NovelToon NovelToon
Istri Cantik Tuan Presdir

Istri Cantik Tuan Presdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Asti Amanda

Lanjutan dari novel: Wanita Cantik Tuan Muda Dingin.
__________

Setelah melewati banyak waktu dan masalah. Raka sang CEO termuda di perusahaan Welfin telah berhasil menemukan kekasihnya dan bahkan tak menyangka jika kekasihnya itu memberikan sepasang anak kembar yang cerdas dan menggemaskan.

Namun masalah kembali datang dari istri tercinta yang memiliki Kepribadian Ganda. Karena itulah Raka mencoba menyembuhkan Sovia dan mulai belajar untuk menjadi Suami idaman untuk sang istri.

Akan tetapi seseorang mulai meneror keluarga kecilnya dan bahkan mencoba menyingkirkan satu persatu keluarga dekatnya. Hal ini karena perebutan harta waris di masa lalu di keluarga Welfin. Dapatkah Raka melindungi sang Istri dan kedua anak kembarnya, serta menyembuhkan mental Sovia?

Yuk kita simak perjuangan Raka dalam menyembuhkan Sovia dan perjuangannya menyelesaikan masalah yang silih datang berganti di keluarga kecilnya Raka.

Baca sampai selesai ya ^^
Terima kasih~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Hukuman Untuk Sovia

...[Beri like dan komen]...

Pukul 12.43 Siang. Sovia terlihat sedang membereskan berkas-berkas miliknya. Ia nampak sibuk dengan pekerjaannya. Sovia sebenarnya disuruh oleh Raka menjadi sekretaris pribadi suaminya itu. Namun Sovia menolak karena ia tak mau digosipkan lagi oleh karyawan-karyawan yang iri padanya.

Kali ini, ia tak diganggu oleh Dean karena putri kecilnya itu sedang bermain bersama Willy di ruangan Sekretaris itu.

"Huft ... selesai juga." Sovia mengusap peluh keringat yang terlihat sedikit di keningnya.

"Oh ya, Sovia. Ini ada laporan yang aku terima dan katanya harus disampaikan ke Presdir. Lebih baik kamu yang bawa saja."

Anita tiba-tiba memberinya dokumen pada Sovia.

"Eh, kamu saja." tolak Sovia mendorong dokumen itu tak mau menerimanya. Anita mengangkat alisnya merasa aneh. Ia pun berdiri lalu merangkul leher Sovia.

"Ayolah, Sovia. Kamu ini kan sudah jadi istrinya, lebih baik kamu yang bawa saja." bisik Anita memberikan dokumen itu lagi. Perkataan Anita itu malah membuat Sovia tersipu malu.

"Pfft ... astaga, ada apa dengan wajahmu? Eh, bentar. Jangan bilang kalau selama ini kamu masih malu-malu sama Presdirmu sekaligus Suamimu itu," Anita mencubit pinggang Sovia membuat Sovia tersentak.

"Ahaha ... ternyata hubungan kalian baik-baik saja ya." lanjut Anita tertawa kecil. Anita beranggapan jika hubungan Sovia bakal terganggu, tapi ia mulai percaya jika Presdirnya itu benar-benar mencintai wanita yang berdiri di sampingnya sekarang.

"Apaan sih!" Sovia memalingkan wajahnya merasa sedikit kesal ditertawai oleh Anita.

"Ciee ... malu-malu niee," Sekali lagi Anita mencolek pinggang Sovia.

"Sudah ah! Sini biar aku bawakan. Tidak usah merayuku." Sovia mengambil dokumen itu yang ada di tangan Anita.

"Ekhm, siapa yang merayumu. Dengar ya, aku itu nggak berani merayu istri Presdir di kota ini apalagi aku ini wanita. Ya kalau aku lelaki sih, mungkin aku bisa merayumu." Anita mencolek lagi Sovia.

"Sudah, sudah. Aku ke ruangan Presdir." Sovia berjalan meninggalkan Anita. Ia agak kesal dicolek-colek oleh Anita.

"Pfft ... berutung sekali aku bisa berteman dengannya." gumam Anita duduk di kursinya lalu seketika ia tak sengaja melihat anggi yang ada diluar jendela perusahaan.

"Wih, pelakor datang nih." gumam Anita tak henti-hentinya melihat Anggi berjalan masuk ke dalam perusahaan.

Langkah Sovia mulai terdengar menuju ke ruangan Raka, namun ia tak sengaja melewati ruangan rapat. Sovia berhenti sebentar lalu melihat Raka yang begitu serius mendengar laporan-laporan dari staf-stafnya, terlihat wajah cool Raka yang keren dan tampan membuat Sovia cuma bisa tersenyum.

"Ternyata dia bisa seserius ini." gumam Sovia berjalan kembali menuju ke ruangan Suaminya itu.

Raka yang sempat melihat sekilas Sovia. Ia pun langsung menghentikan para staf-stafnya yang lagi menyampaikan laporan pemasukan bulan ini. Sontak para staf tentu terkejut melihat Presdir mereka membubarkan rapat kali ini.

Raka tak peduli dengan tatapan mereka. Dengan tatapan dinginnya, ia pun berkata kepada para stafnya.

"Kalian lakukanlah lebih baik dan jangan mengecawakanku!" tegas Raka lalu beranjak dari kursinya kemudian pergi meninggalkan ruangan rapat menuju ke ruangan utamanya.

Para karyawan tentu merasa heran dengan tingkah Presdirnya akhir-akhir ini. Hal itu sebab mereka belum tahu hubungan asmara Presdir mereka dengan Sovia. Mereka pun pergi dari ruangan rapat menuju ke tempat mereja masing-masing.

Klek!

Pintu ruangan Presdir terbuka. Sovia masuk lalu meletakkan dokumen itu dan tak lupa merapikan meja Presdirnya yang begitu berantakan.

"Nah, kalau begini kan enak dilihat." Sovia menyapu tangannya setelah merapikan meja Raka.

Tiba-tiba ia dikejutkan dengan tangan yang merangkul dirinya dari belakang. Sovia langsung berbalik dan ternyata itu Raka yang lagi tersenyum manis di depannya.

"Sayang, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Raka.

"Ah, itu ...." Sovia berbalik ingin mengambil dokumen tadi, namun Raka langsung memeluknya lagi.

"Kamu merindukanku ya ...." ucap Raka mengecup leher Sovia bahkan menggigitnya hingga terdapat sedikit tanda merah yang tertinggal.

"Aaah!" desah Sovia terkejut dengan tingkah Raka.

"Sayang, kamu ini! Kita lagi di kantor tau." cetus Sovia mendorong dada Suaminya. Namun Raka yang dari kemarin menahan sudah nafsunya, ia tak peduli dan malah mengangkat Sovia ke arah ruangan pribadinya.

"Aaah! Kamu mau apa?" Sovia terkejut.

"Sayang, kamu hari ini harus dihukum." jawab Raka tak peduli dengan Sovia yang memberontak.

Bam!

Raka menendang pintu di depannya lalu berjalan ke arah ranjang tempat ia sering istirahat tapi kini sekarang ruangan itu akan menjadi tempat baginya berbagi gairah bersama Sovia.

"Turunin aku! Turunin!" pinta Sovia memberontak.

"Tidak akan!" tolak Raka.

"Aaaa ... aku nggak mau! Hari masih siang!" pinta Sovia lagi. Raka pun berhenti lalu menatap Sovia.

"Memangnya kenapa kalau masih siang?" tanya Raka.

"Itu ... itu ya nanti ada yang lihat." jawab Sovia terbata-bata merasa malu.

"Pfft ... tidak akan ada yang lihat!" ucap Raka kembali berjalan lalu menghempaskan Sovia ke atas ranjangnya.

Bruk!

"Auw ... kamu ini! Sakit tau!" cetus Sovia manja sambil menyentuh pinggangnya. Raka tak peduli dan ia langsung mengunci kedua tangan Sovia ke atas kepala wanita itu.

Sovia menelan ludahnya lalu berpaling ke samping membuat Raka mengerutkan dahinya heran melihat Sovia murung.

"Eh, kamu kenapa?"

"Itu, lebih baik nanti malam saja. Kita lagi ada di kantor." jawab Sovia menatapnya dengan wajah memohon.

Raka yang mendengarnya malah tersenyum smirk lalu mendekatkan wajahnya ke Sovia. Begitu dekat hingga Sovia menelan ludahnya. Raka kemudian berpindah ke arah telinga Sovia lalu membisikkan sesuatu.

"Sayang, kali ini mumpung Dean tak ada mengganggu kita, lebih baik sekarang kita baik-baik membuat adik untuk si kembar."

Sontak Sovia langsung mendorong tubuh Raka lalu ia menatapnya serius.

"Tapi ini di kantor! Takutnya ada yang masuk mencarimu!" Sovia tak mau kalah.

"Hm, tidak ada yang mencariku." ucap Raka mulai menindih Sovia.

"Itu ... itu, bagaimana jika ada yang melihat kita." Sovia tetap saja tak mau meladeni Raka. Ia berusaha mencari alasan agar terbebas dari kemauannya.

Raka tetap tak peduli, ia malah kembali mengecup leher Sovia dan memberinya sentuhan pada tubuh sensitif Sovia.

"Aaaah ... sud ... sudah kubilang, nanti malam saja." desah Sovia mencoba mendorong tubuh Raka.

"Tapi, tubuhmu berkata lain, sayang." bisik Raka pada telinga Sovia dan bahkan menggigit telinga istrinya itu. Ia merasa gemas melihat wajah Sovia mulai memerah.

"Tapi ... tapi nanti ada yang lihat kita di sini." Sovia tetap bersikeras.

"Tidak ada!"

"Ada, tau! Lihat cicak itu, dia melihatmu." Tunjuk Sovia pada dinding di belakang Raka.

"Tidak apa-apa, hanya seekor cicak. Biarkan dia jadi saksi untuk adik kecil si kembar." ucap Raka mulai membuka dasinya.

"Ngaco!" cetus Sovia berpaling muka.

"Pfft ...." Raka malah tertawa mendengarnya. Ketika ia ingin melucuti pakaian Sovia, ia malah dikejutkan dengan getaran-getaran pada saku celananya.

...Drett Drett Drett...

Raka pun menghentikan aksinya lalu melihat siapa yang menghubungi dirinya di waktu yang penting ini.

"Ck," Raka mendecak lalu mematikannya. Tentu panggilan itu dari Willy.

"Loh, kenapa ditolak?" tanya Sovia.

"Tidak penting, yang penting sekarang adalah kamu." jawab Raka kembali ingin melucuti pakaian Sovia namun sekali lagi ponselnya berulah lagi.

"Aargh! Apa-apaan ini, Willy!" gertak Raka kesal lalu segera mengangkat panggilan itu dan sontak kupingnya hampir meledak mendengar ocehan-ocehan dari suara kecil yang menggema di telinganya.

"Papi! Kenapa menolak panggilanku!"

"Astaga anak ini, aku pikir dia tak akan menggangguku. Tapi tetap saja mencari cara mengganggu waktu pentingku." desis Raka kesal. Sovia di sana cuma bisa menatap bengong Raka.

"Kenapa?" tanya Raka.

"Papi ke sini cepat!" jawab Dean dengan nada tinggi tapi lumayan terdengar manja.

"Aissh, kalau butuh sesuatu, suruh Willy saja." ucap Raka.

"Tidak bisa! Dean maunya Papi ke sini sekarang!" tegas Dean berteriak dalam panggilan itu.

"Baiklah, jangan bentak-bentak! Telinga Papi bisa copot nih!" cetus Raka langsung mematikan panggilan itu. Tentu kini Dean juga kesal mendengar suara panggilannya diputuskan begitu saja.

Raka pun melihat Sovia lalu mencium bibir lembut istrinya dan tak lupa melum4atnya sebentar.

"Aku keluar dulu. Kamu di sini saja. Dean memanggilku sekarang." ucap Raka mengelus wajah halus putih Sovia. Sovia segera mengangguk, ia merasa senang hari ini tak melayani Raka dulu.

Raka pun memperbaiki pakaiannya lalu mengecup kening Sovia dan kemudian keluar dari ruangannya menuju ke putrinya yang amat cerewet.

"Huft ...." Sovia mengelus dadanya merasa lega. Namun tiba-tiba pandangannya mulai buram.

"Arhg! Astaga, kenapa bisa begini lagi." desis Sovia menyentuh kepalanya sambil menggelengkan kepala. Karena tak tahan ia pun tertidur di ruangan itu sambil menunggu Raka kembali.

_____

Bersambung ....

Terima kasih, tunggu partnya lagi ya.

Bakal ada crazy up hari ini ^^

1
caca
kayaknya pelaku kecelakaannya pak Hendra sih
arfan
up
Anonymous
Anita lu gk tau diri
Aurora Almera
lanjut kakak
Ana Uhibbuka Fillah
aku mampir thor
Ernita Anggara
thor lia kn profesor... d awal baca dy kn yg membantu si tian Al....
Ernita Anggara
mata merah jangan2 it ayah nya mira. ato saudara ayah nya mira... y kan thor
uhuuuyyy
akyuuu sukaa cerita nyaa...maachii yaa thoor...selamat..karyamu sungguh menarik..hebaatttt😍😘
uhuuuyyy
ooh ikut bahagia thoor😍😍
uhuuuyyy
semakin seru
uhuuuyyy
apakah itu kakaknya mira
uhuuuyyy
haduuh perutku mules ngekek aja
uhuuuyyy
uhuuyyyyu coo cuiiit ..anita n willy😘😘😍😍
uhuuuyyy
haizzzh pasti modus ini si mira n liana n kevin🤭
uhuuuyyy
papa hendra mau menguasai harta keturunan welfin kyk nya
uhuuuyyy
pasti dalang di balik pertengkaran paman Al rachel dan ayahnya welfin adalah papa hendra..
uhuuuyyy
waah pak hendra gk beres niich
uhuuuyyy
ikutan tegang thoor🙈
uhuuuyyy
bahagia nyaa mrk bersatu dan berkumpul lagi😍
uhuuuyyy
berati Raka putra nya tuan Al...makanya Raka sperti tuan Al bisa melihat makluk astral
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!