Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deklarasi Memuaskan
Acara amal malam itu adalah puncak kemewahan. Aula besar yang dipenuhi lampu kristal dan wangi bunga lily yang terlalu menyengat seharusnya membuat siapa pun merasa nyaman, tapi tidak bagi Noah Sebastian Willey.
Di tengah kerumunan pengusaha sukses yang sibuk memamerkan jam tangan seharga satu unit apartemen, Noah justru memilih menyendiri di salah satu meja pojok. Alih-alih memegang gelas champagne, dia justru menatap layar iPad-nya, berusaha fokus memeriksa laporan tugas mahasiswanya yang berantakan.
"Viona mana?" tanya Daniel, sang ayah, yang sempat melintas.
"Katanya masih ada rapat di kantor, Pa. Bentar lagi sampai," jawab Noah singkat. Jujur, meski dia kesal setengah mati pada Viona, dalam keramaian seperti ini, dia mendadak merindukan kehadiran gadis itu. Viona adalah social butterfly yang bisa mencairkan suasana kaku, sementara Noah hanyalah dinding es yang tidak tahu cara berbasa-basi.
Namun, ketenangannya pecah saat suara bisikan dari meja sebelah, yang dipenuhi anak-anak pebisnis sebayanya, masuk ke telinganya tanpa permisi.
"Gue denger ya, dia udah tidur sama puluhan cowok. Makanya sekarang Tante Rose mati-matian mau nikahin anaknya secepat mungkin," bisik seorang pria dengan setelan jas biru elektrik yang kelihatan terlalu percaya diri.
Noah masih diam, jarinya berhenti menari di atas layar iPad.
"Lagian gue nggak habis pikir deh, di antara kita semua dia yang paling kaya, tapi gayanya norak abis! Masa mau bergaul sama kalangan bawah? Dih! Nggak banget!" sahut temannya sambil tertawa kecil yang terdengar sangat merendahkan.
"Iya, kan? Look doang mahal, tapi nggak kebayang udah berapa cowok yang pernah cium dia di balik club malam. Gue sih ogah kalau dijodohin sama barang sisa kayak gitu."
Krak.
Noah baru saja meletakkan iPad-nya ke atas meja dengan tekanan yang sedikit terlalu keras. Suara itu cukup untuk membuat obrolan di meja sebelah terhenti sejenak.
Darah Noah mendidih. Dia tahu Viona liar, dia tahu Viona suka berpesta, tapi dia tahu betul kalau Viona tidak semurah itu. Viona yang dia kenal sejak orok adalah gadis yang lebih suka tertawa keras sampai tersedak daripada menggoda pria untuk dibawa ke ranjang.
Noah berdiri, merapikan jasnya dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh ancaman. Dia melangkah mendekat ke arah meja sumber suara tersebut, mengabaikan fakta bahwa dia adalah seorang dosen yang seharusnya menjaga wibawa.
"Kayaknya telinga saya butuh dibersihkan," suara Noah rendah, dingin, dan menusuk. Dia menatap pria berbaju biru elektrik itu tepat di matanya. "Bisa kalian ulangi lagi bagian mana dari nama Skylar yang menurut kalian... 'norak'?"
Suasana di pojok meja itu makin panas. Noah melangkah satu kaki lebih dekat, membuat pria-pria di depannya ciut seketika.
"Dan dari mana informasi kalau Viona udah cium banyak cowok di club?" tanya Noah lagi, suaranya naik satu tingkat, tajam menyerang. "Itu cuma spekulasi kalian saja. Karena apa? Karena mungkin itu yang kalian lakukan kalau di sana, jadi kalian menyamaratakan semua orang sama rendahnya dengan kalian."
Pria berjas biru itu mencoba tertawa hambar, meski tangannya sedikit gemetar memegang gelas. "Kenapa lo sewot amat sih? Lagian kita kan cuma ngomongin fakta yang beredar."
Noah mendengus sinis. Dia tidak peduli lagi dengan citranya sebagai dosen yang sopan atau anak pengusaha yang tenang. Ada sesuatu yang jauh lebih besar yang harus dia jaga malam ini.
"Lo tanya kenapa gue sewot?" Noah menarik napas panjang, lalu dengan suara yang menggema ke seluruh penjuru aula, dia melanjutkan.
"Gue calon suaminya!"
Detik itu juga, musik klasik yang mengalun pelan seolah berhenti di udara. Denting sendok dan garpu yang tadinya riuh mendadak lenyap. Ratusan pasang mata di aula amal itu kini tertuju pada satu titik: Noah Sebastian Willey yang berdiri tegak dengan tatapan membara.
Dan tepat di depan pintu masuk aula, seorang gadis mematung.
Viona Jessamine Skylar berdiri di sana dengan gaun merah maroon yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya disanggul modern, memperlihatkan leher jenjangnya yang indah. Dia baru saja sampai, masih terengah sedikit karena habis berlari dari parkiran, tapi langkahnya mati total mendengar teriakan Noah.
Viona berkedip berkali-kali. Dia nggak salah dengar, kan? Noah, si dosen kaku yang kemarin nolak mentah-mentah ide pernikahannya, baru saja mengumumkan status mereka di depan seluruh elit bisnis kota ini?
Noah yang menyadari kehadiran Viona langsung mengalihkan pandangannya. Amarah di matanya mendadak luluh, berganti dengan kilat kecemasan.
Sementara itu, Mama Rose dan Bunda Clara yang berdiri tidak jauh dari sana saling melirik, lalu tersenyum penuh kemenangan. Satu masalah selesai dengan cara yang paling tidak terduga.
Noah tidak memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk bertanya. Tangannya langsung menyambar pergelangan tangan Viona dan menariknya keluar dari aula yang pengap dengan aroma kepalsuan itu. Langkahnya lebar-lebar, membawa Viona ke balkon gedung yang sepi, tempat angin malam bisa sedikit mendinginkan kepalanya.
Begitu mereka sampai di luar, Noah melepaskan tangan Viona. Napasnya masih memburu, bahunya naik turun menahan emosi yang belum benar-benar surut.
"Belajarlah untuk menjaga diri sendiri, Vio!" sentak Noah, suaranya sedikit parau. "Lo dijelekin mati-matian sama orang-orang di sana. Mereka ngomongin lo seolah lo itu sampah, sementara lo malah asyik kerja dan telat datang seolah nggak ada apa-apa!"
Viona terdiam sejenak. Dia merapikan gaunnya yang sedikit berantakan karena ditarik Noah tadi. Alih-alih marah atau menangis, Viona justru menatap langit malam dengan ekspresi yang sangat tenang, terlalu tenang sampai Noah merasa dadanya sesak.
"Biar aja mereka mau ngomong apa, Noah," sahut Viona pelan. Dia menyandarkan kedua lengannya di pagar balkon, membiarkan angin malam memainkan helai rambutnya yang lepas. "Entah apa pun yang mereka inginkan, tapi gue yakin, gue nggak perlu menunjukkan yang baik-baik ke orang lain."
Viona menoleh, menatap Noah dengan senyum tipis yang terasa getir. "Gue nggak butuh validasi dari orang-orang yang bahkan nggak tahu gimana rasanya jadi gue. Kalau mereka mau anggap gue buruk, ya silakan. Itu masalah mereka, bukan masalah gue."
Noah tertegun. Kata-kata Viona barusan menghantamnya lebih keras daripada gosip murahan di dalam tadi. Dia terbiasa melihat Viona yang berisik, manja, dan menyebalkan. Tapi malam ini, di bawah sinar bulan yang redup, dia baru sadar kalau "kenakalan" Viona mungkin hanyalah benteng yang dia bangun supaya nggak ada orang yang bisa masuk dan menyakitinya.
"Tapi mereka bawa-bawa harga diri lo, Vio," bisik Noah, kali ini suaranya melunak. Dia melangkah mendekat, berdiri di samping Viona.
"Harga diri gue nggak ditentukan sama mulut mereka, Noah," jawab Viona mantap. Dia menatap mata Noah lurus-lurus. "Tapi... tadi lo bilang apa? Calon suami?"
Viona menaikkan satu alisnya, senyum liciknya kembali muncul, sisi Viona yang biasa Noah kenal. "Gengsi ya, bilang mau nikah sama gue, tapi di depan umum malah diteriak-teriakin?"
Noah membuang muka, mendadak salah tingkah. "Gue cuma... refleks. Jangan GR."
"Oke! Karena lo udah deklarasiin pernikahan itu di depan semua orang, gue anggap lo udah setuju, ya?" ucap Viona dengan nada kemenangan yang nggak bisa disembunyikan.
Noah nggak langsung jawab. Dia masih berdiri mematung, menatap lurus ke arah lampu-lampu kota dari balkon. Tangannya yang mengepal di atas pagar balkon perlahan mulai rileks, tapi hatinya masih panas.
Dalam hati, Noah masih geram. Bayangan wajah-wajah sok tahu di dalam aula tadi yang meremehkan Viona masih berputar di kepalanya. Dia nggak habis pikir, bagaimana bisa orang-orang yang mengenakan jas dan gaun seharga mobil itu punya mulut yang lebih kotor dari penghuni selokan.
Viona yang melihat Noah diam saja, melangkah mendekat. "Noah? Kok diem? Takut ya, omongan lo sendiri jadi bumerang?"
Noah menoleh, menatap Viona dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada campuran antara kesal, lelah, dan rasa ingin melindungi yang dia sendiri belum paham dari mana asalnya.
"Gue nggak takut," sahut Noah akhirnya, suaranya rendah tapi tegas. "Gue cuma nggak suka ada orang yang ngerasa punya hak buat nginjek-nginjek harga diri lo seolah-olah mereka paling suci."
Viona tertegun sejenak. Dia nggak nyangka kalau alasan Noah se-personal itu.
“Jadi..." Viona menjeda kalimatnya, mencoba mengetes ombak. "Kesepakatan kita jalan? Lo dapet proyek Singapura, gue dapet kartu kredit gue balik, dan orang-orang itu bakal tutup mulut karena gue punya 'calon suami' sesempurna lo?"
Noah menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan. Dia tahu ini adalah titik di mana dia nggak bisa balik lagi. Kalau besok pagi berita ini sampai ke telinga Bunda dan Mama Rose, dan pasti akan sampai, maka persiapan pesta pernikahan bakal langsung dimulai saat itu juga.
"Dua syarat," ucap Noah sambil menatap Viona tajam.
"Apa?" tanya Viona cepat.
"Pertama, berhenti ke club malam kalau cuma buat mabuk nggak jelas. Dan kedua..." Noah menggantung kalimatnya sebentar, matanya menatap mata Viona dalam-dalam. "Kasih tahu gue kalau ada orang lain yang berani ngomong sampah lagi soal lo. Gue nggak mau denger itu dari meja sebelah lagi."
Viona terdiam, ada rasa hangat yang asing menjalar di dadanya. "Cuma itu?"
"Cuma itu."
"Oke. Deal," sahut Viona mantap. Dia menjulurkan tangan kecilnya, mengajak bersalaman sebagai tanda "perjanjian bisnis" mereka resmi dimulai.
Noah menatap tangan itu sebentar, lalu menyambutnya. Genggaman tangan itu terasa hangat, sangat kontras dengan angin malam yang dingin. Tanpa mereka sadari, ini bukan lagi sekadar soal proyek atau kartu kredit. Ini adalah awal dari sesuatu yang bakal jauh lebih rumit dari sekadar sandiwara.