Haruskah cinta dan pernikahan yang diberikan sahabatnya, ia kembalikan?
Ini gila!
cinta dan pernikahan yang Elea jaga untuk Radjendra dan demi amanah yang diberikan sahabatnya, Erika. justru malah dihancurkan oleh Erika sendiri.
Apa yang harus Elea lakukan?
Haruskah ia kembalikan cinta dan pernikahan itu?
Atau ia harus mempertahankannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai terang-terangan.
Rajendra masih memikirkan benda yang berada digenggaman Elea tadi, meski beberapa menit berlalu dan mereka kini sedang berada diperjalanan menuju taman. Sesuai janji, mereka akan pergi ke tempat yang si kembar mau.
Mobil berhenti didepan taman wisata, dimana suasana ramai dipenuhi pengunjung. Banyak yang menghabiskan hari libur ditempat tersebut hanya untuk menikmati akhir pekan.
"Papa, ayo turun!" ajak Aliza.
Elea dan dua anaknya sudah turun dari kendaraan hitam itu, tapi Rajendra masih berdiam diri tampak memikirkan sesuatu.
Tiga wanita beda usia itu saling tatap, melihat lelaki yang menjadi kepala rumah tangga tersebut.
"Papah, ayo!" ajak Eliza kini bersuara, namun sang papa masih diam dengan posisi duduk mematung.
Elea dan dua putrinya berdecak kesal melihat Rajendra yang tak menyahut mereka.
Supir mereka saja ikut menoleh kebelakang, melihat tuannya yang tak menggubris ajakan dua putrinya. Ia keheranan dan akhirnya ikut membangunkan sang tuan dari lamunannya.
"Tuan, sudah sampai," ucap supir sambil mencolek lutut sang tuan.
"Euh, apa?" tanya Rajendra yang terbangun dari lamunannya.
"Sudah sampai," jawab supir tersebut.
Rajendra melihat kesekitar, diluar pintu mobil tiga wanita sudah menunggunya dengan bersidekap. Mereka menatapnya dengan sebal, karena tak juga keluar dari kijang besi tersebut.
"Jangan mikirin Erika terus! Kita sudah sepakat menyenangkan Al-El hari ini," bisik Elea setelah Rajendra turun dan bergabung bersama mereka.
Rajendra hanya diam, ia tak tahu harus berkata apa. Walau bibirnya ingin sekali mengumpat dan berkata kasar, namun ini tempat publik bisa rusak citra seorang presdir. Apalagi dizaman digital ini yang apa-apa diviralkan.
Mereka berjalan masuk ke dalam tempat tersebut, Eliza sudah heboh melihat banyak boneka kuda poni yang ia sukai. Tanpa diminta Rajendra mengeluarkan dompetnya dan membeli dua boneka tersebut, agar adil jadi ia juga membeli satu lagi untuk si sulung.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan mengikuti gang yang sudah dipenuhi banyak pengunjung yang hilir mudik. Banyak wahana untuk anak-anak, tapi si kembar justru memilih bemain mobil-mobilan. Elea memegang boneka mereka sementar ayah dan dua putrinya mengantri untuk masuk.
Giliran mereka pun tiba, Aliza dan Eliza memakai kendaraan kecil itu dengan berpisah sedangkan orang tuanya hanya melihat mereka bermain.
"Sejak kapan kamu tinggal bersama Erika?" tanya Rajendra yang sudah tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
Siapa tahu dia salah mengira, bahwa Elea ternyata gadis yang ia cari itu. Karena dari sikapnya memang dua wanita bersahabat itu sangat jauh berbeda, ia justru melihat gadis itu pada diri Elea.
Rajendra meliriknya, dia berharap pikirannya benar.
"Erika lagi, Erika lagi. Kalau gak mau ngajak kami jalan-jalan, pergi saja sama Erika sana!" jawab Elea dengan sebal, bukankah mereka sudah berencana berlibur tapi kenapa otak suaminya hanya dipenuhi oleh selingkuhannya itu.
Bagaimana Elea tidak kesal, sudah dibisiki pun masih saja tanya soal Erika. Bukankah setiap hari mereka bertemu, pikir istri Rajendra itu.
"Jawab saja, aku ingin tahu sesuatu," gertak Rajendra ia juga mulai naik pitam mendengar jawaban istrinya yang berkata dengan sinis.
"Sejak ibuku meninggal, karena orang tua kami bersahabat aku diadopsi dan tinggal bersama Erika dan keluarganya. Kenapa? Belum jelas? Kamu bisa tanya Erika, dia pasti senang mendengar suaramu," jawab Elea masih dengan nada suaranya yang geram pada lelaki itu.
"Baiklah, aku akan tanya Erika karena istriku sedang pms," balas Rajendra yang langsung merogoh saku celananya dan mengambil ponsel miliknya, ia juga menunjukan pada Elea nama yang ia pilih dikontak telepon yang tertera nama Cintaku disana.
Elea melebarkan matanya, ia tak menyangka pria didepannya ini sudah tergila-gila pada sahabatnya itu. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan diam dengan hati yang mengumpatinya.
"Dasar pria brengsek!" lagi Elea mengumpati Rajendra, ia genggam boneka putrinya dengan kuat agar bisa menahan amarahnya didepan umum.
Sekarang suaminya mulai terang-terangan untuk berselingkuh didepannya, bahkan disaat mereka sedang liburan. Pria kejam itu membuatnya makin tak waras sekarang, ia memang terluka tapi ini bukan saatnya ia menangis.
Seorang ibu harus kuat agar anak-anaknya senang hari ini. Dalam keadaan panas hati itu, kalimat Marcel terngiang kembali. Elea menghela nafas dalam lalu mengeluarkannya dengan pelan, agar hatinya tenang.
Rajendra tersenyum sinis, "Tunggu disini, aku menghubunginya dulu," ujarnya yang langsung berjalan meninggalkan Elea.
Lelaki itu mencari tempat yang tidak begitu berisik oleh orang-orang, ia juga tidak menghubungi Erika melainkan asistennya. Cukup lama sambungan telepon itu terhubung, membuat Rajendra kesal lebih dulu.
Entah apa yang dilakukan asistennya dihari libur ini, karena membuatnya harus menghubunginya berkali-kali, hingga akhirnya teleponnya diangkat juga.
"Ada apa, tuan? Saya sudah menyelesaikan tugas melakukan penghiasan rumah anda semalam, juga kue ulang tahun untuk nona Ele. Kalau gagal total itu bukan urusan aku, itu urusan anda dengan nona," ucap Arsena yang alih-alih menyapa tuannya, karena ia sudah diberi tahu bahwa acara semalam itu gagal dan berakhir dengan membereskannya kembali.
Seolah ditertawakan oleh asistennya, Rajendra berdecih.
"Sialan kau! Dengar sekarang, kau ada tugas lain. Cari tahu tentang masa lalu Ele, dia diadopsi oleh keluarga Erika. Pokoknya semuanya tentang Ele termasuk foto kecil Ele dan orang tuanya. Paham!" ujar Rajendra yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Dasar Asisten kurang ajar! Beraninya dia berkata begitu," umpat Rajendra pada asistennya disebrang sana.
Sedangkan Arsena yang masih dengan posisi rebahannya, sama halnya tengah mengeluh kesal soal perlakuan bosnya. Ia melihat layar ponselnya yang sudah diputuskan secara sepihak, ia sadar bahwa ia dihubungi hanya untuk diberi tugas saja.
Bosnya itu memang iblis kejam, padahal hari ini ia ingin tidur nyenyak karena semalam ia pulang larut.
"Dia gila atau gimana? Ini hari libur, masih saja memberiku tugas. Bos kurang ajar! Pantas nona Ele berubah sekarang, dia pantas mendapatkannya. Semoga ia dapat karmanya segera," geram Sena dengan bibir mengomel tertuju pada pria yang menjadi bosnya itu.
^
Rajendra kembali ke tempat tadi, namun saat ia melihat sekitar area Elea tak ada disana begitupun dua putrinya. Mobil-mobilan itu pun sudah berganti dengan pengunjung lain.
Ia melihat ponselnya membuka aplikasi pelacak untuk mencari istri dan anak-anaknya, itu sudah ia lakukan sejak tahu Elea dekat dengan Marcel. Terlihat posisi Elea tak jauh dari posisinya.
"Syukurlah," gumam Rajendra menghela nafas lega.
Ia berjalan sesuai titik merah dipeta ponselnya, dimana jalan itu menuju pada keberadaan anak dan istrinya.
Dari jauh terlihat Elea bersama dengan putri mereka tengah duduk diatas kursi panjang, menikmati es krim aneka rasa sembari tertawa gembira.
Bibir Rajendra tersenyum, gambaran itu begitu sejuk dimatanya. Ini bukan pertama kalinya ia melihat Elea tertawa bersama dua putri mereka, dulu ia sering juga melihat Elea tertawa saat berbincang dengan bi Halim dan asisten rumah tangga mereka yang lain.
Hingga ia sendiri yang merubah sikap Elea tanpa sadar, yang dulunya riang menjadi pendiam. Ibunya mengajari Elea bagaimana menjadi seorang nyonya Kusuma, bahkan melarangnya berteman dengan asisten rumah tangga demi harkat dan martabat keluarga.
Ia ingat semua itu.
Namun mata sejuk itu berubah melebar ketika sosok pria datang mendekati mereka, tangan Rajendra mengepal kuat dengan hati yang mulai tersulut api.
"Lelaki itu, sejak kapan ia ada disini?" geram Rajendra dengan wajah merah padam.
***
"Sena, do'amu terkabul," 🤣🤣🤣