Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 - Sorotan
Serangan itu tidak datang dalam bentuk ancaman.
Ia datang dalam bentuk diskusi.
Panel televisi malam membedah ulang setiap konferensi pers yang pernah dilakukan tim Karina. Potongan videonya diputar ulang, diperlambat, diperbesar. Nada suaranya dianalisis. Jeda jawabannya dihitung.
“Lihat di sini,” kata seorang analis hukum di layar. “Ia terdengar terlalu yakin. Padahal bukti saat itu belum sepenuhnya solid.”
Kata terlalu mulai sering muncul.
Terlalu cepat.
Terlalu tegas.
Terlalu presisi.
Pagi berikutnya, headline koran daring berubah lebih tajam.
“Pembunuhan Keempat: Apakah Penyidik Mengunci Narasi Terlalu Dini?”
Nama Karina belum disebut besar-besaran.
Tapi cukup banyak yang tahu siapa yang memimpin.
...----------------...
Di kantor, suasana terasa lebih bersih dari biasanya.
Terlalu bersih.
Meja-meja tertata rapi. Percakapan terdengar lebih pelan. Orang-orang membaca berita dari layar ponsel mereka sebelum menatap monitor kerja.
Karina berjalan melewati lorong dengan langkah stabil. Tidak ada yang menghentikannya. Tidak ada yang berani mengomentari langsung.
Namun ia merasakan perubahan itu.
Tatapan yang lebih cepat berpaling.
Bisik yang terhenti ketika ia lewat.
Bukan ketidakpercayaan terang-terangan.
Lebih seperti kehati-hatian kolektif.
...----------------...
Surat audit resmi tiba pukul 10.17.
Subjeknya formal: Evaluasi Prosedural Penanganan Kasus Serial.
Isinya lebih tajam.
Permintaan dokumentasi lengkap interogasi.
Catatan keputusan penahanan.
Alasan strategis yang melatarbelakangi penguncian tersangka.
Tidak ada tuduhan langsung.
Namun setiap pertanyaan terasa seperti pengukuran.
Karina membaca surat itu perlahan. Ia tidak langsung mengedarkan pada tim. Ia membiarkannya beberapa menit di layar, seolah membiarkan kata-katanya menetap.
Pintu diketuk.
Atasannya masuk tanpa ekspresi keras, tapi tidak lagi santai.
“Kita harus transparan,” katanya sambil duduk tanpa diminta. “Media sedang membentuk opini.”
“Opini bukan fakta,” jawab Karina.
“Opini membentuk tekanan. Tekanan membentuk keputusan.”
Hening beberapa detik.
“Apakah kamu masih yakin Arga pelakunya?” tanya atasannya akhirnya.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun terasa lebih berat dari semua headline pagi itu.
“Saya yakin pada pola,” jawab Karina tenang.
“Pola bisa berubah.”
“Fakta tidak.”
“Atau kita belum melihat semua faktanya.”
Percakapan berhenti di situ. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada benturan.
Namun saat atasannya keluar ruangan, Karina menyadari sesuatu:
Untuk pertama kalinya, ia tidak ditanya tentang bukti.
Ia ditanya tentang keyakinan.
...----------------...
Siang hari, konferensi pers singkat digelar untuk meredam spekulasi.
Karina berdiri di podium.
Lampu kamera membuat ruangan terasa lebih panas.
“Proses investigasi berjalan sesuai prosedur,” katanya dengan suara stabil. “Kami terus menganalisis perkembangan terbaru, termasuk kemungkinan adanya pelaku lain.”
“Apakah ini berarti tersangka sebelumnya mungkin tidak bersalah?” teriak seorang jurnalis.
“Kami tidak berspekulasi. Kami bekerja berdasarkan bukti.”
“Apakah Anda bersedia mengakui jika ada kesalahan dalam proses awal?”
Jeda sepersekian detik.
“Sistem memiliki mekanisme koreksi,” jawabnya.
Ia tidak mengatakan dirinya salah.
Ia tidak mengatakan dirinya benar.
Ia berbicara tentang sistem.
Dan justru itulah yang membuat beberapa headline sore hari berbunyi:
“Penyidik Berlindung di Balik Sistem?”
...----------------...
Menjelang malam, audit internal mulai meminta klarifikasi tambahan.
Bukan hanya dokumen.
Mereka meminta penjelasan tertulis mengenai metode interogasi.
Frasa yang digunakan dalam surat itu membuatnya berhenti lebih lama.
“Teknik sugestif dalam pembentukan narasi saksi.”
Sugestif.
Kata yang sama seperti catatan awal.
Kata yang terdengar akademis.
Tapi implikasinya tajam.
Karina duduk sendirian di ruang kerjanya setelah semua orang pulang. Lampu meja menyala, sisanya gelap.
Ia membuka ulang rekaman interogasi.
Ia memperhatikan dirinya sendiri di layar.
Nada stabil.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada tekanan kasar.
Hanya arah.
Apakah arah itu terlalu jelas?
Apakah ia menuntun terlalu jauh?
Ia menghentikan video.
Untuk pertama kalinya, ia mempertimbangkan kemungkinan bahwa media bukan hanya menyerang reputasinya.
Mereka mungkin tanpa sadar sedang memecahkan sesuatu.
Ponselnya bergetar.
Sorotan membuat bayangan lebih jelas.
Ia menatap layar lebih lama dari biasanya.
Biasanya ia membalas cepat.
Kali ini tidak.
Beberapa menit berlalu.
Lalu ia mengetik:
Bayangan tidak mengubah fakta.
Balasan datang lambat.
Tapi bayangan bisa mengubah persepsi.
Ia meletakkan ponsel.
Di luar jendela, kota tetap bergerak normal. Lampu-lampu kendaraan seperti garis stabil yang tak terpengaruh oleh satu kasus.
Namun di dalam ruangan itu, ia merasakan sesuatu yang berbeda.
Sorotan publik bukan hanya tentang kasus.
Sorotan itu mulai memisahkannya dari struktur yang selama ini ia gunakan sebagai pelindung.
Jika sistem mulai diaudit.
Jika tim mulai ragu.
Jika media mulai membentuk narasi tandingan.
Maka satu hal menjadi jelas:
Ia tidak lagi berdiri di luar permainan.
Ia berada di tengahnya.
Dan untuk pertama kalinya, sorotan itu tidak terasa seperti alat investigasi—
Tapi seperti cermin.
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y