NovelToon NovelToon
Teror Arwah Ci Sepi

Teror Arwah Ci Sepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:537
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.

Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!

Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.

Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. BOCAH AJAIB

"Wah, gila sih! Ternyata dunia beneran sesempit telaga Ci Sepi ya, Kak?"

Rahsya memijat pelipisnya yang mulai berdentum nyeri. Ia menoleh ke arah Pak Mamat yang baru saja muncul di belakangnya dengan napas tersengal-sengal.

"Pak Mamat... Bapak tidak bercanda, kan?" tanya Rahsya dengan suara rendah yang penuh penekanan. "Bocah ajaib yang hobi main TikTok ini... benar-benar cucu Pak Cahyanto?"

Pak Mamat mengangguk mantap sambil menyeka keringat di dahi. "Betul sekali, Den. Neng Amel ini satu-satunya cucu kesayangan beliau."

Amel justru melangkah mendekat, aroma parfum stroberinya seketika menabrak indra penciuman Rahsya. Ia menyenggol lengan Rahsya dengan bahunya, memasang wajah paling menggemaskan yang ia punya.

"Tadi katanya tidak terima pasien, sekarang malah satu rumah. Gimana dong, Kak? Kayaknya ini memang takdir kita buat... staycation bareng," ucap Amel manja, sukses membuat bulu kuduk Rahsya berdiri lebih hebat daripada saat melihat hantu semalam.

Meskipun wajah gadis itu kini tak lagi tertutup masker medis, Rahsya langsung mengenali frekuensi suara cempreng yang sedari sore merusak ketenangan batinnya. Harus ia akui secara objektif—sebagai seorang dokter yang terbiasa melihat anatomi wajah—gadis di depannya memang memiliki visual di atas rata-rata. Wajahnya mungil, matanya bulat bersinar, dan senyumnya punya daya rusak yang cukup untuk membuat lelaki normal mana pun bertekuk lutut.

Namun, Rahsya bukanlah tipe lelaki "gampangan" seperti Reno, sahabat karibnya yang bisa jatuh cinta hanya karena dipinjami pulpen. Sejak zaman SMA, Rahsya adalah benteng kokoh yang memegang teguh prinsip hidup menjomblo. Ia adalah spesimen "jomblo karatan" kualitas premium.

Bukannya tidak laku—justru sebaliknya. Antrean wanita yang mengejarnya mungkin sudah sepanjang jalur Pantura. Masalahnya, standar kriteria Rahsya terhadap lawan jenis lebih rumit daripada soal ujian masuk spesialis bedah.

Baginya, wajah cantik saja tidak cukup jika kelakuannya ajaib seperti Amel.

Tak heran jika teman-temannya sering melempar slogan sarkas: "Tampang ganteng Rahsya itu cuma pajangan, bukan buat dimiliki. Mubazir, Guys!"

"Kak Dokter? Kok malah bengong sih? Terpesona ya lihat aku tidak pakai masker?" celetuk Amel sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Rahsya yang kaku.

Rahsya tersentak, segera membuang muka dan berdeham keras untuk menutupi kegugupannya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, mencoba mengembalikan wibawa dokternya meski hanya memakai kolor hitam.

"Jangan kegeeran. Saya cuma lagi mikir, dosa apa yang saya perbuat sampai harus terjebak satu atap sama kamu," sahut Rahsya ketus, suaranya sedingin es batu.

Amel bukannya tersinggung, malah makin cengengesan. Ia duduk kembali di sofa dengan gaya santai, seolah-olah dialah pemilik vila itu.

"Dosa Kakak itu cuma satu: terlalu ganteng tapi pelit senyum. Makanya Tuhan kirim aku ke sini buat jadi 'obat' penawar juteknya Kakak."

Rahsya memutar bola mata, rasa pening di kepalanya naik satu tingkat.

"Pak Mamat," panggil Rahsya tanpa menoleh pada Amel. "Tolong antar cucu Pak Cahyanto ini ke kamar tamu yang paling pojok. Yang paling jauh dari kamar saya. Kalau bisa, yang kuncinya paling susah dibuka dari dalam."

"Ih, Kak Rahsya kok jahat banget sih! Aku kan takut sendirian!" protes Amel sambil mengerucutkan bibirnya, berusaha terlihat semenyedihkan mungkin.

Rahsya tidak peduli. Ia berbalik badan, bersiap kembali ke kamarnya sebelum pertahanan "jomblo karatannya" mulai terkikis oleh tingkah ajaib gadis itu.

"Satu lagi, Amel," Rahsya berhenti di anak tangga pertama, menoleh sedikit dengan tatapan peringatan.

"Di vila ini ada jam malam. Lewat jam sembilan, dilarang main TikTok pakai volume kencang, dilarang mengetuk kamar saya, dan dilarang panggil saya Jaemin. Paham?"

"Tapi wajah Kakak memang mirip idola aku lho... Masa Kakak tidak sadar, sih?" Amel setengah berteriak, suaranya yang melengking bergema di ruang tamu yang tinggi itu.

"Enggak!" jawab Rahsya ketus tanpa menoleh sedikit pun.

Ia langsung melangkah menaiki tangga satu per satu dengan hentakan kaki yang menunjukkan rasa dongkolnya. Kaus oversize-nya bergoyang seiring langkahnya yang terburu-buru.

"Kalau begitu... aku mau panggil 'Oppa' saja, boleh?" teriak Amel lagi dari bawah, kali ini dengan nada yang lebih centil.

Sontak, Rahsya berhenti mendadak di tengah anak tangga. Ia berbalik dan memberikan pelototan tajam yang sanggup membuat nyali pasien mana pun menciut. Namun bagi Amel, tatapan itu justru terlihat seperti adegan drama Korea.

"Opa, Opa! Kamu pikir saya ini kakek kamu, apa?" teriak Rahsya dari lantai atas, wajahnya merah padam menahan kesal. Logikanya yang kaku sama sekali tidak menyentuh ranah budaya K-Pop.

Amel tertawa renyah, tangannya menutupi mulut dengan gaya yang sok imut. "Kak, jangan marah-marah terus dong, nanti cepat tua beneran lho! 'Oppa' itu artinya 'Kakak' dalam bahasa Korea, Kak Rahsya sayang... Masa dokter pintar tidak tahu, sih?"

"Nggak! Bodo amat!"

Rahsya mendengus keras, tangannya mencengkeram pegangan tangga kayu itu kuat-kuat.

"Pokoknya jangan panggil saya Opa, apalagi Om! Ngerti kamu?"

Rahsya memberikan peringatan terakhir dengan telunjuk yang diarahkan tepat ke arah Amel, lalu ia melanjutkan langkahnya dengan gerutu yang tidak henti-henti. Ia bersumpah dalam hati bahwa seminggu ke depan akan menjadi ujian kesabaran paling berat sepanjang sejarah karier kedokterannya.

****

Rahsya membanting tubuhnya ke ranjang, menatap langit-langit kamar yang temaram. Ia meletakkan punggung tangannya di atas dahi, namun telapak tangannya justru merasakan sesuatu yang tidak beres.

"Kenapa jantung gue berdebar begini ya?" gumamnya lirih.

Ia bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu di balik rusuknya—cepat, tidak beraturan, dan sedikit menghentak. Sebagai dokter, ia mencoba melakukan diagnosis mandiri secara logis.

Takikardia? Gejala aritmia ringan? Atau mungkin efek samping kafein dari kopi sore tadi?

"Nggak, ini pasti gara-gara bocah TikTok itu," gerutunya sambil meremas bantal. "Tingkahnya bener-bener bikin tensi naik. Mana ada sejarahnya jantung dokter bedah aman kalau harus serumah sama 'kembaran' sasaeng fans begitu."

Rahsya mencoba mengatur napasnya, menariknya dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Namun, setiap kali ia memejamkan mata, wajah Amel yang cengengesan dan suara cemprengnya yang memanggil "Oppa" justru berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.

Ia mendengus kesal, lalu membalikkan posisi tidurnya menghadap tembok. Ia menyalahkan adrenalin sisa "balap lari" tadi sebagai pembelaan atas harga dirinya yang jomblo karatan. Tidak mungkin seorang Rahsya yang dikenal sedingin es di rumah sakit bisa goyah hanya karena kerlingan mata seorang gadis ber-hoodie hitam.

Tok! Tok! Tok!

Bunyi ketukan di pintu kamarnya kembali terdengar. Kali ini lebih pelan dan ragu-ragu.

"Oppa... eh, Kak Dokter... di dalam ada bayangan hitam lewat di bawah pintu kamar aku. Aku takut beneran, Kak..."

"Ck. Kamu ganggu tidur saya tahu, enggak?"

Rahsya menggeram, emosinya sudah mencapai titik didih. Ia menyibakkan selimut, bangkit dari ranjang, lalu menggulung lengan kaus oversize-nya hingga ke pundak—menampakkan otot lengannya yang kokoh. Ia sudah bersiap menyemburkan rentetan omelan untuk gadis ajaib itu.

Cklek!

"Kamu tuh ya—eh?"

Kalimat Rahsya menggantung di udara. Ia melongokkan kepala ke kanan dan ke kiri, namun koridor lantai atas itu sepi senyap. Tidak ada sosok Amel, tidak ada suara langkah kaki, bahkan tidak ada bayangan yang bersembunyi di balik pilar.

"Kurang asem! Dia ngerjain saya rupanya," gerutu Rahsya sambil mengusap wajahnya gusar. "Lihat saja besok, habis kamu saya marahin habis-habisan!"

Ia kembali masuk dan merebahkan tubuhnya. Namun, baru saja kelopak matanya tertempel, suara ketukan itu kembali hadir.

Tok! Tok! Tok!

"Ck! Siapa lagi sih?!"

Rahsya menyentak selimut untuk kedua kalinya.

"Ini aku Amel, Kak. Boleh masuk enggak?"

Suara cempreng itu terdengar sangat jelas di balik pintu. Rahsya memasang tampang paling sangar yang ia punya—meski alih-alih seram seperti preman pasar, wajahnya justru terlihat makin keren dan berwibawa dengan rahang yang mengeras.

Cklek!

"Kamu—"

Rahsya hendak mengeluarkan jurus khotbahnya, namun lagi-lagi... kosong. Hening. Hanya ada hembusan angin malam yang masuk dari celah jendela di ujung lorong.

"Kayaknya gue beneran dikerjain sama tuh bocah. Awas aja, kali ini enggak bakal gue kasih ampun!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!