NovelToon NovelToon
Mas Galak Saranghae

Mas Galak Saranghae

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romantis / Cintamanis / Fantasi / Cintapertama / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mahlina

Siapa bilang niat balas dendam akan berakhir sesuai rencana?

Buktinya nih si Nisa!

Hatinya udah di buat jungkir balik sama Aziz. Tetap aja hatinya gak bisa berpaling dari pria galak yang acap kali berkata nyelekit di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

...🥀🥀🥀🥀...

Nisa terkekeh, meledek Aziz yang tengah memunggungi ketiganya.

“Malu tuh!”

“Udah, Nis! Jangan menggoda nak Aziz lagi!” seru Naraya.

Kegiatan memasak begitu terasa hangat di kediaman orang tua Nisa, gak ada kecanggungan di wajah Aziz seiring Sabah dan Naraya yang tampak memperlakukan anak muda itu bak anak kandung.

Hal yang sama juga berlangsung saat di meja makan, bisa dibilang lebih seru. Hal yang gak pernah sekali pun terlintas dalam pikiran Aziz.

“Syukur alhamdulilah ibu bisa merasakan enaknya masakan kamu, nak Aziz!” seru Naraya dengan mata berkaca kaca, saat menyantap masakan mewah, hasil masakan dari Aziz.

“Terima kasih atas pujiannya, tante! Tapi ini hanya masakan sederhana.” timpal Aziz dengan senyum ramahnya.

Sabah terkekeh dengan tatapan bangga pada Aziz, “Masakan sederhana mu ini, terlihat sangat berkelas di tangan mu nak Aziz! Biar kata rasanya gak jauh beda dengan masakan ibu, tampilannya ini loh! Ayah seperti sedang menyantap makan siang hotel berbintang!”

Nisa menyambar gelasnya, meminum sedikit air putih itu.

‘Bujuk dah si ayah, bisa bae itu muji ibu! Gak lama lagi pasti ngejatuhin mental ibu!’ pikir Nisa.

“Terima kasih kalo masakan saya bisa diterima om dan tante!” timpal Aziz.

Nisa mendengus kesal, “Sudah lah yah, bu! Kalian berdua jangan terus memuji nya! Nanti sayang ku Aziz bisa besar kepala terus mendengar pujian kalian berdua.”

Aziz menatap tajam Nisa, ‘Sialan nih bocah, apa dia pikir aku begitu haus akan pengakuan dan pujian orang tuanya apa? Aku tidak butuh kata manis dari penjilat seperti orang tua mu, Nis!’

“Lihat itu yah! Anak kita iri dengan pasangannya sendiri, yah!” celetuk Naraya dengan terkekeh.

Nisa menghembuskan nafasnya kasar, melirik Aziz dengan malas.

“Aku bukan iri, bu! Kalian yang terlalu berlebihan menyanjung Aziz. Selain wajahnya yang tampan, kaga buat malu kalo diajak jalan. Masakannya yang enak, gak ada lagi yang bisa aku terima darinya. Sikap nya aja terlalu manis kalo di bilang lembut pada ku!” dusta Nisa.

Aziz kelirik Nisa dengan ekor matanya, ‘Kapan aku bersikap manis padanya? Aku selalu bersikap ketus, dan galak padanya! Aku bahkan sudah membuat pinggangnya me mar karena benturan meja. Bilang saja dia mau menyindir ku!’

“Wah paket komplit itu sayang! Ibarat kata orang dulu mah ya! Kami sebagai orang tua, dapat durian runtuh kalo kamu sampai jadi dengan nak Aziz, Nis!” timpal Naraya dengan tatapan bangga.

“Kalo putri om saja sudah mengakui keunggulan mu dari pria mana pun! Kami pun begitu, bukan cuma masakannya yang bisa om dan tante terima, orang nya pun bisa bangat kami terima. Bukan begitu, mah!” cerocos Sabah.

‘Aku unggul dari siapa? Sudah jelas aku satu satunya pria yang ia bawa untuk menemui orang tuanya!’ gerutu Aziz, mencuri pandang pada Nisa.

“Benar nak, udah mulai sekarang jangan panggil om dan tante lagi. Panggil aja ibu dan ayah. Sama seperti Nisa memanggil kami.” cerocos Naraya dengan tatapan penuh harap.

“Benar itu! Toh hanya menunggu bulan atau hari, kalian akan resmikan hubungan kalian toh! Ingat umur, jangan main main sama hubungan. Kalo sudah cocok satu sama lain, ya langsung aja resmi kan!” timpal Sabah tanpa saringan.

Aziz tersedak makannya, “Uhuk uhuk.”

Nisa mengerucutkan bibirnya kesal, ia bahkan memberikan minumannya pada Aziz.

“Jangan dengerin omongan ayah dan ibu! Kita jalanin saja hubungan kita ini dengan santai. Toh aku juga gak mau nikah buru buru. Aku masih ingin sendiri, tanpa harus di kekang suami.” sentak Nisa.

“Gak jauh beda kan bu, masakan Aziz dengan hasil masakan dari tangan ibu? Enak bu!” serono Sabah dengan tatapan meyakinkan.

Pluk.

Naraya menepuk lengan Sabah dengan pipi merona malu.

“Serius rasanya gak jauh beda yah? Tapi sejak kapan masakan ibu bisa seenak ini? Ayah jelas tau kalo ibu gak pandai masak! Jangan ngibul lah yah di depan calon mantu!” celetuk Naraya.

Sabah menge lus punggung Naraya dengan tatapan penuh cinta, “Ibu emang gak pandai masak, tapi apa pun hasil masakan ibu. Tetap enak di lidah ayah, perut ayah juga masih bisa memakluminya.”

Naraya menatap Sabah curiga, “Sungguh?”

Sabah mengerdikkan dagunya, “Sungguhan lah, masa bohong! Tau gak, kenapa masakan ibu selalu enak di lidah ayah?”

Naraya menggeleng, sementara Nisa dan Aziz menatap keduanya penuh tanya. Sama sama ingin mendengar jawaban dari pria paruh baya itu.

‘Apa yang membuat masakan tante enak di lidah om? Kalo tante Naraya sendiri gak pandai masak?’ pikir Aziz.

‘Ayah bohong bangat dah, kapan masakan ibu punya rasa yang pas di lidah ku? Yang ada keasinan, pahit, mentok paling mendekati enak ya hambar.’ pikir Nisa.

Sabah menarik tangannya dari punggung sang istri, lalu mencu bit dagu Naraya.

“Karena ibu masakin ayah pake cinta, cinta dan ketulusan ibu itu lah yang menyelamatkan masakan ibu dari rasa hambar dan kurang garam.” celetuk Sabah, bak kendaraan hilang kendali.

Alis Naraya terangkat, “Terus apa lagi? Cuma hambar dan kurang garam?”

Cup.

Sabah mendaratkan kecupan singkat di bibir sang istri.

Aziz menelan salivanya sulit, dengan mata membola gak percaya, ‘Buset dah, udah tua kaga tau malu amat. Kalo cuma di depan Nisa sih bodo amat. Secara Nisa anak kandung mereka. Nah gua? Gua masih orang luar yang gak tau apa apa! Main nyo sor itu orang, malu kenapa ya sama umur!’

Nisa menggaruk kepalanya yang gak gatal, ‘Tua tua keladi nih si ayah mah!’

Sabah tersenyum, menatap canggung sang istri, “Ya itu, bu! A- ada lagi rasa yang kurang. Keasinan mana kala ibu pake garam lebih dari seharusnya. Rasa pedas saat ibu menambah kan lada dalam masakan ibu.”

“Ya terus apa lagi?” desak Naraya, tangannya bah kan sudah mendarat di pinggang Sabah.

Sabah menelan salivanya sulit, melirik gak berdaya pinggangnya yang siap di cu bit Naraya.

‘Mati lah aku!’ jerit batin Sabah.

“Pa- pahit, ma- mana kala masakan yang ibu masak gosong hehehe!” seru Sabah dengan terkekeh.

Kreeek.

Tanpa ragu, Naraya mencu bit pinggang Sabah.

“Sudah ibu duga! Pasti ini nih yang mau ayah katakan sama nak Aziz! Jahat bangat bibir ayah kalo ngomong!” gerutu Naraya, menatap galak Sabah.

“Uggghhh sakit bu! Aduh, ayah hanya berkata jujur, bu!” kilah Sabah, mencoba melepaskan tangan sang istri dari pinggangnya.

“Setidaknya tante gak buat gaduh dimana tante berada. Tidak seperti seorang gadis yang aku kenal. Dimana ada dia, pasti ada masalah yang tercipta karena nya!” serono Aziz, menyantap makanan nya dengan santai.

“Apa iya? Pasti gadis yang nak Aziz kenal itu begitu payah, ceroboh dan sulit diatur. Tapi kalo di bandingkan dengan Nisa, putri tante jauh lebih baik dari gadis yang nak Aziz kenal itu kan?” cecar Naraya, dengan kedua tangan di atas meja, menanti jawaban dari Aziz.

Bersambung …

1
lina
Kasih tau gak y
partini
wah banyak Banggt yg pdkt
lina: Biar aziz ke bakar 😄
total 1 replies
lina
Marahnya awet amat
lina
Yaah beeet
partini
ngilu Banggt tuh terong 🍆🤣🤣
lain kamar aja lah nis bukan muhrim loh ,tadi kata mu ini itu macam tau itu salah kalau masih satu kamar ya pada Bae itu mah 🤣🤣🤣
lina: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
lina
polih mna y
lina
goroh
lina
tul itu
lina
udh penggel bae itu palanya pak
lina
kga syg nyawa 🤣🤣
lina
ulahnya s hans
lina
ora mati sekalian.
lina: aman itu🤭
total 2 replies
lina
sukirin
lina
minta d beri
lina
semprul
lina
nangis lah. u hila
lina
d dengar g y
lina
cuma tanya. d samain ngulur waktu. aitu ngelawak?
lina
harus pede ngadepin ajis
lina
kutu kupret klo nyeletuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!