NovelToon NovelToon
Encrypted Hearts

Encrypted Hearts

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Trauma masa lalu / CEO / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Anfi

Sequel Langit Senja Galata

Pernikahan adalah suatu hal sakral untuk menyatukan dua hati dalam satu ikatan janji suci. Lalu bagaimana jika pernikahan tersebut terjadi antara dua orang yang tidak pernah akur satu sama lain? Alvin adalah CEO yang dingin, sedangkan Nana adalah gadis yang terlihat sempurna tapi memiliki gangguan duck syndrome. Baik Alvin maupun Nana memiliki ke hidupan lain di balik layar, tanpa ke duanya tahu bahwa mereka adalah musuh bebuyutan di dunia cyber.

Adik Lunara Ayzel Devran tersebut tanpa pikir panjang menujuk gadis yang sedang duduk di samping sang kakak adalah calon istrinya. Hanya demi menghindari kehidupannya diusik oleh sang kakek yang telah membuat hati sang kakak banyak tersakiti.

“Aku akan menikah dengan Nana,” ucap Alvin.

Nana yang sedang minum terkejut, dia tidak sengaja menyemburkan minumannya.

“Onty jolok! Baju Ezza jadi bacah,”

Apa alasan Nana akhirnya menyetujui permintaan Alvin? Lalu bagaimanakah kehidupan ke duanya setelah menikah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu tak di undang

Alvin mengirim pesan pada seseorang.

“Cari koordinat K.Nara. Terakhir dia ada di Jakarta, hari ini dia kembali muncul. Tapi memanipulasi alamat IP nya,”

“Siap bos,”

Alvin beranjak dari tempat duduknya, pria itu juga sudah bersih, wangi dan rapi setelah mandi. Dia mengenakan setelan casual, hari itu dia ingin bersantai. Bercengkerama dengan keluarga setelah sekian lama tidak berjuma, terlebih ada keponakan-keponakan tampannya yang sangat jarang dia temui karena mereka sering beda Negara.

Tok...Tok

“Iya, sebentar.” Alvin bergegas membuka pintu.

“Ada apa bi?”

“Di minta turun sama Ibu, den. Suruh sarapan,” jawab bibi. “Kata Ibu, den Avin di minta sekalian panggil non Nana untuk sarapan. Dia juga belum turun,” lanjut bibi.

“Oke, bi. Terimakasih,”

“Sama-sama, den. Bibi ke bawah dulu!” pamitnya diangguki Alvin.

Selepas bibi ke bawah, Alvin mengambil ponselnya yang masih tergeletak di meja kerjanya. Dia lantas keluar kamar dan berdiri di depan pintu kamar Nana yang ada di depan kamarnya.

Tok...tok

Alvin mengetuk pintu kamar Nana, gadis itu juga baru saja selesai mengerjakan data untuk perusahaan. Nana beranjak dari kursi dan bergegas membuka pintu.

Ceklek

“Ya?” dia mengerutkan dahi saat melihat siapa yang ada di hadapannya. “Ada apa?” tanya nya.

“Turun! Sarapan,” jawab Alvin datar tanpa ekspresi. “Bunda yang suruh,” lanjutnya setelah hanya mendapati Nana yang diam dan bingung.

“Oke,” jawab Nana.

Dia mengekori Alvin turun ke lantai satu, dia menatap lekat adik dari istri kakak sepupunya tersebut. “Tampan juga sebenarnya dia. Tapi kulkas banget,” monolognya dalam hati.

Bruk

“Aduh!” terkejut Nana saat tiba-tiba dia menabrak punggung Alvin.

Alvin menoleh. “Kamu lagi ngebatin aku?”

Nana mengangga seketika. “Engga. Ngapain ngebatin kamu, kurang kerjaan banget.”

“Oh!”

Alvin kembali berjalan menuruni tangga, di susul Nana yanga kini menatap punggung Alvin horor. “Masa iya dia tahu aku sedang ngebatin? Bukan cenayang kan dia,” Nana mengangkat ke dua bahunya.

Ke duanya sampai di lantai satu, di sana sudah ada dua pasang suami istri beserta dua bocil yang duduk di kursi baby yang di siapkan bunda Anara meja makan. Alvin dan Nana ikut bergabung di meja makan untuk sarapan.

“Baby boy, ih. Gemess,” Nana mencubit gemas pipi Haziel.

“Blu...blu....baa,” oceh bocah itu sambil tangannya keatas.

“Kamu bicara apa sih, boy? Aunty tidak paham,” ucap Nana.

“Haziel ndak cuka pipi na di cubit, onty!” Altezza rupanya paham dengan maksud adiknya tersebut.

Nana mengangguk. “Iya deh, baby gemoy. Aunty ndak cubit tapi peluk-peluk nanti,” ucapnya.

“Sini, sayang. Duduk sini sebelah bunda!” pinta bunda Anara pada Nana. “Alvin geseran sana!” titahnya pada sang anak.

“Tersingkirkan ini aku,” ucap Alvin, dia menatap Nana. Namun tetap bergeser ke samping sesuai permintaan sang bunda.

Nana tersenyum lembut, hatinya selalu menghangat saat bunda Anara tersenyum penuh hangat padanya. Nana lantas memutar dan duduk di samping bunda Anara tepat.

“Makan yang banyak, sayang. Bunda tidak tahu makanan favoritmu, nak. Bunda harap sesuai dengan lidahmu,” bunda Anara terlihat perduli dengan Nana.

“Aku tidak pilih-pilih makanan, bun. Beberapa tahun ini mulai terbiasa sama makanan Indo, kak Alvaro kan terbucin-bucin sama masakan kak Zeze. Nana jadi ikut kebagian makan siangnya di kantor,” jawab Nana.

Alvaro tersenyum mendengar ucapan sepupunya tersebut, karena memang begitu kenyataannya.

“Bilang sama bunda kalau kamu ingin makan sesuatu, nak! Nanti bunda atau bibi buatkan,” bunda Anara mengusap lembut lengan Nana, entahlah! Tapi bunda dari Ayzel tersebut terlihat menyukai Nana semenjak semalam datang, ada sesuatu yang bunda Anara lihat dari sorot mata gadis itu.

Bunda Anara melihat dominasi sorot luka terpancar dari ke dua mata Nana, karena itulah semalam dia memeluk gadis itu.

“Apes! Berasa jadi anak tiri,” celetuk Alvin.

“Maka na uncle pulang. Jangan belkelialan di lual telus,” sahut Altezza, bocah itu sebelas dua belas dengan Alvin. Kalau sudah bicara lebih sering menohok.

Ayah Devran langsung tergelak. “Cucu ku memang best,” dia mengacungkan jempolnya pada Altezza, kakak Haziel tersebut tersenyum tipis.

“Dengar itu, Vin. Uncle Alvin harus pulang, jangan keluyuran terus. Ini rumah lumutan nungguin kamu pulang,” sindir ayah Devran.

“Aku lagi yang kena,” jawabnya.

Suasana sarapan di meja makan menjadi lebih hidup, jika biasanya hanya ada bunda dan ayah. Pagi itu di meja makan bukan hanya dua anak mereka, tapi juga menantu, cucu dan juga Nana.

Acara sarapan selesai, mereka lantas berkumpul di ruang keluarga. Nana duduk di lantai beralaskan karpet, dia menemani Altezza main lego. Sedangkan Ayzel duduk di sofa sedang menimang-nimang Haziel, putranya tersebut sudah mengantuk semenjak selesai makan dan minum susu.

Alvaro, Alvin dan ayah Devran. Ke tiga pria beda generasi tersebut asik mengobrol, mereka membahas hal-hal random tentang bisnis maupun hal-hal receh.

Bunda Anara di pantry bersama bibi sedang menyiapkan kudapan untuk keluarganya.

“Rumah jadi berasa ramai ya, bu. Apalagi ada tuan muda kecil,” ucap bibi yang sudah bekerja di sana sejak Anara dan Devran menikah.

“Iya, bi. Apalagi kalau Haziel sudah mengoceh, pekikannya itu lho! Menggelegar,” jawab bunda Anara.

Ke duanya terkekeh kalau ingat kejadian tadi pagi, di mana Haziel yang sudah mulai belajar berjalan itu mencari mamanya. Dia mengoceh, lantas memekik saat tak kunjung melihat mamanya.

“Kenapa tidak ada yang memberitahuku kalau Alvin sudah pulang?” suara bariton membuyarkan aktifitas mereka semua.

"Ck...tamu tak di undang," batin Alvin.

Semua yang ada di ruang keluarga melihat kearah sumber suara, Alvin menghela napas saat melihat siapa yang datang. Alvaro dan Ayzel saling lirik, sedangkan ayah Devran langsung berdiri untuk menyambut mertuanya tersebut.

Dia tetap berlaku sopan meskipun ayah dari istrinya tersebut masih belum terlalu menerimanya sebagai menantu, namun akhir-akhir ini memang kakek Zekai sering datang untuk mencari tahu keberadaan Alvin.

“Pagi, tuan Zekai. Silahkan duduk!” ayah Devran memang tidak memanggil mertuanya dengan sebutan papa, dia tahu diri.

Kakek Zekai langsung duduk begitu saja, suasana yang tadinya hangat menjadi hening dan tegang seketika. Bunda Anara langsung menghampiri ke ruang keluarga saat mendengar suara bariton ayahnya tersebut.

“Pah?” hubungan bunda Anara dengan sang ayah memang kurang baik, selain karena kakek Zekai tidak baik karena putrinya memilih menikah dengan Devran. Bunda Anara juga sakit hati karena sang ayah memilih menikah lagi dan membuat mamanya sakit hati.

“Bukankah aku sudah katakan pada kalian berdua? Beritahu kalau Alvin pulang,” nada keras penuh penekanan tersebut membuat Haziel yang baru saja terlelap langsung bangun.

“Ekheee...ekhee...oaaa,” pecah tangis Haziel yang merasa terganggu tidurnya, Ayzel langsung berdiri dari soda. Dia kembali menimang-nimang Haziel, melihat sang adik menangis...Altezza langsung bediri menghampiri.

“Tuan tidak boleh teliak-teliak, adik jadi takut. Tuan halus minta maap cama mama dan adek!” ucapnya menatap tajam kakek Zekai.

“Kamu siapa, bocah? Berani sekali dengan orang tua,” jawab kakek Zekai.

Bunda Anara langsung mendekati cucunya tersebut. “Sini sayang! Sama nenek,” bunda Anara meraih cucunya. “Dia cucuku, pah. Anak sulung Ayzel dan Alvaro,” bunda Anara memberitahu.

Kakek Zekai menatap Ayzel dan Alvaro bergantian, ada senyum sinis tersungging dari bibir pria itu. "Pantas tidak sopan,"

“Hubby!” lirih Ayzel, Alvaro mengangguk. Dia memberi kode pada sang istri untuk tenang.

“Altezza, sayang. Sapa dulu kakek Zekai!” ucap Alvaro.

Namun Altezza masih diam mencerna, dia memang masih kecil. Namun instingnya sangat kuat, Altezza tahu kalau pria dengan rambut yang sudah memutih semua itu tidak menyukai keberadaan mama dan papanya di sana.

Altezza lantas maju dan mengulurkan tangannya pada kakek Zekai, pria berambut putih itu diam tidak membalas mengulurkan tangannya pada Altezza. Namun Altezza adalah Altezza, bocah tiga tahun tersebut adalah kombinasi karakter Alvaro yang alpha man dan Ayzel yang independen woman.

Kakek Zekai sampai membelalak saat tiba-tiba Altezza meraih tangannya, bocah itu mencium punggung tangan sang kakek. “Lama cekali, pegal ini tangan Ezza. Capek cekali belulucan cama olang dewaca itu, tantlum na lebih banak dari anak kecil. Katana di culuh copan, tapi olang dewaca cendili belsikap ncak copan. Bikin pucing,” Altezza langsung berlalu begitu saja, dia kembali duduk di lantai bersama sang aunty.

Ayah Devran masih diam, dia tidak ingin membuat mertuanya tersebut makin tantrum. Namun dalam hati dia tertawa saat melihat mertuanya tersebut terkejut dengan ucapan Altezza, bukan hanya ayah Devran. Alvin bahkan sudah tersenyum tipis. “Hebat kamu boy. Langsung kena skakmat itu si rambut putih,” monolognya dalam hati.

1
Mar lina
aku mampir, kak
a yulaela_fa(Ayu Anfi): terimaksih kk... smg tdkmengecewkn kk sbg pembaca nvlku🙏🙏💗
total 1 replies
lyla lafiya
👍
a yulaela_fa(Ayu Anfi): trmksh kk❤️
total 1 replies
partini
ini nanti yg bucin duluan siapa yah
tapi aku suka gaya Nana sih
partini: dua"nya Thor boleh"
total 2 replies
partini
kakek benci banget sama nana aihhh no good suatu saat pasti bangga punya cucu mantu BADAS
a yulaela_fa(Ayu Anfi): wkwkw blm th dia siapa nana kan ya. tak kenal maka hrs kenalan 🤭
total 1 replies
Ira Indrayani
/Good//Good//Heart//Heart//Heart/
a yulaela_fa(Ayu Anfi): trmksh kk ❤️
total 1 replies
partini
tua Bangkotan emang susah karena udah alot
moga kena stroke 🤣🤣🤣🤣
a yulaela_fa(Ayu Anfi): ekwkkw. hrs dibasmi biar g ganggu ya ka🤭
total 1 replies
partini
na tadi kamu jawab aja ,,aku ga bisa
ga bisa nolak 🤣🤣🤣
partini: yah udah expired Thor 🤭
total 2 replies
partini
Alvin keren 👍👍👍 like someone yg selalu selangkah di depan
a yulaela_fa(Ayu Anfi): wkwkw sat set dia
total 1 replies
partini
so sad bnggt ini jirr mewek akuhhh
a yulaela_fa(Ayu Anfi): cup kkk jgn nangis... kita temani kawal Nana biar bhgia nnti ❤️❤️
total 1 replies
partini
Alvin selangkah di depan weh
a yulaela_fa(Ayu Anfi): gaspoll dia kk... sblm ke duluan kakeknya🤣
total 1 replies
partini
Alvin kaya kulkas 100 pintu
a yulaela_fa(Ayu Anfi): wkwk perlu di lelehin makanya dia kk 🫣🤣
total 1 replies
partini
dapat notif,,tapi mesti baca yg dulu" ini maklum Mak Mak memory cuma 4 GB gampang ful 🤣🤣🤣
a yulaela_fa(Ayu Anfi): wkwkwk...g hrs bc sequel yg lm kk. soalnya g trll ngaruh jg nnti
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!