SEMUA GARA-GARA PARIJI
Ini Novel harusnya horor, tapi kenapa malah komedi, saya yang nulis juga bingung, tapi pasti hororlah.
KOK dengan huruf yang terbalik, ya semua serba terbalik di dalam novel ini, tidak ada yang sesuai dengan semestinya, dan jangan berpikir dengan nalar, karena nggak akan masuk di otak kita.
Jangan dipikir dengan otak normal, karena akan bikin kram otak.
kebalikan adalah keasikan, ingat baliklah hidup kalian agar mengalami sesuatu yang luar biasa!
KOK,
Kalok dibilang time travel kok rasanya nggak jugak, tapi ada yang hilang dan bertambah di dalam diriku.
KOK gini rasanya, KOK aku ada disini, KOK aku diginiin, KOK aku harus ada di sini, KOK sakit gini, KOK KOK KOK KOK semua harus KOK.
Jangan takot, gitu kata orang yang aku temui, tapi KOK rasanya takot tapi enak dan menyenangkan..
Itulah KOK yang dibalik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Bashi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05. KOK OM BURHAN
“Ayo duduk di sebelah om sini, jangan malu malu”
Aku koyok di hipnotis, rasanya aku sangat ingin duduk di sebelah pak Wito yang sekarang sudah minta dipanggil dengan sebutan Om.
Awalnya aku merasa aneh, dengan permintaan panggilan “om” itu, tapi nggak tau lidahku sekarang udah nggak bisa berkata “pak” lagi.
Bahkan otakku menyuruhku untuk memanggil pak Wito dengan panggilan om.
Seperti terhipnotis, aku yang tadinya memasang tampang curiga dan no semail sama sekali, sekarang aku seakan akan merasa bahwa yang di depanku ini sangat berharga dan aku sangat menginginkan untuk ada di sebelahnya.
“Aku tau kamu ragu kan dik Pariji”
“Nggak papa, om nggak akan bikin kamu takut kok, om bukan orang yahat dik Par. sehayat yahatnya om, om akan bikin kamu hangat dan nyaman”
“Eh iya pak Wito… eh om”
“Sssstttt panggil saya om Buhan…”
Lhooooo yancoook kok ngerik gini!
Tuwaek pol, opo maneh ini, kenapa sekarang namanya jadi om Burhan!
Seketika otakku bekerja, dan berusaha mengingat sebuah nama om Burhan yang aku pernah lihat pidionya di yutub.
Ah dia bukan om Burhan yang pernah tak lihat, dia mungkin hanya halu saja, tapi kok otakku nggak mau menolak apa yang aku pikirkan, otakku memerintahkan untuk mempercayai nama Burhan yang pernah aku tau.
“Ayo duduk sini dik Parji, jangan malu-malu, om nggak nggigit kok” wajah tuanya makin mengerikan karena dia tersenyum sambil menyeringai
Sialan, tubuhku bergerak sendiri, padahal otakku nggak nyuruh untuk bergerak maju mendekati tikar pak asu asuan ini.
Aarrghh aku nggak mampu mengendalikan tubuhku lagi, dan tikar yang ada pak tua yeleck ini udah tinggal selangkah lagi uuuggh.
“Jangan dilawan dik Par, semakin kamu melawan, semakin kamu akan kesakitan dan kamu akan semakin tersiksa”
“Rilex dek Par, biarkan tubuhmu memerintahkan otakmu untuk duduk di sebekah ku sini”
“Ayo cini, dudok di sebelah om Burhan cini yok hihihihi”
Bangchaat, karep karepmu wis, pokoke nek wis di tikar itu, tak jotosi tenan si tua bangka itu, tapi…tapi kenapa aku bisa tersenyum gini chok!
“Dek Par meskipun butak tapi manis lho”
Wis aku pasrah, aku pasrah. Aku nggak bisa mengontrol diriku, diriku sudah melawan apa yang otaku suruh.
Sekarang aku sudah ada di atas tikar pak Wito alias om Burhan, dan kemudian aku dudukan fanthatku di atas tikar.
Tapi.....,
Lhooo,
Yancokss,
Aku ada di mana iki!
Tiba-tiba semua berubah.
Ndadak aku ada di sebuah kamar, kamar yang bercat biru telor asin. Dan taiknya aku sedang duduk di pinggir tempat tidur.
Tempat tidur ini model tahun 90an dengan bagian kepala ada semacam laci penyimpanan yang terbuat dari kayu
Sprei tempat tidur ini bermotif garis garis putih abu abu, dengan dua buah bantal ada di posisinya, dan selimut yang ada di bagian kaki.
Aku duduk di pinggir tempat tidur dan menghadap ke meja rias dengan sebuah kaca persegi yang besar, dengan beberapa bunga plastik ada di pojokan meja rias itu.
Meja rias itu diapit oleh dua buah lampu tidur yang letaknya ada di atas meja kecil, kedua lampu tidur itu menggunakan kap lampu yang ukuranya berbeda satu sama lain.
Kamar ini dingin karena ada pendingin ruangan yang sedang menyala.
Aduuh kenapa kok aku tau dan nggak asing dengan keadaan kamar ini. Yanchoook, kenapa aku kok pernah liat kondisi kamar dan posisiku seperti ini.
Apa ini yang dinamakan dejavu?
Yanchok, kenapa aku nggak bisa berdiri dari posisi duduk. Sementara itu yang mengerikan adalah di sebelahku ada pak Wito atau om Burhan yang berubah menjadi laki laki ganteng!
Ashu, aku tau siapa dia yang ada di sampingku, dia adalah om Burhan, Om Burhan memakai kemeja biru dengan rambut di buat berdiri ala mohak gitu…
Aku tau persis dia om Burhan yang sesungguhnya karena aku sering mengulang ulang pidio yang sering aku lihat.
Yanchok, aku tau apa yang akan terjadi selanjutnya, karena aku hapal dengan keadaan dan skenenario seperti ini.
Pasti sebentar lagi mulutku berkata tentang suhu ruangan yang dingin.
“Wah om, kamarnya dingin sekali” sudah kudungan, eh sudah kuduga, pasti aku akan ngomong seperti ini
‘Iya dong, kalau kamu capek kamu istirahat saja aja dulu”
Yancook, mulutku tiba-tiba ngomong sendiri mengomentari tentang suhu ruangan kamar ini, dan jawaban pak Burhan juga sesuai dengan pidio yang pernah aku lihat.
Yancook ngeri chook, aku takot, karena aku tau apa yang akan terjadi selanjutnya!
jadi benar Ruslan itu mayat yang suka ditusuk sama Mbah siapa itu ya... pas dikuburkan pariji sama celeng gali mayat ternyata Ruslan....
ini mungkin pas parijik tiba-tiba di bak sampah itu kali ya... yang bauknya minta ampun... tapi kok bisa pindah-pindah tubuh begitu ya...
dan juga tu jiwanya yang berpetualang kemana-mana gitu... kasihan...🥺🥺🥺