Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.
Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.
Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Pita merah yang dipasang Nadia di pintu kaca itu terlalu pendek, dan tidak ada yang berani bilang.
Anindya berdiri di depan kedai dengan tangan terlipat, menatap pita kecil itu bergoyang tertiup angin subuh Bandung, dan menahan tawa. Ceu Imas, yang berdiri di sampingnya dengan sarung tangan kuning baru tergantung di pinggang celemeknya, juga menatap pita itu dengan wajah serius seolah ia sedang mengamati sesuatu yang sangat penting.
"Neng," bisik Ceu Imas, "itu nggak apa-apa ya, pitanya segitu?"
"Nggak apa-apa, Ceu. Pita sekecil itu bikin orang penasaran."
"Oh. Bagus kalau begitu."
Nadia, yang baru saja turun dari tangga lipat dengan wajah memerah, menatap mereka berdua dengan curiga. "Kalian ketawa ya?"
"Nggak," kata Anindya dan Ceu Imas hampir bersamaan.
Mereka bertiga akhirnya tertawa, di depan pintu kaca yang masih berembun, dengan lampu kedai yang menyala hangat di belakang dan langit yang baru mulai pecah menjadi biru muda.
Ini hari pertama.
Di dalam, dua rantang besar nasi uduk sudah tertata di meja kayu panjang, uapnya naik tipis di bawah lampu kuning. Telur dadar gosong tersusun rapi di atas baki, sambal kacang mengilap di mangkuk keramik, dan di sudut jendela, satu meja kecil dengan tanaman yang daunnya baru ditata. Bau santan dan daun salam memenuhi seluruh ruangan, membuat siapa pun yang lewat akan tergoda untuk berhenti.
Anindya menarik napas panjang, membuka kunci pintu, dan membalik papan kecil di jendela dari *TUTUP* menjadi *BUKA*.
Tangannya gemetar sedikit. Ia menyembunyikannya di balik celemek, tapi Ceu Imas melihatnya, dan tanpa berkata apa-apa menepuk punggungnya dua kali, pelan, seperti seorang ibu menenangkan anak sebelum hari pertama sekolah.
---
Pelanggan pertama datang jam enam kurang lima menit. Seorang bapak berseragam satpam, dengan topi di tangan dan senyum canggung.
"Teh Anin, kan? Saya yang dulu tiap pagi di gerobak."
"Pak Tono!" Anindya tersenyum. "Masih ingat, dua bungkus?"
"Dua bungkus, Teh. Satu buat makan, satu buat istri."
Di belakang Pak Tono, orang-orang mulai berdatangan. Pengemudi ojek berjaket hijau, mahasiswa dengan tas ransel, ibu-ibu berdaster dengan tas belanja, dan Pak Jajang yang masuk dengan wajah bangga seolah kedai itu miliknya sendiri. Dalam sepuluh menit, kedai kecil itu penuh, dan Nadia bolak-balik di antara meja dan kasir dengan kecepatan yang membuat rambut kuncirnya melayang.
Ceu Imas bekerja di bak cuci dengan sarung tangan kuning yang pas di jari-jarinya. Bak itu tinggi, seperti yang Anindya minta, sehingga ia tidak perlu membungkuk. Setiap beberapa menit, Ceu Imas melirik tangannya sendiri dengan ekspresi aneh, setengah tidak percaya dan setengah bahagia, seolah ia masih menunggu seseorang datang dan mengambilnya kembali.
Tidak ada yang mengambilnya.
Jam tujuh, antrean mengular sampai ke trotoar. Orang-orang berdiri sambil mengobrol dan memotret papan hijau dengan huruf putih di atas pintu. Anindya melayani dengan senyum yang tidak pernah turun dari wajahnya, tapi di balik senyum itu, jantungnya berdetak lebih cepat dari yang bisa ia kendalikan.
Ini nyata. Semuanya nyata.
Dan tepat ketika ia menyendok nasi untuk pelanggan ketiga puluh, matanya menangkap sesuatu di ujung antrean.
Sebuah motor matic terparkir di seberang jalan. Di sampingnya berdiri seorang perempuan dengan jaket jeans dan helm setengah, kedua tangan menggenggam helm itu di depan dada seperti perisai kecil.
Perempuan itu tidak ikut mengantre. Ia hanya berdiri di sana, menatap kedai itu dengan wajah yang tidak terbaca dari kejauhan.
Sendok di tangan Anindya berhenti sejenak di udara.
"Ceu," katanya pelan, "tolong gantiin saya sebentar."
"Iya, Neng."
Anindya melepas celemeknya, merapikan kerudung, dan keluar dari pintu kaca. Pita merah pendek itu bergoyang di atas kepalanya.
---
Mbak Sari tidak bergerak ketika Anindya menyeberang jalan.
Jarak mereka tinggal dua langkah. Dari dekat, ia tampak lebih kurus dari yang Anindya ingat, dengan lingkar di bawah mata yang tidak berhasil disembunyikan dan jari-jari yang menggenggam helm terlalu erat. Tidak ada celemek di tubuhnya, tidak ada penutup kepala hitam, hanya jaket jeans dan wajah seseorang yang sudah lama tidak tidur nyenyak.
"Mbak Sari."
"Nin." Suaranya serak. Ia berdeham dan mencoba lagi. "Selamat ya. Kedainya... bagus."
"Terima kasih, Mbak."
Hening. Di belakang mereka, antrean berdengung pelan, dan seseorang tertawa keras di dalam kedai.
"Mbak dulu janji," lanjut Mbak Sari, matanya menatap helm di tangannya. "Mau jadi pelanggan pertama."
"Iya, Mbak. Saya ingat."
"Mbak telat." Suaranya pecah di ujung. "Mbak telat banget."
Anindya menatapnya. Selama berbulan-bulan, ia menyimpan banyak kalimat untuk saat ini, sebagian tajam, sebagian lembut, sebagian hanya pertanyaan. Tapi ketika akhirnya perempuan itu berdiri di depannya, semua kalimat itu mencair, dan yang tersisa hanya satu.
"Mbak mau makan?"
Mbak Sari mengangkat kepala, terkejut. "Apa?"
"Nasi uduk, Mbak. Telur gosongnya masih panas." Anindya tersenyum kecil, tidak lebar, tidak hangat berlebihan, hanya tulus. "Mbak udah janji."
Mata Mbak Sari memerah dalam sekejap. Ia membuka mulut, menutupnya, dan menggeleng pelan seolah tidak percaya bahwa kalimat seperti itu ditujukan padanya.
"Nin, Mbak..."
"Silakan, Mbak."
---
Mbak Sari menolak duduk di dalam.
Ia memilih bangku kayu kecil di depan kedai, di bawah papan hijau, dengan sepiring nasi uduk di pangkuan dan helm diletakkan di sampingnya. Orang-orang berlalu-lalang di depannya, sebagian meliriknya, tapi tidak ada yang tahu siapa dia. Hanya seorang perempuan berjaket jeans yang makan sendirian pagi-pagi.
Anindya duduk di bangku sebelahnya, memberi jarak setengah meter. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunggu.
Mbak Sari menyendok sedikit nasi, mencicipi telurnya, lalu sambalnya. Ia mengunyah pelan, dan Anindya melihat bahunya yang tegang perlahan turun satu senti, dua senti, seperti seseorang yang baru saja menurunkan beban yang tidak ia sadari ia bawa.
"Pedasnya," katanya akhirnya, nyaris berbisik, "dalam."
"Cabainya dari kampung Teh Lilis, Mbak."
Mbak Sari berhenti mengunyah. Sendoknya menggantung di udara.
"Teh Lilis?"
"Dia kasih, di pasar. Beberapa bulan lalu."
Mbak Sari menunduk. Jarinya gemetar sedikit di sekeliling sendok. "Dia... bilang apa?"
"Nggak banyak. Dia hampir cerita sesuatu. Tapi nggak jadi."
Hening panjang. Di ujung jalan, klakson angkot meraung dan menghilang.
"Nin." Mbak Sari meletakkan sendok perlahan, menatap piring dengan mata basah. "Kamu masih benci sama Mbak?"
Pertanyaan itu jatuh sangat pelan, dan Anindya menatap perempuan di sampingnya cukup lama sebelum menjawab.
"Saya nggak benci, Mbak."
Bahu Mbak Sari bergetar.
"Tapi saya juga belum lupa," lanjut Anindya, suaranya tenang dan tidak goyah. "Saya masih nunggu penjelasan. Dan saya nggak akan maksa Mbak ngasih sekarang. Tapi saya nggak akan pura-pura nggak ada yang perlu dijelasin."
Mbak Sari mengangguk, air mata akhirnya jatuh ke piring, ke nasi dan telur dadar yang masih hangat.
"Mbak janji," bisiknya. "Mbak bakal cerita."
"Kapan, Mbak?"
"Nanti." Ia menghapus matanya dengan punggung tangan, kasar dan cepat. "Tapi bukan ke kamu dulu, Nin. Mbak harus bilang ke Mas Reyhan dulu."
Anindya terdiam.
"Karena dia yang paling berhak dengar," lanjut Mbak Sari. "Dan karena dia yang paling banyak kehilangan gara-gara Mbak."
Kalimat itu menggantung di antara mereka seperti uap yang belum menemukan jalan keluar. Anindya membuka mulut, hendak bertanya, tapi Mbak Sari sudah berdiri sambil meraih helmnya, dengan piring yang belum habis.
"Mbak harus balik. Sebentar lagi warung buka."
"Mbak..."
"Ini." Mbak Sari merogoh saku jaketnya, mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu, dan menaruhnya di atas bangku. "Bayarnya. Jangan nolak."
"Mbak, itu kebanyakan."
"Itu harga pelanggan pertama." Senyum tipis dan hancur muncul di bibirnya. "Yang terlambat."
Ia mengenakan helm, menyalakan motor, dan sebelum pergi, menoleh sekali lagi.
"Nin. Sambalnya nggak kurang asam."
Anindya menatapnya. Sebuah kenangan lama muncul, tentang sendok kecil, sebuah sambal, dan seorang perempuan di meja potong yang meletakkan sendoknya perlahan.
"Mbak yang ngajarin saya," katanya pelan.
Mbak Sari mengangguk sekali, dengan mata yang tidak lagi bisa ia sembunyikan, lalu menarik gas dan pergi. Motor itu menghilang di tikungan, meninggalkan Anindya sendirian di bangku kayu dengan sepiring nasi uduk yang hampir utuh dan selembar uang dua puluh ribu yang bergoyang tertiup angin.
Ia menatap uang itu cukup lama. Lalu ia menyelipkannya ke saku celemek dan kembali masuk ke dalam kedai yang penuh, tempat orang-orang tertawa dan Nadia berteriak minta tambahan telur dan Ceu Imas mencuci piring dengan sarung tangan kuning yang tidak pernah ia lepas.
Tapi sepanjang hari itu, di sela semua kesibukan, satu kalimat terus berdengung di kepalanya, pelan tapi tidak mau berhenti.
*Mbak harus bilang ke Mas Reyhan dulu.*
Bukan dirinya. Reyhan.
Dan untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, Anindya menyadari bahwa kebenaran yang selama ini ia tunggu ternyata bukan hanya miliknya. Ia dibagi dengan seseorang yang selama ini juga berdiri di sisi lain dinding yang sama, tanpa tahu bahwa dinding itu bukan dibangun oleh dirinya sendiri.
Dan di antara semua rasa yang bercampur itu, ada satu yang paling membingungkan: bukan marah, bukan lega, tapi sesuatu yang lebih mirip rasa iba. Pada laki-laki yang dulu memecatnya tanpa kata, dan yang mungkin, selama berbulan-bulan ini, juga sedang dipecat oleh kebenarannya sendiri.
Malam itu, ketika kedai sudah sepi dan lampu-lampu dimatikan satu per satu, Anindya duduk sendirian di meja dekat jendela dengan secangkir teh. Di luar, hujan Bandung turun pelan. Ia menatap pantulan dirinya di kaca, perempuan berkerudung dengan celemek putih di sebuah ruangan yang ia bangun sendiri, dan berkata pelan, nyaris tanpa suara, "Bu, aku baik-baik aja."
Tidak ada yang menjawab. Tapi untuk pertama kalinya, kesunyian itu tidak terasa kosong.
Bersambung ke Bab 26...