Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stella Lingga 35.
Perasaan sesak mendadak ada di dada Stella yang tidak langsung hilang saat dia membalikkan badan dan berjalan menjauh dari koridor kelas XII MIPA 3.
Sepanjang sisa jam pelajaran hari ini, kepalanya mendadak penuh. Ada rasa malu yang membakar pipinya tiap kali dia mengingat tatapan datar Gibran di depan tempat sampah.
Cowok itu tidak merasa bersalah. Sama sekali tidak. Bagi Gibran, Stella hanyalah gangguan yang berhasil dia singkirkan ke tempat selayaknya, tempat sampah.
Namun, di samping rasa kecewa yang menggerogoti harga dirinya, ada satu kenyataan yang membuat Stella sadar diri. Dia punya Lingga.
Lingga adalah jangkar hidupnya di sekolah ini. Pacarnya yang tidak banyak omong, tapi selalu ada di garis depan untuk memastikannya aman.
Maka, saat bel pulang sekolah berdering, Stella memilih untuk mengubur dalam-dalam urusannya dengan Gibran. Dia tidak ingin kekacauan yang dia buat sendiri merusak ketenangan hubungannya dengan Lingga.
Sesuai instruksi Lingga di kantin tadi siang, Stella berjalan lurus menuju perpustakaan.
Aroma buku tua dan dinginnya AC menyambutnya. Dia mengambil tempat di sudut paling belakang, mencoba fokus pada lembar kerja biologi yang sama sekali tidak masuk ke otaknya.
Tepat lima belas menit kemudian, sebuah bayangan tinggi berhenti di depan mejanya. Lingga berdiri di sana, masih dengan seragam yang berantakan khas anak cowok sehabis nongkrong, tapi matanya melembut saat menatap Stella.
"Lama bee?" tanya Lingga, suaranya pelan agar tidak menegur keheningan perpus.
Stella menggeleng, langsung membereskan buku-bukunya ke dalam tas. "Enggak sayang. Pas lima belas menit. Urusan kamu udah kelar?"
"Udah. Cuma anak IPS 3 yang minta kejelasan soal main biliar," jawab Lingga ringkas. Dia meraih tas ransel Stella, membawakannya di sebelah bahu seolah itu sudah menjadi refleks alaminya. "Yuk."
Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor yang mulai sepi. Tangan kanan Lingga menggenggam jemari Stella, hangat dan kokoh. Interaksi mereka selalu seperti ini—sederhana, tidak mengumbar kemesraan yang berlebihan, namun penuh dengan kepastian. Stella merasa terlindungi. Bersama Lingga, dia tidak perlu mengemis perhatian seperti yang dia lakukan pada Gibran.
Saat mereka berdua hampir mencapai area parkir motor, ponsel di dalam saku rok Stella bergetar pendek. Beberapa kali secara beruntun.
Stella meraba sakunya, mengeluarkan ponselnya sambil terus berjalan. Di layarnya, tertera sebuah nomor tidak dikenal. Stella mengerutkan kening. Dia membuka aplikasi pesan teks dan seketika langkahnya melambat.
Pesan itu datang berondong-bondong dari satu nomor yang sama. Isinya panjang, kontras dengan sifat pemiliknya yang biasanya sarkas.
Stel, gue minta maaf soal bekal yang pernah gue buang.
Gue gak bermaksud bikin lo malu. Gue sadar gue salah besar saat itu
Nasi goreng lo... gue hargain usaha lo bangun pagi. Tapi tolong, jangan kayak gini lagi. Gue gak mau ada salah paham di antara kita, plis tinggalin cowok lo. Jadian sama gue.
Stella mematung di tempatnya. Gibran. Itu pasti Gibran. Entah dari mana cowok itu mendapatkan nomornya—mungkin dari grup angkatan atau dari Rara. Tulisan itu terasa asing jika dibayangkan keluar dari mulut seorang Gibran yang sedingin es. Ada nada panik yang terselip, seolah Gibran ketakutan telah melintasi batas yang berbahaya.
"Kenapa, Bee?"
Suara berat Lingga memecah lamunan Stella. Lingga berhenti dua langkah di depannya, menoleh dengan alis bertaut. Matanya yang tajam langsung turun menatap layar ponsel Stella yang masih menyala.
Stella menelan ludah. Keberadaan Lingga di sampingnya adalah pengingat instan tentang posisi dirinya. Stella tidak boleh egois. Jika dia menyembunyikan ini, dan Lingga tahu dari orang lain, dampaknya akan jauh lebih buruk. Lingga bukan tipe cowok yang suka berteriak, tapi kemarahan seorang Lingga yang diam jauh lebih menakutkan.
Tanpa berkata apa-apa, Stella menyodorkan ponselnya ke hadapan Lingga.
Lingga menerima ponsel itu. Matanya membaca baris demi baris pesan dari Gibran dengan cepat. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi ekstrem, rahangnya hanya mengeras samar, dan sorot matanya berubah sedingin musim salju. Udara di antara mereka mendadak terasa mencekik.
"Siapa?" tanya Lingga, suaranya sangat tenang, namun Stella tahu ada badai yang tertahan di balik ketenangan itu.
"Gibran," jawab Stella jujur, suaranya agak cicit.
Lingga tidak langsung merespons. Dia menatap nomor tidak dikenal itu, lalu beralih menatap Stella lurus-lurus ke dalam mata. Tidak ada kilat cemburu yang meledak-ledak, melainkan sebuah tuntutan akan ketegasan. Hubungan mereka adalah tentang komitmen yang nyata, dan Lingga menghargai kejujuran di atas segalanya.
"Lo mau bales?" tanya Lingga lagi. Pendek. Menguji.
Stella menggeleng cepat. Gibran sudah beberapa kali membuang usahanya, dan sekarang pesan maaf itu justru berpotensi merusak hubungannya dengan Lingga. Itu sama sekali tidak sepadan.
"Enggak," kata Stella tegas. "Gue gak mau urusan sama dia lagi."
Stella mengambil kembali ponselnya dari tangan Lingga. Di bawah tatapan lurus pacarnya, ibu jari Stella bergerak di atas layar. Dia menekan profil nomor tidak dikenal itu, menggeser menu ke bawah, dan tanpa ragu menekan tombol merah, Blokir.
Layar ponselnya menampilkan notifikasi bahwa nomor tersebut tidak akan bisa menghubunginya lagi. Stella mengunci ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku rok. Dia menatap Lingga, menunjukkan bahwa batas itu kini sudah tertutup rapat.
Melihat tindakan Stella, ketegangan di bahu Lingga perlahan mengendur. Sudut bibirnya terangkat sangat tipis, hampir tidak terlihat jika orang tidak memperhatikannya dengan jeli. Dia mengulurkan tangan, mengacak rambut Stella pelan dengan gerakan yang terhitung protektif.
"Bagus," kata Lingga pendek. Dia mengambil satu langkah mendekat, kembali meraih jemari Stella dan menggenggamnya lebih erat dari sebelumnya. "Gak usah dipikirin lagi. Yuk, pulang. Gue laper."
Stella tersenyum lega, merasakan kehangatan yang kembali mengalir di dadanya. Langkah mereka kembali berlanjut menuju parkiran, meninggalkan riak kecil yang sempat dibuat oleh Gibran sebelum mereka jadian.
Stella tahu dia telah mengambil keputusan yang masuk akal. Di usianya yang menginjak remaja akhir, dia paham bahwa drama yang dicari-cari hanya akan membawa luka, sedangkan ketenangan yang ditawarkan Lingga adalah hal yang ingin dia pertahankan.
Di tempat lain, di dalam kelas yang sudah sepi, Gibran menatap layar ponselnya yang hanya menampilkan tanda centang satu pada pesan panjang yang dikirimnya. Dia mengembuskan napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi kosong. Rasa tidak nyaman yang asing itu semakin perih di sudut hatinya, sebuah konsekuensi dari tindakan dinginnya yang ternyata memotong sebuah jalur komunikasi secara permanen.
......................
...****************...
Tbc,