NovelToon NovelToon
OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Suara decitan ban mobil ambulans rumah sakit berdecit keras di atas halaman paviliun mewah kediaman keluarga Wijaya.

Mobil itu berhenti tepat di depan teras utama bangunan bergaya klasik Eropa yang menjulang megah.

Pintu belakang ambulans terbuka lebar dengan tergesa-gesa.

Seorang pemuda berseragam petugas kebersihan rumah sakit melangkah turun dengan membawa sebuah kotak peralatan medis darurat sederhana.

Pemuda itu tidak lain adalah Arka Prasetya.

Wajahnya tampak kosong dan langkah kakinya terlihat lambat, persis seperti orang linglung yang salah tempat.

Clara Wijaya yang sedang berdiri mondar-mandir di depan pintu utama langsung menoleh ke arah sumber suara.

Air mata masih membasahi kedua pipinya yang tampak pucat karena kepanikan luar biasa.

Begitu melihat sosok yang turun dari mobil ambulans adalah Arka, bola mata Clara melotot lebar seketika.

"Kamu...?!" pekik Clara dengan suara melengking penuh rasa tidak percaya.

Clara segera berlari mendekati Arka dengan langkah tergesa-gesa.

Ia mencengkeram kerah baju kerja Arka dengan kedua tangan yang bergetar hebat.

"Kenapa malah kamu yang datang?!" bentak Clara histeris di hadapan Arka.

"Mana dokter spesialis jantung senior yang kuminta?! Kenapa rumah sakit malah mengirim tukang pel lantai kesini?!" lanjut Clara marah besar.

Arka mengerjap-nerjap lambat, menatap wajah Clara yang basah oleh air mata dengan ekspresi bodoh.

"Saya... saya tadi disuruh perawat naik mobil ini karena dibilang ada panggilan darurat," jawab Arka dengan nada suara terbata-bata.

"Panggilan darurat kepalamu itu?!" murka Clara sambil mendorong dada Arka dengan sekuat tenaga.

"Kakekku sedang sekarat di dalam! Nyawanya berada di ujung tanduk! Kenapa rumah sakit malah mengirim orang bodoh sepertimu?!" teriak Clara histeris sambil menangis.

Para pelayan rumah tangga yang berdiri di belakang Clara hanya bisa menunduk ketakutan melihat kemarahan nona muda mereka.

Mereka juga merasa heran kenapa pihak rumah sakit mengirim seorang petugas kebersihan di saat genting seperti ini.

"Nona Clara, waktu kita tidak banyak," ucap seorang kepala pelayan dengan suara gemetar.

"Napas Tuan besar sudah hampir berhenti total di dalam sana."

Clara menoleh ke arah ruang kerja kakeknya dengan tatapan putus asa yang teramat sangat.

Ia kembali menatap wajah Arka yang tampak sangat tenang di tengah situasi yang begitu kacau.

"Dengar ya, Arka!" cicit Clara dengan suara parau menahan tangis.

"Kalau sampai terjadi sesuatu pada kakekku, aku bersumpah akan menghancurkan hidupmu dan menyeretmu ke penjara seumur hidup!" ancam Clara tajam.

Arka tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun di balik tatapan sayunya.

Ia hanya mengangguk-angguk kecil secara canggung.

"Iya... saya mengerti, Nona," jawab Arka pelan.

"Tapi kalau saya bisa menyelamatkan kakekmu, apa hadiah yang akan kudapat?" tanya Arka tiba-tiba dengan nada polos.

Clara tertegun sejenak mendengarkan pertanyaan yang terdengar sangat konyol di tengah situasi hidup dan mati tersebut.

"Hadiah apa?! Kamu masih sempat-sempatnya meminta hadiah di saat kakekku sakaratul maut?!" bentak Clara kesal setengah mati.

"Ya, kan lumayan kalau dapat bonus uang lembur," balas Arka dengan cengiran bodoh.

"Kurang ajar! Cepat masuk ke dalam sekarang atau aku suruh satpam menyeretmu keluar!" perintah Clara sambil menarik tangan Arka masuk ke dalam rumah.

Langkah kaki mereka berdua bergegas menelusuri koridor mewah berlantai marmer hitam.

Bau harum aromaterapi bercampur aroma obat-obatan langsung tercium begitu mereka memasuki ruang kerja pribadi Tuan Besar Wijaya.

Di lantai ruangan tersebut, Kakek Wijaya tergeletak kaku dengan mata terpejam rapat.

Beberapa pelayan berdiri mengelilingi tubuh pria tua itu sambil menutup mulut karena ngeri.

"Kakek..." panggil Clara dengan suara lirih sambil berlutut di samping kakeknya.

Ia menyentuh tangan kakeknya yang sudah terasa sangat dingin bagaikan es.

Arka melangkah mendekati brankar darurat tempat kakek Wijaya dibaringkan sementara oleh para pelayan.

Tatapan mata Arka yang tadinya sayu dan kosong tiba-tiba berubah menjadi sangat tajam sepersekian detik.

Di dalam kepalanya, sistem otomatis langsung memindai kondisi tubuh Kakek Wijaya secara menyeluruh.

[Sistem Mendeteksi Gagal Jantung Akut Disertai Sumbatan Total Pada Arteri Koroner]

[Tingkat Kritis Pasien: 98 Persen Menuju Kematian]

[Peluang Keberhasilan Penyelamatan Melalui Tindakan Bedah Mikro Darurat: 99 Persen]

Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kesadaran Arka.

"Minggir sebentar, Nona," ucap Arka dengan suara datar yang mendadak kehilangan kesan bodohnya.

Clara yang sedang menangis tersedu-sedu langsung mendongakkan kepalanya menatap Arka dengan heran.

Ada sesuatu yang sangat berbeda dari nada bicara pria di depannya ini.

Bukan lagi suara seorang tukang pel yang penakut, melainkan suara seorang komandan yang memberikan perintah mutlak.

"Apa yang mau kamu lakukan?!" tanya Clara curiga.

"Kalau kamu menyentuh kakekku sembarangan..."

Sebelum Clara sempat menyelesaikan kalimatnya, Arka sudah berlutut di samping tubuh Kakek Wijaya.

Tangan kanan Arka bergerak dengan kecepatan luar biasa yang nyaris tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang manusia biasa.

Sshh!

Arka merobek kemeja bagian dada Kakek Wijaya dengan sekali sentakan tangan.

"Hei! Apa yang kamu lakukan pada kakekku?!" seru Clara histeris sambil mencoba mendorong tangan Arka.

"Diam dan jangan bergerak kalau kamu tidak ingin kakekmu mati detik ini juga!" bentak Arka dengan suara dingin bernada menggelegar.

Bentakan keras itu berhasil membuat Clara tertegun kaku seketika.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Clara melihat sorot mata Arka yang memancarkan wibawa dan ketegasan mutlak yang membuat bulu kuduknya merinding hebat.

Para pelayan di belakang ruangan langsung menutup mata karena takut melihat kenekatan Arka.

Arka tidak membuang waktu sedetik pun.

Ia mengeluarkan tiga buah jarum akupunktur perak steril dari dalam saku bajunya dengan gerakan sangat lisan.

Pluk! Pluk! Pluk!

Ketiga jarum itu ditancapkan secara bersamaan di titik-titik saraf vital di sekitar dada dan leher Kakek Wijaya dengan presisi milimeter.

"Apa itu cukup dengan jarum kecil..." gumam salah satu pelayan dengan suara gemetar.

Belum sempat kalimat pelayan itu selesai, keajaiban yang tidak masuk akal langsung terjadi di depan mata mereka.

Garis lurus pada monitor portabel kecil yang dibawa Arka mendadak menunjukkan denyut kehidupan.

Beep... beep... beeep...

Warna kebiruan di bibir Kakek Wijaya perlahan-lahan mulai memudar, berganti dengan warna kemerahan yang normal.

Napas pria tua itu yang tadinya terhenti kini kembali mengalir masuk secara teratur melalui hidungnya.

"B... bagaimana mungkin..." bisik Clara dengan bola mata melotot lebar selebar-lebarnya.

Ia menatap layar monitor lalu menatap wajah kakeknya secara bergantian dengan rasa tidak percaya yang teramat sangat.

Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, pria yang tadinya berada di ambang kematian kini kembali bernapas dengan stabil.

Arka menarik napas pendek lalu menyeka keringat tipis di pelipisnya.

Ia memasang kembali ekspresi wajah bodoh dan kosong seperti semula, seolah-olah apa yang baru saja dilakukannya adalah sebuah kebetulan semata.

"Aduh... untung tidak salah tusuk," ucap Arka dengan nada canggung sambil nyengir dungu.

Clara terdiam membeku di tempatnya duduk.

Otaknya terasa berhenti berproses mencerna kejadian luar biasa yang baru saja disaksikannya.

Pria dungu yang tadi pagi ia hina habis-habisan di lobi rumah sakit sebagai tukang pel rendahan, kini berdiri di hadapannya sebagai penyelamat nyawa kakek tercintanya.

"Kamu... sebenarnya siapa kamu ini, Arka...?" bisik Clara dengan suara gemetar lemah.

Arka menoleh ke arah Clara lalu tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan tersebut.

Di luar halaman utama, suara sirine mobil ambulans yang sebenarnya baru saja meraung-raung memasuki gerbang kediaman keluarga Wijaya.

Namun, semua tim medis profesional itu sudah terlambat karena kejeniusan seorang dokter idiot telah menyelesaikan segalanya dalam sekejap mata.

1
Shinta geol
karya yang bagus dan masuk ke dalam alur
Shinta geol
salut sama sikap thor yang tenang menguasai keadaan,saya kasih vote lah biar rame😍
Shinta geol
kasihan si arka selalu dekerjain para dokter lain nya😭
setiawan
motivasi hidup,saya kasih bintang 5
Jangkar pion
🥰😍🤩
Anton barly
saya suka karakter Thor🤗
gofur
karya yg menarik
yani
😶‍🌫️
fitri
motivasi untuk org normal biar tambah wawasan
fitri
hebat nya orang idiot tpi otak melebihi orang normal👍
Angel
sangat berkesan untuk orang nornal biar tambah semangat dalam bekerja💪
Angel
walaupun banyak yang hina tpi dia tidak runtuh sama sekali👍👍👍
Anton barly
orang idiot aja masih punya musuh,apalagi dia normal
Anton barly
orang pintar walaupun udiot masih aja punya musuh
fitri
sikap thor yang tenang menghadapi masalah👍
pricilia
jangan meremehkan orang yang memiliki kekurangan,belum tentu orang kekurangan itu di bawah batas kita,saya sadar orang normal belum tentu baik😒
clara
sangat bagus
clara
saya suka alur crita nya saya kasih vote 1 deh biar bisa lanjut baca nya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!