Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.
Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.
Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab: 2
Koridor SMA Garuda sore itu terasa lebih padat dari biasanya. Berita tentang "Insiden Soto" di kantin telah menyebar lebih cepat daripada kecepatan cahaya, bermutasi menjadi berbagai versi yang tidak masuk akal. Ada yang bilang Keyra menyatakan cinta pada Raka dengan kuah soto, ada yang bilang Keyra kesurupan penunggu pohon beringin, dan ada juga yang berasumsi bahwa itu adalah bentuk tawuran gaya baru.
Keyra berjalan membelah kerumunan dengan wajah datar. Di kehidupan ke-45 ini, urat malunya sudah putus total. Dia tidak peduli dengan bisik-bisik tetangga atau tatapan aneh adik kelas. Pikirannya sibuk menganalisis data baru: Raka Mahendra.
Satu variabel itu mengubah segalanya. Jika Raka ingat, atau setidaknya memiliki insting tentang "pengulangan", maka Keyra punya teman bermain. Atau musuh yang sepadan. Keduanya terdengar jauh lebih menarik daripada sekadar menuruti naskah takdir yang membosankan.
Baru saja Keyra hendak berbelok menuju gerbang sekolah untuk pulang, sebuah tangan menahan lengannya. Cengkeraman itu tidak kasar, tapi tegas. Terukur. Sopan, namun menuntut perhatian.
Keyra berhenti dan menoleh. Dia sudah tahu siapa pemilik tangan itu bahkan sebelum melihat wajahnya. Aroma parfum mahal yang tidak menyengat, lengan kemeja yang digulung rapi hingga siku, dan aura kepemimpinan yang memancarkan silau menyebalkan.
Julian Abimanyu. Ketua OSIS. Pangeran sekolah. Tokoh utama pria dalam skenario asli novel ini.
"Keyra, bisa bicara sebentar?" suara Julian terdengar bariton dan berwibawa. Di belakangnya, dua anggota OSIS lain berdiri setia seperti ajudan kerajaan.
Dalam 44 kehidupan sebelumnya, adegan ini selalu terjadi. Julian akan meminta Keyra menjadi sekretaris bayangan untuk proposal Pentas Seni (Pensi) akbar tahunan. Keyra yang naif di kehidupan pertama akan tersipu malu dan mengangguk. Keyra di kehidupan ke-10 akan menerima dengan harapan bisa dekat dengan Julian. Keyra di kehidupan ke-30 akan menerima karena malas berdebat.
Tapi Keyra di kehidupan ke-45 sedang dalam *mood* ingin membakar dunia.
Keyra melepaskan tangannya dari cengkeraman Julian dengan gerakan pelan namun menolak. "Gue mau pulang, Jul. Minggir."
Julian sedikit terkejut. Alis tebalnya terangkat satu milimeter—ekspresi maksimal dari seorang Julian yang selalu menjaga citra. Biasanya, tidak ada yang menolak Julian. Apalagi perempuan sependiam Keyra (menurut data lama Julian).
"Ini penting, Key," Julian kembali melangkah, menghalangi jalan Keyra. Tubuhnya yang tinggi menciptakan bayangan yang menutupi wajah gadis itu. "Lo tahu kan, sebentar lagi kita ada Pensi Tahunan? Gue liat nilai Bahasa Indonesia dan penyusunan tata bahasa lo di tugas Pak Bambang kemarin. Sempurna. Rapi banget."
"Terus?" tanya Keyra singkat.
"Gue butuh lo masuk tim inti. Jadi Sekretaris Dua," Julian tersenyum, senyum andalan yang biasanya membuat siswi-siswi histeris. "Sekretaris Satu, Siska, lagi keteteran. Gue butuh orang yang teliti buat revisi proposal ke Dinas Pendidikan dan sponsor. Gue percaya sama lo."
Kerumunan murid yang hendak pulang mulai melambat. Mereka berhenti, membentuk lingkaran penonton tak kasat mata. Drama antara Ketua OSIS dan siswi yang baru saja bikin onar di kantin? Ini tontonan *prime time*.
Keyra menatap Julian. Dulu, dia pikir Julian adalah cowok sempurna. Sekarang, dia hanya melihat Julian sebagai manajer proyek yang manipulatif. Julian tidak mencari partner, dia mencari kuli ketik gratisan yang bisa diperah atas nama "pengabdian sekolah".
"Gue nolak," jawab Keyra. Singkat, padat, jelas.
Keheningan menyelimuti koridor. Beberapa murid menahan napas. Menolak Julian di depan umum adalah hal tabu di SMA Garuda.
Senyum Julian memudar sedikit, tapi dia segera memperbaikinya. "Mungkin lo belum paham benefitnya. Ini bakal bagus buat portofolio lo masuk kuliah nanti. Sertifikat kepanitiaan OSIS itu..."
"Julian," potong Keyra, nadanya mulai terdengar bosan. "Lo nyari sekretaris atau nyari budak korporat? Gue sekolah buat belajar, bukan buat ngerjain *typo* proposal lo yang tebelnya kayak dosa koruptor itu."
Suara tersentak terdengar dari kerumunan. *Gasp* massal.
Wajah Julian mulai mengeras. Egonya tergores. "Ini demi nama baik sekolah, Keyra. Lo nggak punya rasa memiliki sama almamater?"
"Manipulasi lo basi," Keyra melipat kedua tangannya di dada, menatap Julian tepat di mata. Tatapan yang biasanya tunduk itu kini tajam setajam silet. "Lo butuh gue karena Siska kerjanya nggak becus dan lo gengsi ngakuin kalau tim pilihan lo gagal. Jangan bawa-bawa nama sekolah buat nutupin ketidakmampuan lo me-manage tim."
Skakmat.
Wajah Julian memerah padam. Dia tidak pernah dipermalukan seperti ini. Citranya sebagai pemimpin yang sempurna retak seketika oleh kalimat tajam seorang gadis yang selama ini dianggap figuran.
"Jaga bicara lo," desis Julian, suaranya merendah, kehilangan wibawa buatannya. "Lo pikir lo siapa nolak tawaran gue?"
"Gue Keyra. Dan gue nggak minat jadi babu OSIS. Cari orang lain yang masih silau sama jabatan lo," Keyra melangkah maju, menabrak bahu Julian dengan sengaja saat melewatinya.
Suasana tegang itu memuncak. Julian mengepalkan tangan, tampak ingin membalas tapi tertahan oleh citra dirinya. Keheningan itu begitu mencekam hingga suara jarum jatuh pun mungkin akan terdengar seperti bom.
Namun, yang memecah keheningan bukanlah jarum.
"BWAHAHAHAHA!"
Sebuah tawa meledak. Keras, lepas, dan sangat tidak sopan. Tawa itu menggema di lorong, memantul di dinding-dinding sekolah, meruntuhkan ketegangan yang dibangun Julian.
Semua kepala menoleh ke sumber suara. Di atas railing lantai dua, duduk dengan santai sambil mengayunkan kaki, ada Raka Mahendra. Dia masih memegang bola basket di satu tangan, sementara tangan lainnya memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.
"Anjir! Sadis!" seru Raka di sela-sela tawanya, menunjuk ke bawah, tepat ke arah Julian yang mukanya sudah seperti kepiting rebus. "Woy, Pak Ketua! Denger tuh! *'Manipulasi lo basi'*. Hahaha! Sumpah, itu kalimat penolakan paling epik yang pernah gue denger seumur hidup gue!"
Raka menyeka sudut matanya yang berair karena tawa. Dia menatap Keyra yang sudah berjalan menjauh, lalu berteriak lantang, tidak peduli sopan santun. "Woy, Nona Peramal! Lo keren banget! Asli! Gue fans lo sekarang!"
Julian mendongak, menatap Raka dengan tatapan membunuh. "Turun lo, Raka! Ini bukan urusan lo!"
"Yaelah, baperan amat," Raka melompat turun dari railing setinggi dua meter itu dengan pendaratan mulus—lagi-lagi pamer refleks atletis yang tidak masuk akal. Dia mendarat tepat di antara Julian dan kerumunan, seolah menjadi perisai bagi Keyra yang terus berjalan tanpa menoleh.
Raka menepuk pundak Julian, cukup keras hingga membuat sang Ketua OSIS terhuyung sedikit. "Udah lah, Jul. Terima nasib. Hari ini bukan hari lo. Lo ditolak mentah-mentah, di depan umum, sama cewek yang tadi pagi mau nyiram gue pake soto. Saran gue? Pake es batu, kompres tuh ego. Bengkak kayaknya."
Teman-teman Raka yang baru muncul dari tangga ikut terkekeh, membuat posisi Julian semakin terpojok.
Keyra mendengar keributan itu di belakang punggungnya. Sudut bibirnya terangkat tipis. Sangat tipis.
Dia tidak butuh pembelaan Raka. Tapi harus diakui, tawa Raka adalah *soundtrack* terbaik untuk menutup hari yang melelahkan ini. Skenario "Gadis Pendiam yang Patuh" sudah resmi dibakar.
Julian menatap punggung Keyra dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada amarah, tapi ada juga rasa penasaran yang baru tumbuh. Garis waktu telah bergeser. Keyra bukan lagi sekadar nama di daftar absensi. Dia adalah gangguan. Dan bagi Julian yang perfeksionis, gangguan harus disingkirkan—atau ditaklukkan.
Sementara itu, Raka menatap Keyra dengan binar mata yang berbeda dari biasanya. Itu bukan tatapan iseng. Itu tatapan pengakuan.
"Menarik," gumam Raka pelan, bola basket berputar di ujung jarinya. "Sangat menarik."