NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 11 – GEMERINCING DI BALIK TAWA

Pagi itu udara terasa lebih berat dari biasanya.

Bukan karena kabut—kabut justru tipis, seperti sengaja memberi jalan bagi matahari—melainkan karena langkah orang-orang tidak lagi serempak. Ada yang berjalan cepat, ada yang sengaja tertinggal setengah depa. Jarak-jarak kecil itu tampak wajar bagi orang luar, tapi bagi mereka yang peka, jarak itu seperti garis tak kasatmata.

“Kalau jalan rame-rame begini,” celetuk seorang lelaki sambil menepuk pundak temannya, “yang penting jangan injak tumit orang.”

“Kalau keinjak?” tanya temannya.

“Ya dibalas, tapi pelan,” jawabnya sambil tertawa.

Tawa itu disambut, tapi mata mereka tidak tertawa.

Raka berjalan di tengah. Ia mulai hafal irama kelompok ini: kapan suara riuh sengaja dinaikkan, kapan obrolan mendadak mati. Sejak dua orang “jalan duluan”, tak ada lagi yang benar-benar santai. Bahkan anak-anak bermain tanpa berteriak.

Di depan, nenek tua berjalan dengan tongkatnya. Langkahnya pendek, tapi pasti. Setiap beberapa depa, ujung tongkatnya menyentuh tanah—sekali, dua kali. Raka memperhatikan, mencoba mengingat pola, tapi selalu saja ada yang berubah.

Menjelang siang, mereka memasuki jalur sempit di antara bukit kecil dan hutan bambu. Angin berputar di sana, membawa suara bergesek seperti bisikan panjang.

“Tempat begini,” kata seorang perempuan setengah berbisik, “kalau mau buang air jangan jauh-jauh.”

“Kenapa?” sahut yang lain.

“Takut ketemu saudara lama,” jawabnya ringan.

Beberapa orang tertawa. Yang lain mengencangkan ikat pinggang.

Mereka berhenti di tanah lapang kecil. Ada mata air dangkal di tengahnya. Orang-orang berjongkok, mencuci muka, mengisi wadah. Raka ikut menunduk, tapi matanya terangkat. Ia melihat dua lelaki berdiri agak jauh, berpura-pura membicarakan sepatu basah.

“Kalau licin begini,” kata yang satu, “jatuhnya bisa keras.”

“Kalau keras, bangun lagi,” jawab yang lain.

“Tergantung siapa yang lihat.”

Kalimat terakhir itu menggantung. Raka merasakan tengkuknya dingin.

Tiba-tiba, seorang pemuda berteriak kecil. “Eh—!”

Air memercik. Wadah jatuh. Pemuda itu terpeleset, hampir jatuh ke mata air. Seorang lelaki di dekatnya refleks menarik lengannya—terlalu cepat untuk sekadar refleks biasa. Gerakannya bersih, efisien.

“Pelan, Dik,” katanya sambil tersenyum. “Tanah basah.”

Pemuda itu mengangguk, terima kasih. Tapi Raka melihat sesuatu: telapak tangan lelaki itu sebentar menekan titik di lengan pemuda—tepat, singkat. Pemuda itu meringis, lalu cepat-cepat menutupinya dengan tawa.

“Kaget,” katanya. “Kaget doang.”

Nenek tua melirik sekilas. Tongkatnya mengetuk tanah—sekali.

Tidak lama kemudian, suara itu terdengar.

Cling.

Bukan suara keras. Seperti dua logam saling menyentuh tanpa niat ribut. Tapi cukup untuk membuat semua kepala menoleh.

Seorang lelaki di sisi barisan berdiri terlalu dekat dengan lelaki lain. Tangan mereka bertemu di balik kain. Wajah mereka tersenyum, tapi rahang mengeras.

“Maaf,” kata yang satu. “Tak sengaja.”

“Tak apa,” jawab yang lain. “Tangan saya memang sering nyasar.”

Tawa kecil muncul, gugup. Tapi sebelum tawa itu selesai, tangan mereka bergerak lagi—kali ini lebih jelas. Sebuah pisau kecil terlihat sekilas, lalu menghilang.

Raka menahan napas.

Nenek tua melangkah maju. “Kalau mau bercanda,” katanya pelan, “jangan di dekat air. Air gampang keruh.”

Dua lelaki itu mundur setengah langkah. Senyum mereka kembali, tapi mata mereka saling mengunci.

“Benar, Mbok,” kata salah satunya. “Kami cuma salah paham.”

“Kalau salah paham dipelihara,” jawab nenek itu, “bisa jadi salah niat.”

Sunyi jatuh. Bahkan angin seolah menahan diri.

Barisan kembali bergerak, tapi ketegangan kini nyata. Orang-orang berjalan lebih dekat satu sama lain, seolah takut ada celah. Raka merasakan detak jantungnya di telinga.

Tak lama, di jalur menurun, kejadian itu pecah.

Seorang lelaki di belakang tiba-tiba terhuyung, bahunya ditabrak. Ia berbalik cepat. “Hei!”

“Maaf,” kata yang menabrak, suaranya datar.

“Maaf itu sebelum,” balas yang pertama. Tangannya bergerak—terlalu cepat. Kain terbuka. Pisau pendek berkilat.

Semuanya terjadi dalam hitungan napas.

Lelaki yang ditabrak mengayunkan pisau. Tapi ayunan itu berhenti di udara. Sebuah tangan tua menangkap pergelangan—keras, tepat. Bunyi tulang beradu terdengar samar.

Nenek tua.

Dengan gerakan kecil, ia memutar pergelangan itu. Pisau jatuh. Lelaki itu berlutut tanpa teriak, wajahnya pucat.

“Jangan di sini,” kata nenek itu. “Anak-anak melihat.”

Lelaki kedua—yang menabrak—tidak diam. Ia melangkah, menendang rendah. Nenek itu melompat mundur setengah depa, tongkatnya berputar. Tak. Ujung tongkat menghantam tulang kering. Lelaki itu mengumpat, jatuh satu lutut.

Semua orang terpaku. Tak ada teriakan. Tak ada kepanikan. Seolah mereka menunggu isyarat.

Dua orang lain bergerak—masing-masing satu ke sisi nenek tua. Gerakan mereka halus, seperti sudah dilatih. Raka melihat sikap kaki, posisi bahu. Ini bukan orang sembarangan.

“Cukup,” kata nenek itu. Suaranya tetap rendah. “Kalau mau pamer ilmu, cari tanah lain.”

Salah satu dari dua orang itu tersenyum. “Kami cuma meluruskan jalan, Mbok.”

“Jalan tidak pernah bengkok,” jawab nenek itu. “Yang sering bengkok itu niat.”

Udara menegang. Raka merasa, satu langkah lagi, darah akan tumpah.

Lalu seseorang tertawa—keras, dibuat-buat. “Lho, lho. Ini kenapa jadi serius? Kita ini sama-sama capek.”

Orang itu maju, memisahkan. Tangan-tangan diturunkan. Pisau disembunyikan. Lelaki yang berlutut dibantu berdiri. Tidak ada yang terluka parah. Tidak ada yang mati.

Tapi semuanya berubah.

Mereka melanjutkan perjalanan tanpa bicara. Bahkan sandi pun berhenti. Yang ada hanya langkah dan napas.

Raka berjalan dengan kepala penuh. Ia baru sadar: di barisan ini, ada orang-orang dengan ilmu tinggi. Dan mereka belum menunjukkan semuanya.

Sore menjelang, mereka berhenti lebih awal. Api dinyalakan kecil. Orang-orang duduk terpisah, tidak lagi berbaur bebas.

Raka duduk agak jauh, memeluk lutut. Nenek tua mendekat, duduk di sisinya.

“Takut?” tanyanya, tanpa menoleh.

Raka ragu, lalu mengangguk. “Iya.”

“Itu bagus,” kata nenek itu. “Yang berbahaya itu bukan takut, tapi merasa sudah paham.”

Raka

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!