Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Jalan
Gerbang Academy Magica terbuka perlahan.
Menara kristal berkilau di bawah cahaya sore, menyambut kepulangan rombongan kecil dari ibu kota. Langkah mereka belum sepenuhnya melewati halaman utama ketika bisikan-bisikan mulai terdengar.
“Itu dia…”
“Roselein.”
“Dia selalu bersama Pangeran Reyd…”
“Katanya dosen Gram memujinya…”
Lein menunduk sedikit, mempercepat langkah. Ia sudah terbiasa dengan tatapan... namun tidak pernah benar-benar nyaman.
Grack mendengus pelan. “Mereka tidak tahu setengahnya.”
Reyd melirik Lein. “Abaikan saja mereka, Lein.”
Namun bisikan itu bukan hanya iri.
Beberapa penyihir senior yang berdiri di serambi menara utama mengamati Lein dengan tatapan berbeda, bukan curiga, melainkan menilainya.
“Sihirnya stabil, resonansi alam tinggi,” ujar salah satu dari mereka.
“Langka pada murid tahun awal,” tambah yang lain.
Lein mendengar sepintas. Dadanya terasa aneh.
Dia tidak ingin menonjol.
Namun dunia tidak selalu memberinya pilihan.
Malam tiba.
Di kamar asramanya yang sederhana, Lein duduk di meja kayu kecil. Lampu kristal menyala redup, memantulkan bayangan halaman buku tua yang kini terbuka di hadapannya.
Ia menghela napas.
“Baiklah,” bisiknya. “Apa yang kau simpan, buku tua?”
Raksha menyentuh tulisan itu melalui ingatan, bukan tangan.
Halaman pertama penuh catatan acak: diagram lingkaran jiwa, sketsa wadah, dan kalimat pendek:
“Jiwa tidak berpindah karena kekuatan.
Ia berpindah karena kecocokan.”
Lein mengerjap.
Ia membalik halaman.
Tulisan berikutnya tampak berubah. Tinta memudar lalu kembali, menyesuaikan dengan aliran mananya.
“Buku ini…” gumamnya, “bereaksi.”
Buku itu bukan benda pasif.
Ia mencatat, menyimpan, dan menunggu pembaca yang tepat.
Lein menelan ludahnya, membaca pelan tentang kutukan wadah, tentang jiwa yang terikat pada tubuh yang tidak mampu menampungnya sepenuhnya.
Ada simbol yang membuat dadanya nyeri... segel yang mirip dengan yang muncul di mimpinya.
“Aku tidak sendirian di dunia ini, ada Reyd yang mau bersamaku” ucap Lein pada buku itu.
***
Malam sudah larut.
Lampu kristal bergetar pelan.
Halaman buku tua itu terbuka sendiri, seolah didorong oleh napas Lein yang tertahan. Tinta di permukaannya menggelap, huruf-huruf kuno muncul lebih jelas... terlalu jelas.
Raksha membacanya lebih dulu.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama,
ia diam.
“Transposisi Jiwa Tingkat Tinggi,” tertulis di bagian atas.
Diagram lingkaran sihir memenuhi halaman, saling bertaut seperti jaring.
Lein membaca perlahan.
Syarat pertama: wadah pengganti.
Syarat kedua: jiwa jangkar.
Syarat ketiga...
Lein berhenti.
Tangannya gemetar.
Pengorbanan jiwa hidup.
Bukan satu.
Bukan dua.
Banyak.
Nyawa yang dikumpulkan akan menjadi “bahan bakar”, ditarik perlahan hingga habis, menjembatani jiwa lama menuju tubuh yang telah mati.
“Tidak…” bisik Lein.
Raksha mengenali metode itu.
Ia pernah menciptakannya.
Dulu, ketika kehancuran adalah bahasa yang ia pahami, ketika dunia hanyalah bahan mentah untuk kehendaknya.
“Ini akan berhasil,” gumam Raksha di dalam dirinya. “Aku pasti bisa kembali.”
Lein menutup buku itu dengan keras.
Dadanya sesak, napasnya berat.
“Dengan membunuh orang lain?” suaranya pecah. “Menjadikan mereka alat?”
Keheningan menjawab!
Raksha tidak membantahnya.
Dan justru itulah yang paling menyakitkan.
Lein berdiri, menggenggam buku itu erat-erat. Tangannya bergetar; bukan karena ragu, melainkan karena takut pada dirinya sendiri.
“Aku bukan dia lagi,” katanya pelan. “Aku tidak ingin kembali dengan cara seperti ini.”
Ia berjalan menuju jendela. Malam Academy sunyi, lampu-lampu kristal berkilau tenang... hidup, damai, tak tahu apa yang hampir ia pertimbangkan.
Lein membuka jendela.
Angin malam menyentuh wajah cantiknya.
Dengan satu gerakan, ia melemparkan buku itu keluar.
Buku tua itu jatuh ke taman bawah, menghantam tanah: tidak hancur, tidak berteriak. Hanya terdiam saja.
Seolah menerima keputusan itu.
Lein bersandar di dinding, napasnya gemetar lalu perlahan stabil.
Raksha merasakan sesuatu yang asing; kehilangan bercampur kelegaan.
“Aku tidak ingin menjadi penyihir lambang kehancuran lagi,” kata Lein lirih. “Jika aku harus hidup sebagai Roselein Tescarossa… maka aku akan hidup dengan caraku sendiri.”
Tidak ada jawaban dari masa lalu.
Namun untuk pertama kalinya, Raksha tidak mencoba mengambil alih dirinya.
Ia mendengarkan.
Di luar, angin menggerakkan dedaunan taman. Tanaman yang pernah dirawat Lein bergetar pelan... hidup, seperti bernapas.