Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Kehangatan Baru di Lantai 45
Pintu elevator pribadi di lantai 45 berdenting halus sebelum tergeser terbuka. Penerbangan tujuh jam dari Tokyo menuju Jakarta yang melelahkan terbayar tuntas begitu aroma kayu cendana dan melati khas ruangan penthouse menyergap indra penciuman.
Rian membawa dua koper utama mereka hingga ke batas foyer, lalu memberikan gestur hormat yang sangat sopan.
"Semua berkas kemenangan dan laporan pers sudah berada di meja kerja kantor eksekutif, Pak Arvin. Saya mohon izin pamit," ujar Rian, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan pemahaman sebelum melangkah mundur masuk ke elevator.
Pintu elevator tertutup rapat, meninggalkan Arvin dan Dania sendirian di dalam rumah yang kini terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi suasana kaku, batasan wilayah koridor barat dan timur, atau tatapan penuh kalkulasi bisnis.
Dania melepas sepatu hak tingginya, menggantinya dengan sandal rumah yang empuk. Ia merapikan kardigan Rajutnya seraya berbalik, hendak mengambil kopernya di dekat foyer. Namun sebelum jemarinya menyentuh gagang koper, tangan tegap Arvin sudah lebih dulu meraihnya dengan mudah.
"Biar aku yang bawa," kata Arvin pelan, suara baritonnya yang berat memancarkan kehangatan yang alami.
Dania mendongak, menyunggingkan senyum manis yang tulus—sebuah senyum tanpa benteng pertahanan yang kini begitu sering ditunjukkannya pada Arvin. "Terima kasih, Arvin."
Arvin membawa kedua koper tersebut melintasi ruang tamu, melangkah melewati pintu kamar utama yang luas. Untuk pertama kalinya sejak mereka menandatangani draf pernikahan rahasia, Arvin tidak lagi membawa koper Dania ke kamar tamu di koridor barat, melainkan meletakkannya dengan tenang di samping lemari besar kamar utamanya.
Dania berdiri di ambang pintu kamar utama, memperhatikan pergerakan Arvin dengan jantung yang berdesir hangat.
Arvin berbalik, melepas jas mewahnya dan menyampirkannya di kursi valet, lalu melangkah mendekati Dania. Pria tegap itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dania dari depan, menarik tubuh anggun wanita itu hingga menempel hangat pada dada bidangnya.
"Kenapa berdiri di situ?" bisik Arvin rendah, menatap mata bening Dania dengan tatapan yang sarat akan rasa memiliki. "Ini kamarmu juga sekarang, Dania."
Dania menyusupkan kedua lengannya ke sekeliling leher Arvin, merasakan kehangatan tubuh pria yang kini tak lagi menyembunyikan perasaannya itu.
"Hanya... masih butuh penyesuaian," bisik Dania jujur dengan binar bahagia di matanya. "Kemarin kita masih saling berdebat tentang klausul nomor empat di meja bar, dan sekarang..."
"Dan sekarang draf kertas itu sudah tidak berlaku lagi di rumah ini," potong Arvin lembut namun tegas. Ia menundukkan kepalanya, mendaratkan kecupan hangat di dahi Dania, lalu berpindah ke pipinya, sebelum akhirnya menatap bibir wanita itu. "Aturan tunggal di penthouse ini mulai hari ini adalah... kamu berada di sisiku."
Dania tertawa kecil—sebuah tawa renyah yang paling indah yang pernah didengar Arvin selama mereka tinggal bersama. "Aturan yang sangat otoriter, Tuan CEO."
"Dan kamu tidak punya hak veto untuk aturan yang satu ini, Nyonya Dirgantara," balas Arvin dengan sudut bibir yang terangkat lebar dalam sebuah senyuman tampan yang amat langka.
Satu jam kemudian, aroma sup ayam berbumbu rempah hangat merayap memenuhi area dapur bersih.
Dania berdiri di depan kompor dengan apron terpasang rapi, mengaduk kuah sup yang mendidih pelan. Rambut panjangnya dicepol asal-asalan, memperlihatkan tengkuk jenjangnya yang halus. Setelah berhari-hari mengonsumsi makanan jamuan formal di Tokyo, Dania merindukan masakan rumahan yang sederhana.
Suara langkah kaki tanpa alas sepatu terdengar mendekat.
Sebelum Dania sempat menoleh, sepasang lengan tegap merangkul pinggangnya dari belakang. Arvin menyandarkan dagunya di bahu kanan Dania, mengenakan kaus hitam santai yang memancarkan aroma kesegaran pasca-mandi.
"Memasak sendiri setelah terbang tujuh jam?" gumam Arvin tepat di samping telinga Dania, tangannya yang kokoh mengelus pelan jemari Dania yang memegang sendok sayur.
Dania menyandarkan kepala pada bahu tegap Arvin, menikmati kehangatan pelukan itu. "Hanya sup sederhana, Arvin. Lagipula, saya ingin memasak untuk suami saya."
Kata 'suami' yang diucapkan Dania secara spontan seketika membuat tubuh Arvin membeku sesaat. Desiran manis yang teramat dahsyat membanjiri dada sang CEO. Arvin mempererat pelukannya, mengecup leher halus Dania dengan lembut hingga membuat Dania meremang geli.
"Arvin... nanti supnya tumpah," protes Dania pelan seraya terkekeh, mencoba mematikan kompor.
"Biarkan saja," bisik Arvin rendah, memutar tubuh Dania agar menghadap sepenuhnya ke arahnya.
Arvin menyapu beberapa helai anak rambut yang menghalangi wajah Dania, menatap mata bening wanita di depannya dengan kedalaman rasa yang membuncah. Pria yang dulunya begitu dingin dan asing dengan konsep kasih sayang itu kini menemukan kedamaian utuh hanya dengan menggenggam tangan wanita ini.
"Besok akhir pekan," kata Arvin pelan, ibu jarinya mengusap lembut pipi hangat Dania. "Aku sudah mengosongkan seluruh agenda kantor dan menolak semua janji temu eksekutif."
Dania menaikkan alisnya, menyunggingkan senyum goda. "Seorang Arvin Dirgantara sengaja meliburkan diri dari pekerjaan? Bukankah itu melanggar prinsip workaholic Anda?"
"Prinsip itu berlaku saat aku belum memiliki alasan untuk pulang dengan cepat," sahut Arvin jujur, menatap bibir Dania. "Tapi sekarang... alasan utamaku ada di sini."
Arvin menunduk, menautkan bibirnya dengan bibir Dania dalam sebuah ciuman yang lambat, manis, dan sarat akan kehangatan romansa yang mekar sempurna. Tidak ada lagi rasa ragu, tidak ada lagi bayangan musuh korporat, atau batas kesepakatan bisnis di antara mereka. Di dapur lantai 45 yang hangat itu, mereka sepenuhnya menikmati detik demi detik sebagai sepasang suami istri yang saling mencintai dengan segenap hati.