siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.
Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendidikan Dasar Agen J-J-U (janda-janda undercover)
Markas besar "Divisi Operasi Khusus Domestik & Infiltrasi" ternyata tidak terletak di gedung pencakar langit yang mengkilap, melainkan di bawah sebuah panti jompo mewah di pinggiran Jakarta. Strategi yang jenius siapa yang akan mencurigai sekumpulan nenek-nenek yang sedang senam jantung sebagai kedok organisasi intelijen paling rahasia di negeri ini?
Bella, Siska, dan Maya berdiri di sebuah ruangan serba putih yang sangat kontras dengan penampilan mereka yang masih mengenakan sisa-sisa "seragam" dari aksi semalam. Bella masih dengan rompi taktisnya, Siska memegang tas berisi sutil keramat, dan Maya masih memeluk daster macan pink-nya yang kini sudah punya beberapa lubang baru.
Di depan mereka, Kapten Adrian berdiri tegak. Di sampingnya, seorang wanita paruh baya dengan kacamata rantai dan rambut sanggul yang sangat kencang menatap mereka dengan tatapan menghakimi.
"Ini dia calon agen kita, Kapten?" suara wanita itu sedingin es batu di dalam kulkas Siska. "Seorang mantan polisi yang dipecat, seorang tukang masak yang hobi tawuran, dan... apa ini? Guru TK yang membawa jemuran ke markas?"
Maya tersinggung. "Ini bukan jemuran biasa, Bu! Ini saksi bisu kejatuhan Jenderal Baskoro!"
Kapten Adrian berdehem. "Perkenalkan, ini Kolonel Lastri. Dia kepala pelatihan di sini. Dan ya, Kolonel, mereka mungkin terlihat berantakan, tapi mereka punya sesuatu yang tidak dimiliki agen lulusan akademi kita The Power of Kepepet dan kemampuan infiltrasi sosial yang luar biasa."
Kolonel Lastri mendengus. "Baiklah. Kalian punya waktu satu minggu untuk melewati masa percobaan. Jika gagal, ingatan kalian akan dihapus atau setidaknya kalian akan kami buat sangat sibuk mengupas bawang di dapur panti jompo ini selamanya."
Tes Pertama: Pengenalan Gadget "Domestik"
Mereka dibawa ke sebuah laboratorium yang penuh dengan peralatan canggih. Namun, alih-alih senjata api laras panjang, mereka disuguhi barang-barang rumah tangga yang sudah dimodifikasi.
"Agen Bella," panggil Lastri. "Ini untukmu. Payung hitam ini terlihat biasa, tapi rangkanya terbuat dari titanium cair yang bisa menahan peluru kaliber 9mm. Dan di gagangnya, ada tombol untuk melepaskan gas tidur."
Bella membuka payung itu dengan gaya keren. "Boleh juga. Bisa buat nakutin debt collector."
"Agen Siska," Lastri beralih ke Siska. "Kami tahu Anda sangat terikat dengan alat masak Anda. Ini adalah Sutil MK-II. Bahannya serat karbon, sangat ringan tapi lebih keras dari baja. Di bagian pegangannya terdapat sensor suhu dan pemindai zat beracun. Jika masakan target Anda beracun, sutil ini akan bergetar."
Siska mengelus sutil itu dengan penuh kasih sayang. "Akhirnya, alat yang mengerti jiwaku."
"Dan Agen Maya..." Lastri menatap Maya dengan ragu. "Karena Anda suka menggunakan kosmetik... ini adalah Bedak Padat Pengalih Perhatian. Jika dibuka, ia akan mengeluarkan partikel reflektif yang bisa membutakan kamera CCTV selama lima menit. Dan lipstik ini... ini adalah alat pelacak GPS dan mikrofon jarak jauh."
Maya mencoba lipstiknya di punggung tangan. "Warnanya nude pink? Bagus! Aku suka!"
Latihan Lapangan: Operasi "Pasar Subuh"
Latihan pertama mereka dimulai pukul empat pagi. Misi: Mengambil sebuah mikropulsa data dari seorang kurir yang menyamar sebagai penjual sayur di Pasar Induk Kramat Jati.
"Dengarkan," bisik Bella lewat earpiece.
"Target adalah pria dengan kaos partai warna kuning, sedang menjual bayam di baris ketiga. Kita harus mengambil tasnya tanpa dia sadari."
Siska bergerak sebagai penjual jamu keliling. Maya menyamar sebagai pembeli cerewet yang sibuk menawar harga, sementara Bella mengawasi dari atas truk sayur.
Maya mendekati target. "Aduh, Bang... ini bayamnya kok layu banget? Kayak harapan saya sama mantan. Bisa kurang nggak harganya?"
Si penjual sayur, seorang pria bermuka sangar, mengerutkan kening. "Ini bayam organik, Mbak! Harga pas!"
"Organik dari mana? Ini ada lubang ulatnya! Bang, kalau saya beli seikat, gratis ikatan janji suci nggak?" goda Maya sambil memainkan jarinya di atas meja dagangan.
Si penjual mulai terdistraksi oleh celotehan Maya. Di saat yang sama, Siska lewat sambil membawa bakul jamunya. "Jamu, Mas? Jamu kuat? Biar kuat menghadapi kenyataan kalau jualan sepi?"
"Eh, boleh juga," ujar si penjual.
Saat si penjual sedang meneguk jamu pahit buatan Siska (yang sebenarnya sudah dicampur obat pencahar dosis ringan), Bella turun dengan sangat senyap, menukar tas punggung si penjual yang ada di bawah meja dengan tas identik yang sudah mereka siapkan.
Semuanya berjalan lancar, sampai tiba-tiba...
"WOY! MALING!" teriak seorang ibu-ibu penjual ikan dari seberang. Ternyata dia melihat gerakan Bella.
Si penjual sayur tersedak jamunya. Ia menyadari tasnya hilang dan langsung mencabut sebuah pisau komando dari balik tumpukan sawi. "Berhenti kalian!"
"Rencana gagal! Masuk ke Mode Berisik!" teriak Bella.
Si penjual sayur ternyata bukan kurir biasa, dia adalah tentara bayaran yang disewa oleh sisa-sisa kelompok Toro Loco. Sepuluh orang pria bersenjata tajam muncul dari balik kios-kios sayur.
"Maya, bedaknya!" perintah Bella.
Maya membuka bedak padatnya dan melemparkannya ke tengah kerumunan.
BOOM!
Asap putih berkilauan memenuhi udara, membuat para pengejar kelilipan.
Siska langsung beraksi. Ia menggunakan sutil karbon barunya untuk menangkis sabetan golok.
TING! TING!
Suara benturan logam terdengar nyaring. "Jangan main-main sama koki! Saya biasa memotong daging yang lebih keras dari kepala kalian!" Siska memutar tubuhnya, menghantam betis dua pria hingga mereka tersungkur di atas tumpukan tomat.
Bella melakukan aksi parkour di atas meja-meja pasar. Ia menggunakan payung titaniumnya untuk mengait leher lawan dan menjatuhkannya ke dalam ember berisi air ikan yang amis.
Maya yang terdesak di sudut kios dikejar oleh dua pria besar. "Aduh, Mas... jangan kasar-kasar! Aku ini lemah lembut!"
Saat pria itu mendekat, Maya menggunakan payung kecilnya yang juga sudah dimodifikasi. Ia menekan tombol di gagangnya, dan WUSH! Jaring laba-laba sintetis keluar, membungkus kedua pria itu hingga mereka jatuh seperti mumi di atas tumpukan cabe keriting.
"Kerja bagus, May!" puji Bella sambil memberikan tendangan terakhir ke dagu si penjual sayur utama.
Mereka berlari menuju mobil jemputan, sebuah angkot yang sudah dimodifikasi mesinnya oleh tim teknis panti jompo. Angkot itu melesat membelah kemacetan subuh Jakarta dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Kembali di markas, Kolonel Lastri melihat hasil rekaman aksi mereka. Ia tampak sedikit... terkesan? Meski wajahnya tetap datar.
"Kalian merusak tiga kios sayur, membuat harga cabai di pasar itu naik sementara karena tumpah semua, dan membuat sepuluh orang masuk rumah sakit dengan trauma benda tumpul berbentuk sutil," ujar Lastri sambil melipat tangan. "Tapi... kalian berhasil mendapatkan datanya."
Kapten Adrian membuka data tersebut di layar besar. Isinya adalah jadwal pengiriman rahasia yang melibatkan pelabuhan tikus di wilayah utara Jakarta.
"Tapi ada satu hal lagi," Adrian memperbesar sebuah foto di dalam data itu. "Lihat ini."
Itu adalah foto sebuah daster yang sangat familier. Motifnya macan, warnanya pink, tapi ada satu perbedaan Di bagian punggungnya, ada sulaman emas kecil berbentuk mahkota.
"Itu... daster kembaran punyaku?" tanya Maya kaget.
"Bukan sekadar kembaran," kata Adrian serius. "Ini adalah 'Daster Permaisuri'. Menurut legenda dunia bawah tanah, ada tiga daster legendaris yang dibuat oleh perajin misterius. Daster macan pink milik Maya adalah salah satunya. Jika ketiga daster itu disatukan, jahitannya akan membentuk peta menuju brankas harta karun yang disembunyikan oleh oligarki lama di sebuah pulau terpencil."
Siska hampir menjatuhkan sutilnya. "Maksudmu... pencurian daster selama ini bukan cuma soal narkoba?"
"Narkoba cuma bisnis sampingan Don Toro," jelas Adrian. "Kelompok yang lebih besar yang kita sebut sebagai Sindikat Benang Hitam sedang mengincar ketiga daster itu. Maya, daster yang kamu pegang adalah daster pertama. Yang kedua ada di tangan seorang kolektor di Singapura, dan yang ketiga..."
"Yang ketiga ada di mana?" tanya Bella tidak sabar.
Adrian menatap layar dengan tajam. "Yang ketiga sedang dipakai oleh seorang narapidana wanita paling berbahaya di penjara Sukamiskin. Dia dikenal dengan julukan 'Mami Daster Berdarah'."
Maya memeluk dasternya erat-erat. "Jadi sekarang dasterku ini barang pusaka? Aku nggak boleh pakai buat tidur lagi?"
"Kalau kamu mau tidur sambil dikejar pembunuh bayaran internasional, silakan saja," sindir Lastri.
Bella menghela napas panjang. Ia menatap kedua sahabatnya. "Yah, sepertinya hidup kita sebagai janda tenang sudah resmi berakhir. Gimana, Sis? May? Siap jalan-jalan ke penjara?"
Siska tersenyum tajam. "Asal di penjara sana aku boleh bawa sutil, aku ikut."
Maya mendesah, lalu mulai memoles bibirnya dengan lipstik GPS-nya. "Baiklah. Tapi kalau kita ke penjara, aku mau pakai skincare yang paling kuat. Aku dengar udara di sana nggak bagus buat pori-pori."
Kapten Adrian tersenyum. "Selamat datang di misi resmi pertama kalian, Janda-Janda Undercover. Operasi Penjara Sutra dimulai besok pagi."
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣