NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Angin malam yang menerpa wajah Keyra terasa berbeda. Lebih tajam, lebih tidak terduga, dan entah bagaimana, lebih nyata. Sepatu ketsnya menghantam aspal yang basah dengan irama yang tidak beraturan, mengikuti langkah Raka yang terpincang-pincang di depannya. Setiap bayangan pohon yang bergoyang karena angin membuatnya tersentak. Dulu, dalam putaran waktu yang berulang, dia tahu persis kapan kucing liar akan melintas atau kapan lampu jalan di persimpangan ketiga akan berkedip mati.

Sekarang? Dia tidak tahu apa-apa. Lampu jalan itu tetap menyala terang, dan tidak ada kucing yang melintas. Hal-hal sepele ini, yang seharusnya tidak berarti, mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh sistem sarafnya.

"Belok kiri di depan," perintah Raka, suaranya terdengar terjepit menahan sakit. Tangan kanannya yang terbakar dibalut asal-asalan dengan sobekan kaos, tapi darah dan cairan luka bakar mulai merembes keluar.

Mereka berbelok masuk ke sebuah gang sempit di belakang deretan ruko tua yang sudah lama ditinggalkan pengembangnya. Bau sampah basah dan oli bekas menyeruak. Keyra menahan napas, matanya liar menyapu sekeliling. "Raka, lo yakin ini tempatnya? Ini kelihatan kayak tempat orang buang mayat."

"Justru itu poinnya. Nggak ada yang mau ke sini kecuali terpaksa," Raka berhenti di depan sebuah pintu besi berkarat yang separuh tertutup tanaman liar. Dia merogoh saku celananya dengan tangan kiri, mengeluarkan kunci pipih yang terlihat aneh. "Bantu gue. Tangan kanan gue nggak bisa dipake muter gembok."

Keyra maju, tangannya gemetar saat mengambil kunci itu. Dia memasukkannya ke lubang gembok besar di bagian bawah pintu. *Klik.* Bunyi besi beradu itu terdengar terlalu keras di telinganya. Pintu terbuka dengan derit panjang yang menyakitkan.

Di dalam, aroma debu dan kertas tua menyambut mereka. Raka segera masuk, menyalakan sakelar di dinding. Lampu neon berkedip dua kali sebelum menerangi ruangan itu dengan cahaya putih yang menyilaukan.

Itu bukan gudang kosong. Itu adalah bengkel elektronik yang disulap menjadi ruang arsip. Ada tumpukan monitor tabung, kabel-kabel yang menjuntai seperti usus terburai, dan papan tulis putih penuh coretan yang sudah setengah terhapus. Di sudut ruangan, ada sofa kulit sobek dan kotak P3K yang tertempel di dinding.

"Kunci pintunya, Key. Geser palang besinya," instruksi Raka sambil berjalan lurus menuju wastafel kotor di sudut ruangan. Dia mendesis keras saat air keran menyentuh lukanya.

Keyra melakukan apa yang diperintahkan, tapi setelah palang besi terpasang, kakinya terasa lemas. Dia merosot duduk di lantai yang dingin, memeluk lututnya. Jam di dinding menunjukkan pukul 01:15.

Satu jam lima belas menit di masa depan yang asli.

Jantungnya berdegup kencang, bukan karena adrenalin sisa pelarian tadi, tapi karena keheningan. Tidak ada suara *reset*. Tidak ada visi yang memberitahunya bahwa besok pagi dia akan sarapan nasi goreng buatan ibunya. Dia tidak tahu apakah dia akan sarapan besok. Dia tidak tahu apakah ibunya baik-baik saja di rumah.

"Key?" panggil Raka. Cowok itu sudah duduk di sofa, kotak P3K terbuka di sampingnya. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Gue butuh bantuan lo buat perban ini. Gue nggak bisa ngiketnya sendiri pakai satu tangan."

Keyra tidak menjawab. Matanya menatap kosong ke arah tumpukan monitor mati.

"Keyra!" bentak Raka, lebih keras.

Gadis itu tersentak, menoleh dengan mata terbelalak. Napasnya mulai pendek-pendek. "Gue... gue nggak tahu apa yang harus gue lakuin, Ka. Gue nggak punya skripnya."

"Skrip apa?" Raka mengerutkan kening, menahan perih saat menuangkan antiseptik.

"Skrip hidup gue!" Keyra berdiri tiba-tiba, mondar-mandir di ruang sempit itu. Tangannya menjambak rambutnya sendiri frustrasi. "Biasanya gue tahu! Gue tahu kalau gue bakal kesandung di tangga sekolah. Gue tahu guru matematika bakal ngadain kuis dadakan. Gue tahu Julian bakal nyerang di gudang jam dua belas malam! Tapi sekarang? Gue nggak tahu apa-apa!"

Dia menunjuk ke arah pintu besi. "Gimana kalau di balik pintu itu ada polisi? Atau anak buah Julian? Gimana kalau pas kita keluar nanti, ada mobil yang nabrak kita? Gue buta, Raka! Gue berasa jalan di pinggir jurang dengan mata tertutup!"

Kepanikan itu nyata. Selama berbulan-bulan, Keyra hidup dengan jaring pengaman bernama 'pengulangan'. Dia bisa membuat kesalahan fatal dan memperbaikinya di putaran berikutnya. Rasa aman semu itu kini ditarik paksa darinya, menyisakan kerentanan yang mengerikan.

Raka tidak langsung menjawab. Dia membiarkan Keyra meluapkan histerianya sampai gadis itu berhenti karena kehabisan napas. Kemudian, dengan tenang namun tegas, Raka berkata, "Sini."

"Gue nggak bisa..."

"Sini, Keyra. Perban tangan gue. Sekarang. Itu satu-satunya hal yang lo tahu pasti harus lo lakuin saat ini."

Keyra menelan ludah, perlahan mendekat. Tangannya masih gemetar saat mengambil gulungan perban. Dia melihat luka bakar di punggung tangan Raka. Kulitnya melepuh merah dan hitam. Luka itu nyata. Dan tidak akan hilang saat matahari terbit.

"Ini bakal berbekas selamanya, ya?" bisik Keyra, mulai membalut luka itu dengan hati-hati.

"Iya. Itu namanya konsekuensi," jawab Raka datar, matanya mengawasi setiap gerakan Keyra. "Selamat datang di dunia nyata, Tuan Putri Penjelajah Waktu. Di sini, kalau kita jatuh, kita berdarah. Kalau kita salah ambil keputusan, kita nanggung akibatnya seumur hidup. Nggak ada tombol *load game*."

"Lo nggak perlu sekejam itu ngingetinnya," gumam Keyra, mengikat simpul terakhir.

"Gue perlu," sanggah Raka. Dia menggerakkan jari-jarinya sedikit, meringis, lalu menatap Keyra tajam. "Karena kalau lo terus-terusan panik nyari 'bocoran soal' buat masa depan, kita bakal mati beneran dalam waktu kurang dari 24 jam. Julian sekarang lagi bebas di luar sana dengan koper yang entah isinya apa. Dia nggak butuh prediksi masa depan buat ngehancurin kita. Dia punya rencana, dan kita nggak."

Keyra terdiam. Sensasi kain kasa di jarinya, bau obat merah, dan tatapan tajam Raka perlahan menariknya kembali dari jurang kepanikan. Raka benar. Ketidaktahuan ini menakutkan, tapi juga membebaskan. Jika dia tidak tahu masa depan, berarti Julian juga tidak bisa memprediksi langkahnya semudah dulu.

"Jadi, apa rencana kita?" tanya Keyra akhirnya, suaranya lebih stabil meski masih terdengar lelah.

Raka menyandarkan punggungnya ke sofa, menunjuk ke papan tulis putih dengan dagunya. "Kita analisis apa yang kita punya. Kita buta soal masa depan, tapi kita punya data masa lalu yang Julian kira sudah hangus terbakar."

Keyra menoleh ke papan tulis itu. Masih kosong, menunggu untuk diisi. Sama seperti hari esoknya.

"Lo bilang Julian bawa koper," kata Raka, matanya mulai kembali ke mode detektif meski fisiknya lemah. "Gudang itu cuma pengalihan. Dia mau ngambil sesuatu yang disembunyikan di sekolah sebelum polisi datang. Apa yang cukup penting sampai dia harus bakar satu gedung buat nutupin jejaknya?"

"Dokumen?" tebak Keyra, berjalan mendekati papan tulis, mengambil spidol hitam yang tergeletak di sana.

"Atau bukti. Sesuatu yang mengikat dia dengan 'Penyebab Awal'," sahut Raka. "Ingat, Key. Garis waktu ini terbentuk karena ada anomali. Julian bukan sekadar penjahat biasa. Dia tahu tentang lo. Dia tahu tentang putaran waktu. Yang artinya, dia mungkin punya catatan tentang itu."

Keyra menulis kata 'KOPER' besar-besar di papan tulis. Tinta spidol itu hitam pekat di atas permukaan putih. Itu adalah kata pertama dalam bab baru hidupnya.

"Kita harus cari tahu isi koper itu," kata Keyra, tekad mulai menggantikan rasa takut di dadanya. "Tanpa contekan. Tanpa cheat."

"Manual. Cara lama," Raka menyeringai tipis, meski wajahnya masih menahan sakit. "Besok kita mulai lacak jejak digitalnya. Julian boleh pinter main api, tapi jejak data nggak bisa dibakar."

Keyra menatap tulisan di papan itu, lalu beralih ke jendela kecil di bagian atas dinding yang memperlihatkan langit malam yang gelap gulita. Wilayah tanpa peta. Hutan belantara tanpa kompas.

Dia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara apek ruangan itu. Untuk pertama kalinya, udara itu terasa seperti kebebasan. Mengerikan, berbahaya, tapi miliknya sepenuhnya.

"Oke," ucap Keyra pelan. "Ayo kita hadapi hari esok yang brengsek ini."

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!