*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 - Mata Cokelat Madu
Mungkin ada yang bertanya, mengapa tidak menggunakan Stonestrider alias Kuda Batu.
Jawabannya sederhana: berjalan kaki lebih hemat dan tidak menarik perhatian. Dua hal yang sangat kusuka. Bukan berarti aku anti pada hewan itu. Sebagai Beastologist, aku mengagumi evolusi mereka—telapak kaki terbelah dengan bantalan lunak di dalam namun cangkang keras di luar, membuat mereka bisa mencengkeram tebing batu securam apa pun. Tapi untuk perjalanan solo di rute landai seperti ini? Kaki sendiri sudah cukup.
Setelah dua hari melintasi perbukitan sunyi, aku memutuskan berhenti saat matahari mulai condong ke barat
Di tepi aliran air jernih, aku membasuh wajah, tangan, dan kaki. Air dingin membasuh debu perjalanan sekaligus menjernihkan pikiran. Di atas tanah rata, aku menghadap ke arah matahari tenggelam. Dalam keheningan senja, aku melakukan gerakan ibadah sembari mengucap doa. Ini adalah sebuah dialog untuk menata kembali hubungan dengan Entitas yang lebih besar dari dunia ini.
Saat menatap derak api unggun yang kubuat sesudahnya, aku teringat cerita para Tetua. Jiwa pengembara Suku Mien bukan tanpa tujuan. Di balik tradisi merantau, ada sebuah pencarian yang diwariskan dari generasi ke generasi sejak Moonfall: menemukan kembali kota suci kami yang hilang. Konon, Organisasi Tarker pada awalnya didirikan untuk misi ini, sebelum akhirnya berubah menjadi mesin birokrasi pembuat peta dagang.
Rebusan air teh hampir tidak mengeluarkan aroma dan bekal perjalanan andalan—biskuit keras Tarker—juga sama, tidak menimbulkan selera. Rasa biskuit ini tak berubah seperti seribu kali terakhir aku memakannya, hambar dan padat. Satu keping seukuran telapak tangan ini cukup untuk menopangku hingga siang esok hari. Sambil mengunyah makanan yang lebih mirip batu itu, aku menatap ke langit malam yang jernih.
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang terbelah—luka abadi di angkasa pengingat dari Moonfall yang menghancurkan dunia lama, sekaligus sumber dari Mooncore yang membangun dunia baru—aku menandai rute baru di petaku. Pemerintah Stellamontia baru saja membuka jalan lurus membelah Hutan Palenwood menuju Cragspire.
Hoo... ini yang dibicarakan para petugas di konter Tarker kemarin....
Ambil jalur kiri di persimpangan nanti, langsung ke Cragspire tanpa harus buang waktu. Praktis. Cepat. Tapi itu berarti mematikan denyut nadi Desa Paleside yang selama ini menjadi tempat persinggahan.
Ah, peduli apa para birokrat itu dengan nasib desa kecil?
.... . ....
Keesokan harinya, tepat saat matahari berada di puncak kepala, aku tiba di Wayford. Seperti yang kuingat, kota ini terasa lebih liar, lebih hidup, dan lebih... berisik
Kota ini bahkan lebih berisik dari Adam. Setidaknya di Adam ada disiplin militer. Di sini, semua orang sepertinya hanya memikirkan Auren dan misi selanjutnya.
Udara di sini terasa lebih berat, dipenuhi aroma Kuda Batu, debu, dan ambisi yang pekat. Dengungan di sini bukan lagi ritme kehidupan, melainkan kebisingan transaksional dari ratusan pedagang yang berteriak, tawar-menawar yang sengit, dan denting Auren dan Aspen yang tak henti berpindah tangan.
Di Adam, kau mungkin dinilai dari status dan jabatanmu; di sini, satu-satunya yang berarti adalah seberapa tebal kantong uangmu.
Aku berjalan melewati jalur utama yang berlumpur. Di sebuah sudut di antara kios pedagang yang kumuh: sebuah papan pengumuman besar yang baru dan bersih, dipasang dengan segel resmi Republik Stellamontia.
Sebuah poster propaganda besar, menampilkan peta garis lurus menembus hutan dengan tulisan besar, dicetak dengan tinta berwarna cerah.
"JALUR BARU WAYFORD-CRAGSPIRE: AMAN, CEPAT, EFISIEN! MASA DEPAN PERDAGANGAN STELLAMONTIA!" Di bagian bawahnya, dengan cetakan yang lebih kecil, tertera tanggal penerbitan dan segel resmi Republik: Bregen/10/VI/82 AM.
Bahkan tanpa propaganda ini pun, semua orang pasti akan berbondong-bondong melewati jalur ini. Masa depan emas bagi pedagang, surat kematian bagi Paleside.
Langkahku melambat saat melihat keributan kecil di depan sebuah toko roti. Seorang anak dari ras Gora, mungkin baru berusia tujuh tahun, sedang berjalan cepat sambil memeluk sebungkus roti erat-erat. Tubuhnya besar untuk anak seusianya, tapi matanya menyiratkan ketakutan.
Beberapa anak lokal mengepungnya, melemparkan kerikil.
"Gora jelek! Pulang ke gunungmu!"
Anak Gora itu tidak melawan. Ia hanya menunduk, melindungi kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap memeluk rotinya—mungkin jatah makan keluarganya hari ini.
Yang membuat darahku dingin bukan hanya kekejaman anak-anak itu, tapi orang-orang dewasa di sekitarnya. Pemilik toko hanya memalingkan muka. Dua pedagang yang mengobrol berpura-pura tidak melihat.
Manusia.
Dalam hati, aku mencatat mereka seperti mengamati spesies liar. Perilaku kawanan. Menyerang target yang lebih lemah tanpa provokasi untuk validasi sosial. Jauh lebih merepotkan daripada Anjing Pijar. Paling tidak, hewan buas tidak berpura-pura beradab sebelum menggigit lehermu.
Aku mempercepat langkah, muak dengan pemandangan itu, dan berbelok mencari penginapan untuk makan siang.
Aku masuk ke sebuah kedai yang ramai. Aroma daging panggang dan bir murah langsung menyergap. Suasana di dalam tak kalah bisingnya. Di sudut ruangan, kerumunan kecil bersorak mengelilingi sebuah meja, menyaksikan dua pedagang sedang beradu strategi dalam permainan Shiftd. Kartu monster yang diletakkan dengan penuh strategi di atas papan 4x4, memicu efek yang menggeser posisi kartu lawan dan mengubah alur permainan dalam sekejap.
Permainan kartu dari Kinsei ini, populer di seluruh benua. Konon, keahlian bermain Shiftd bisa meningkatkan status sosial lebih cepat daripada kekayaan.
Aku tidak pernah tertarik, mengumpulkan gambar monster di atas kertas terasa konyol. Mungkin bagi mereka ini permainan, bagiku ini lebih mengingatkan pada pekerjaan.
Mataku memindai ruangan mencari meja kosong. Hampir semua kursi terisi, kecuali satu meja di dekat jendela yang terang oleh cahaya matahari siang.
Di sana, duduk seorang gadis muda dengan rambut diikat praktis. Ia tidak sedang makan, melainkan sedang sibuk memeriksa barang belanjaannya. Di tangannya, ia memegang sebuah toples kaca berisi lemak padat berwarna putih kekuningan. Ia mengangkat toples itu ke arah cahaya jendela, mengguncangnya pelan, lalu mengamati teksturnya dengan dahi berkerut ragu.
Aku berjalan mendekat, berpura-pura mencari jalan lewat. Mataku melirik sekilas ke label toples itu:
"Lemak Sapi Mederi Murni"
Insting Beastology-ku terusik.
"Warnanya terlalu bening untuk Sapi Mederi," gumamku datar, tanpa melihat wajahnya. "Hewan itu hidup di suhu dingin. Lemaknya harusnya lebih padat dan keruh, tidak berminyak seperti itu di suhu ruang. Kurasa itu barang palsu."
Gadis itu tersentak kaget, hampir menjatuhkan toplesnya. Ia menoleh cepat ke arahku, namun detik berikutnya, ekspresinya berubah drastis.
Mata cokelat madu itu membulat.
"Zane? Zane Elian Kareem! Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Kau baru saja menyelamatkan uangku dari toko sebelah."
Fiora Crestfall. Aku tidak menyangka dia akan ingat nama lengkapku.
Ia meletakkan toples itu dengan tegas, seolah sudah memutuskan untuk mengembalikannya nanti. "Duduklah! Di sini masih kosong."
Dengan sedikit canggung, aku menarik kursi di hadapannya. "Aku tidak bermaksud menguping atau mengintip, hanya kebetulan lewat," kataku kaku.
"Justru aku berterima kasih. Matamu masih tajam seperti dulu," balas Fiora hangat. Aku duduk dengan canggung, tak tahu harus basa-basi apa.
"Jadi... Apa yang membawamu ke Wayford? Misi baru?" tanyanya, nadanya ringan dan penuh rasa ingin tahu.
"Begitulah," jawabku singkat. "Persinggahan menuju Cragspire. Kau sendiri? Kulihat kau sedang... belanja besar." Aku menunjuk tumpukan bungkusan herbal dan lemak hewan di mejanya.
"Untuk toko di Paleside," jelasnya antusias. "Aku ke sini membeli bahan dasar Elixir yang sulit didapat di desa. Kau tahu kan, stok obat harus selalu ada."
"Kau punya toko Elixir?"
Ia menggeleng sambil tertawa kecil. "Tentu tidak, hanya bekerja di sana. Meracik Elixir adalah satu-satunya keahlianku yang bisa jadi uang sekarang." Tawa itu terdengar tulus, namun matanya menyiratkan sesuatu yang lain.
"Kenapa di Paleside? Dengan kualitas Elixirmu yang dulu, kau bisa buka praktik di Adam atau Bregen," tanyaku tanpa pikir panjang.
Pertanyaan itu sepertinya menyentuh titik saraf. Senyum Fiora meredup sesaat. Cahaya di matanya berganti dengan jejak kelelahan yang ia sembunyikan dengan baik.
Ia menarik napas pelan.
"Zane... maaf soal kejadian waktu ujian Tarker dulu," katanya tiba-tiba, suaranya lebih pelan dan serius.
"Aku pergi begitu saja tanpa pamit. Itu tidak sopan." Ia menatap lurus ke mataku.
"Waktu itu aku... aku harus pulang. Aku diberi tahu bahwa ibu jatuh sakit dan tak sadarkan diri." Sebuah simpati tak terduga menusuk pertahananku yang biasanya kokoh. Aku ingat di tiba-tiba langsung pergi setelah menyelesaikan ujian kedua.
"Ahh... jadi itu alasan waktu itu.. Aku... turut prihatin," kataku, mencoba terdengar simpatik.
Yap. Tidak diragukan lagi, memang aku sangat payah dalam basa-basi.
"Bagaimana keadaan Beliau sekarang?"
"Jauh lebih baik, terima kasih sudah bertanya.” jawabnya dengan senyum tulus yang menenangkan. "Tapi Beliau tidak bisa ditinggal sendiri lagi. Jadi... yah, impian jadi Tarker harus kusimpan dulu. Menjaga Ibu dan toko obat adalah prioritasku sekarang."
Tidak ada nada penyesalan atau mengasihani diri sendiri dalam suaranya. Hanya penerimaan yang dewasa.
"Fiora! Waktunya berangkat!"
Teriakan seorang pria dari pintu depan memecah percakapan kami. Fiora menoleh, lalu buru-buru membereskan toples lemak palsu dan bungkusan lainnya ke dalam tas
"Aku harus pergi," katanya sambil berdiri. "Senang melihatmu masih menjadi dirimu sendiri, Zane. Hati-hati di jalan. Semoga keselamatan menyertaimu." Dalam senyumnya yang sedikit getir, aku bisa merasakan doa yang tulus saat ia mengucapkan salam Tarker.
Aku ikut berdiri. "Semoga keselamatan juga menyertaimu, Fiora."
Ia berbalik dan berlari kecil menyusul rombongannya, meninggalkan aku sendirian di tengah keramaian kedai. Aku duduk kembali, menatap kursi kosong di hadapanku.
Bagaimana jika Fiora berhasil lulus menjadi Tarker hari itu? Mungkin dia tidak akan jadi penjelajah garis depan. Dengan keahliannya meracik Elixir dan Petrocraft pertahanannya, dia akan menjadi anggota pendukung yang sangat berharga dalam sebuah tim. Sebuah tim. Sesuatu yang tidak pernah benar-benar kupikirkan untuk diriku sendiri.
Lamunanku dibuyarkan oleh sekawanan burung yang terbang serentak, meninggalkan kanopi Hutan Palenwood. Kusipitkan mata, sepertinya itu Gagak Angin-Sutra. Burung jinak pemakan serangga, penanda bahaya alami di alam liar.
Barangkali ada primata seperti Punggung Lumut Mien melewati mereka. Atau Mist Panther yang menandai wilayah? Ah, hutan memang tak pernah diam.
Dan seandainya aku tahu apa yang akan terjadi 4 jam dari sekarang, pasti akan kutahan Fiora di Wayford pada momen ini...
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu