Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Gengsi
Lana sampai melongo melihat ini. "Eh ...." Matanya antara malu tapi ingin, melihat tubuh suaminya yang atletis.
"Lana, lihat air di kamar mandi dan siapkan sabun untuk mandi!" ucap Fian lagi.
Wanita itu bergegas ke kamar mandi tapi semuanya telah tertata rapi di sana. Lalu ia harus bagaimana? Bathtub pun tengah diisi.
Fian ternyata digendong perawatnya masuk ke dalam kamar mandi. Lana hanya bisa menelan ludah melihat tubuh Fian yang tanpa busana dan kemudian ditaruh di dalam bak mandi yang telah terisi air.
"Hadi, kamu tunggu di luar, biar yang di sini istriku yang urus."
"Iya, Pak." Perawat itu keluar.
"Lana! Kenapa kamu bengong saja? Mana sabunku?" Fian mengulurkan tangan.
"Eh, iya." Lana mencari di rak dan menemukannya. "Ini, yang sabun cair ya."
"Tuang ke sponge dan berikan padaku."
Lana menurut. Namun, selagi melangkah, kakinya tersandung keset ketika ingin menyerahkan sponge itu. "Agh!"
Wajah Lana jatuh masuk ke dalam air tepat di pangkuan Fian. Wanita itu segera mengangkat wajahnya dari dalam air karena terkejut. Berusaha bernapas. Bahkan hidungnya sampai kemasukan air karena panik. "Wuaah ...!"
"Istri mesum. Suka lihat ituku ya?" Fian mengusap wajahnya yang ikut basah dengan kesal karena kena cipratan air.
"Apa!?" Lana, wajahnya basah beserta kerudungnya, masih bingung dengan apa yang dibicarakan suaminya hingga sedetik kemudian. "Eh, enggak! Aku ke sandung. Demi Allah. Ya Tuhan ...."
Pria itu malah tersenyum miring. "Bohong," ucapnya santai.
"Beneran, ya Allah ... aku gak lihat apa-apa. Aku udah panik duluan! Takut gak bisa napas, aku, Pak!"
"Kenapa memanggilku "Pak"? Aku 'kan suamimu?" ucap Fian dengan bola mata menatap dingin.
Lana jadi salah tingkah. "Eh, iya. Lalu aku harus panggil apa? "Mas" ya?" Lana mengusap wajahnya yang basah.
"Itu lebih baik. Di luar kita harus memperlihatkan kalau kita memang sepasang suami istri. Mmh, memang kamu gak bisa berenang?" Gerakan Fian begitu tenang.
"Enggak."
Fian mengambil sponge yang mengambang di air dan mulai meremasnya hingga busa keluar lalu menggosokkan ke tubuh. "Biasanya orang kampung pintar berenang."
Mulut Lana mengerucut sambil menyipitkan mata. "Tapi aku, 'kan gak tinggal di dekat sungai."
"Kupikir semua orang kampung pintar berenang."
"Tidak begitu, Pak, eh, Mas."
"Coba kamu gosok dulu punggungku." Fian menyerahkan sponge itu pada Lana.
"Eh, iya." Lana lalu bergeser dari jongkoknya ke belakang punggung suaminya. Kamar mandi itu cukup besar dan bathtub itu berada di tengah-tengah sehingga Lana bisa duduk di belakang Fian untuk mengusap punggungnya.
Punggung pria itu tegap dengan bahu kokoh. Dengan hati-hati ia menyentuh punggung pria itu dengan sponge, lalu mengusapnya perlahan. Baginya, adalah hal baru menggosok punggung pria yang menjadi suaminya ini. Jantungnya seketika berdetak cepat saat sponge itu menyentuh punggung laki-laki ini. Dengan pelan ia menyabuni punggung Fian yang entah kenapa membuatnya senang. "Mau shampo juga?"
"Eh ... rambutku sudah keburu basah sama kamu, tapi aku mau rambutku segera kering karena sebentar lagi aku mau tidur."
"Ada hairdryer, kan? Biar nanti aku keringkan."
"Ada. Punya Lynda. Ambil saja di laci meja riasnya."
Lana kemudian lanjut menyampo rambut suaminya. Pria itu tampaknya tidak protes. Bahkan ketika Lana menyiram tubuh pria itu dari atas dengan kran shower yang ditarik ke arah pria itu. Setelah itu membuang air yang ada di dalam bak dengan menarik penutup bak yang ada di dasar.
"Tolong panggilkan Hadi. Setelah itu kamu mandi. Bajumu sudah basah begitu."
Lana melihat bajunya yang mulai basah karena memandikan Fian, ditambah kerudungnya juga basah karena jatuh tadi. Segera ia keluar memanggil Hadi sambil mengambil pakaian ganti untuk mandi. Ia langsung masuk ketika Hadi keluar menggendong Fian yang sebagian tubuhnya telah ditutupi handuk. "Tunggu ya, aku mandi sebentar."
Sehabis mandi, Lana langsung menghampiri suaminya. Pria itu memang telah menunggunya di ranjang.
Setelah mengambil hairdryer, Lana naik ke atas ranjang, memasangnya colokan, lalu menyalakan hairdryer. Terdengar suara mesin berdengung. Bermodal jari, ia menyisir rambut Fian sambil mengeringkannya.
Awalnya pria itu merasa aneh karena Lana tak menggunakan sisir, tapi lama kelamaan nyaman juga. Dengan jari, kepalanya terasa dipijat, malah terasa lembut di kepala. Jari jemari ramping itu bergerak lincah di kepala Fian. Ia membiarkan wanita itu mengeringkan rambutnya dengan caranya sendiri.
Terdengar pintu diketuk.
"Masuk!" teriak Fian.
Kemudian masuk seorang pembantu membawa sebuah baki ke dalam kamar. Baki berisi makanan itu diletakkan di atas meja dekat sofa. "Ini makan malamnya, Pak."
"Mmh."
Pembantu itu kemudian pergi sambil menutup pintu. Mata Lana terlihat cemerlang, saat makanan datang dan ditaruh di atas meja. Perutnya langsung keroncongan. "Eh, rambutnya sudah kering. Sekarang kita makan malam dulu ya." Ia mematikan mesin hairdryer dan menggulungnya.
"Kamu saja, aku sudah ngantuk." Fian menarik selimutnya.
"Lho, aku makan sendiri? Bukannya ada makan malammu juga?"
"Nggak, aku gak mau." Fian merebahkan tubuhnya ke belakang.
Lama Lana berpikir, tapi akhirnya ia turun dan menghampiri meja. Ia kemudian makan, tak peduli suaminya tak ingin. Bukankah Fian sendiri yang bilang, harus mendengarkan kata-katanya?
Selagi Lana makan, Fian memperhatikan. Entah kenapa ia jadi tertarik makan, padahal sudah beberapa bulan ini ia malas makan malam kalau tidak benar-benar lapar. Melihat istrinya yang begitu lahap makan, ia jadi ingin makan. Namun, ia terlalu malu untuk mengakui ia ingin makan. Serasa menjilat ludah sendiri. Pria itu begitu ingin sampai kesal dan mulai memainkan laci meja nakas dengan ditarik dan didorong berulang kali.
Lana jadi terganggu. Ia berhenti makan dan melirik suaminya. "Apalagi ini? Bukankah tadi baik-baik saja? Kenapa sekarang jadi begini? Dia kesal, apa?" Diperhatikannya Fian yang masih membuka tutup laci meja yang berada di sebelahnya. Lana kembali berpikir. "Apa dia ngambek? Tapi ngambek apa?" Ia kembali fokus memperhatikan Fian. "Apa dia lapar? Perlu dibujuk? Hh, laki-laki ini ...." Lana bangkit dan mendatangi Fian. "Mas gak lapar?" tanyanya dengan suara rendah.
"Mmh?" Pria itu tampaknya setengah hati menjawab.
"Apa aku harus membujuknya?" "Mmh ... makan, yuk! Lauknya enak. Ada ayam goreng mentega dan sayur kangkung. Enak deh. Aku baru kali ini nyoba ayam goreng seenak ini."
Fian hanya melirik sekilas tapi tak menyahut.
"Apa aku bawa saja makanannya?" Berpikir begitu, Lana kembali ke mejanya. "Aku suapin ya." Ia kemudian membawa piring untuk Fian dan duduk di tepi ranjang.
Fian pun mencoba duduk. Terlihat pria itu gengsi karena tak mau menatap wajah Lana.
Lana mulai memisahkan daging dan mencampurnya dengan nasi dalam satu sendok. "Aa ...." Ia memperagakan membuka mulut.
Fian membuka mulutnya. Setelah masuk, dikunyahnya dengan pelan.
Lana tampak senang pria itu mau makan.
"Tolong bantalnya di belakang. Aku tidak bisa duduk lama."
"Oh, iya." Lana kemudian memadatkan beberapa bantal hingga pria itu bisa bersandar.
"Eh, minumku? Aku bisa makan sendiri, kok." Fian mengambil piringnya dari tangan sang istri.
Sedikit terkejut, Lana kemudian turun mengambil gelas minum suaminya. "Iya."
Tak lama Lana melihat sendiri pria itu makan sambil ia juga makan di meja pendek. Sedikit heran tapi ia bersyukur. Ia berharap suaminya cepat sembuh.
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp