NovelToon NovelToon
TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Tumbal
Popularitas:191
Nilai: 5
Nama Author: S. N. Aida

Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.

Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.

Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.

Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 — BEKAS DI TUBUH

​Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi kayu tidak membawa kehangatan. Sinarnya pucat, jatuh menimpa lantai tegel yang berdebu seperti garis-garis penjara.

​Di kamar mandi belakang yang terpisah dari bangunan utama, Raka berdiri di depan cermin retak yang tergantung miring di dinding bata ekspos. Ia menyalakan keran, membiarkan air dingin mengalir deras ke dalam bak, berusaha meredam suara napasnya sendiri yang memburu.

​Raka mencengkeram pinggiran bak mandi. Tangannya gemetar.

​Ia menunduk, menatap dadanya yang telanjang.

​Di sana, memanjang dari tulang selangka hingga ke perut bagian bawah, terdapat tiga garis merah. Luka gores. Kulitnya terkoyak tipis, darahnya sudah mengering menjadi kerak hitam. Itu bukan luka karena jatuh atau terbentur. Itu jelas bekas cakaran. Jarak antar lukanya konsisten, seolah dibuat oleh tiga jari yang dikeraskan—atau kuku yang sangat panjang.

​Raka menelan ludah, kerongkongannya terasa kering dan sakit.

​Ingatan semalam menghantamnya lagi. Mimpi itu. Sumur itu. Dan sensasi dingin yang menyentuh kulitnya.

​"Bangsat," desis Raka pelan. Ia menyalakan air lagi, mencuci mukanya dengan kasar.

​Yang membuat Raka gemetar bukan rasa perih di dadanya. Tapi fakta bahwa posisi lukanya begitu intim. Cakaran itu seperti jejak pelukan yang berubah menjadi kekerasan. Dan yang lebih mengerikan, saat ia melihat luka itu, bagian bawah tubuhnya bereaksi. Ada sisa gairah menjijikkan yang tertinggal dari mimpi semalam, bercampur aduk dengan rasa takut yang membuatnya ingin muntah.

​Raka mengambil sabun batangan, menggosok dadanya kuat-kuat. Ia ingin menghilangkan bekas sentuhan itu. Ia menggosok sampai kulit di sekitar luka memerah dan perih, tapi rasa dingin yang meresap ke dalam tulang rusuknya tidak mau pergi. Bau anyir lumpur dan melati busuk itu seakan sudah menempel permanen di pori-porinya.

​"Rak? Lo masih lama?"

​Suara gedoran di pintu membuat Raka terlonjak. Jantungnya nyaris copot.

​"Bentar!" teriak Raka, suaranya pecah. Ia buru-buru menyiram badannya, memakai kaos, dan memastikan luka cakar itu tertutup rapat. Ia tidak boleh membiarkan siapa pun melihat ini. Terutama Nara.

​Saat Raka keluar, ia berpapasan dengan Dion. Wajah Dion tampak lelah, matanya merah kurang tidur.

​"Lo oke?" tanya Dion, matanya menyipit melihat Raka yang tampak berantakan.

​"Oke. Cuma... masuk angin dikit," elak Raka, menghindari tatapan mata Dion. Ia bergegas pergi menuju dapur, meninggalkan jejak bau sabun yang terlalu menyengat, berusaha menutupi bau amis yang hanya bisa dicium oleh dirinya sendiri.

​Di ruang tengah, suasana sarapan terasa canggung dan berat.

​Nara duduk di ujung tikar, mengaduk-aduk mie instan di mangkuknya yang sudah dingin. Ia melirik ke arah Bima yang terbaring di sofa rotan. Atlet itu sudah sadar, tapi wajahnya kosong. Bima hanya diam menatap langit-langit, sesekali mengelus perutnya dengan gerakan memutar yang konstan, seolah memastikan isi perutnya masih ada di sana.

​"Gimana keadaan lo, Bim?" tanya Nara hati-hati.

​Bima menoleh lambat. Gerakannya seperti boneka yang engselnya karatan. "Udah mendingan. Cuma lemes."

​"Lo inget apa yang kejadian kemaren?"

​Bima mengerutkan kening. "Gue inget minum air... terus sakit. Abis itu gelap. Gue mimpi... gue ada di dalem perut sapi. Sempit. Panas. Banyak rambut."

​Siska, yang duduk di dekat jendela, menghentikan kunyahannya. Wajahnya memucat. Ia meletakkan piringnya pelan-pelan, nafsu makannya hilang seketika.

​"Semalam..." Siska memulai, suaranya nyaris tak terdengar. "Ada yang denger suara nggak? Sekitar jam dua?"

​Semua mata tertuju pada Siska. Bahkan Lala, yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya—mencari sinyal yang tak kunjung ada—ikut mendongak. Lala terlihat paling segar di antara mereka semua, seolah ia menyerap energi dari kelelahan teman-temannya.

​"Suara apa, Sis?" tanya Dion. Ia mengeluarkan buku catatan kecilnya dari saku, naluri penelitinya mengambil alih.

​Siska meremas ujung jilbabnya. Matanya menerawang, kembali ke jam-jam gelap dini hari tadi.

​Flashback: Pukul 02.11

​Siska terbangun karena hawa dingin yang tiba-tiba menusuk telapak kakinya yang tidak tertutup selimut. Ia biasa bangun di sepertiga malam untuk sholat Tahajud, jadi ia pikir ini alarm tubuhnya yang alami.

​Ia melirik jam digital di tangannya. 02.11.

​Siska duduk, mengusap wajah. Kamar itu gelap gulita, hanya ada sedikit cahaya bulan yang masuk dari celah genteng. Di sebelahnya, Lala tidur telentang dengan posisi kaku seperti mayat, dan Nara tidur memunggungi mereka.

​Siska hendak turun dari ranjang untuk mengambil air wudhu, ketika ia mendengarnya.

​Oek... Oek...

​Suara tangisan bayi.

​Siska membeku. Suara itu bukan dari kejauhan. Bukan dari rumah tetangga. Suara itu berasal dari bawah tempat tidur.

​Siska menahan napas. Logikanya berusaha bekerja. Mungkin kucing, batinnya. Kucing kawin suaranya kayak bayi.

​Tapi suara itu berubah. Dari tangisan, menjadi tawa. Tawa bayi yang riang, diselingi suara kecipak air, seolah bayi itu sedang dimandikan.

​Cipak... cipuk...

​Bulu kuduk Siska berdiri tegak. Ia menarik kakinya naik ke atas kasur, memeluk lutut. Ia ingin membangunkan Nara, tapi lidahnya terasa kelu, menempel di langit-langit mulut.

​Tiba-tiba, ujung mukena Siska yang tergantung di paku dinding bergerak. Jatuh ke lantai.

​Siska memejamkan mata rapat-rapat, mulai membaca Ayat Kursi dalam hati. Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum...

​Semakin ia membaca, suara tawa di bawah kolong tempat tidur itu semakin keras. Berubah menjadi kikikan yang mengejek.

​Lalu, hening.

​Siska memberanikan diri membuka mata setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya.

​Di lantai, tepat di samping tempat tidurnya, ada jejak basah. Tapi ukurannya aneh. Itu bukan jejak kaki. Itu jejak tangan kecil-kecil, berbaris rapi dari kolong tempat tidur menuju ke pintu keluar.

​Dan di atas sajadah Siska yang tergelar di sudut ruangan, ada sesuatu. Sebuah noda tanah merah. Basah. Di posisi tepat di mana keningnya biasa bersujud.

​Siska tidak berani turun dari kasur sampai azan Subuh berkumandang.

​"Suara bayi," Siska menyelesaikan ceritanya dengan suara bergetar. Ia tidak menceritakan soal noda tanah di sajadahnya. Ia takut dianggap gila. "Nangis, terus ketawa."

​Lala tertawa kecil. Bunyinya renyah, tapi membuat Dion merinding karena nadanya mirip dengan kikikan yang didengar Siska dalam cerita barusan.

​"Bayi tetangga kali, Sis. Lo parno banget," kata Lala santai sambil mengunyah kerupuk. "Atau mungkin itu suara batin lo yang pengen cepet nikah."

​"Lala, jaga mulut lo," tegur Nara tajam.

​Lala mengangkat bahu acuh tak acuh. "Apa sih? Gue cuma mencairkan suasana. Kalian tegang banget kayak lagi nunggu vonis mati."

​Dion menatap Lala lekat-lekat. Ada yang berubah dari gadis ini. Gesturnya, cara bicaranya. Lala yang ia kenal memang ceria dan sedikit genit, tapi tidak kasar seperti ini. Lala yang sekarang terasa... provokatif.

​"Gue mau cek hutan belakang," kata Dion tiba-tiba, berdiri. "Gue butuh udara seger. Sekalian mau liat batas desa."

​"Gue ikut," Raka langsung menyambar, seolah ia butuh alasan untuk keluar dari rumah itu secepatnya. "Gue butuh ngerokok."

​"Jangan jauh-jauh," peringat Nara. "Bawa HT. Walaupun sinyal hp mati, HT kadang masih nangkep frekuensi lokal."

​Dion dan Raka berjalan menyusuri jalan setapak di belakang rumah joglo, menuju area yang berbatasan langsung dengan hutan jati. Pohon-pohon di sini tinggi menjulang, daun-daunnya lebar menutupi langit, membuat suasana remang meski hari sudah siang.

​Mereka berhenti di sebuah batu besar yang ditumbuhi lumut. Raka menyalakan rokoknya, tangan kanannya masih sedikit gemetar saat memantik api.

​"Lo nyembunyiin apa, Rak?" tembak Dion langsung.

​Raka tersedak asap rokoknya. "Uhuk! Apaan? Nggak ada."

​"Gue liat cara jalan lo. Kaku. Terus lo megangin dada lo terus dari tadi," Dion menatap tajam. "Dan tadi malem, gue denger lo teriak. Itu bukan teriakan kaget biasa. Itu teriakan orang yang liat setan."

​Raka diam, menghisap rokoknya dalam-dalam. Asap putih keluar dari hidungnya. Ia menimbang-nimbang, lalu akhirnya menyerah. Pertahanan mentalnya sudah terlalu tipis untuk menyimpannya sendiri.

​"Gue... dicakar," bisik Raka.

​"Hah?"

​"Semalem. Gue mimpi... ketemu cewek di sumur. Pas gue bangun, ada bekas cakar di dada gue. Tiga biji. Perih banget."

​Dion tertegun. "Liat."

​Raka ragu sejenak, lalu menarik kerah kaosnya turun sedikit.

​Mata Dion membelalak. Bekas cakaran itu bukan sekadar goresan. Kulit di sekitarnya lebam membiru, dan bentuk lukanya aneh. Tidak lurus, tapi sedikit melengkung. Seperti tanda kurung.

​"Ini dalem, Rak. Lo harus kasih antiseptik," kata Dion cemas. "Tapi yang lebih penting... mimpi lo. Ceritain detailnya."

​Raka menceritakan tentang wanita sumur, mata hitam tanpa putih, dan bisikan itu. "Sudah dipegang... tidak boleh dilepas."

​Wajah Dion semakin keruh. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan jurnalnya. "Gue juga nemu sesuatu yang gila."

​Dion membuka halaman jurnal yang ditandai.

​"Lo tau kan gue punya kebiasaan nulis poin-poin observasi tiap malem sebelum tidur? Semalem, gue nulis soal perilaku aneh warga desa. Gue yakin gue cuma nulis setengah halaman, terus ketiduran pas mati lampu."

​Dion menyodorkan buku itu ke Raka.

​Di halaman itu, di bawah tulisan tangan Dion yang rapi dan tegak bersambung, ada tulisan lain.

​Tulisannya kasar, miring ke kiri, dan tintanya tebal seolah pulpennya ditekan sekuat tenaga hingga hampir merobek kertas.

​Bunyinya:

​Satu wadah retak (Bima).

Satu wadah bocor (Raka).

Satu wadah siap isi (Lala).

Satu wadah menolak (Siska).

Satu wadah mencatat kematiannya sendiri (Dion).

Dan Pemimpin... dia yang paling manis dagingnya.

​Raka mundur selangkah, rokoknya jatuh dari bibir. "Siapa yang nulis ini? Lo ngigau?"

​"Gue nggak pernah nulis miring ke kiri, Rak. Seumur hidup gue nggak bisa," kata Dion, suaranya bergetar menahan panik. "Ini ada yang nulis pake tangan gue pas gue tidur. Atau... jurnal ini ditulis sama sesuatu yang lain."

​Angin hutan bertiup kencang tiba-tiba, menjatuhkan daun-daun kering di sekitar mereka. Suara gesekan daun itu terdengar seperti ribuan langkah kaki kecil yang berlari mendekat.

​"Wadah..." gumam Raka, matanya nanar menatap tulisan itu. "Kita disebut wadah."

​"Bima sakit karena 'retak'. Lo 'bocor' karena... lo ngebiarin mereka masuk lewat mimpi," analisis Dion cepat, otaknya bekerja keras menghubungkan titik-titik horor itu. "Dan Lala... 'siap isi'. Pantas dia aneh."

​"Terus kita harus gimana?" Raka mencengkeram bahu Dion. "Kita harus cabut dari sini, Yon. Sekarang."

​"Nggak bisa," potong sebuah suara berat dari balik pohon.

​Raka dan Dion melompat kaget.

​Di sana, berdiri Kang Jaya—ketua pemuda desa yang berbadan tegap. Wajahnya keras, rahangnya kotak. Di pinggangnya terselip golok panjang dalam sarung kayu. Ia tidak tersenyum seperti Pak Wiryo. Tatapannya datar, tanpa emosi.

​"Kang Jaya..." sapa Dion gugup. "Kaget saya."

​"Kalian ngomongin soal pulang?" tanya Kang Jaya. Ia melangkah mendekat, menginjak rokok Raka yang masih menyala di tanah dengan tumit telanjangnya. Ia tidak merasa panas.

​"Kami cuma... diskusi program, Kang," bohong Raka.

​Kang Jaya menatap dada Raka, tepat di balik kaos tempat luka cakar itu berada. Seulas senyum tipis—sangat tipis dan mengerikan—muncul di bibirnya.

​"Bagus. Jangan pulang dulu. Hajatan belum mulai," kata Kang Jaya. Suaranya rendah, seperti geraman harimau. "Lagi pula, jalan di depan longsor tadi pagi. Mobil kalian kejebak lumpur. Nggak bisa lewat."

​Raka dan Dion saling pandang. Jalan longsor? Padahal tidak ada hujan deras.

​"Sudah, balik ke rumah," perintah Kang Jaya. "Bu Kanti masak besar hari ini. Katanya untuk syukuran kesembuhan teman kalian yang sakit perut. Dagingnya segar."

​Kang Jaya berbalik dan berjalan masuk ke dalam hutan, bukan kembali ke desa. Ia menghilang di balik semak-semak dengan kecepatan yang tidak wajar.

​"Daging segar..." ulang Raka, perutnya mual seketika.

​Dion menutup jurnalnya rapat-rapat. Tangannya berkeringat dingin. "Kita terjebak, Rak. Beneran terjebak."

​Mereka berdua berjalan cepat kembali ke Joglo. Di kepala Dion, kalimat terakhir di jurnal itu terus berputar-putar seperti mantra kutukan.

​Pemimpin... dia yang paling manis dagingnya.

​Dion menatap punggung Nara yang sedang menjemur pakaian di halaman samping Joglo. Nara tampak rapuh di bawah sinar matahari yang sakit itu. Leher jenjangnya terekspos saat ia mengikat rambut.

​Dion sadar, entitas di desa ini sedang menyiapkan menu utama. Dan mereka semua hanyalah bumbu penyedap sebelum santapan besar dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!