Lelaki yang hidup berkecukupan, dan sudah dipastikan akan menjadi pewaris tunggal kekayaan orang tuanya. sudah pasti di minati para wanita, banyak wanita yang ingin menjadi pacarnya namun ia selalu menolaknya karena seseorang.
Setelah menunggu sekian lamanya, seseorang itu datang. namun, diwaktu yang tidak tepat.
Ia sudah memiliki seorang istri, yang bahkan belum ia cintai.
"Menikahi wanita usia tiga puluh tahun itu bukan keinginan ku" ucap gatra dengan tegas
Apakah seorang gatra bisa mencintai istrinya? atau malah terjadi perselingkuhan? atau perceraian?
Yuk baca, kita intip rumah tangga gatra.
ig ; diah.ifro dan ruangg rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DiahIfro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
Sore ini gatra memutuskan menghubungi bu tania untuk menjemputnya, dan benar saja sebelum gatra menghubungi. bu tania sudah menghubungi nya lebih dahulu yang mengatakan bahwa ia menunggu gatra di depan.
Gatra segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan seketika gelak tawa marisa kembali memuncak saat melihat wajah gatra.
Gatra mengerenyitkan wajahnya sambil menghampiri marisa "ada apa?" tanyanya bingung
"Gini ya pak gatra, kalau kalian melakukan hubungan **** itu gak masalah"
"Maksud kamu?" tanya gatra menyelidik sambil menaruh kedua telapak tangannya di atas meja menopang tubuhnya
"Kalau bu tania tiba-tiba hamil harusnya pak gatra seneng bukan malah menjadi beban" sambung marisa dengan pikirannya sendiri
"Sa awas ya kalau lo bahas kaya gini lagi, gak penting!!!" ancam gatra sambil menunjuk wajah marisa dengan jari telunjuknya
"Nanti malem jangan lupa" teriak marisa seketika juga gatra membalikkan badannya sambil mendangahkan kepalanya seolah bertanya "lupa apa?"
"Nanti malem kata pak dario kita makan malem di rumahnya" perjelas marisa yang hanya mendapat anggukan kecil dari gatra
Gatra segera pergi dengan mobilnya untuk menjemput bu tania yang sudah menunggunya.
maudy.
Maudy tersenyum ramah pada pak erlan yang duduk di kursi kebesarannya "pak saya permisi"
Pak erlan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah, maudy berdiri di pinggir jalan menunggu sebuah taksi lewat.
"Tidn...tinnd.."
Maudy segera menoleh ke arah kirinya melihat sebuah mobil berwarna putih yang membunyikan klakson.
"Saya?" maudy menunjuk wajahnya ketika pak erlan menggupaikan tangannya di dalam mobil
Maudy segera berlari dan mengerutkan keningnya ketika pak erlan menyuruh nya masuk "ayo saya anterin"
"Gak usah pak saya naik taksi aja" tolak marisa tak enak hati, karena baru kerja sehari masa sudah merepotkan atasannya.
"Ayo dong maudy" ajak pak erlan sambil tersenyum lebar akhirnya maudy pun masuk ke dalam mobil.
"Tunjukkin jalan nya yah" ucapnya pada maudy yang terlihat terdiam memalingkan wajahnya ke kaca mobil disampingnya.
Gatra kini sudah berada di rumah, ia memutuskan untuk mandi dan makan dulu karena tubuhnya serasa lelah setelah meeting siang tadi.
"Papah bilang kita disuruh kerumahnya malam ini" ucap bu tania saat gatra melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi
"Iya saya tau bu, siapin saya makanan saya lapar" jawab gatra sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi
Suara tawa pak erlan lepas seketika memecah keheningan didalam mobil, maudy menatap pak erlan dengan cemas karena tiba-tiba saja pak erlan tertawa.
"Bap-pak kenapa?" tanya maudy ragu
"Saya lucu aja kita canggung banget kaya nya, jangan kaya gitu lah saya jadi bingung" sambungnya menatap maudy dengan tawa tipis di bibirnya
Maudy pun ikut tersenyum lebar saat menyadari dirinya memang masih malu-malu pada pak erlan. Kecanggungan nya susah untuk di tutup tutupi.
"Masih jauh rumahnya?" tanya pak erlan disela sela tawanya "belok kanan" pak erlan segera memutar stir ke arah yang maudy beritahu.
"Rumah aku yang warna abu, eh saya maksud nya pak" maudy menutup mulutnya sendiri
"Santai aja, saya lebih suka ngomong aku kamu kok biar gak terlalu formal juga" ucap pak erlan sambil menghentikan mobilnya tepat di depan rumah maudy
Pak erlan membuka pintu mobil untuk maudy namun seketika matanya menyipit sambil mengerutkan keningnya menatap ban mobilnya yang terlihat kempes.
Ia menggelengkan kepalanya saat melihat ban mobilnya yang sepertinya terkena paku di daerah sini, karena kalau dari tadi mungkin ban nya sudah kempes tak karuan.
"Di depan ada bengkel kok, disana noh" maudy menunjuk arah bengkel raka
"Saya kesitu deh, kamu masuk aja" suruh pak erlan
"Gak apa-apa saya anter pak, deket kok" tolak maudy tak enak hati, pak erlan membuka kembali pintu mobil menyuruh maudy agar masuk. padahal awalnya maudy hendak jalan saja tapi pak erlan melarangnya dan menyuruhnya untuk ikut masuk saja.
Raka menutup mulutnya yang sedari tadi menguap, ia merasa sangat bosan karena hari ini haris tidak ketempat nya. kalau bukan ancaman papahnya ia malas datang ke bengkel sebenarnya.
Mobil putih milik pak erlan langsung masuk kedalam tak lama dua orang montir menghampiri nya, pak erlan turun dan segera membukakan pintu untuk maudy. tepat di hadapan mata raka yang terlihat sayu, raka langsung mengucek matanya memastikan bahwa wanita cantik yang turun ialah benar benar maudy.
"Tunggu disana ya pak" ucap montir itu menunjuk kursi tunggu yang ada disebelah raka
Maudy tersenyum lebar ke arah raka yang masih menatapnya, raka pun merasa kecantikan marisa meningkat drastis tubuhnya sangat indah di padupadan kan dengan kemeja putih dan rok pendek berwarna hitam.
"Maaf ya jadi ngerepotin kamu" ucap pak erlan yang memilih duduk di hadapan maudy
"Ini sih gara-gara bapak nganterin saya, maaf ya pak" jawab maudy sambil tersenyum kecil
"Mm nomor kamu dong" dengan ragu pak erlan menyodorkan handphonenya agar maudy dapat menulis nomor ponselnya
Maudy pun mengetik nomor ponselnya sambil tetap melihat ke arah raka yang dari tadi seperti mengambil gambar ke arahnya.
Setelah beberapa menit berlalu montir itu menghampiri maudy dan pak erlan yang tengah mengobrol "pak, bu mobilnya sudah siap"
"Oh gitu, bayar nya dimana ya?" tanya pak erlan bangun dari duduknya
"Langsung ke manajer kita pak" montir itu menunjuk raka yang tengah menulis didampingi salah satu montir
Pak erlan pun segera menghampiri raka, raka tersenyum licik ke arah pak erlan "satu juta"
"Hah?" pak erlan membuka mulutnya bingung, bahkan montir di pinggir raka pun membulatkan matanya
"Iya satu juta, mana duitnya?" perjelas raka sambil menadahkan tangannya dan memberikan struk pembayaran
"Saya gak ada cash. bisa pake card kan?" tanya pak erlan menyodorkan card nya
"Bisa-bisa" jawab raka segera melakukan transaksi
Pak erlan pun pergi menghampiri maudy dan mengantar maudy pulang, raka menggaruk kepalanya memikirkan siapa lelaki itu apa mungkin gatra putus dengan maudy.
"Pak jangan gitu, nanti bengkel kita gak laku" ucap salah seorang lelaki yang sebenarnya bertugas di pembayaran raka sengaja ingin mengerjai pak erlan makanya dia berpura-pura menjadi orang administrasi.
"Tau luh bos, nanti gue aduin sama pak bos nih" saut seorang montir yang mengetahui biaya yang dibayar tak semahal itu
"Berisik lu pada ah, kerja sana" ucap gatra menyuruh pegawainya kembali ketempat, tak lupa juga uang 150 ribu ia beri pada admin dan sisinya masuk saku celana.
"Makasih pak" ucap maudy sambil melambaikan tangannya "nanti pagi boleh saya jemput?" tanya pak erlan jelas pak erlan mengharapkan lebih dari atasan ke bawahan jika dilihat dari caranya memperlakukan maudy
Maudy menjawab tidak usah karena ia pun merasa tidak enak pada pak erlan, namun pak erlan menyuruh maudy untuk menunggunya besok pagi.
-hati yang tersakiti' konflik rumah tangga
'-pemikat sukma" mistis, romansa
-kuntilanak pemakan janin" horor
karya siti H
semalu malunya dia sebagai wanita kan karakter dasar yg kuat krn srbagai dosen lalu juga bantu urus segala perusahaan walau lewat tangan kanan, kan pastinya dah siap mental kl ada hal yg buruk gitu loh ko ini mewek banget bin lembek