Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 18
Danu menghampiri Arumi, tentu saja Kenan juga ikut menghampiri istrinya, tetapi Arsyad menahan putranya itu. Kenan sempat protes, tetapi Arsyad berkata,"Kita lihat apa yang mereka bicarakan?"
"Arumi, kau di sini?" tanya Danu.
Saat Arumi akan menjawab nya Jeni langsung bertanya,"Sedang apa kau di sini? Lalu anak siapa yang kau gendong itu apakah itu bayi dari anak sialan itu!" seru Jeni yang sangat tidak suka.
"Tante, jangan kau sebut suami ku seperti itu. Dia pria baik dan tidak licik seperti Tante," balas Arumi tidak kalah pedas dalam berkata.
"Kau!"
"Sudah cukup mah! Bagaimana pun Natan putramu juga jangan kau lupa itu!" tegas Danu.
"Ya, tapi anak tiri bukan kandung ku!" jelas Jeni.
Semua orang mendengar perdebatan mereka dan baru mereka tau jika Danu adalah orang tua dari mendiang Natan.
"Pah jika dia ayah Natan dan tau apa yang terjadi dengan putranya bagaimana jika mereka malah menuntut balik Kenan," bisik Tiara.
"Kau benar tapi mereka tidak tau beda ceritanya jika Arumi sendiri yang mengatakan pada mereka kebenarannya kita lihat apa Arumi akan memberitahukan pada mereka," ujar Arsyad.
Sedangkan Natan pria itu bungkam seribu bahasa dan berpikir hal yang sama dengan kedua orangtuanya tapi jika harus Kenan mempertanggung jawabkan perbuatannya ia pun sudah siap dan tidak akan lari dari masalah.
"Apa kabarmu Arumi, lalu bagaimana kabar Natan mengapa kalian tidak pernah berkunjung ke rumah," tanya Danu.
"Aku sudah membujuk mas Natan pah, tetapi rasa kecewanya terhadap papa dan mama yang sudah mempunyai keluarga sendiri hingga ia merasa di tinggalkan membuat Mas Natan tidak mau bertemu dengan kalian tapi setahun yang lalu aku berkunjung ke rumah papa ingin bertemu dengan papa tapi ..."
Arumi melirik Jeni yang menatap tajam tapi ia juga sangat panik karena Arumi menghampiri nya.
"Tapi apa Arumi," tanya Danu.
"Wanita ini mengusir ku saat aku bilang ingin meminta bantuan papa untuk biaya operasi mas Natan!" pekik Arumi yang mana membuat bayinya menangis.
Kenan menghampiri Arumi ia mengambil alih bayi nya lalu membawanya ke dalam,"Biar aku saja kak yang membawanya ke dalam," pinta Riana.
"Operasi? memangnya Natan kenapa Arumi? Lalu apa operasinya berjalan dengan lancar? ceritakan apa yang terjadi dengan Natan," cecar Danu.
Arumi tidak sanggup mengatakannya iya menangis mengingat kembali mendiang suaminya yang terlambat ia selamat kan.
Danu memegangi bahu Arumi tanpa sadar ia mencengkram bahu Arumi tentu saja Kenan yang melihatnya langsung menepis tangan Danu lalu merangkul Arumi.
Danu yang melihat Kenan merangkul menantunya itu pun bingung,"Jangan menyakiti istriku, om dia baru saja melahirkan jangan membuatnya setres," seru Kenan.
Lagi dan lagi kejutan di dapatkan Danu yang mana ia terkejut jika Arumi adalah istri dari Kenan. Bagaimana bisa? Tapi yang terpenting sekarang adalah kabar dari putranya karena Arumi tidak menjawab juga ia pun bertanya kembali.
"Dia sudah meninggal, om akibat kecelakaan karena kela,-
"Mas Natan menyetir dalam keadaan mengantuk, pah saat pulang kerja dan meninggal di tempat," sela Arumi.
Kenan sontak menatap Arumi tadinya ia akan mengatakan yang sebenarnya, tetapi mengapa Arumi menghalanginya ia benar-benar tidak bisa menebak isi hati istrinya sendiri.
Tiara dan Arsyad sedikit lega walaupun mereka tidak tau apa yang direncanakan Arumi karena memilih menyembunyikan fakta dan melindungi Kenan.
Danu sangat syok ia tidak menyangka putranya sudah tiada dan ia pun tidak tahu,"Putra ku, hiks ... Natan mengapa kau tinggalkan papah. Maafkan papah nak karena keegoisan kami berdua kau jadi merasa ditinggal kan," Dada Danu mendadak sesak ia memegangi dadanya hingga terjatuh dan pingsan.
"Papa," pekik Jeni dan Arumi.
"Mas, tolong papa aku mohon," pinta Arumi lalu Kenan menelpon ambulan untuk membawa Danu ke rumah sakit.
***
Di halaman belakang terlihat Kenan sedang duduk pinggir kolam renang sembari berjemur bersama putrinya.
Bayi yang baru berumur seminggu itu menggeliat ketika Kenan mengelus tubuh mungil yang masih merah itu.
Kenan bahagia sangat bahagia dengan kelahiran baby girl nya yang sangat ia harapkan tetap hidup karena jika mengingat selama dalam kandungan Arumi benar benar ingin melenyapkannya dengan berbagai cara wanita itu lakukan tapi Tuhan masih ingin putrinya hidup.
"Kamu lucu sekali, Ayah belum memberi mu nama, kalau gitu Ayah akan memberikan mu nama. Ayumi clearesta Dirgantara ... Nama yang cantik,"
Ayumi tersenyum ketika Kenan mencubit kecil hidung mancungnya yang ia dapatkan dari ayahnya. Semua wajah hampir mirip ke Kenan entah Arumi dapat apanya dari bayi itu Kenan pun bingung.
"Tuan sudah waktunya baby nya mandi, Nona sudah selesai bersiap," ucap Nina.
"Ayumi, itu namanya," ujar Kenan.
"Wah nama yang cantik, Tuan," senang Nina yang langsung membawa Ayumi untuk segera di mandikan.
Kenan berjalan menuju kamar, di rumah itu mereka berdua satu kamar Arumi tidak menolak karena ia tau bayinya akan tenang jika bersama Kenan.
Cekleek
Pintu terbuka Arumi yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk itu pun menatap Kenan begitu pun dengan Kenan.
Namun, tidak lama Arumi memutus tatapannya beralih ke meja rias, satu persatu ia memeriksa alat rias nya yang mana sudah habis semua. Semenjak hamil memang Arumi tidak peduli dengan penampilan mungkin karena bawaan kehamilan kebiasaan jadi berbalik tidak seperti biasanya Arumi senang berdandan tapi semenjak hamil ia sangat malas. Arumi pikir anaknya laki-laki tapi ia mendapat kan bayi yang cantik.
Kenan mendekat ia langsung mengambil pengering rambut yang mana membuat Arumi sedikit terkejut,"Huh, kau mengangetkan saja," kesal Arumi.
Kenan hanya tersenyum, sedangkan Arumi ia menikmati perhatian dari suaminya,"Mengapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya pada om Danu?" tanya Kenan yang mematikan dan meletakkan kembali pengering rambut itu di atas meja rias.
"Itu ... aku lakukan hanya demi putri ku," lirih Arumi.
Kenan sangat senang akhirnya Arumi mengakui Ayumi sebagai putrinya,"Aku tidak ingin putriku tidak mendapatkan kasih sayang ayahnya, aku ingin dia mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya tidak seperti ku sejak bayi aku di buang orang tua ku dan dibesarkan oleh ibu panti," lanjut Arumi.
"Jadi maksud mu jika aku di penjara Ayumi tidak akan mendapatkan kasih sayang dari ku?" ucap Kenan.
"Ayumi? Siapa?" tanya Arumi.
"Putri kita, Ayumi Clearesta Dirgantara bagaiman menurut mu cantik kan seperti ibunya," puji Kenan.
Pujian itu membuat Arumi tersenyum malu dan menundukkan pandangannya,"Arumi, apa kau sudah memaafkan ku?" tanya Kenan.
"Entahlah aku juga tidak tau tapi yang pasti aku akan beradaptasi dulu dan mencoba menerima kenyataan jika ini memang takdir ku," jelas Arumi.
Memang sulit berdamai dengan hati sendiri ingin rasanya ia egois dan pergi tapi sekarang Arumi sudah punya Ayumi yang mana ia tidak ingin nasib putrinya seperti dirinya yang sampai sekarang tidak tau siapa kedua orang tua nya. Hanya Natan yang mau menerima nya saat itu dan dengan setia membiayai semua biaya sekolahnya sampai kuliahnya juga.
"Baiklah, aku akan sabar menunggu untuk bisa hatimu menerima ku karena jujur aku sangat mencintaimu dari semenjak sekolah dulu," ujar Kenan.
Arumi sempat bingung karena memang ia tidak pernah memperhatikan keberadaan Kenan karena beda kelas dan dirinya juga tipe orang yang sangat cuek.
"Kenapa? Kau memangnya tidak ingat denganku?" Arumi menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku yang menolong mu saat di belakang sekolah kau teriak minta tolong waktu di ganggu segerombolan pria," terang Kenan.
"Jadi, kau ... pria yang menolong ku saat itu?"
"Iya,"
Saat di belakang sekolah Arumi berniat ingin menyendiri tapi segerombolan anak laki-laki yang terkenal nakal mengganggunya syukurlah saat itu Kenan datang dan menyelamatkan Arumi, tetapi Kenan hanya melihat Arumi saat gadis itu tertunduk takut Kenan tidak berani mendekat ia pun memutuskan pergi setelah itu barulah Arumi mengangkat kepalanya melihat Kenan yang sudah sangat jauh terlihat tidak jelas.
"Terimakasih atas pertolongan mu waktu itu," ungkap Arumi.
Kenan menggenggam erat tangan Arumi,"Tau kah kau dari dulu aku sudah sangat menyukai mu tapi aku takut jika aku mendekat padamu karena kau selalu di jemput oleh seorang pria apa dia Natan?" Arumi mengangguk kan kepalanya pelan.
"Saat itu aku juga bingung antara perasaanku atau menuruti keinginan papi untuk kuliah di luar negri maka dari itu aku ingin melupakan mu tapi tidak bisa. Sampai akhirnya kita dipertemukan lagi Andai saja pertemuan kita tidak seperti ini kau pasti ..."
"Tidak akan pernah menerima ma mu, karena aku dan Natan sudah menikah," potong Arumi.
Kenan melepaskan genggaman tangannya ia tertunduk lesu,"Sudahlah jangan di bahas lagi aku ingin berdamai sekarang untuk kesehatan mental ku semuanya ku lakukan hanya untuk putri ku, soal hubungan kita aku tidak tau dan tidak bisa menjanjikan apa apa untuk sekarang," jelas Arumi ia beranjak dari duduknya.
Namun, buru-buru Kenan memeluknya dari belakang begitu eratnya setelah itu ia membalikkan tubuh sang istri dan kini mereka saling berhadapan.
Tatapan itu semakin dalam Kenan merapikan anak rambut Arumi yang mulai mengering sedikit menutup wajahnya. Wajah Kenan semakin mendekat seraya mempererat pelukannya hingga tidak sadar Kedua tangan Arumi melingkar di leher Kenan kemudian bibir mereka saling bertemu dan bertaut Arumi pun menikmati nya dengan suasana hatinya yang entah mengapa terhanyut dalam sentuhan lembut yang diberikan Kenan.
"Tuan, putri anda su ..."
Teriakan Nina yang tiba-tiba masuk membuat mereka terkejut dan buru-buru keduanya melepaskan pelukannya.
"Menganggu saja si ular Keket," kesal Kenan.
"Heheh ... Maaf, Tuan, Nona,"
*
*
Bersambung.