Sekolah internasional terkenal dijakarta yang bernama Grand Imperial Academy, sedang disibukan dengan kedatangan siswa-siswi baru, yang sedang melakukan masa orientasi.
Anaya menjadi salah satu siswi baru di Grand Imperial Academy, ia bersekolah disana karena ada kedua abang kandungnya dan juga abang sepupunya yang bersekolah disana dan sudah menjadi siswa kelas 12 yang merupakan panitia orientasi juga.
Helga si Ketua OSIS yang tak pernah terlihat senyumannya sedikitpun menjadi icaran banyak siswi di Grand Imperial Academy.
Namun senyum Helga mulai muncul saat ia mulai tertarik dengan Anaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NLiRa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENUJU PERUSAHAAN WIRANTA
"Bilang apa? " tahya William.
"Papa nyuruh kita ke kantor setelah pulang sekolah, ada pertemuan penting" ucap Mahesa yang baru ingat.
"Kita mandi, siap-siap dan langsung berangkat" ucap Farraz yang mengambil tasnya laku menuju ke kamar.
"Gue kirim pesan ke anak-anak kalau kita gak jadi kumpul siang ini" ucap William yang mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan di grup The Ravens.
Tak lama setelah itu Floella, Retta dan Naina sudah tiba di kediaman Wiranta. Mereka sudah duduk di ruang tamu menunggu Anaya.
"Kak Flo, kak Retta, Kak Naina" sapa Anaya yang berlari dari arah tangga.
"Jangan lari-lari Ana" tegur Floella dengan lembut.
"Hehe, maaf aku lama" ucap Anaya sambil nyengir.
"Gak apa-apa Ana, kami juga baru datang" jawab Naina yang tersenyum.
"kamu gemes banget sih" ucap Retta yang mencubit pela pipi gemes Ana.
"Ah kak Retta bisa aja" ucap Anaya malu.
"Oh ya kita langsung ke sana atau jemput In-in dulu? " tanya Anaya.
"Vinka dan Citra sudah di jemput sama Joanna dan Lusia, jadi kita langsung ketemu di mall" ucap Floella.
"Citra ikut juga? " tanya Anaya yang terkejut.
"Iya, tadi kakak minta Vinka untuk ngajak Citra dan dia mau" ucap Retta.
"Ya walapun Citra harus sedikit dipaksa oleh Vinka" sambung Retta lagi.
"Yaudah ayo kita jalan sekarang" ucap Anaya yang penuh semangat.
"Pamitan dulu sama abah-abang kamu, Ana" ucap Floella sambil mengusap rambut Anaya.
"Abang kamu mana? " tanya Floella lagi.
"Udah mau jalan? " tanya Farraz yang berjalan di tangga barengan dengan Mahesa dan William.
"Nah itu abang" ucap Anaya yang tersenyum.
"Abang Ana jalan sekarang ya" ucap Anaya yang berpamitan pada abangnya.
"Iya, Ana. Ingat jangan makan sembarangan" ucap Mahesa.
"Iya abang" jawab Anaya.
"Flo, aku titip Ana" ucap William.
"Tenang sayang, aku jagain Ana dengan baik" sahut Floella yang tersenyum.
"Ehem, jangan lupa ada gue juga kok wil" ucap Retta.
"Iye, gue tau" sahut William.
"Abang mau nongkrong ya? " tanya Anaya.
"Gak jadi, abang mau ke kantor papa dulu" jawab Farraz yang membuat Anaya hanya menganggukkan kepalanya.
"Yaudah kalau begitu Ana pergi dulu ya" pamit Ana yang memeluk masing-masing ketiga abangnya.
Setelah berpamitan mereka pun lagi menuju ke mall, dan begitu pula dengan Farraz, Mahesa dan William yang langsung menuju ke kantor.
Mereka memarkirkan mobil dan lansung masuk ke gedung besar itu, saat sampai di lobi perusahaan William, Farraz dan Mahesa melihat Helga yang sedang berbicara dengan resepsionis disana.
"Eh Hel, ngapain lo disini? " tanya William yang melihat Helga di lobi.
"Kalian disini? " tanya Helga balik.
"Ini perusahaan bokap gue kalau lo lupa" sarkas Mahesa.
"Gue gak lupa itu dan gue juga gak lupa kalau kalian janji untuk ke markas tadi" ucap Helga.
"Lo juga bilang mau ke markas tadi" sahut Mahesa jengkel.
"Papa gue nyuruh gue ke sini" jawab Helga.
"Hah, papa lo disini juga? " tanya William.
"Ngapain om Devandra disini? " tanya William lagi.
"Iya, dan gue gak tau kenapa papa gie disini. Yang jelas dia nyuruh gue ke sini tadi" ucap Helga.
"Ada apa ya? " tanya Farraz yang penasaran.
"Kita tanya sama papa langsung aja lah" sahut Mahesa.
"Yaudah langsung ke ruangannya aja" sahut William yang berjalan menuju lift yang diikuti oleh Farraz, Mahesa dan Helga.
"Hel, lo udah ngabarin Jefran dan Nevan kalau lo gak jadi ke markas? " tanya William yang berada di lift.
"Udah" jawab Helga singkat.
"Masalah perasaan gue ke Ana, kalian mau bahas kapan? " tanya Helga.
"Jangan sekarang, gue gak mau mood gue hilang karena bahas masalah lo" ucap Mahesa kesal.
"Tapi kalian gak boleh menghindar teruskan" jawab Helga santai.
"Gue serius dengan perasaan gue ke adik kalian dan gue juga gak mau ngejar Ana tanpa persetujuan dari kalian" ucap Helga lagi.
"Kalaupun kita gak setuju lo juga bakal maksa kan" ucap Mahesa sinis.
"Nah itu lo tau" jawab Helga tengil.
"Jadi sebelum gue bawa Ana kabur, mending lo semua kasih restunya ke gue" sambung Helga yang tersenyum tipis membuat Farraz, William dan Mahesa terkejut.
"Sia.. " ucap Mahesa kesal mama terhenti karena lift yang sudah terbuka dan Helga yang langsung keluar dari sana.
"Nah lo lihat tu, kalau sampai dia beneran jadian sama Ana bakal songong banget tuh anak" ucap Mahesa pada Farraz dan William.
"Capek gue mikirnya" ucap Farraz yang ikut keluar dari lift.
Dengan wajah kesal Mahesa pergi menuju ke ruangan papanya.
"Clekk" Farraz membuat pintu ruangan papanya dan disana sudah ada papa dan mamanya dan juga papa dan mamanya Helga di sana.
"Eh kalian sudah datang, ayo silakan duduk" ucap Andreas yang melihat anak-anaknya dan Helga sudah datang.
"Selamat siang om, tante"sapa Helga sopan.
"Siang Helga" jawab Andreas dan Sinta yang tersenyum.
"Silakan duduk" ucap Andreas.
"Baik om" sahut Helga yang duduk di samping papanya.
"Mama gak di butik? " tanya Helga pada mamanya.
"Papa minta mama ke sini" sahut Arunika.
"Lagian sudah lama kami tidak kumpul, baru semalam sempat makan malam bareng" sahut Sinta yang tersenyum.
"Oh jadi sahabat lama yang mama dan papa maksud om Devandra dan tante Arunika? "tanya William.
"Kenapa gak bilang aja rekan bisnis papa" sambung William.
"Kerena diluar pembahasan kerja kami sahabat Will, dan sudah lama juga kami tidak berkumpul bersama. Devandra hanya mengirimkan asistennya jika mengurus pekerjaan ke sini" ucap Andreas.
"Kau juga sama Andreas, kau selalu mengirim asisten mu untuk bertemu dengan ku" ucap Devandra yang tak mah kalah.
"Sudah sebaiknya kalian bilang pada anak-anak alasan kalian memanggil mereka kesini" ucap Sinta.
"Iya benar, mereka sedari tadi bengong melihat kalian" ucap Arunika.
"Baiklah, kita bahas aja masalah ini" ucap Andreas.
"Masalah apa pa?, perusahaan lagi banyak masalah? " tanya Farraz yang sedari tadi hanya diam.
"Hahaha, jangan panik begitu Farraz" ucap Andreas yang tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lalu ada pa?" tanya William yang penasaran.
"Semalam papa dan om Devandra sudah buat kesepakatan" ucap Andreas.
"Papa dan om Devandra mau kalian berempat membangun sebuah perusahaan yang bergerak dibidang entertainment" ucap Andreas dengan serius.
"Hah, gak mungkinlah pa. Kami aja sibuk ngurus perusahaan ini dan perusahaan mama, mana sempat kami ngebangun perusahaan baru" ngeluh Mahesa.
"Dengan bergabungnya kalian berempat, kalian akan bisa dan kalian juga gak perlu bantuin papa maupun mama lagi" ucap Andreas.
"Tunggu pa, kenapa ini tiba-tiba banget?, dan kenapa harus perusahaan yang bergerak dibidang entertainment? " tanya William.
"Dengan kita membangun perusahaan yang bergerak dibidang entertainment, semua bisnis keluarga kita akan bertaut" bukan Andreas maupun Devandra yang menjawab melainkan Helga.
Helga langsung memahami maksud dan konsep yang direncanakan oleh papanya dan om Andreas.
"Maksudnya gimana Hel? " tanya Farraz yang kebinggungan mendengar jawaban dari Helga.
...****************...
...****************...
Hai udah lama author gak up cerita, so kali ini author up cerita baru yang bertemakan anak sekolah lagi. mohon dukungannya, maaf kalau banyak kata yang typo. Jangan lupa Like, Comment dan Sarannya. Jujur saran dari kalian bisa menjadi motivasi bagi author untuk buat jalan cerita. Makasih semuanya, selamat menikmati...
...****************...
...****************...