masa lalu berputar kembali.

Rahez ingat saat kakak tertuanya, Rayden, telah berhasil dalam proyek-proyek dan memajukan perusahaan. Ayahnya selalu memamerkan dan membanggakan kecerdasan Rayden di depan semua orang. sementara Rahez hanya berdiri di bayang-bayang, dipojokkan dan dianggap tidak ada.

Setelah kematian Rayden, Rahez ingat tidak sengaja mendengar percakapan Ayahnya yang berbicara kepada Alvaren, adiknya, menginginkan Alvaren keluar dari militer dan melanjutkan perusahaan. Ini adalah tamparan keras, mengingat Rahez adalah anak tertua setelah Rayden tiada.

Lalu ada Jinan, adiknya yang dianggap tidak berguna dan tengil yang selalu membuat kekacauan dan onar, Dan Jihan ynag tidak jauh berbeda dengan Jinan . Jihan yang semena-mena pada putri kerabat hanya karena merebut pria yang ia cintai. Jihan bahkan menyalahkan gurunya atas rusaknya furnitur bangunan yayasan ibunya, padahal Jihan sendiri yang merusaknya. Namun, Ayahnya yang tidak tahu selalu membanggakan Jihan.

Perasaan aneh Rahez. sesungguhnya menyayangi ibu Sereena dan merasakan kebaikannya. Tetapi ia merasa Ibu Sereena tidak pernah ingin dirinya menguasai perusahaan ayahnya, mungkin karena ia anak dari wanita lain

Rahez menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya. ekspresinya kini berubah sinis, dan matanya dipenuhi kobaran api ambisi dan dendam mengubahnya menjadi bahan bakar kekuasaan.

“Ya, kau benar ibu.” sahut Rahez dengan nada suara yang berat dan bergetar karena amarah yang tertahan. “Ayah meragukan aku. Dia tidak pernah melihat potensiku. Dia melihat saudaraku yang lain sebagai kebanggaannya. yang aku lihat Jihan dan Jinan hanyalah kesombongan mereka, yang merasa superior. Aku melihat bagaimana Ibu Sereena hanya mencintai darahnya sendiri.”

Rahez senyum sinis muncul di wajahnya. Ia mengangkat gelas whiskey nya ke arah cakrawala. “Tapi lihat sekarang. Pada akhirnya, semua ini jatuh ke tanganku. Ayahku meragukan aku, tetapi aku telah mengembangkan kerajaan bisnis ini jauh lebih besar dan lebih cepat dibandingkan dengan Kak Rayden ataupun dirinya sendiri.”

Rahez Menoleh pada Mahreya dan Adreena, tatapannya dingin. “Aku mengambil kendali, dan aku akan memastikan tidak ada Alvarezh lain yang berani meragukan kekuasaanku lagi. Sekarang, mari kita bersulang untuk masa depan akan kekuasaan ini.”

Denting gelas kristal yang beradu memecah keheningan malam, bertepatan dengan kembang api yang meledak di langit menjadi saksi bisu atas sumpah seorang pria yang luka atas masa lalunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!