Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.
Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.
Tak ada yang mengira.
apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 : Hal yang diperlukan, tapi terlupakan
Suasana kamar itu mendadak mencekam. Alexander menajamkan pandangan ke arah pintu, lalu berdiri dan menarik gagangnya. Pintu ia buka lebar, matanya menyisir lorong sunyi. Kosong. Tak seorang pun terlihat lewat. Keningnya berkerut, dadanya dipenuhi amarah seolah ada yang berani mempermainkannya.
“Keluar kau! Jangan sampai membuatku murka!” suaranya menggema keras, memantul di sepanjang lorong yang lengang.
Namun, jawaban tak kunjung datang. Hanya keheningan menekan, menutup seluruh ruang. Lorong itu memang jarang dilewati orang, setiap kamar dilengkapi peredam suara. Hatinya mulai bertanya, adakah semua ini berkaitan dengan kematian dokter Mily?
Kedua asistennya menghampiri, ikut menatap lorong kosong.
“Tuan, apakah anda melihat seseorang?” suara lirih terdengar penuh ragu.
Alexander menggeleng pelan, rahangnya mengeras. “Tak ada siapa pun.”
“Kalau begitu, siapa yang menutup pintu?”
Pertanyaan itu menancap di benaknya. Keanehan muncul tepat setelah mereka menemukan pita merah. Alexander sempat melirik tikungan di ujung lorong, sorot matanya penuh kewaspadaan. Ia menghela napas berat, lalu menutup pintu kembali.
“Tak ada apa-apa. Lanjutkan penyelidikan,” ucapnya tegas.
Tanpa ia sadari, di tikungan lorong, sesosok bayangan berdiri tenang. Siluet samar itu hanya diam, bibirnya terangkat menampilkan senyum puas, seolah rencana yang ia atur berjalan sempurna.
Ia berbalik, lalu menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Hari-hari kembali berjalan seperti biasa. Rumah sakit kembali dipenuhi pasien, aktivitas seakan tak pernah terganggu. Kabar kematian dokter Mily perlahan memudar, hanya jadi bisikan samar di sudut-sudut ruangan.
Di balik itu, penyelidikan terus berlangsung. Alexander bersama kedua asistennya mengumpulkan catatan, daftar nama, hingga aktivitas rekan-rekan almarhum.
Empat hari telah berlalu tanpa jawaban jelas. Siang ini, ia duduk di kantin, menatap kosong sarapan di depannya. Pikirannya masih buntu, tenggelam dalam lamunan yang terasa berat.
Hingga suara kursi berderit membuatnya terjaga. Seorang gadis muncul dan duduk di hadapannya. Wajah itu tak asing. Victoria.
Ia meletakkan sebuah bolpen hitam di meja, lalu mendorongnya ke arah Alexander. “Ini… ku kembalikan.”
Alexander menatap bolpen itu lama, keningnya berkerut. “Untuk apa?”
“Empat hari lalu aku menabrakmu. Bolpenmu terjatuh, patah saat terinjak. Aku mencarimu untuk meminta maaf, tapi tak pernah bertemu. Kemana saja kau?” tutur Victoria, suaranya datar namun tulus.
Alexander menahan diri, memilih tetap dingin. “Bukan urusanmu.”
Hening sempat tercipta. Victoria membuka bungkusan roti dari sakunya, mulai memakannya santai, seolah tak terusik oleh sikap dingin di hadapannya. Gerakannya yang sederhana justru membuat Alexander resah, mengingatkan bahwa gadis ini selalu hadir di saat yang tak ia harapkan.
Mencoba mengalihkan pikiran, Alexander melontarkan kalimat sinis. “Sudah berapa lama kau jadi dokter?”
Victoria menoleh singkat, lalu menjawab datar, “Aku bukan dokter. Aku residen tahun pertama.”
Jawaban itu membuat bibir Alexander melengkung sinis. “Pantas. Tak heran tingkahmu masih kekanak-kanakan dan bodoh.”
Victoria menarik napas panjang, menahan jengkel. Ia berdiri, tangannya meremas bungkus roti kosong. “Kau boleh bilang apa saja.”
Ia melangkah hendak pergi, namun suara dingin Alexander menghentikannya. “Mau kemana?”
Victoria menoleh, matanya menatap lurus. “Kembali ke IGD… mau ikut?”
Alexander tercekat. Sorot matanya melebar, tak menyangka gadis itu berani mengajaknya begitu saja. Ia hanya berdecak, menggeleng pelan, mencoba menutupi keterkejutannya.
“Pergilah sendiri, aku masih ada urusan.”
Victoria menarik napas panjang, seolah menahan kesal yang tak bisa ia keluarkan. Tatapannya terarah pada pria di depannya, yang masih sibuk dengan sarapan tanpa sedikit pun peduli. “Kalau kau benar-benar ingin tahu sesuatu, kenapa tidak periksa rekaman CCTV?”
Ucapannya membuat Alexander seketika terdiam. Kalimat sederhana itu seperti hantaman yang menyadarkannya akan celah besar yang ia abaikan. CCTV. Ya, ia sama sekali tak terpikir soal itu.
Sorot matanya berpindah pada gadis di hadapannya. Wajahnya terlihat begitu muda, polos, hampir seperti anak kecil yang belum mengenal dunia dengan baik. Namun di balik tatapan sederhana itu, ia merasakan sesuatu yang mengganggu, antara kecerobohan dan ketulusan yang membingungkan.
Alexander mendapati dirinya diliputi keraguan: apakah ia baru saja dipermainkan, atau gadis itu memang benar-benar jujur?