Arka Fadhlan, seorang pakar kriptografi, menemukan potongan manuskrip kuno yang disebut Vyonich, teks misterius yang diyakini berasal dari peradaban yang telah lama menghilang. Berbagai pihak mulai memburunya—dari akademisi yang ingin mengungkap sejarah hingga organisasi rahasia yang percaya bahwa manuskrip itu menyimpan rahasia luar biasa.
Saat Arka mulai memecahkan kode dalam manuskrip, ia menemukan pola yang mengarah ke lokasi tersembunyi di berbagai penjuru dunia. Dibantu oleh Kiara, seorang arkeolog eksentrik, mereka memulai perjalanan berbahaya melintasi reruntuhan kuno dan menghadapi bahaya tak terduga.
Namun, semakin dalam mereka menggali, semakin banyak rahasia yang terungkap—termasuk kebenaran mengejutkan tentang asal-usul manusia dan kemungkinan adanya kekuatan yang telah lama terlupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Rifa'i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUNCI TERSEMBUNYI
Gunung Nemrut berguncang. Debu dan batu-batu kecil berjatuhan dari langit-langit terowongan kuno. Arka dan Kiara saling berpandangan dengan mata penuh ketakutan. Para penjaga berseragam hitam berusaha menahan musuh, tetapi mereka kalah dalam jumlah dan persenjataan.
Kiara menarik lengan Arka. "Kita harus keluar dari sini!"
Arka masih menggenggam Manuskrip Vyonich, yang kini terasa hangat di tangannya. Kata-kata dalam teks kuno itu berputar dalam benaknya, seakan ingin menyampaikan sesuatu yang lebih besar dari yang bisa ia pahami.
Salah satu pria bersenjata melihat mereka dan berteriak, "MEREKA MEMBAWA MANUSKRIPNYA! HENTIKAN MEREKA!"
Tembakan dilepaskan.
Arka dan Kiara menunduk dan berlari menuju lorong lain di sisi ruangan.
PEMBAWA CAHAYA
Mereka berlari melewati lorong yang lebih sempit, napas memburu. Di belakang mereka, suara pertempuran masih berlangsung. Tembakan terdengar, diikuti oleh suara teriakan.
Arka melirik ke belakang. Beberapa penjaga sudah tergeletak di tanah, tetapi ada sesuatu yang aneh.
Tepat sebelum mereka terbunuh, tubuh mereka berpendar cahaya redup sejenak, lalu lenyap begitu saja—seolah-olah mereka bukan manusia biasa.
Arka menelan ludah. Siapa sebenarnya mereka?
"Ke sini!" Kiara menariknya ke sebuah ruangan kecil di ujung lorong.
Ruangan itu kosong, kecuali sebuah pilar batu di tengahnya. Di permukaan pilar, ada ukiran kuno yang mirip dengan simbol dalam manuskrip.
Arka mendekat, merasakan tarikan aneh dari benda itu.
Lalu ia menyadari sesuatu.
Salah satu simbol di pilar itu bercahaya lemah, sama seperti simbol di dalam manuskrip.
"Aku rasa… ini adalah bagian dari teka-tekinya," gumamnya.
Tanpa berpikir panjang, ia menempelkan lembaran Manuskrip Vyonich ke permukaan pilar.
Seketika, cahaya biru terang meledak dari ukiran tersebut.
Kiara mundur selangkah. "Arka! Apa yang kau lakukan?!"
Tetapi Arka tidak bisa menjawab. Kepalanya tiba-tiba dipenuhi penglihatan.
Kilatan cahaya.
Bintang-bintang berputar di langit gelap.
Sebuah kota kuno yang megah, dikelilingi menara-menara yang menjulang tinggi.
Suara gema yang dalam berbicara dalam bahasa yang tidak ia mengerti—tetapi entah bagaimana, ia bisa memahaminya.
"Pembawa Cahaya telah tiba. Gerbang yang terkunci kini menanti."
Lalu semuanya menghilang.
Arka terjatuh ke tanah, terengah-engah. Kiara langsung berlutut di sampingnya.
"Apa yang terjadi?! Kau baik-baik saja?"
Arka menatapnya dengan mata membelalak. "Kiara… Aku tahu apa yang harus kita lakukan."
RAHASIA DI BALIK GERBANG
Sementara itu, suara langkah kaki mulai mendekat. Para pengejar mereka sudah hampir sampai ke ruangan tempat mereka berada.
Arka bergegas berdiri dan memandangi pilar yang kini bercahaya.
Ia menyadari bahwa itu bukan hanya sekadar pilar.
Itu adalah sebuah kunci.
Ia menekan simbol yang bercahaya di permukaannya.
Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari bawah tanah.
Di depan mereka, lantai mulai retak, lalu terbuka perlahan mengungkapkan tangga batu yang turun ke dalam kegelapan.
Kiara menelan ludah. "Kita benar-benar akan masuk ke sana?"
Arka menatap ke belakang. Para pengejar sudah mendekat.
Ia tidak punya pilihan lain.
"Ya. Sekarang juga."
Tanpa ragu, mereka berdua melangkah masuk ke dalam kegelapan, meninggalkan dunia di atas dan memasuki sebuah rahasia yang telah terkubur selama ribuan tahun.
BAB 5: KUNCI TERSEMBUNYI (LANJUTAN)
Tangga batu itu berputar menurun ke dalam kegelapan. Arka dan Kiara menuruni anak tangga dengan hati-hati, hanya diterangi cahaya samar dari senter Kiara dan kilauan aneh yang masih berpendar dari Manuskrip Vyonich.
Di atas mereka, suara langkah kaki para pengejar terdengar mendekat.
"Mereka akan segera menemukan jalan ini," Kiara berbisik, suaranya sedikit bergetar.
Arka mengangguk, meskipun jantungnya berdebar kencang. "Kita harus bergerak lebih cepat."
Tangga itu semakin curam, dan udara di dalam terasa lebih dingin. Bau tanah dan batu yang lembap memenuhi hidung mereka. Setelah beberapa menit, mereka tiba di dasar—sebuah ruangan luas yang tersembunyi di perut Gunung Nemrut.
Dan di tengahnya, berdiri sebuah pintu raksasa.
GERBANG YANG TERKUNCI
Gerbang itu terbuat dari logam hitam yang tampak seperti bukan berasal dari bumi. Ukiran simbol-simbol aneh memenuhi permukaannya, bercahaya redup seakan memiliki energi sendiri.
Kiara mengusap dinding logam itu dengan jemarinya. "Logam apa ini? Ini bukan batu… bukan juga besi."
Arka tidak menjawab. Ia masih terpaku menatap lambang di tengah gerbang.
Lambang itu sama persis dengan simbol utama dalam Manuskrip Vyonich.
Arka menarik napas dalam. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.
Perlahan, ia mengangkat lembaran manuskrip dan mendekatkannya ke lambang di pintu.
Begitu naskah itu menyentuh permukaan logam—
WUUUMMM!
Cahaya biru menyala terang dari seluruh ukiran di gerbang. Udara di sekitar mereka bergetar. Suara dengungan memenuhi ruangan.
Kiara mundur selangkah. "Arka… apa yang kau lakukan?!"
Arka tidak menjawab. Di dalam pikirannya, suara yang sama dari penglihatannya kembali terdengar:
"Pembawa Cahaya telah tiba. Gerbang yang terkunci kini menanti."
Tiba-tiba, suara gemuruh menggema di ruangan itu.
Gerbang perlahan mulai terbuka.
KEDATANGAN MUSUH
Sebelum mereka bisa melihat apa yang ada di balik gerbang, suara langkah kaki cepat terdengar dari atas tangga.
Para pengejar mereka akhirnya tiba.
"JANGAN BIARKAN MEREKA MASUK!" teriak salah satu pria bersenjata.
Tembakan dilepaskan.
Arka dan Kiara langsung berlindung di balik salah satu batu besar di dalam ruangan. Pecahan logam menghantam dinding di sekitar mereka.
"Sial! Mereka terlalu banyak!" Kiara berbisik panik.
Arka menggigit bibir. Jika mereka tertangkap sekarang, semuanya akan berakhir.
Gerbang masih terbuka perlahan, tetapi mereka tidak punya cukup waktu.
Arka melihat ke sekeliling, mencari sesuatu yang bisa membantu. Matanya tertuju pada tuas batu di salah satu sisi ruangan.
Tanpa berpikir panjang, ia berlari ke arahnya.
"ARKA, TUNGGU!" Kiara berteriak.
Tetapi Arka sudah menarik tuas itu dengan sekuat tenaga.
KLIK!
Lantai di bagian atas tangga tiba-tiba runtuh.
Para pengejar mereka terkejut. Sebagian dari mereka berteriak saat terjatuh ke dalam lubang, sementara yang lain terpaksa mundur, tidak bisa mengejar lebih jauh.
Kiara menatap Arka dengan mata terbelalak. "Kau baru saja menjebak mereka di atas!"
Arka mengatur napasnya. "Kita butuh waktu. Ayo masuk sebelum gerbang ini tertutup lagi!"
Tanpa ragu, mereka berdua berlari melewati gerbang yang kini terbuka sepenuhnya.
Dan di baliknya, mereka menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan.
SEBUAH DUNIA YANG TERSEMBUNYI
Begitu mereka melewati gerbang, mereka tidak lagi berada di dalam terowongan batu.
Mereka berdiri di atas tanah berpasir, di bawah langit yang aneh.
Cahaya biru redup menyinari tempat itu, seolah berasal dari langit yang tidak memiliki matahari. Jauh di depan mereka, terlihat reruntuhan kota kuno, dengan menara-menara besar yang menjulang tinggi ke langit.
Udara di tempat ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang asing, tetapi juga familiar.
Kiara menelan ludah. "Arka… di mana kita?"
Arka tidak bisa menjawab.
Ia hanya tahu satu hal: ini bukan lagi dunia yang mereka kenal.