Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Udara di area parkir bawah tanah apartemen mewah itu terasa pengap dan dingin, namun tidak sedingin hati Jenny saat ini. Ia berdiri di balik pilar beton besar, tubuhnya bersembunyi di dalam kegelapan yang untungnya cukup pekat untuk menyamarkan keberadaannya. Di sampingnya, Romeo berdiri mematung, rahangnya mengeras, memberikan ruang bagi Jenny untuk melihat sendiri kenyataan pahit yang selama ini ia tolak mentah-mentah.
Di depan sana, hanya terpaut beberapa meter, mobil sedan hitam milik Jonathan terparkir. Mesinnya masih menyala halus. Jonathan keluar dari pintu kemudi, sementara Claudia turun dari pintu sebelah. Tidak ada lagi percakapan formal soal organisasi. Tidak ada lagi akting "sahabat terbaik" yang peduli.
Di bawah lampu neon parkiran yang berkedip redup, Jonathan menarik pinggang Claudia. Gadis itu tertawa kecil, suara tawa yang selama ini Jenny anggap sangat tulus, kini terdengar seperti suara iblis di telinganya. Jonathan—si kaku yang bahkan jarang memegang tangan Jenny di depan umum dengan alasan "menjaga martabat"—kini justru terlihat begitu agresif.
Lalu, kejadian itu terjadi. Di depan mata Jenny, Jonathan menunduk dan mencium Claudia dengan sangat dalam.
Deg.
Dunia Jenny seolah runtuh seketika. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. Kakinya melemas, memaksa tangannya berpegangan pada permukaan pilar yang kasar.
"Gila..." gumam Romeo sangat pelan, hampir tidak terdengar. Ia melirik Jenny yang wajahnya sudah sepucat kertas.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Jenny merogoh saku roknya. Ia mengeluarkan ponselnya. Layarnya yang terang terasa menyilaukan mata yang sudah mulai digenangi air mata. Sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa perih, ia mengarahkan kamera ponselnya ke arah dua orang itu.
Cekrek. Cekrek.
Beberapa foto terambil dengan jelas. Pencahayaan parkiran yang cukup terang membuat wajah Jonathan dan Claudia yang sedang berciuman terlihat sangat nyata. Tidak ada ruang untuk mengelak. Tidak ada logika Jonathan yang bisa mematahkan bukti digital ini.
"Gue bakal post dua hari lagi," bisik Jenny. Suaranya serak, pecah karena sesak yang menghimpit dadanya. "Dua hari lagi itu anniversary tiga tahun gue sama Jo. Dan gue bakal post itu di akun Instagram pribadi gue."
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah. Jenny jatuh terduduk di lantai parkiran yang kotor. Ia menangis sesenggukan, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang hebat. Tiga tahun. Tiga tahun ia menjaga kepercayaan, menjaga citra sebagai pacar yang pengertian, dan menjaga Claudia sebagai saudara perempuannya sendiri. Ternyata, selama itu pula ia memelihara ular di dalam rumahnya sendiri.
Romeo hanya diam di sampingnya. Ia bukan tipe cowok yang jago menenangkan perempuan, apalagi perempuan yang sedang patah hati sehebat ini. Ia biasanya hanya tahu cara berantem atau memukul bola voli. Tapi melihat Jenny—gadis yang selalu ceria dan kuat itu—hancur berkeping-keping di depannya, ada sesuatu yang berdenyut sakit di dada Romeo.
Romeo berjongkok di samping Jenny. Ia tidak memeluknya, tapi ia meletakkan tangannya di dekat bahu Jenny tanpa menyentuhnya, seolah memberikan perlindungan.
"Nangis aja, Jen. Habisin sekarang," ucap Romeo, suaranya tidak lagi kasar. "Tapi abis ini, lo harus berdiri. Lo bilang mau hancurin mereka, kan?"
"Gue benci mereka, Rom... Gue benci banget," isak Jenny di sela tangisnya. "Kenapa harus mereka? Kenapa Jo yang katanya paling jujur? Kenapa Claudia yang katanya sayang sama gue?"
"Karena orang yang paling tau celah lo adalah orang yang paling deket sama lo," sahut Romeo pahit. "Sekarang lo liat sendiri, si 'Robot' itu punya perasaan, tapi sayangnya bukan buat lo. Dan sahabat lo itu... dia bukan main cantik, dia main kotor."
Jenny mengangkat wajahnya yang sembap. Maskaranya luntur, membuat garis hitam di pipinya, tapi matanya yang merah kini memancarkan kebencian yang murni. Ia melihat kembali foto di ponselnya. Foto Jonathan dan Claudia yang masih asyik dengan dunia mereka sendiri sebelum akhirnya masuk ke dalam lobi apartemen.
"Makasih, Rom," ucap Jenny sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya yang masih gemetar. "Kalau bukan karena lo, gue mungkin bakal terus-terusan jadi orang bego yang bangga punya pacar Ketua OSIS berprestasi."
"Gue nggak butuh ucapan makasih lo," Romeo berdiri dan mengulurkan tangannya pada Jenny. "Gue cuma pengen liat muka mereka pas lo posting itu nanti. Pasti bakal lebih seru daripada final turnamen voli."
Jenny menyambut tangan Romeo dan berdiri. Meski kakinya masih terasa seperti jelly, ia memaksakan diri untuk tegak. Ia merapikan rambutnya dan menghapus sisa air mata di pipinya.
"Dua hari lagi, jam tujuh malam. Pas mereka lagi nungguin ucapan romantis dari gue," Jenny tersenyum, tapi senyum itu begitu dingin hingga membuat Romeo sedikit bergidik. "Gue bakal kasih mereka hadiah anniversary yang nggak bakal pernah mereka lupain seumur hidup."
"Gue dukung," kata Romeo. "Tapi lo harus siap. Lisa pasti bakal makin menggila kalau tahu gue nganterin lo ke sini. Dan Claudia pasti bakal coba manipulate semua orang pas postingan itu naik."
"Biarin aja. Gue bukan Jenny yang kemaren lagi, Rom," Jenny menatap lobi apartemen itu untuk terakhir kalinya sebelum berbalik menuju motor Romeo. "Ayo cabut. Gue butuh tidur... dan gue butuh nyiapin caption paling pedas buat mereka."
Di bawah langit malam yang mulai gelap, motor Romeo menderu meninggalkan apartemen itu. Di dalam mobil Jonathan yang masih terparkir, sebuah boneka beruang kecil pemberian Jenny yang tergantung di spion tengah bergoyang-goyang, seolah sedang melambaikan tangan tanda perpisahan pada semua kenangan manis yang kini telah berubah menjadi racun.
Akankah rencana Jenny berjalan lancar?
Dua hari kemudian: Momen anniversary tiba, dan Jenny memposting foto tersebut tepat saat Jonathan memberikan kejutan makan malam palsu untuknya.